Against the World II: Transgression

Against the World II: Transgression
Chapter 32: Not So Invincible, part 1



...—26th January, E643 | Carolina, Ekralina Kingdom—


...


Sejak kematian dua saint dan tibanya pasukan perwakilan NWO, tidak ada konfrontasi yang terjadi. Knight Templar tak sedikit pun menyerang; mereka hanya mengawasi dari jauh saja. Imperial Army juga tak mencoba menyerang. Beberapa kapten mereka memerlukan perawatan insentif. Selain itu, kehadiran NWO membuat situasi sedikit tegang di antara kedua kubu. Membutuhkan waktu untuk mengintegralkan kedua pasukan.


Hari ini berbeda. Sejak matahari sempurna terbit, para prajurit sudah cukup sibuk. Separuh pasukan Divisi 4, 6, dan 7 sudah berada di luar dinding kota—dinding adamantite dan parit dalam sudah tidak lagi ada. Hal yang sama juga berlaku terhadap pasukan NWO. Setengah dari total pasukan mereka sudah berbaris rapi di depan dinding kota. Mereka siap begerak kapan saja; mereka siap ******* habis Knight Templar hari ini juga.


Satu-satunya alasan mengapa mereka belum kunjung bergerak meski sudah siap berangkat sedari tadi hanyalah keabsenan para pemimpin.


Dermyus, Reinhart, Hekiel, dan bahkan Alforalis masih belum bergabung dengan mereka. Keempat orang berkepribadian berbeda itu masih sibuk berbincang dengan Mortana. Barulah keempatnya bergabung dengan masing-masing pasukan mereka saat matahari hampir setinggi tombak. Kemudian keempat rombongan pasukan pun melesat menuju perkemahan Knight Templar.


...* * *


...


Rodolf sudah berpakaian lengkap. Zirahnya juga sudah terpasang sempurna. Pedang kesayangannya pun telah menggantung di pinggang sebelah kiri. Ia sudah benar-benar mempersiapkan diri sejak satu jam yang lalu setelah mendengar laporan pergerakan musuh.


Mengalahkan lima puluh ribu prajurit yang dipimpin empat individu kuat—terutama Alforalis yang namanya terkenal bahkan saat Rodolf masih kecil—bukan sesuatu yang Rodolf mau lakukan. Pasukan yang bersamanya memang lebih dari 100 ribu, tetapi Rodolf hanya sendiri memimpin. Ia tak mungkin bisa menang. Paling jauh, ia dan pasukannya hanya akan mampu menghabisi semua pasukan mereka—sebelum kemudian habis dibantai para pemimpin musuh.


Satu-satunya alasan mengapa ia tak segera memobilisasikan pasukannya untuk mundur karena laporan kalau 50 ribu pasukan Ordo 4 yang dipimpin Fifth Saint Bedivere Luminia sudah hampir tiba. Paling lambat, mereka akan tiba pada pertengahan sore. Meskipun wanita itu tidak normal (wanita dewasa mana yang mengklaim diri sebagai anak kecil?), kekuatannya bukan main-main. Rodolf dan pasukannya akan berusaha menahan musuh sampai Bedivere tiba.


“Saint Rodolf, Sir!”


Rodolf yang berdiri membelakangi pintu masuk tenda seketika berbalik arah, memandang intens prajurit yang baru saja masuk.


“Para prajurit sudah dibagi jadi 10 divisi sesuai keinginan Anda, Sir. Masing-masing divisi terdiri atas 12331 prajurit. Mereka semua sudah siap bergerak. Apa kita akan menunggu datangnya musuh, atau kita perlu langsung bergerak, Sir?”


Rodolf tidak berkata apa-apa selama tepat satu menit. Kemudian melangkahkan kaki melewati sang prajurit. Sebelum benar-benar keluar tenda, barulah Rodolf memberi respons.


“Kita tak bisa biarkan mereka menghancurkan tempat ini. Ayo pergi. Aku sendiri yang akan memimpin semuanya di barisan terdepan.”


...—Nevada, Vermillion Empire—


...


Kapal Perang Vermillion Neva perlahan mengudara dari markas pusat Divisi 3 Imperial Army. Tepat ketika ketinggiannya menembus lima puluh meter, ratusan pasang mata terperangah pada kemegahanannya. Ketika kapal udara itu mengambang lebih tinggi lagi, seketika dia menjelma menjadi primado. Para warga berhenti beraktivitas hanya untuk menyaksikan kapal itu melesat ke sisi utara mereka.


