
...—24th January, E643 | Carolina, Ekralina Kingdom—
...
Alforalis Grammolia dan lima puluh ribu pasukan yang ia bawa akhirnya tiba di Ibukota Carolina setelah melakukan perjalanan panjang dan lumayan lama. Apa yang menanti mereka di sana bukanlah sesuatu yang ia ekspektasikan. Berkebalikan dengan asumsinya, Imperial Army justru berada di atas ingin. Berdasarkan laporan yang Alforalis terima, tiga saints telah terbunuh dan puluhan ribu prajurit Knight Templar ikut tewas.
Alforalis tidak tahu siapa sebenarnya yang meremehkan Imperial Army di sini: dirinya, atau Knight Templar? Atau mungkin keduanya?
“Kami sangat menyambut kedatanganmu dan pasukan, Jendral Alforalis.” Mortana memamerkan senyum lebar penuh suka cita. “Commander Hekiel dan yang lainnya telah melaksanakan tugas mereka dengan sempurna. Bukan saja mereka mampu melindungi kota, melainkan juga menorehkan kemenangan. Dengan kehadiranmu dan pasukanmu, kita akan bisa menghancurkan Knight Templar hingga ke akar-akarnya.”
Alforalis percaya diri ia lebih kuat dari semua commander yang ada di sini. Ia bisa menghabisi mereka satu lawan satu. Namun, menghancurkan Knight Templar hingga ke akar-akarnya? Mortana sungguh pandai melawak.
“Terima kasih banyak telah memberi kami sambutan yang baik, King Mortana. Jika kau tak keberatan, kami akan menempati area sudut kiri dinding utara. Sebagian besar pasukan akan berkemah di luar dinding, sebagian di dalamnya. Kami tak ingin bercampur baur dengan Imperial Army.”
Mortana tampak berpikir sejenak, tetapi dengan cepat mengangguk. “Aku paham maksudmu. Akan kubicarakan dengan Commander Dermyus, Commander Reinhart, dan Commander Hekiel. Untuk sementara, nyamankan dirimu di sini.”
Alforalis mengangguk, mendudukkan diri di sofa di ruang tamu istana.
...* * *
...
Fifth Saint Bedivere Luminia duduk tenang di atas kursi besar yang dipikul empat prajurit. Tangannya bergerak-gerak memainkan boneka beruang kesayangannya. Sang saint sedikit pun tak memedulikan hal lain selain boneka imutnya.
Mereka berada di barisan terdepan memimpin lebih dari 50 ribu prajurit Knight Templar. Perkemahan Knight Templar di utara Carolina adalah tujuan dalam perjalanan ini. Laju pasukan cukup cepat, tapi tak lebih cepat dari laju kereta yang ditarik dua ekor kuda. Malahan, sebelumnya mereka lebih lambat lagi. Namun, karena desakan hebat dari ibukota, mereka tak punya pilihan selain menaikkan kecepatan.
Seharusnya mereka lebih cepat lagi, tetapi Bedivere enggan mempercepat laju pasukannya. Ia hanyalah anak kecil berusia sepuluh tahun yang terjebak dalam tubuh dewasa berusia 25; mereka tak seharusnya memaksanya menggerakkan pasukan secepat mungkin. Kan kasihan merekanya! Bagaimana kalau mereka kelelahan? Siapa yang akan membawakan kursinya duduk?
“Dame Bedivere, tidakkah kita sebaiknya lebih cepat? Setengah jam lalu kami menerima laporan kalau pasukan campuran perwakilan NWO sudah tiba di Carolina. Saint Rodolf meminta kita agar bisa tiba lebih cepat.”
Mendengar suara itu dari salah satu pria yang mengangkat kursi besarnya, Bedivere mengangkat boneka beruangnya tinggi-tinggi. “Tidak boleh begitu!” serunya dengan nada kekanakan. “Kita tidak boleh buru-buru. Kalau kalian buru-buru, bagaimana kalau nanti Dame Bedivere jatuh? Itu pasti sakit.”
“Ba-Baiklah kalau begitu.”
“Bagus kalau kalian mengerti, jadi Dame Bedivere tak perlu mengeluarkan otak kalian untuk memastikan kalian baik-baik saja. Sekarang, hentikan langkah dan suruh semuanya istirahat. Dama Bedivere sudah lapar. Beruang Gendut juga sudah lapar.”
Keempat prajurit yang memikul kursi sang saint mendadak pucat wajah mereka. Panik dan lega secara bersamaan menggerogoti kepala mereka. Bedivere tidak pernah bercanda dengan ucapannya. Jika dia berkata akan mengeluarkan otak seseorang untuk mengecek keadaannya, itulah yang akan dia lakukan. Tak ada metafora apa-apa dalam kalimatnya. Setiap ucapan sang saint murni memiliki arti secara literal.
