
“AKU tak mengekspektasikannya memanfaatkan tindakan drastis yang Knight Templar ambil hingga seperti ini,” kata Kanna yang bersandar di samping pintu istana saat Xavier keluar, “tetapi keputusannya cukup tepat. Ini berbeda dengan sebelum-sebelumnya; tidak ada deklarasi perang secara formalitas di sini.”
Xavier berhenti melangkah dan menoleh pada sang putri, tangannya dengan sigap menangkap sebuah anting yang Kanna lempar.
“Sekitar setengah jam lalu aku menerima kabar dari Commander Hekiel kalau Knight Templar telah memobilisasikan 100 ribu prajurit mereka. Aku sudah menyuruh agar Commander Dermyus dan Commander Reinhart segera bergabung dengan Commander Hekiel. Aku sendiri akan bersama Commander Herena dan Commander Darminic untuk melihat pasukan Knight Templar yang telah bermarkas di lembah terlarang. Kemungkinan besar merekalah pasukan utama ‒ ciri mereka sama dengan ciri Ordo 1 Knight Templar.”
“Waktunya telah tiba, huh? Tapi mungkin lebih cepat memang lebih baik. Dan dengan kau yang memimpin kedua divisi itu mengatasi Ordo 1, tidak ada yang perlu dikhawatirkan.” Xavier menjeda sejenak memandang bingung anting di tangannya—anting yang menjadi pasangan anting yang Kanna kenakan. “Mengapa kau melempar antingmu ini padaku?”
“Kau akan menyerang Axellibra, sudah tentu anting itu untuk memberitahuku jika Fie memutuskan turun tangan. Pakailah. Lebih cepat itu bersamamu, lebih cepat pula itu menyerap auramu.”
“Apa kau yakin ini nantinya bisa bekerja? Anting ini bisa menyaingi efek anti-sihir Fie Axellibra?” Xavier mengamati anting berlapiskan emas tersebut dengan teliti.
“Tidak perlu kau khawatirkan tentang itu. Ada alasan mengapa selama ini tidak pernah ada yang bisa secara paksa memasuki Lembah Terlarang Ed. Dari semuanya, mungkin hanya aku saja yang bisa menghiraukan anti-sihir Fie Axellibra. Sudahlah, pakai saja. Itu hanya bisa berfungsi jika kau pakai.”
“Baiklah kalau kau bilang begitu.”
Xavier tak lagi bertanya dan langsung membawa anting ke telinga kanan. Namun, setelah berusaha memasangnya, Xavier tak menemukan adanya kait pada anting. “Bagaimana aku bisa memakainya?” tanyanya dengan sebelah alis sedikit terangkat.
“Ha…. Apa boleh buat.” Kanna menghampiri Xavier. “Sini, biar kupasangkan.”
Xavier menyerahkan anting tanpa protes. “Bukan salahku tak bisa memakai ini. Lihatlah sendiri, di mana kait runcingnya?”
“Mencari alasan, eh?” Kanna tersenyum tipis, berdiri tepat di depan Xavier dengan kedua tangan menuju telinga kirinya. “Kau harusnya menerima saja kalau tak bisa melakukan hal sesimpel ini.”
Xavier tak menanggapi komentar Kanna. Menanggapinya hanya akan membuat Kanna memberi komentar lain. Namun, bukankah Kanna terlalu dekat? Dia bahkan menyempilkan kaki kirinya di antara kedua kaki Xavier. Dan, aroma wangi yang sedikit memabukkan ini…. Apa Kanna memiliki maksud tertentu, atau hanya perasaannya saja?
“Um, kuakui, ini memang sedikit susah.”
“Kan? Apa kubilang? Memangnya kau dulu memasangnya sendiri?”
“Eh, Meyrin memasangkannya di kedua telingaku. Oh, benar!” Kanna tiba-tiba beranjak dan pindah posisi ke belakang Xavier. “Aku akan memasangnya dari belakang.”
Mungkin hanya perasaanku saja, batin Xavier saat kedua tangan Kanna kembali beraksi di telinganya. Jika Kanna ingin ia menghirup aroma itu lebih lama, dia tentu akan beralasan untuk lebih lama di depannya. Hm…mungkin Kanna lupa parfum apa yang dia gunakan? Atau, dia salah menggunakan pewangi tadi pagi setelah mandi?
“Sudah? Aku sama sekali tak merasakan apa pun. Apa memang tidak ada rasa sakit saat membuat lubang di telinga?” tanya Xavier sembari mengecek telinga kirinya, dan memang sebuah anting telah terpasang rapi di sana.
“Itu tergantung.” Kanna mengedikkan bahu. “Sekarang kau bisa kembali ke Verada. Persiapan yang baik diperlukan karena perjalanan kalian akan panjang. Kau bisa memobilisasikan semua anggota divisimu. Aku akan meminta Commander Gilbert mengirim sebagian pasukan menggantikan divisimu menjaga Verada.”