Di dalam kapal, Edelweiss duduk tenang di kursi utama. Tentu saja bukan dirinya yang mengendalikan kapal; kursi yang diduduki Edelweiss tidak memiliki kemampuan spesial apa-apa.


Yang mengendalikan kapal dan segala sistem yang ada di dalamnya adalah keempat kapten pilihan sang commander.


Mereka semua duduk di empat kursi di depan Edelweiss. Satu dari mereka bertugas mengatur kecepatan dan gerak kapal. Satu lagi bertugas mengontrol sistem pertahanan. Yang satu lagi memastikan sistem penyerangan siap digunakan kapan saja. Sementara itu, kapten yang terakhir bertugas mengawasi sistem pendeteksi kapal ‒ dia bertanggung jawab memberikan informasi pada ketiga kapten.


“Commander, perlu kita coba kecepatan penuh?”


“Tentu saja. Bawa Vermillion Neva ke Dwarf Kingdom dengan kecepatan penuh.”


Dengan keputusan Edelweiss tersebut, kecepatan Vermillion Neva meningkat secara signifikan. Dalam tiga detik, kecepatannya sudah menembus ranah hipersonik. Vermillion Neva melesat menuju Dwarf Kingdom dengan kecepatan hampir sepuluh kali kecepatan suara di udara.


...—Sheba, Emiliel Holy Kingdom—


...


Sheba adalah satu dari enam kota yang mengelilingi Axellibra. Terletak di antara Ephron dan Canaan, persis di tenggara Axellibra. Jika Canaan dikenal sebagai pusat sihir dan penelitian, Sheba adalah pusat industri. Yang tinggal di kota ini rata-ratanya adalah orang kaya. Jika Eden bangunannya terkesan tradisional dan hampir-hampir tak ada yang tinggi menjulang, Sheba kebalikannya.


Ordo 5 Knight Templar yang dipimpin Sixth Saint Gallahad Grahamvell bermarkas tetap di Kota Sheba.


Ada 70.000 total prajurit aktif yang tergabung ke dalam Ordo 5. Normalnya tak semua dari mereka berkumpul di satu tempat. Itu hampir-hampir tak pernah terjadi. Namun, hari ini berbeda. Semua prajurit aktif sudah berbaris rapi membentuk 70 kolom di luar dinding utara kota. Mereka berdiri rapi dalam pakaian dan zirah lengkap.


Duduk dengan satu kaki tertekuk dan satu kaki terlipat di atas pilar tanah setinggi empat meter sekira lima meter di hadapan barisan terdepan adalah sang pemimpin: Gallahad Grahamvell.


Gallahad memiliki tubuh kekar dan atletis. Ia juga cukup tinggi, mencapai 182 centi. Rambutnya coklat terang pendek yang berdiri seolah menentang gravitasi. Pria bermata coklat ini membaluti tubuhnya dengan zirah adamantite teramat tipis seperti lembaran kertas. Zirah itu sudah seperti pakaian biasa saja. Zirah tipis itu dilapisi oleh zirah tebal sungguhan, tapi hanya di bagian vital saja.


Dua bulan lalu Gallahad baru menginjak usia ketiga puluh. Ia seorang suami dari tiga istri; seorang ayah dari empat putri. Tak ada yang lebih Gallahad inginkan selain menikmati hari-harinya bersama ketiga istri dan keempat anaknya. Tak ada yang lebih ia benci selain harus meninggalkan mereka untuk berperang.


Maka dari itu, pria berjanggut tipis yang memiliki bekas luka di pelipis kiri ini terlihat kesal. Jika bukan karena Pope Genea yang menegaskan agar ia memobilisasikan semua pasukannya, ia tentu takkan turut memimpin mereka. Gallahad sangat amat tidak bisa tenang kala jauh dari keluarga, apalagi harus bersiap berperang.


“Saint Gallahad, Sir!” Seorang prajurit tiba-tiba muncul di sisi kiri pilar tanah yang Gallahad duduki. “Divisi 12 Imperial Army sudah melewati garis imajiner lurus yang menghubungkan Sheba dan Ephron!”


Gallahad spontan berdiri setelah menerima laporan. “Persiapkan diri kalian!” serunya. “Kita bergerak dalam lima belas menit.”