Against the World II: Transgression

Against the World II: Transgression
Chapter 12: Loyalty, part 3



Crow berdiri dari posisi berlututnya dengan mata menatap tajam ke depan. Serangan beruntun yang baru saja ia terima membuat jubah dan topengnya sirna. Baju lengan panjangnya juga turut lenyap, memperlihatkan perut berototnya yang berwarna pucat sebagaimana seluruh kulitnya. Celananya juga turut compang-camping, untungnya Crow sempat memperkuat celananya dengan mana sebelum nasibnya menyusul bajunya.


Sekarang topeng dan jubah yang senantiasi menyembunyikan penampilannya lenyap, tak ada lagi yang bisa menyembunyikan wujudnya dari pandangan siapa pun yang melihat.


Rambut abu-abu panjangnya—yang bagian depannya belah tengah hingga membinggai sempurna kedua pipinya—berlambaian ditiup angin. Crow berwajah rupawan—campuran sempurna antara feminin dan maskulin. Jika bukan karena mata merah berpupil hitam vertikalnya yang tajam (juga taring yang mengintip di sela bibirnya), tentu tidak akan ada yang berpikir dua kali untuk memuji parasnya.


Berkebalikan dengan asumsi Neix yang memercayai Crow sebagai subjek eksperimen sepertinya, Crow sama sekali bukan subjek eksperimen. Memang, ia telah ada dalam ruang eksperimen itu lebih dahulu dari Neix. Namun, itu hanya untuk membangun situasi di mana Neix tidak meragukan asal usulnya. Crow sekali pun tidak pernah menjadi subjek eksperimen. Buktinya adalah angka satu yang tertulis jelas tepat di atas diafragmanya.


Ya, Crow sejatinya adalah pemiliki kursi pertama dalam Moon Temple. Bukan Valeria. Valeria hanya mengisi posisi itu untuk sementara sampai ia kembali. Benar kalau Valeria memang kuat, tetapi ketika rune yang membentuk angka 1 di diafragmanya menghilang, Crow bahkan akan lebih kuat daripada Vermyna. Setidaknya, Vermyna Hermythys. Crow, bahkan dengan kekuatan penuhnya, tidak berpikir dirinya punya kesempatan walau hanya untuk memberi goresan pada tubuh Vermyna Hellvarossa.


“Kekuatanmu memang tidak dilebih-lebihkan, Saint Marcus.” Crow berhenti belasan meter di depan sang saint. “Karenanya, aku akan serius menghadapimu—tetapi tidak cukup serius untuk melepaskan semua kekuatanku.”


“Oh, kearoganan mulai menyelimuti kepalamu setelah kau selamat dari seranganku?” Marcus menggeleng kepala pelan, menarik pedangnya yang menancap di tanah. “Akan kukembalikan kau ke tempatmu yang busuk!”


Marcus menghilang dalam kilatan cahaya yang menyilaukan, dan seketika sudah berada di hadapan Crow dengan pedang yang terayun tajam. Pedang besar itu tak ragu lagi sangat berat, tetapi Marcus dapat menggerakkannya dengan mudah hanya dengan satu tangan. Hal itu jelas menunjukkan kekuatan fisik sang saint tidak untuk diremehkan.


Meskipun begitu, Crow hanya menaikkan lengan kanannya memblok ayunan pedang besar itu.


Pedang itu tak mampu memotong lengan Crow, tetapi Crow juga tak mampu menahan kekuatan ayunan pedang itu dengan sempurna. Selain kejutan udara yang ayunan pedang itu sebabkan, kaki Crow dibuat terseret beberapa meter. Dari hal ini Crow sekarang bisa memastikan kalau Marcus sedikit lebih lemah dari Valeria. Akan menarik untuk melihat pertarungan mereka.


Sayangnya, Marcus tidak akan hidup untuk melihat hari esok; pertarungan itu tidak akan pernah terjadi.


Mengikuti kalimat itu, Crow menyelimuti tubuhnya dengan petir merah kehitaman dan mementalkan pedang Marcus.


...—...


Marcus tidak menampakkan ekspresi keterkejutan saat pedang besarnya terlempar dari tangannya. Ia tidak berpikir apa pun tentang itu; ia tak punya waktu untuk mengomentari apa yang baru saja Crow lakukan. Kedua tangannya telah menyilang memblok tendangan Crow. Ia terseret beberapa langkah, dan Crow sekali lagi telah melayangkan kakinya mencoba menghancurkan tulang lehernya.


Marcus memblok tendangan menyamping itu dengan lengan kirinya, dan pada saat yang bersamaan dadanya membusung—sebuah lingkaran sihir hijau muda telah tercipta di depan mulutnya: “Wind Magic: Dragon Breath!”


Seperti pengguna sihir api tingkat tinggi yang dapat menyemburkan api sebagaimana naga melakukannya, Marcus menyemburkan angin bertekanan tinggi dari mulutnya. Angin itu bergerak sebagaimana semburan api: gerekannya melebar dan ujungnya menggelombang bak tsunami. Bedanya, laju semburan angin Marcus lebih cepat dari semburan api naga mana pun. Alhasil, daya destruktif yang disebabkan lebih besar dan kentara, jangkauannya pun lebih jauh.


Crow terpental menjauh darinya, terseret dalam kehancuran yang spell sihir anginnya sebabkan. Untungnya, para prajurit sudah menjauh dari area pertarungannya dengan Crow; Marcus tak lagi kehilangan prajuritnya secara sia-sia seperti yang serangannya yang lalu sebabkan.