Keempat prajurit langsung berhenti dan meletakkan kursi besar, kemudian meminta semuanya berhenti untuk beristirahat.
...—25th January, E643 | Throne Room, Nevada, Vermillion Empire—
...
“Kau sudah mempersiapkannya?” tanya Nueva tanpa melirik ke belakang ‒ matanya sepenuhnya fokus ke depan.
“Sudah. Aku sudah memotong bagian atas puncak Amarlesia seperti yang diperlukan. Formula rune-nya juga telah selesai kutuliskan. Tentu saja aku bukan Hernandez, tapi aku sudah menyesuaikannya dengan formula yang dia buat. Ritualnya bisa dimulai kapan saja. Perlu aku pergi membantu Lilithia?”
“Tidak perlu. Lilithia akan membawa Neira Claudian apa pun yang terjadi.” Nueva berdiri dari singgasananya. “Sebaiknya kau persiapkan dirimu. Kita pergi siang sini. Kita takkan lagi menginjakkan kaki di kekaisaran setelah ini.”
“Kudengar Lilithia baru pergi dua hari lalu. Bukannya kita baru akan pergi besok?”
“Awalnya begitu, tapi aku berubah pikiran. Kita tidak akan langsung ke puncak Amarlesia. Ada hal yang perlu kita lakukan sebelum ke sini. Vermyna tahu rencana kita; kita harus pastikan terlebih dahulu tak ada jebakan yang dia buat.”
“Kau berpikir aku tak mendeteksi jebakannya?”
“Bukan. Aku tidak pernah meragukan kemampuanmu. Ini lebih mengarah pada dia yang sengaja belum melakukannya agar kau berpikir semuanya aman. Kita sudah menanti terlalu lama; tidak boleh ada kegagalan dalam bentuk apa pun. Kita tak bisa menerima kegagalan yang kedua.”
“…Baiklah, aku mengerti. Aku akan bersiap-siap.”
Nueva mengangguk, melangkahkan kakinya menjauhi singgasana. Semuanya sudah jelas. Tak ada lagi yang perlu mereka bicarakan.
Kurang dari semenit, hanya Edward sendiri di dalam ruang tahta—kakinya belum beranjak dari tempat dia muncul.
...* * *
...
Akhirnya Divisi 12 Imperial Army berhasil memasuki wilayah Emiliel Holy Kingdom setelah menempuh perjalanan lumayan lama. Mereka bisa tiba lebih lama jika tidak menambah laju pergerakan; karena mereka mempercepat pergerakanlah mereka bisa berada di wilayah Holy Kingdom siang ini.
Xavier menghentikan pergerakan pasukan belasan menit setelah berada dalam wilayah musuh—kira-kira setengah jam sebelum tengah hari tiba. Mereka perlu mengembalikan stamina sebelum berkonfrontasi dengan musuh. Lebih dari itu, meski sudah berada dalam wilayah Emiliel Holy Kingdom, Axellibra letaknya masih jauh dari jangkauan. Jika mempertahankan kecepatan penuh, mereka baru akan tiba lusa pagi.
Tenda-tenda seperlunya didirikan. Para prajurit batalion medis langsung bergegas melakukan tanggung jawab sekunder mereka. Sementara itu, Xavier sendiri sudah berada dalam tenda yang diperuntukkan khusus untuknya.
Tepat satu setengah jam kemudian, pasukan kembali melesat dengan kecepatan penuh.
Tujuan mereka Axellibra.
Namun, sebelum bisa mencapai ibukota, jika tak berhati-hati maka bisa-bisa mereka akan berurusan dengan Knight Templar yang ditempatkan di Sheba atau Ephron. Mereka tak punya data tentang saint yang ditempatkan di Ephron, tetapi Sixth Saint Gallahad Grahamvell berada di Sheba.
Xavier tidak tahu apakah Lilithia dan divisinya akan melewati salah satu dari dua kota itu atau langsung ke Axellibra. Dengan cermin teleportasinya, tiba langsung di tengah-tengah kota suci musuh bukan sesuatu yang mustahil. Jika Divisi 12 juga langsung ke Axellibra, ada kemungkinan mereka dikepung oleh dua pasukan yang bermarkas di Sheba dan Ephron.
Bagaimana mereka bisa tiba di Axellibra tanpa membuat Knight Templar di Sheba dan Ephron bergerak menyusul mereka tetapi tanpa berkonfrontasi dengan kedua pasukan tersebut?
...»»» End of Chapter 31 «««...