Against the World II: Transgression

Against the World II: Transgression
Chapter 46: Perfect and Imperfect, part 1



“BENAR. Sayapku tak lagi hitam, dan kukira ini lebih sempurna. Tapi mari kita tak terlalu berbasa-basi. Keluarkan kekuatanmu yang tadi. Kau yang sekarang tak berbeda dengan sepotong kayu yang tak bisa apa-apa. Aku ingin menjadikanmu tolak ukur. Infinity Domain.”


Dalam sekejap, langit siang menghilang. Xavier tak lagi berada di kawah di tengah-tengah barisan Pegunungan Amerlesia. Ia berada di permukaan tanah gersang yang langitnya gelap. Ada sepuluh bulan yang memancarkan sinar pucat dari segala penjuru. Ini bukan dimensi lain. Tak ada fluktuasi energi yang biasa ada dalam kantung dimensi. Ini seolah ia berada di permukaan dunia lain secara nyata.


“[Infinity Domain] adalah kekuatan kedua yang kudapatkan,” jelas Lucifer. “Kekuatan ini sendiri adalah semesta kecil yang di dalamnya berlaku konsep ketidakterbatasan. Kita tidak berada di dalam kantung dimensi, tetapi di dalam semesta yang berada di dalam semesta. Karena itu, ini tak bisa dihancurkan sebagaimana dimensi. Dan kau tahu apa yang lebih menarik?”


Xavier tidak memberi respons. Ia tahu Lucifer tak ingin mendengar jawabannya. Pria itu hanya ingin menyombongkan kekuatannya semata. Dia seperti anak kecil yang dapat mainan baru, hasrat untuk pamernya sangat tinggi.


“Di sini aku adalah ketidakterbatasan itu sendiri,” lanjut Lucifer dengan kedua tangan setengah merentang. “Di sini mana-ku takkan pernah habis. Aku takkan pernah lelah. Aku juga takkan bisa mati. Tak peduli betapa kuat seseorang, berada di semesta ini akan menjamin kekalahannya. Nah, cepat keluarkan kekuatanmu. Aku ingin merasakan pertempuran yang menarik sebelum mengoleksi semua Supreme Magic yang tersisa.”


Pada detik ini, jika ia tak ingin menjadi bulan-bulanan Lucifer seperti yang dilakukan Fie padanya, Xavier tahu ia hanya memiliki satu opsi. Mana-nya juga lebih dari cukup untuk menggunakan kekuatan ingatan masa lalunya untuk belasan menit. Ia tidak punya pilihan selain melakukan apa yang Lucifer inginkan.


“Soul Incarnate,” bisik Xavier, dan seketika ia merasa waktu terhenti di dalam kegelapan yang menelannya. Relung terdalam jiwanya telah berubah menjadi kegelapan total. Sumber cahaya satu-satunya adalah inti jiwa yang berwarna putih. Radiasi panasnya memancar nyata. Api putih itu…Xavier tak sedang berhalusinasi.


“Kau punya tiga pilihan di sini. Tapi sebelum itu, perlu kujelaskan mengapa kau melihat api putih membaluti inti jiwamu.”


Xavier kecil muncul di sisi kirinya. Xavier tak mengatakan apa pun. Ia juga tak menoleh pada ingatannya. Xavier menunggu pemilik suara untuk lanjut menjelaskan. Ia butuh penjelasan akan apa yang matanya saksikan.


“Pada titik ini, kau mungkin sudah tahu apa yang diperlukan untuk membuka gerbang matahari. Api hitam murni adalah kunci ke sana. Edenia menciptakannya untuk melemparku ke dalam gerbang matahari. Aku bertarung dengan Phoenix dan membuat kesepakatan, jika dia kalah maka dia akan memberiku kekuatannya kapan saja kuinginkan. Artinya, kau sama sekali tak perlu membuka gerbang matahari. Api hitam murni juga tak kau perlukan.”


…Xavier sudah berulang kali mendengarkan bagaimana ingatannya membanggakan diri karena bisa mengalahkan Phoenix tanpa Supreme Magic. Jadi, apa yang ia dengar tak mengejutkan. Ia juga pernah merasakan sepasang mata memandangnya tajam, barangkali itu Phoenix yang ingin memenuhi kesepakatan yang dibuat. Tapi mengetahui usahanya dan Artemys sia-sia….


“Pilihan pertamamu: Menggunakan kekuatanku sebagaimana sebelumnya. Tapi kau sudah menggunakannya tadi. Fisikmu takkan sanggup untuk dibebani kekuatan yang sebesar itu. Jika kau paksakan, kau mungkin akan tak sadarkan diri setelah mana-mu habis. Lebih dari itu, Lucifer memiliki dua Supreme Magic. Pada detik ini, dia lebih kuat dari Fie atau Vermyna. Kita akan mati.”


Berpikir hari di mana ia mendengar seseorang mengatakan "ada makhluk yang lebih kuat dari Fie dan Vermyna" akan benar-benar tiba….


“Pilihan kedua,” lanjut Xavier kecil. “Berhenti menjadi manusia dan berevolusilah, baru setelah itu kau gunakan pilihan pertama. Dengan evolusi, fisikmu mungkin akan menyamai Lucifer. Aku juga akan bisa menggunakan kekuatan asalku secara maksimal. Ada kemungkinan kita bisa menang. Karena [Magic Container] hanya kau yang bisa menggunakan, aku takkan bisa menggunakan [Celestial White Flame]. Tapi itu tak masalah.”


Berhenti menjadi manusia….


