Against the World II: Transgression

Against the World II: Transgression
Chapter 38: Lilithia vs Neira, part 1



ADA lebih dari dua puluh cermin dengan ukuran seperti pintu yang berbaris berjejer sekitar setengah kilometer di selatan Axellibra.


Prajurit demi prajurit terus berkeluaran dari cermin-cermin itu sejak tadi. Ia tak menghitung berapa lama sudah berlalu sejak ia memunculkan cermin. Yang jelas, butuh satu atau dua menit lagi sampai semua prajurit tiba. Menunggu membosankan, apalagi Lilithia sudah kehilangan koneksi dengan semua kreasi cerminnya.


Untungnya dua menit itu bukanlah waktu yang lama; sang commander tak perlu berpikir untuk meninggalkan mereka begitu saja. Lilithia langsung menghilangkan semua cerminnya begitu prajurit yang terakhir keluar melaporkan kalau dia adalah yang terakhir.


“Aku akan langsung ke sana,” kata Lilithia pada wakilnya dan wakil Xavier—sebuah cermin sudah muncul di belakang sang commander. “Mulai dari sini dan seterusnya, kalian berdua bertanggung jawab penuh terhadap pasukan. Kemungkinan besar Fie Axellibra takkan muncul di sini. Di Axellibra juga ada vampire yang akan membantu kalian. Tugasku dalam hal ini hanya mengatasi Neira Claudian. Apa perkataanku jelas?”


Mendapat anggukan dari kedua wakil dua divisi yang berbeda, Lilithia langsung berbalik memasuki cermin.


...* * *...


Setelah Neira mengatasi semua Death Knight secara bersamaan dengan kombinasi ketiga spellnya, ia langsung menemui Lexata yang turut bergabung dengan para prajuritnya. Ia tak mengatakan apa pun pada sang raja selain instruksi untuk tak menjadikan Axellibra medan pertempuran. “Aku akan atasi First Commander,” tambahnya setelah mendengar keluhan sang raja. “Dia tak bisa dibiarkan dekat-dekat, apalagi sampai berada di dalam kota.”


“Bagaimana dengan Sir Lancelot? Apa Nona melihatnya? Dia tadi mau menghentikan Emperor Nueva yang muncul tiba-tiba. Apa yang terjadi di selatan kota?”


Neira memiringkan kepalanya. Nueva di Axellibra? Itu lebih mustahil daripada Vermyna yang muncul tiba-tiba di sini. Mungkin yang mereka maksud replika Nueva, sebagaimana replika Lancelot yang sudah ia lenyapkan.


“Lancelot berada di geraja mengatasi Valeria,” jawab Neira seraya berbalik dan mulai melangkah. “Biarkan dia fokus mengatasi vampire itu. Kau atur semua pasukan untuk mempersiapkan semua serangan yang akan datang. Aku sudah bisa merasakan kehadiran prajurit musuh sekitar setengah kilometer dari gerbang selatan.”


Sepasang sayap naga mencuat di punggung Neira, dan dalam sekali kepakan sayap ia sudah melesat tinggi ke udara. Meskipun ia merasakan kehadiran individu kuat berkapasitas mana cukup besar (jika dibandingkan dengan para saint), Neira takkan langsung ke sana. Gravitasi Lilithia berbahaya. Ia tidak mau sampai ada kehancuran di sekitar Axellibra. Neira sudah memikirkan lokasi yang tepat untuk mengatasi sang commander.


Yang perlu ia lakukan sekarang hanyalah menunggu sampai Lilithia memunculkan cerminnya di dalam kota dan kemudian memindahkan cermin itu ke tempat yang sudah ia tentukan.


...* * *...


Apa yang menyambut Lilithia begitu keluar dari cermin bukanlah kota Axellibra yang menjadi destinasinya. Sang commander menemukan diri berada di atas ganasnya permukaan laut. Untung saja ia memiliki kontrol sempurna atas gravitasi yang memberinya kemampuan melayang. Jika tidak, ia sudah pasti jatuh dihantam ombak, menghantam batu karang, atau bahkan tertarik pusaran air yang ganas. Perairan sebelah utara Islan memang tak pernah terkenal ramah.


Dan tentu saja, sebagaimana mestinya, Lilithia tak menunjukkan keterkejutan begitu matanya menangkap sosok wanita setinggi dirinya tengah melayang dengan kedua sayap membentang sekitar dua puluh meter di depan sang commander. Bahkan sekadar mengangkat alis pun ia tidak. Seperti halnya wanita itu yang memandangnya intens, mata Lilithia juga fokus pada mata reptil itu.


