Against the World II: Transgression

Against the World II: Transgression
Chapter 19: Xavier vs Shiva, part 5



“Itu urusanmu untuk mengungkapkannya,” kata Shiva sembari mendarat lebih dari dua puluh meter di depan Xavier. Boneka bermuka polos itu juga turut mendarat di samping masternya. “Yang jelas, aku berbohong tentang mengontrol Nirvana itu sulit. Nah, sekarang, apa kau mau melarikan diri atau melanjutkan pertarungan?”


Xavier mendecih, menyipitkan mata memandang sekelililing sebelum kemudian kembali memusatkan pandangan pada Shiva. “Jangan terlalu puas diri hanya karena berhasil membuatku terkejut,” tukasnya sembari mengangkat tangan kanan dengan posisi telapak yang terbuka—api beraneka warna langsung tercipta dan saling membaluti satu sama lain membentuk gumpalan energi. “Kau akan mati, itu takkan ber—”


—Xavier spontan melompat ke kiri, tipis menghindari pukulan Shiva. Ia bisa saja membuat tubuhnya tak bisa disentuh, tetapi itu akan membuat Turn Null setengah jadi untuk runtuh. Meskipun melompat tetap membuat konsentrasinya terganggu, tetapi ia masih bisa mempertahankan bola energinya.


“Aku tak bisa membiarkan serangan destruktif itu terjadi di sini,” kata sang emperor di sela-sela serangannya.


Xavier berada dalam posisi bertahan; ia tidak bisa menyerang balik sembari memegang bola energi dengan daya rusak yang besar. Dan mengesalkannya, Shiva menjadi semakin cepat dan agresif seiring berlalunya waktu. Lalu, saat tiba-tiba Nirvana melesat menujunya, Xavier tak punya pilihan lain selain berteleportasi menjauh.


…Tetapi Nirvana sudah berteleportasi ke depannya saat Xavier muncul puluhan meter di belakang Shiva. Xavier spontan meng-Grand Order-kan Nirvana untuk berhenti, pada saat yang bersamaan ia melepaskan bakal Turn Null dari kontrolnya. Bola energi hitam itu berpendar, dan seketika berdetonasi. Namun, sebelum tubuh Xavier tertelan dalam ledakan, ia sudah berteleportasi tepat ke hadapan Shiva.


Shiva tidak terkejut dengan kehadiran Xavier yang tiba-tiba. Bertepatan dengan membenturnya lengan Shiva dan lengan Xavier, bakal Turn Null berdetonasi sempurna. Kejutan udaranya begitu besar sampai turut menghempaskan mereka berdua. Tentu saja efeknya tak bisa disepadankan dengan Turn Null, beda jauh. Namun, itu sudah cukup untuk menghancurkan segalanya dalam radius satu kilometer dari pusat ledakan.


Xavier tidak tahu jika Shiva terkena efek ledakan, tetapi yang jelas dirinya sempat berteleportasi sebelum panas yang begitu besar menelan semuanya. Xavier dalam keadaan berlutut dengan satu kaki belasan meter dari area ledakan. Situasi masih belum tenang, Xavier tidak bisa melihat apa-apa selain kekacauan. Ia memang bisa menghilangkan efek yang disebabkan setelah ledakan menghilang, tetapi ia tak mau menyia-nyiakan mana.


Shiva adalah lawan yang merepotkan, dan Xavier punya perasaan kalau dia masih belum sepenuhnya serius. Jika benar begitu, situasi tidak menguntungkan bagi Xavier. Ia sudah menguras banyak mana. Jika Xavier tak bisa menghabisi Shiva dalam satu serangan, ia tidak lagi memiliki kesempatan untuk menang. Ia hanya bisa mundur. Pahit memang di mulut, tetapi lebih pahit lagi jika ia membiarkan diri jadi bulan-bulanan pria itu.


Namun, bagaimana caranya menghabisi Shiva dalam satu serangan?


Shiva telah memperlihatkan kalau dia bisa melepaskan diri dari belenggu [Reverse Law]. Ia tidak tahu bagaimana pria itu bisa melakukannya. Mengingat pertarungan mereka sejauh ini, Xavier memiliki dua informasi:


Pertama, meski Shiva bisa melepaskan diri dari pengaruh [Reverse Law], bonekanya tidak. Kedua, Shiva bisa mengalihkan efek [Reverse Law] dari boneka ke dirinya sendiri—dan ini menjelaskan mengapa saat Xavier menggunakan Reverse Reversal pada Nirvana, justru ia berpindah tempat dengan Shiva.


Informasi kedua mungkin berhubungan dengan simbol teratai di kening Shiva, tetapi Xavier tidak punya jawaban untuk teori pertama. Bagaimana dia bisa melepaskan diri dari perintah Grand Order—kemampuan tingkat tertinggi [Reverse Law]?


Di antara enam Crest of Hope, hanya Mother of Nature yang punya resistansi tingkat tinggi terhadap [Reverse Law]. Karenanya Xavier yakin bukan Soul of Sacred Waterfall penyebabnya. Menurut Eleithyia, kegunaan Soul of Sacred Waterfall adalah membuat pengguna [Divine Insight] dapat menggunakan sihir itu hingga ke tingkat tertingginya.


Namun, bagaimana jika informasi dari Eileithyia tidak lengkap?