“Dan untuk pilihan ketiga, kukira kau sudah tahu tanpa perlu kuberi tahu. Gunakan [Magic Container] padaku, dan kau akan menjadi anomali. Semua kekuatanku akan bisa kau gunakan. Kau akan menjadi yang terkuat. Dengan [Magic Container] dan [Reality Warping], kau akan bisa menciptkan sihir anomali lain dengan menggabungkan [Celestial White Flame] dan [Reverse Law]. Kau akan menjadi satu-satunya yang akan memiliki tiga sihir anomali. Tapi…bisa jadi kau akan berhenti membenci Edenia.”


Xavier bisa membayangkan hal itu terjadi. Ingatannya sudah mengatakan kalau sejak kecil dia sudah diasuh Edenia. Jika ia memiliki ingatan itu…mungkin ia akan berbalik mengikuti makhluk itu. Tak ada kemungkinan yang lebih menakutkan dari itu. Dan jika itu terjadi, ia telah mengkhianati kepercayaan Luciel.


“Pilihanmu?”


Xavier kecil hanya tersenyum tipis, kemudian pandangannya berpindah dari Xavier ke inti jiwa yang melayang. “Kau dengar itu, Phoenix?” tanyanya dengan pandangan merendahkan. “Jadilah peliharaan yang baik dan penuhi tugasmu.”


Sekonyong-konyong api putih membakar kegelapan yang menguasai relung jiwanya. Dan sebelum Xavier sempat mengerjap, tubuh Xavier kecil telah terpental. Pada saat itu sepasang mata muncul di balik kobaran api putih yang membara.


“Aku bukan peliharaanmu, Mortal. Hmph, kuharap bisa membunuhmu, tapi kesepakatan adalah kesepakatan.”


Tubuh Xavier seketika memanas, ia merasa seperti akan meleleh kapan saja. Dan bersamaan dengan kekehan yang keluar dari mulut Xavier kecil, Xavier terhempas oleh kejutan energi yang besar.


Dan begitu mata Xavier mengerjap, ia tiba-tiba sudah kembali berhadap-hadapan dengan Lucifer.


“Aku tak merasakan peningkatan kekuatanmu. Ada apa? Kau tak bisa menggu—”


Ucapan Lucifer terhenti bertepatan dengan munculnya kobaran api putih yang mengelilingi Xavier dari kaki ke dada.


Panas menelan tubuh Xavier hingga ke bagian tubuhnya yang terdalam. Darahnya, dagingnya, tulangnya, bahkan setiap sel dalam tubuhnya seperti dibakar secara langsung. Jika bukan karena [Reverse Law], mungkin sekarang ia sudah menjerit dan meronta-ronta sembari berguling-guling di tanah. Rasa sakit yang tubuhnya terima sungguh tak tertahankan.


“…[Celestial White Flame]. Aku tak mengira kau sudah memilikinya. Tapi baguslah, aku jadi tak perlu repot-repot memasuki matahari dan merampas sihir itu secara lang—hmmm…perasaan ini…apa kau sedang berevolusi?”


Xavier terlalu terfokus pada perubahan tubuhnya untuk meladeni ucapan Lucifer. Ia merasa tubuhnya bertambah tinggi, tetapi rambutnya tetap. Tubuhnya dipaksa menua. Dan pada saat rasa panas yang menggerogoti tubuhnya menghilang, ia merasa dua atau tiga tahun lebih tua. Pandangannya juga telah menjadi sangat tajam. Ia sampai bisa melihat refleksi dirinya di mata Lucifer.


Selain bertambah tua dua atau tiga tahun, tak ada yang berubah dari Xavier selain pupil matanya yang telah menjadi vertikal. Namun, kekuatan yang ia rasakan dalam tubuhnya adalah hal yang berbeda. Ia merasa sangat kuat hingga pukulan beruntun Fie takkan mampu meremukkan tulangnya.


“Begitu juga tidak buruk. Mari kita lihat seberapa kuat kau setelah berevolusi.”


Tepat saat Lucifer menyelesaikan ucapannya, tubuh Xavier telah terhempas dengan begitu kuat. Lucifer memukulnya dengan cepat hingga Xavier tak mampu bereaksi. Matanya dapat mengikuti pergerakan sang malaikat naga, tapi tubuhnya tak cukup cepat bereaksi. Xavier terhempas hingga tubuhnya menghantam salah satu bulan yang ada.


Mulut Xavier memuntahkan darah, tetapi dengan cepat tubuhnya beregenerasi tanpa ia perlu mengerahkan mana-nya. Rasa sakit yang pukulan Lucifer berikan pun telah menghilang tak berbekas.


“Tidak buruk!” seru Lucifer yang telah mendarat tak jauh dari posisi Xavier tergeletak. “Phoenix memang berada pada levelnya tersendiri. Kau lebih kuat dari Nueva setelah berevolusi. Ketahanan tubuh dan regenerasimu berada di level yang lebih tinggi darinya. Tapi itu masih belum cukup!” Mata Lucifer memancarkan antusiasme yang tinggi. “Keluarkan kekuatanmu yang sebelumnya. Hibur aku dengan perlawanan yang menakjubkan!”


Xavier mendudukkan diri dan memandang intens sang malaikat naga. Ia bisa merasakan kesamaan di antara mereka. Lucifer suka bertarung sepertinya. Bedanya, Lucifer hanya tertarik pada lawan yang kuat, sementara Xavier tidak masalah dengan lawan yang lemah.


“Aku mau mencoba kekuatan ini, tapi kau benar. Tak bisa disebut pertarungan jika kuhadapi kau dengan keadaanku sekarang. Soul Incarnate.”