Against the World II: Transgression

Against the World II: Transgression
Chapter 15: Duo Monster, part 1



...**********...


TUSUKAN tombak orichalcum melesat tajam menembus udara yang berada antara pemilik dan targetnya. Tidak hanya satu, tetapi beberapa. Namun, sasaran tombak-tombak yang dimainkan dengan tidak terlalu buruk itu dapat menghindari dengan gerakan yang minimalis. Ia bahkan memanfaatkan ujung tombak yang satu untuk memblok ujung tombak yang lain—yang sukses membuat geraman keluar dari mulut-mulut pemilik tombak.


Memanfaatkan Xavier yang sibuk menghindari rentetan serangan para prajurit yang menyerang dari depan, dua orang prajurit bergerak cepat dan menyerang sang commander dari belakang dengan dua tebasan pedang. Tetapi Xavier telah terlebih dahulu menunduk, membuat kedua pedang itu justru membentur tombak-tombak rekan mereka. Dan, sebelum mereka sempat bereaksi, Xavier sudah menghantamkan kedua sikunya pada perut kedua prajurit di belakangnya—kemudian tangannya dengan cepat merebut pedang mereka.


Kedua prajurit itu terpental kuat dengan mulut terbuka melepaskan erangan, pada saat yang bersamaan Xavier menyilangkan kedua pedang mereka untuk memblok hantaman tombak yang dipukul dari atas ke bawah dengan kuat. Meski hampir genap sepuluh jumlah mereka, tetapi tenaga mereka gagal membuat sang commander tertunduk. Sebaliknya, merekalah yang terhempas saat ia menebas kuat kedua pedangnya.


Bersamaan dengan itu, rentetan tombak hitam bermanifestasi di udara dan menghujam tubuh semua prajurit yang ikut menyerang Xavier—yang jumlahnya belasan. Pekikan sakit spontan menginvasi udara, tetapi itu hanya bertahan sebentar lantaran api hitam yang memangsa dengan cepat.


“Cih! Kalian semua, serang!”


Bersamaan dengan seruan itu, derap kaki memburu menuju Xavier. Belasan dari prajurit yang turut maju melepaskan spell gelombang air yang menyapu api hitam yang masih menyala. Api itu tentu saja tidak padam, tetapi hanyut seperti kayu yang dilemparkan ke aliran sungai. Xavier sendiri juga turut terdorong, pasalnya gabungan dari belasan gelombang air itu tidak kecil.


Percikan petir sekonyong-konyong menyertai. Puluhan prajurit telah memanfaatkan air yang sudah rekan mereka buat untuk menciptakan medan petir mereka. Puluhan prajurit lain telah mengepungnya dari tiga arah. Lontaran spell dari sihir api, angin, dan tanah berbondong-bondong menyerang sang commander yang hanya diam membiarkan tubuhnya disetrum medan petir.


Semua spell itu sukses mengenai target, menimbulkan bunyi tabrakan dan dentuman, yang spontan menimbulkan asap dan kepulan debu yang menghalangi pandangan.


Belasan prajurit lain yang sudah menanti momen itu langsung melepaskan spell gabungan mereka. Bola cahaya jatuh dari lingkaran sihir besar yang berada puluhan meter di atas kepulan asap dan debu itu, seketika menimbulkan dentuman yang lebih besar—yang melepaskan kejutan udara ke segala arah.


“Heh, ternyata dia hanya menggertak saja. Menggelikan.” Prajurit berposisi paling tinggi di antara ratusan dari mereka itu mendesah kecewa, kemudian berbalik arah dan melangkah pergi. “Kalian, bersihkan kekacauan itu lalu ke—”


“Tidak buruk.”


Mulut sang prajurit spontan terbungkam dan kakinya reflek berbalik arah. Hilang semua bekas serangan para prajuritnya. Tidak ada debu dan asap yang mengotori udara. Tidak ada api dan bekas air yang terlihat. Tidak ada apa-apa selain pria berambut merah gelap yang berdiri tanpa luka sedikit pun.


“Aksi kalian cepat. Serangan kombinasi kalian juga bagus. Secara keseluruhan, kalian pantas mendapat nilai 3 dari skala 5. Itu lebih tinggi dari Imperial Army, tetapi sayang masih lebih rendah dari Chiron Army.”


Kelancangan orang itu! Sang kepala prajurit marah terkira, dan dia tidak sendiri. Sikap sok superior yang ditunjukan manusia pendosa itu sungguh membuat mereka naik pitam. Sang kepala prajurit sendiri sampai sudah mengeluarkan pedang dan menarik tameng dari punggungnya.