“Aku sempat berpikir untuk setidaknya meninggalkan dua batalion, tetapi mendengarmu berkata begitu membuatku langsung berubah pikiran. Baiklah, kalau begitu aku kembali ke sana sekarang. Sampai jumpa lagi, Kanna.”
Xavier langsung berbalik dan melangkah pergi setelah melihat Kanna mengangguk ‒ ia akan sibuk di Verada setelah ini.
“Ah!” Langkah Xavier tiba-tiba terhenti, kepalanya sedikit ia toleh ke belakang. “Parfum itu…sebaiknya kau tidak membiarkan pria lain menciumnya. Mereka bisa berimajinasi yang tidak-tidak. Oh, sebaiknya kau mandi lagi dan mengganti parfummu. Itu seperti parfum yang seorang istri gunakan untuk menggoda suaminya.”
Xavier langsung berteleportasi setelah mengatakan itu ‒ ia bahkan tidak menunggu untuk melihat reaksi sang putri atas ucapannya.
Kanna berdiri terdiam spontan menyenderkan tubuhnya ke pintu saat Xavier menghilang, kedua tangannya menutup wajah erat-erat. Ia tahu ada yang aneh dengan parfum pemberian ibu tirinya. Aromanya memang wangi, tetapi agak tidak biasa. Namun, karena hanya itu yang ada di mejanya, ia tak punya pilihan selain memakai parfum itu. Kanna sungguh tak menyangka itu parfum yang seperti itu!
Ini begitu memalukan, terlebih lagi tadi ia berada begitu dekat dengan Xavier. Sekarang Kanna jadi menyesal telah mendatangi ibu tirinya untuk meminta parfum. Harusnya ia mendatangi Monica saja, atau Meyrin. Namun sekarang sudah tak ada guna mengeluh; ia harus menghilangkan aroma ini dari tubuhnya sekarang juga.
Kanna langsung bergegas kembali ke kamar. Ia mandi sekali lagi, memakai sabun yang banyak. Kanna keluar dari kamarnya hampir satu jam kemudian. Kali ini ia tak memakai parfum sedikit pun. Parfum pemberian ibu tirinya itu sudah ia enyahkan dari mejanya.
“Ah, Kanna, ibu sepertinya salah memberimu parfum. Itu parfum yang biasa ibu pakai saat ayahmu menginap. Kau tidak memakainya, kan?”
...—Verada, Vermillion Empire—...
Satu jam telah berlalu sejak Xavier memberi staf administrasi instruksi untuk menyuruh semua prajurit berkumpul, sekarang halaman luas markas utama Divisi 12 telah dipenuhi para prajurit yang berbaris tegap penuh disiplin. Batalion yang bertugas di luar juga sudah hadir. Sepuluh batalion prajurit utama dan satu batalion prajurit medis, lengkap sudah anggota pasukan Divisi 12. Mereka semua berdiri membentuk sepuluh kolom per batalion, yang menjadikan total ada 110 kolom barisan.
Xavier dan Heisuke berdiri lima meter di depan barisan terdepan, di atas bangku besar yang dijadikan sebagai pijakan—dengan begitu prajurit yang di belakang pun akan dapat melihatnya.
“Kita akan meninggalkan kota ini besok pagi,” ucap Xavier memulai pertemuan. “Emperor Nueva telah memutuskan kita adalah divisi yang paling berkompeten. Kita dipercayai menginvasi Axellibra, kota sucinya Knight Templar. Kita akan menghancurkan para prajurit angkuh yang telah mengklaim diri sebagai yang terbaik. Kita akan meratakan gedung pemerintahan mereka, menancapkan bendera kekaisaran di puncak tertinggi Gereja Agung Luciel. Apa ada dari kalian yang tidak bernyali untuk memenuhi perintah besar ini?”
Xavier tidak menghabiskan banyak waktu berbicara di hadapan para prajuritnya. Ia memulai dengan mencoba menaikkan api semangat dalam diri mereka, selanjutnya menginformasikan rute yang akan mereka lalui, dan kemudian memberi instruksi untuk mempersiapkan semuanya hari ini juga. Ia juga menuntut mereka untuk memastikan mengabarkan anggota keluarga. Xavier mengakhiri dengan menjanjikan bonus besar untuk mereka ‒ jika mereka gugur maka bonus itu akan diserahkan ke keluarga mereka.
Selepas berbicara di hadapan para prajurit, Xavier meninggalkan mereka bersama Heisuke. Ia sendiri langsung melangkah menuju gedung walikota. Ia perlu memastikan tidak ada kendala untuk kebutuhan logistik. Xavier tidak tahu berapa lama mereka akan berada dalam perjalanan. Paling tidak, ia harus memastikan mereka punya stok untuk seminggu. Mereka bisa mendapatkan logistik di titik-titik pemberhentian mereka selama dalam perjalanan.