“Neira Claudian…apa bisa kuasumsikan kau pemilik nama itu?”


“First Commander Lilithia von Sylphisky, mari selesaikan ini secepat mungkin.” Neira mengacungkan pedang spesialnya pada sang commander. “Aku tidak suka kekerasan, tapi kau adalah personifikasi kehancuran. Kekuatanmu tidak membawa apa-apa selain kehancuran. Tapi jika kau bersedia keluar dari pertempuran, pedangku tak harus menebas habis lehermu.”


“Hmph!” dengus Lilithia seraya memanifestasikan tujuh cermin: satu berupa cermin super masif, posisinya tepat di bawah kaki sang commander; enam lagi cermin ukuran normal yang sering ia gunakan untuk berpindah tempat. Dan secara serentak, enam replika keluar dari cermin ukuran normal: Edward, Lumeira, Herena, Elizabeth, Cleria, dan Xavier. “Kalimat itu harusnya aku yang ucapkan.”


Lilithia mengibaskan tangan kanannya, dan seketika keenam replika tersebut melesat cepat menyerang sang wanita. Jika mereka berada di darat, Lilithia bisa mengeluarkan lebih banyak replika. Namun, karena mereka berada di atas laut, ia hanya bisa mengeluarkan replika yang dapat bertarung di udara. Tetapi itu sudah cukup. Pasalnya—


Cermin super masif Lilithia seketika pecah berkeping-keping begitu naga super raksasa sempurna keluar.


—Lilithia memiliki replika Undead Thevetat untuk ia kerahkan. Memang, replika Undead Thevetat miliknya tidak sama kuat dengan Undead Thevetat yang asli. Namun, Lilithia yakin kalau replika Undead Thevetat miliknya memiliki sembilan puluh persen kekuatan Undead Thevetat—jika tak lebih.


Sang first commander lantas mendarat di antara dua mata Undead Thevetat dan kemudian menginstruksikan sang naga untuk terbang tinggi dan berhenti pada posisi yang sempurna untuk mengobservasi.


“…Hanya Xavier yang tersisa….”


Meskipun mengejutkan, Lilithia tak bisa mengatakan ia terkejut. Edward dan Lumeira kuat, tapi Lilithia belum menangkap kekuatan penuh mereka. Elizabeth dan yang lainnya tak bisa berbuat banyak di hadapan Neira. Hanya replika Xavier dan Undead Thevetat yang benar-benar berguna.


Melihat bagaimana replika Xavier bertarung, Lilithia—meskipun ia lebih menyukai sihir [Absolut Gravity]—harus mengakui sihir [True Mirror]-nya sangat istimewa. Api hitam tak bisa ditiru oleh [Copy Magic], tapi replika Xavier dapat menggunakan api hitam dengan sempurna. Dari tempatnya melihat, Lilithia benar-benar menyaksikan sosok Neira Claudian tengah kewalahan.


“Mungkin aku tak perlu sampai turun tangan secara langsung,” gumam Lilithia sembari memberi perintah pada replika Undead Thevetat untuk melepaskan Dragon Breath-nya pada Neira—pada saat yang bersamaan menuntut replika Xavier menjauh.


Sebagaimana Lilithia terperangah menyaksikan naga albino menembakkan napas naganya di bekas wilayah Ilamia, kali ini ia juga terpana dengan efek napas naga replikanya. Jika serangan tersebut jatuh di tengah-tengah Nevada, bukan Nevada saja yang akan lenyap. Lebih dari itu. Untung saja bagian utara Islan mayoritasnya berupa tebing yang menjulang. Jika tidak, gelombang tinggi yang disebabkan semburan energi barusan akan menyapu habis bagian utara.


Antara mengejutkan dan tak mengejutkan, Neira Claudian masih melayang di tempatnya semula. Dia tak terhempas sedikit pun. Selain bekas sayatan yang replika Xavier sebabkan, tak ada luka sedikit pun pada tubuhnya.


“Jadi, pedang itu benar-benar mampu mengontrol gravitasi?” bertanya Lilithia (pada dirinya sendiri) saat melihat dinding gravitasi yang telah membelokkan serangan replika Undead Thevetat tadi. “Seperti pedang Kanna, pedang itu tidak normal. Tapi, yah, tak masalah. Xavier! Jadilah anak baik dan habisi makhluk itu untukku!”


Tentu saja itu hanyalah replika Xavier yang tak punya kehendak dan nyawa, tapi siapa yang peduli. Lilithia jelas tidak.