Pasalnya, meski dia mengetahui segala rahasia dunia, bukan mustahil ada yang luput dari pengetahuannya. [Divine Insight] adalah Supreme Magic, Mother of Nature hanyalah Crest of Hope. Secara teori, bukankah [Divine Insight] lebih superior? Sangat masuk akal jika kemampuan Mother of Nature tak bisa sepenuhnya mengetahui tentang Soul of Sacred Waterfall lantaran dihalangi [Divine Insight].


Xavier tidak punya waktu untuk melanjutkan pemikirannya saat tiba-tiba gelombang angin dalam intensitas tinggi menerbangkan sisa-sisa efek ledakan ke arah kiri Xavier.


Di sana, sekira lima puluh meter di hadapan Xavier, Shiva melasat ke udara dari apa yang tersisa dari ledakan sebelumnya. Tiada lagi jubah yang membaluti Shiva. Sepatu dan celana adalah apa yang tersisa dari pakaiannya. Tubuh tegap Shiva yang sedikit berotot terlihat jelas bagi semua mata yang memandang—jika ada.


Itu terjadi begitu cepat. Shiva sudah berada di hadapan Xavier sebelum Xavier sempurna mendengar ucapannya. Saat matanya hendak melebar, tubuh Xavier sudah terpental dihantam kaki Shiva. Xavier terlempar kuat. Tenaga yang tubuhnya terima begitu besar hingga Xavier kesusahan mengurangi momentum.


Xavier merasakan keberadaan Shiva, secara refleks ia melakukan Space Reversal dengan butiran pasir yang berjarak puluhan meter darinya. Namun, tepat saat Xavier muncul di sana, kepalan tangan Shiva sudah mendarat di perut sang commander.


Xavier terpukul mundur, mulutnya memuntahkan saliva, tetapi pada saat yang bersamaan ia mampu mengorbankan sebagian sisa mana untuk menghentikan Shiva dengan [Reverse Law]. Sayangnya, itu tak berarti. Masih dalam keadaan terhempas, Shiva tiba-tiba sudah berada di hadapan Xavier.


…Kaisar berambut hijau gelap itu menampar pipi kanan Xavier dengan punggung tangan tangannya—yang spontan membuat Xavier terpental ke kiri. Itu begitu menyakitkan, dan memalukan. Xavier takkan pernah melupakan perlakuan ini seumur hidupnya, meskipun ini tak lebih memalukan dari apa yang Rossia lakukan.


Sebelum Xavier jatuh menghantam pasir, sebuah tendangan kembali mendarat di tubuh sang commander, membuatnya terdorong ke atas. Sayangnya Xavier tak terdorong jauh. Baru dua meter di udara, cengkeraman tangan Shiva sudah menemukan tempat pada leher Xavier. Tak cukup di situ, Shiva menghantamkan lututnya pada ulu hati Xavier, lalu membenturkan keningnya dengan kening Xavier.


…Sejak kekalahan pertamanya di tangan Nizivia, ini pertama kalinya ia menerima rasa sakit seperti ini—ia bahkan bisa merasakan darah mengalir menuruni keningnya.


“Aku takkan membunuhmu. Kekalahan dan rasa sakit membuat seseorang berkembang menjadi lebih kuat, kuekspektasikan kau juga begitu. Namun, akan kuberikan rasa sakit yang tak bia—”


…Tubuh Xavier tiba-tiba menghilang dari cengkeraman tangan Shiva.


Ekspresi Shiva murni menyiratkan kebingungan. Mulutnya hendak membuka menyuarakan kebingungan itu, tetapi sebuah hantaman kaki di kepala seketika membuat tubuh Shiva jatuh dan terbenam ke dalam pasir. Hanya kepalanya yang tersisa. Itu pun bukan karena Shiva yang menghentikan diri, tetapi pasir di bawahnya memadat dan memberikan dorongan ke atas sampai tubuhnya berhenti.


“Dirimu telah tumbuh menjadi arogan, bukan begitu, Shiva Rashta? Kearoganan dirimu jauh melampaui diri Gadra Rashta, tetapi diriku bisa mengerti karena dirimu memang jauh lebih kuat dari dirinya.”


Suara arogan itu berasal dari belakang Shiva. Ia hendak memutar tubuhnya menghadap pemilik suara, tetapi niatnya batal saat sepasang kaki mendarat tiga puluh centi di hadapannya. Dan, saat pandangan sang kaisar mencoba menengadah, kaki kanan itu menghantam wajahnya penuh penghinaan.


“Pergilah tidur, Shiva. Makhluk lemah seperti dirimu tak seharusnya mencari gara-gara dengan Islan, terlebih lagi diri Xavier. Diri Fie agak lembut dengan diri kalian, tetapi diriku tidak. Sekali lagi dirimu mencari gara-gara dengan Islan, diriku akan menjadikan Veria sebagai wilayah baru Vampire Kingdom.”


…Shiva hanya bisa menggeram, tetapi ia tak bisa melakukan apa pun. Barulah saat kaki yang menginjak wajahnya menghilang bersama sang pemilik, amukan marah memekik keluar dari mulut Shiva.


Vermyna Hellvarossa. Shiva tidak akan pernah melupakan apa yang sudah wanita bedebah itu lakukan. Tidak saja dia menghalanginya dari mengambil sedikit jiwa Xavier, dia juga telah mempermalukannya. Dia sudah menginjak-injak wajahnya.


Shiva tidak akan pernah melupakan momen yang baru saja terlewat. Tidak akan pernah.


...»»» End of Chapter 19 «««...