Against the World II: Transgression

Against the World II: Transgression
Chapter 31: Journey to Axellibra, part 2



...—Royal Palace, Cornnas, Provinsi Emeralna—...


Ketika mata Xavier terbuka, ia tak mendapati Artemys di sampingnya. Ia spontan mendudukkan diri, kemudian berdiri dan menghampiri jendela. Gorden ia sibak, dan kegelapan rupanya belum meninggalkan Islan. Matahari masih lama dari terbit, sekira dua jam. Hari masih sangat pagi.


Xavier tidak perlu bertanya ke mana Artemys. Tidak perlu pula ia menggunakan sihir sensorik untuk menemukan istrinya. Saat ia menutup gorden dan berbalik badan, wanita berambut hijau eksotis itu telah menyambut pandangannya. Dia baru saja keluar dari kamar mandi, menghampiri sang commander.


“Kau sudah mau pergi?” tanya Artemys, kedua tangan mengalung pada leher Xavier. “Jika tadi aku masih terlelap, kau bakal pergi tanpa mengatakan apa-apa?”


“Bukannya tadi malam kita sudah bicara?” tanya balik Xavier dengan tangan kiri di pinggang Artemys, sedang tangan kanan memainkan rambut panjang sang putri.


“Jadi, karena tadi malam kita sudah bicara, kau bisa langsung pergi tanpa bicara apa-apa?”


Seperti biasa, suara Artemys lembut bak melodi saat memasuki indra pendengaran Xavier. Pun ekspresi sang putri kalem, tenang, sedikit pun tanpa ketidaksenangan. Namun, setelah mereka menghabiskan setiap malam bersama (dan terkadang hari juga, kalau Xavier tak sibuk), Xavier sekarang paham. Hari di mana Artemys memasang wajah kesal atau marah mungkin takkan pernah ada. Istrinya ini memiliki kontrol emosi yang menakjubkan.


“Siapa bilang aku akan langsung pergi?” Xavier memamerkan senyumnya. “Aku mandi dulu. Berpakaian. Mengelus perutmu dengan lembut seperti ini. Lalu menciummu begini, dan begini, dan begini, lalu begini. …Barulah kemudian aku pergi.”


Ketenangan di wajah Artemys luntur, bibirnya melengkung tipis. Namun, lengkungan itu dengan cepat memudar.


“Tidak cukup?”


“Benar, itu tidak cukup.” Artemys mendaratkan bibirnya di pipi Xavier, tangan kanannya mengacak-acak rambut sang commander dengan lembut. “Pergilah mandi,” tambahnya. “Aku akan menyiapkan makanan.”


“Kau memperlakukanku seperti anak kecil,” gerutu Xavier, agak memalukan saat Artemys menciumnya sembari mengacak-acak rambutnya.


“Tapi kau suka, kan?”


“…”


Xavier langsung melangkahkan kaki ke kamar mandi; ia takkan menjawab pertanyaan itu. Itu sesuatu yang tak bisa ia sangkal. Mulut bisa menipu, tapi perasaan tidak. Jika ia berusaha mengingkari, itu akan ketahuan sekali, apalagi ia waktu kecil sering dibegitukan oleh sang ibu. Perasaan senang itu tak bisa ia lenyapkan.


Xavier membuka pintu kamar mandi, tapi tak langsung masuk. Ia menolehkan wajah ke belakang. “Artemys, aku ma—”


“Kenapa?” potong Artemys. “Mau dimandikan juga?”


“—Tidak jadi.”


Xavier langsung masuk dan menutup pintu. Meski begitu, ekor matanya sempat menangkap senyum pongah di bibir sang istri.


...—Verada, Vermillion Empire—...


Ketika Xavier akhirnya tiba di kamarnya di barak khusus yang diperuntukkan baginya, ia dapati belahan dirinya masih terlelap. Xavier tidak mengerti, bagaimana bisa belahan dirinya berbeda dengan dirinya? Apa sebenarnya di dalam dirinya memiliki kemalasan yang terpendam, dan itu muncul dalam belahan dirinya?


Menghela napas panjang, Xavier langsung menarik kembali belahan dirinya ke dalam dirinya tanpa memikirkan lebih jauh tentang pertanyaan itu. Belahan dirinya terjaga dalam proses penyatuan, tetapi Xavier tak memberinya kesempatan bersuara. Belahan dirinya hanyalah bagian dari dirinya, dia harus paham tempatnya.


Berseragam rapi lengkap dengan jubah commander dan dua katana di pinggang, Xavier melangkahkan kaki keluar barak.


Aktivitas sudah ramai. Baru beberapa menit berjalan, ia sudah dihampiri Heisuke dan seorang wanita—kapten batalion medis. Heisuke mengatakan para prajurit sudah siap berangkat, sedang sang kapten menuturkan kalau logistik dan semua keperluan untuk sepekan sudah dimuat. Total 20 wagon yang masing-masing ditarik dua kuda sudah siap diberangkatkan.


“Para peneleportasi juga sudah siap,” lanjut Heisuke. “Titik tujuan teleportasi kita ada di utara Provinsi Matepola, sebelum bekas wilayah Ilamia City States Union. Aku khawatir ada prajurit-prajurit kiriman Emiliel Holy Kingdom di sana. Jadi, kupikir lebih baik kita melalui pesisir timur lalu mengikuti garis pantai hingga memasuki wilayah Holy Kingdom.”


