
Xavier memandang intens orang itu, menatap lamat-lamat rupanya. Kemudian ia menyadari…kalau dia dan rata-rata elf memang cukup mirip. Pantas ia merasa pernah melihatnya.
Xavier mengangguk-anggukkan kepala—bukan pada ucapan sang elf, melainkan pada asumsinya sendiri.
“Bagus kalau kau ingat, aku jadi tidak perlu memperkenalkan diri dua kali.”
Xavier tidak ingat, tetapi itu tidak penting. Lagipula, itu sudah lama sekali. Lima tahun telah berlalu sejak saat itu. Tidak mungkin ia ingat hal yang tak penting.
“Jangan banyak bicara, maju kalian semua.” Xavier menepukkan kedua telapak tangan. “Fire Magic: Dragon Breath!”
Semburan api biru melesat dengan beringas dan melebar menjangkau area yang luas, menargeti semua musuh yang ada di depan. Api itu membakar habis tanah dan pepohonan yang dilewatinya, tidak memberi ampun barang sedikit.
“El, kau tidak perlu ikut campur. Kami akan menghabisi pengkhianat busuk itu. Aku, Yelloza, akan menghapus kesalahan yang Nona Evillia buat—dia tak seharusnya mengajarimu sihir!” Yelloza menarik napas yang dalam. “Water Magic: Water Propulsion!”
Semburan air bertekanan tinggi dan bervolume besar keluar dari mulut Yelloza, membelah semburan api Xavier menjadi dua. Pada saat yang bersamaan, belasan elf lain juga menggunakan sihir air melawan sihir api Xavier. Sementara itu, sisa elf langsung menerobos menyusul spell-spell yang rekan mereka lesatkan.
Kabut tebal tercipta akibat benturan kedua elemen yang saling berlawanan, Xavier dengan cepat melompat menjauh—tepat waktu menghindari rentetan peluru besi bulat yang datang.
Xavier tidak dibiarkan berleha, beberapa elf telah mengepungnya. Beberapa ayunan pedang menyayat tajam, bersungguh-sungguh membelah target mereka. Xavier tidak merasa terpojok. Ia memiringkan kepala menghindari ayunan pedang itu, pada saat yang bersamaan ia mencengkeram tangan seorang elf dan mengarahkan pedagnya untuk memblok serangan beberapa elf lain.
Merasakan bahaya di belakangnya, Xavier menendang elf yang tangannya ia cengkeram. Kemudian sikunya ia dorong ke belakang sembari kepala membungkung ke depan, menyikut dada elf yang berada di belakangnya dan merampas pedang yang dia genggam untuk ia pakai sendiri—Xavier lupa membawa pedangnya sendiri. Lantas Xavier mengayunkan pedang itu mementalkan dua tebasan yang datang dari atas.
“Lightning Magic: Screaming Beast!”
“Water Magic: Water Bullet!”
“Wind Magic: Wind Bullet!”
“Earth Magic: Gigantic Stone!”
Xavier melesat ke udara menghindari rentetan spell itu, tetapi Yelloza sudah berada di sana dengan kedua telapak tangan terbuka ke depan.
“…Water Pri—”
Xavier tak membiarkan Yelloza selesai, dalam sekejap lututnya sudah menghantam telak di dada wajah sang elf—membuatnya terlempar diagonal ke bawah dengan kuat, bahkan bunyi krak terdengar nyaring.
“Kau lemah, jangan banyak bicara,” gumam Xavier pelan, tangan kirinya yang bebas bergerak menangkap bilah pedang yang mencoba menyayatnya dengan ibu jari, jari telunjuk dan jari tengah.
“Kau…!”
“Tenagamu kurang, kau kurang cepat, dan kau juga perlu mempertebal aliran mana pada pedangmu. Jika hanya segini, kau tak bisa menembus enhancement-ku.” Xavier menggeleng pelan, seolah menunjukkan kekecewaan.
“Bangsaaaat!” teriak sang elf, menarik-narik paksa pedangnya dari cengkeraman jari Xavier, tetapi gagal.
“Dan kau perlu mengontrol emosimu lebih baik lagi,” lanjut Xavier sembari menghantam dada sang elf dengan kakinya, memaksa sang elf melontar ke bawah dengan pedang yang terlepas dari tangan—untungnya dia diselamatkan oleh elf yang lain.
“Xaaaavieeeer!” teriakan murka Yelloza menggelora memenuhi hutan, wajahnya dikotori darah yang merembes keluar dari mulut dan hidungnyayang patah. “Akan kubunuh dan kucabik-cabik kau, bajingaaan!”
Sekali lagi Xavier menghela napas panjang. “Ancaman kosong seperti itu….” Ia menggeleng kepala pelan. “Kali ini aku akan serius,” katanya, “tak satu pun dari kalian akan tegak berdiri dalam dua menit. Persiapkan diri kalian. Aku maju.”
...* * *...
Emily spontan menginstruksikan prajuritnya untuk berhenti, matanya melirik ke sana ke mari mencari pemilik suara itu. Namun, ia tidak menemukannya. Itu seolah datang begitu saja tanpa sumber asal.