Tak ingin membiarkan musuhnya kesempatan bernapas lega, seribu pedang angin tak kasatmata muncul di kanan kiri sang saint. Pada saat yang bersamaan dengan itu, lingkaran sihir hijau muda berukuran besar bermanifestasi di atas kepalanya. Tombak angin raksasa dengan ujungnya yang berputar tajam keluar secara perlahan dari lingkaran sihir.


Namun, tak satu pun dari serangan itu yang berhasil mencapai target. Rentetan laser petir merah kehitaman memborbardir setiap pedang angin yang Marcus lesatkan. Sementara itu, tombak petir yang sama besarnya dengan tombak angin sang saint berbenturan di antara keributan yang laser petir dan pedang angin sebabkan. Perbedaan tekanan kedua elemen yang berbeda itu sekonyong-konyong menghasilkan ledakan yang menggelegar.


Marcus tak punya waktu untuk menunggu efek ledakan itu sirna. Instingnya menjerit tajam, dan spontan ia menghempaskan tubuhnya ke udara. Crow memotong udara kosong dengan sapuan tangannya; Marcus telah dengan tipis menghindari serangan tak terduga Crow. Marcus tak mengekspektasikan sang vampire untuk bisa berteleportasi.


“Earth Manipulation Magic: Isolation Cocoon!”


Marcus coba mengurung Crow dalam kepompong tanah. Tidak, itu bukan upaya untuk menghentikan sang vampire. Namun, itu lebih kepada upaya untuk membuat sang vampire untuk berteleportasi ke belakangnya—dan Marcus berhasil! Sang saint segera saja melepaskan Great Wind Explosion.


Crow terpental kuat. Marcus langsung memanfaatkan kesempatan itu untuk melesat ke udara dengan sepasang sayap anginnya. Namun, yang menyambutnya adalah rentetan sambaran petir yang turun dari awan-awan gelap yang entah sejak kapan telah bergerombol di sini.


“Lightning Magic: Fall Down!” Teriakan itu menusuk ke dalam telinga Marcus, dan awan itu menumpahkan petir merah kehitaman laksana air yang ditumpahkan dari baskom yang dibalik. Bedanya, kuantitas petir itu jauh lebih besar. Perbandingannya, itu seperti sebuah danau diangkat ke udara lalu dibalikkan arahnya.


Buuuuuuum!


...—...


Crow melepaskan napas yang panjang, berdiri memandang intens spell [Lightning Magic] terkuatnya. Tentu saja [Lightning Magic] bukan sihir utamanya. Namun, Crow yakin ia akan membuat pengguna [Black Lightning] memandang respek pada petirnya. Walau petir hitam jelas lebih superior, tetapi petirnya tak terlalu jauh di belakang petir itu. Spellnya tadi bahkan dapat melelehkan adamantite dengan mudah—mengasumsikan adamantite itu tak diperkuat [Rune Magic].


“…Spell itu telah membuatku kesal.” Crow menyipitkan matanya mendengar kalimat itu. Ia dapat melihat siluet Marcus berjalan keluar dari kepulan asap yang spellnya sebabkan. “Itu petir terpanas yang pernah kuterima. Jika bukan karena [Translocation Magic], bahkan diriku takkan keluar dalam keadaan baik.”


“…Itu sihir yang merepotkan,” ucap Crow dengan ekspresi serius. “Dan itu menjawab mengapa kau begitu kuat meski hanya menggunakan [Light Magic], [Wind Magic], [Space Magic], dan [Earth Manipulation Magic]. Rupanya kau juga mengikuti ritual khusus yang rutin Emiliel Holy Kingdom lakukan. Dengan [Translocation Magic], menyakitimu secara teori tak memungkinkan. Jika tak sempat memindahkan tubuhmu untuk menghindari serangan, kau hanya perlu memindahkan serangan itu sendiri.”


“Aku sudah menunjukkan semua sihirku, sementara aku baru melihat sihir petir dan teleportasimu.” Marcus yang tanpa luka sedikit pun berhenti hampir dua puluh meter di depan Crow. “Apa kau berpikir itu sudah cukup untuk mengalahkanku?”


Crow menarik napas yang dalam, melepasnya perlahan. “Aku harus menghancurkanmu sebelum kau sempat menggunakan [Translocation Magic], atau, aku harus memerangkapmu dalam barier anti-teleportasi. Jika tidak begitu, itu mustahil untuk melukaimu. Dan, kau cukup kuat untuk tak bergantung pada sihir itu. Baiklah, kutarik kembali kata-kataku.”


Angka 1 di diafragma Crow sedikit berpendar, sebelum kemudian memudar dengan sempurna. Dan seketika, jumlah mana yang mengalir di dalam tubuhnya telah bertambah menjadi lebih dari dua kali lipat jumlah awalnya. “Kau adalah saint pertama yang akan mati menghadapi bawahan terkuat Nona Vermyna, Crow Lucardia,” kata Crow dengan mata yang sedikit berkilatan.


...#####...


Untuk membantu memvisualisasikan Crow, silakan lihat google: “Sephiroth Final Fantasy VII”. Matanya gantikan denganmata vampire. Tinggi tubuhnya pendekkan dua centi. Dan kalian mendapatkan Crow.