“Reaksi yang bagus. Kalian harus tidak puas jika belum menjadi yang terbaik.” Pemuda itu menganggung pada ucapannya sendiri dan menciptakan dua pedang api biru di kedua tangan dengan seringaian tipis di bibir. “Nah, sekarang kita lanjutkan, bagaimana dengan kesigapan kalian dalam bertahan? Mari kita cari tahu jawabannya.”


Dug. Kepala sang kepala prajurit menghantam tanah, bergelindang tanpa arah yang jelas. Dan, saat kepala itu berhenti, mata hitam sang prajurit bertemu tatap dengan mata coklat bawahannya. Baik dirinya ataupun sang prajurit tidak bisa memproduksikan meski hanya satu kata; api biru telah membakar habis kepala mereka menjadi tengkorak.


Dan, mereka berdua sama sekali bukan yang terakhir. Kepala demi kepala kembali berjatuhan dan tersulut api, seolah-olah mereka adalah dedaun layu yang jatuh di atas perapian—habis terbakar tak bersisa.


...* * *...


Mata Rossia terbuka dengan enggan; tidurnya terusik oleh teriakan-teriakan yang memanggil namanya dari luar tenda. Ia baru terlelap kurang dari setengah jam yang lalu, kepalanya terasa berat. Ia mendelik dan hendak membuka mulut meneriakkan agar mereka semua diam dan mengenyahkan diri. Namun, kesadarannya seketika kembali seratus persen saat kata “kita diserang” sukses diterjemahkan otaknya.


Rossia dengan sigap bangkit dari matras tempat berbaringnya, menarik tongkat platinum dan langsung bergegas keluar tenda. Ia sama sekali tidak perlu memerhatikan pakaiannya; ia tadi tidur menggunakan pakaian bertugasnya.


“Apa? Siapa yang menyerang? Favilifna Kingdom menyadari invasi kita, meski kita sudah berusaha ekstra menghindari jangkauan penglihatan mereka?” tanya Rossia bertubi-tubi, iris kuning keemasannya memandang tajam belasan prajurit di hadapannya.


“Tidak tahu, Kapten! Saat ini sebagian para prajurit yang kebagian jaga duluan sedang menanganinya. Aku dan yang lain ditugaskan membangunkan semuanya.”


Rossia mendengus, menahan diri dari menyerapahkan tidak kompeten. “Perintahkan semuanya untuk ke sana,” instruksinya. “Jika dalam sepuluh menit ada yang belum ke sana, aku sendiri yang akan memastikan dia takkan pernah ke sana. Itu termasuk juga buat Ekralina Army.”


Mendengar salutan “siap, ma’am!”, Rossia langsung melesat ke udara dengan [Flight Magic]-nya. I membawa diri dengan kecepatan tinggi ke udara, baru berhenti saat mencapai ketinggian setengah kilometer. Mata Rossia memandang tajam ke bawas sana. Posisi yang tinggi membuat wanita berambut merah darah tersebut untuk dapat melihat apa yang sebenarnya terjadi.


“Dia…Twelfth Commander Imperial Army…. Apa Favilifna telah memprediksikan invasi kami?”


Itu sejujurnya tidak sulit dipercayai. Eternity telah mendengar kabar tentang pergerakan Knight Templar, karenanya mereka meninggalkan Etharna. Berkurangnya kekuatan yang melindungi ibukota membuka kesempatan bagi pihak lain untuk menyerang. Jikapun Favilifna tidak mendeduksi Knight Templar akan menyerang ibukota, mereka tentu akan berhati-hati terhadap Ekralina Kingdom.


“Dan, siapa lagi yang lebih tepat untuk diminta tolong selain musuh dari musuhmu?” Rossia mendecih. “Dasar makhluk sesat yang lemah, tak berguna, hanya mengotori udara saja. Tapi, ya, ini justru bagus untuk Emiliel Holy Kingdom. Tidak mungkin kekaisaran akan mengekspektasikan Holy Kingdom akan diam saja setelah adanya intervensi ini. Mereka memprovokasi Emiliel Holy Kingdom untuk memulai perang.”


Heh, tidak buruk; seperti yang bisa diekspektasikan dari Vermillion Empire. Rossia tersenyum terhibur. “Untuk sekarang, mari kita lihat jika informasi tentang Xavier von Hernandez yang telah menghancurkan Undead Thevetat memang tidak dilebih-lebihkan.”


Rossia melesat maju.