“Kalian pergilah, aku akan mengatasi mereka semuanya. Gunakan taktik mereka pada diri mereka sendiri. Biarkan itu menjadi pelajaran bagi mereka karena telah cukup arogan menyerang Elf Kingdom.”
Emily mengernyitkan keningnya. Ia tidak merasa berada dalam ilusi, tetapi tetap ia coba membebaskan diri darinya. Namun, nihil. Ia masih tak menemukan pemilik suara. Pun prajurit dibelakangnya mengalami kegagalan sepertinya.
"Keluar kau kalau berani, sialann!" seru para prajurit, kekesalan dan kemarahan jelas terpampang di wajah mereka.
“Baiklah, aku di sini.”
Emily dan para prajurit spontan menoleh ke atas, dan seketika mereka mendapati seorang pemuda berwajah cantik sedang duduk di dahan pohon dengan satu kaki ditekuk dan satunya menjuntai—dan dia berbalutkan jubah Deus Chaperon.
“Kau….” Emily menonton final Grand Magic Tournament tahun lalu. Pemuda itu sengaja mengalah melawan peserta dari Emiliel Holy Kingdom, padahal jelas-jelas dia menang. Dia kuat. Namun begitu, Emily tidak ingat namanya.
“Commander Emily dan prajurit, kalian kuberi kesempatan untuk menyerah. Aku tidak suka menghabisi musuh yang tak bisa melawan. Tapi, jika kalian bersikeras….”
“Tidak bisa melawan…katanya….”
Bukan Emily yang menggumamkan kata penuh ketakpercayaan itu, melainkan orang-orang di belakangnya. Namun begitu, ia merasakan hal yang sama dengan mereka. Mendengar seorang pemuda yang lebih muda darinya berkata begitu padanya…seorang commander yang di belakangnya berbaris ribuan prajurit….
Tak bisa dipercaya. Emily mengepalkan tangan kuat-kuat, gigi menggemeretak seakan menggigil.
“Commander, ayo habisi di—arghhhh!”
Mata Emily seketika melebar seakan-akan hendak keluar dari tempatnya. Ketakutan mulai mencengkeram jiwanya dengan kuat. Suara tebasan demi tebasan terdengar di belakangnya. Teriakan sakit menjerit dengan keras. Darah bercipratan, memerahi tanah yang ditumbuhi rumput hijau dengan merah yang amis. Bahkan Emily merasakan cipratan darah mengenai lehernya.
Itu terjadi dengan begitu cepat. Saking cepatnya, saat Emily berbalik badan, tak ada satu pun prajuritnya yang berdiri. Semuanya sudah terbujur bersimbahkan darah dengan anggota tubuh yang tak lagi lengkap. Pemandang horor yang pasti membuat seseorang trauma. Bahkan, kaki Emily terasa bergetar. Mulutnya terbuka tutup, tetapi tak ada kata yang mau keluar ‒ tak ada kata yang sanggup keluar.
“I…Ini…bagaimana bi—”
Keterkejutan yang tampak di wajah Emily sudah cukup untuk membuat siapa pun yang melihatnya untuk berpikir kalau sang commander baru saja melihat hal yang lebih buruk daripada neraka—dan pemikiran itu benar.
Emily yang baru saja menyaksikan semua pasukannya tewas dalam sekejap tanpa bisa berbuat apa-apa, sekarang telinganya mendengar serapahan di belakangnya. Pun ia tidak sedang melihat ke kebelakang, melainkan masih terpusat pada anggota Deus Chaperon itu. Dan baru satu detik berlalu.
“Ilusi….”
Emily harusnya tak terkejut, ilusinya memang sangat mengesankan ‒ final Grand Magic Tournament telah menunjukkannya dengan jelas. Namun, ia terkejutnya bukan main. Jika pemuda itu ingin menghabisinya saat ia berada dalam ilusi tadi, Emily sudah mati.
“Aku takkan menunggu lama: dalam sepuluh detik aku akan menyerang jika kalian tak menyerah.”
Emily menggemeretakkan gigi-giginya ‒ ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Pemuda itu bukan seseorang yang bisa mereka hadapi. Dia bisa memasukkannya ke dalam ilusi tanpa bisa ia sadari, tiada yang bisa menghentikannya untuk melakukan hal yang sama pada para prajuritnya. Menyerang sama saja memilih mati, tetapi menyerah….
“Aku menantangmu satu lawan satu!” seru Emily lantang. Kemudian ia berbisik ke belakang, “Kalian bergabunglah dengan Putri Kanna; orang itu kuatnya bukan main. Kalian hanya akan mati sia-sia jika melawannya.”
Emily tidak menanti respons ketiga kaptennya, kakinya melangkah maju memangkas jaraknya dengan sang pemuda. “Satu lawan satu sampai mati!” tegasnya lagi.
Ini adalah solusi satu-satunya yang bisa ia pikirkan tanpa menodai kehormatan kekaisaran dengan menyerah.