Heisuke dan Amelia—nama wanita berusia 25 tahun yang menjadi kapten batalion medis—serentak mengangguk. Mereka memberinya hormat, lalu bergegas pergi setelah mendapat respons sang commander.


Belasan detik setelahnya, Xavier juga turut melangkahkan kaki. Ia perlu berbicara dengan walikota terkait divisi yang sementara akan menggantikan tugas divisinya di sini.


...* * *...


Ordo 11 Knight Templar yang dipimpin Fourth Saint Rossia Himera diposisikan di Kota Carmel, kota yang berada di barat daya Axellibra.


Carmel adalah kota terdekat dengan wilayah luas Warebeast Great Kingdom. Posisinya lebih dekat dengan wilayah tanah para warebeast dibandingkan desa para centaur—yang notabenenya terletak dikelilingi Emiliel Holy Kingdom dan Warebeast Great Kingdom.


Carmel adalah kota unik. Sedikit mirip dengan Kota Heavenly Crystal dulu, kota ini di tengah-tengahnya ada danau—tetapi ukurannya lebih kecil dari Danau Deus yang melegenda.


Rossia baru berada di kota ini sehari. Ordonya berganti posisi dengan Ordo 6 yang dipimpin Eighth Saint Maviera. Penerawangan Pope Genea menunjukkan, mereka akan mendapat serangan dari individu-individu kuat dari sisi barat. Maka dari itu, posisi Ordo 6 yang sebelumnya di kota ini diganti dengan Ordo 11. Hal yang sama juga terjadi terhadap Eden. Absennya Saint Arthur telah digantikan Second Saint Gawain.


Wanita berambut merah darah ini baru saja selesai sarapan di ruangannya di markas militer saat seorang prajurit datang ingin melapor.


“Teruskan,” suruh Rossia, gelas berisi susu yang dicampur madu ia geser ke tepi meja.


“Saint Alfonso telah terbunuh kemarin, Dame. Individu yang mengalahkannya diduga Sixth Commander Hekiel von Vanguarta.”


Rossia tidak tahu harus tertawa atau kesal mendengar berita kematian makhluk paling idiot di antara para saint itu. Karena kebingungannya itu, ia tidak menunjukkan ekspresi apa-apa. Namun, jika pelakunya Xavier von Hernandez, Rossia tahu ia akan marah. Ia tidak memiliki masalah dengan Hekiel, tidak ada reaksi khusus yang bisa ia berikan mendengar pria itu menghabisi Alfonso.


“Apa respons Pope Genea?” tanya Rossia.


“Beliau meminta Saint Rodolf untuk memperlambat pertempuran. Saint Bedivere dan ordonya telah diperintahkan untuk ke sana menggantikan Saint Petra dan ordonya yang harus membantu Dwarf Kingdom.”


“Begitu, ya. Bedivere yang dikirim.”


Rossia tidak pernah melihat bagaimana Bedivere bertarung. Namun, yang jelas, wanita itu berbahaya. Rumor yang menyebar di antara para prajurit menyebut, di hadapan Bedivere bernapas saja harus berhati-hati. Wanita itu dijuluki “Dewi Racun” oleh para penggemarnya bukan tanpa alasan.


“Baiklah, terima kasih informasinya. Kau bisa per—ah, hampir saja aku lupa. Pergi temui staf di bawah, suruh mereka mengirim satu batalion ke desa para centaur. Minta mereka menginvestigasi jika makhluk-makhluk ini akan turut berpartisipasi atau tidak.”


Sang prajurit mengangguk patuh, pamit keluar melaksanakan instruksi.


...* * *...


Hari sudah menjelang siang saat rombongan Divisi 12 memasuki wilayah pantai Ilamia City States Union. Tentu saja mereka tidak ke sini untuk berlibur, bisa-bisa mereka semua dipecat jadi prajurit. Divisi 12 Imperial Army menyusuri garis pentai dalam langkah yang sedang, berusaha secara diam-diam memasuki wilayah Emiliel Holy Kingdom. Mereka datang dengan satu tujuan: menaklukkan Axellibra.


Xavier bersama Heisuke berada di barisan terdepan, sedang di belakang rombongan adalah dua puluh wagon yang dikawal para prajurit dari batalion medis.


Sementara itu, bergeser jauh ke barat dari posisi Divisi 12 Imperial Army, rombongan terakhir Ordo 1 Knight Templar telah meninggalan perbatasan antara Ilamia City States Union dan Dwarf Kingdom. First Saint Arthur Lancedragon berada di barisan depan dari semua barisan. Mereka semua sedang dalam perjalanan menuju Lembah Terlarang Ed.


Arthur harusnya akan berangkat dalam dua hari lagi, tetapi perubahan penerawangan Pope Genea yang tiba-tiba membuatnya turut pergi bersama rombongan prajurit yang terakhir.


Dua pasukan yang berbeda itu menuju arah yang juga berlawanan. Tepat saat matahari berada di titik tertingginya, saat itu kedua pasukan sejajar. Dan hanya dalam belasan menit, posisi sejajar itu menghilang. Divisi 12 Imperial Army semakin mendekati wilayah Holy Kingdom, Ordo 1 Knight Templar bertambah pendek jaraknya dengan Lembah Terlarang Ed.


Mungkinkah kedua pasukan, entah bagaimana, bertemu? Kemungkinan besarnya tidak. Namun, yang jelas, mereka sama-sama pasukan terkuat dari kedua kubu. Tidak ada pasukan biasa yang bisa menghentikan mereka.