Against the World II: Transgression

Against the World II: Transgression
Chapter 44: Emperor's Dream, part 3



“…Jadi, intinya, kau menggemborkan memiliki kekuatan yang lebih superior dari Supreme Magic?” Nueva melemparkan pertanyaan retoris, ekspresinya mengeras. “Bercanda juga ada batasnya. Dan aku sudah muak dengan omong kosongmu. Kau hanyalah batu pijakan untukku menjadi lebih kuat lagi!”


Nueva melesat menyerang dengan tubuh yang berlapiskan zirah api, angin, dan petir. Sihir utama asalnya adalah [Elemental Manipulation], sihir ini membuatnya bisa menggunakan lima sihir elemen dasar secara bebas. Lebih dari itu, ia bisa mengombinasikan kelima sihir tersebut membentuk elemen lain. Seperti sekarang, ia mengombinasikan api, angin dan petir untuk menciptakan zirah plasma yang berpijar.


Pada saat yang bersamaan, dua pedang hasil gabungan kelima elemen dasar tercipta di kedua tangan sang emperor. Ia bahkan menambahkan [Eternal Zero] ke dalam pedang berwarna ungu kehitaman yang berlapiskan aura keperakan. Dan dalam sekejap mata ia sudah memotong jarak dengan sang commander, kedua pedang elemennya menganyun sejajar secara horizontal ke arah yang sama.


“Untuk menjadi entitas yang kau sebut dewa,” kata Xavier sembari memblok kedua tebasan pedang elemen Nueva dengan lengan kanannya, “kau memerlukan tiga aspek kekuatan yang jelas melampaui Supreme Magic.”


Jika Nueva tertarik mendengarkan, ia tak menunjukkannya. Ia secara bertubi-tubi menebaskan kedua pedang elemennya seolah-olah hidupnya tergantung pada tebasan itu. Walaupun Xavier mampu menangkis dan menghindari tebasan-tebasan itu tanpa beranjak seinci pun dari tempatnya berpijak, Nueva tetap bersikeras.


“Aspek pertama: Omnipotent,” lanjut Xavier sembari menangkap tebasan pedang Nueva dengan jari telunjuk dan ibu jari kanan. “Dengan memiliki kekuatan ini, hidup dan mati sekalipun bukan lagi batasan. [Reality Warping] adalah versi inferior dari Omnipotent. Kau bisa mendapatkan kemampuan yang mendekati [Reality Warping] jika menggabungkan [True Reality], [Endless Thought], dan [Reverse Law].”


Nueva mencoba menghantamkan kakinya pada kepala Xavier, tetapi kakinya terhenti di udara.


“Aspek kedua: Omniscience. Dengan memiliki kekuatan ini, takkan ada hal yang tak bisa kau ketahui. [Extraterrestrial Frame] adalah versi inferiornya. Crest Mother of Nature, Supreme Magic [Divine Insight] dan [Complete Sensory] adalah kombinasi yang diperlukan untuk mendekati kemampuan yang inferior ini.”


Waktu telah dihentikan. Nueva tak bisa merasakan apa-apa. Satu-satunya alasan kenapa matanya masih bisa bergerak karena sang commander mengizinkan matanya untuk bergerak dalam waktu yang terhenti.


“Aspek terakhir adalah Omnipresence. Dengan kekuatan ini, kau bisa berada di mana pun tanpa halangan apa pun. Berada di masa lalu dan di masa depan dalam satu waktu yang sama akan semudah membalikkan tangan. [Dual World] adalah kemampuan yang mencoba meniru Omniscience. Dengan menggabungkan [Complete Sensory], [Divine Insight], dan [Reverse Law], kemampuan [Dual World] bisa kau dekati.”


Nueva memaksakan tubuhnya untuk bergerak, mencoba melawan waktu yang terhenti. Sayangnya, bahkan dengan segala kekuatan yang sudah ia miliki, ia tak bisa meloloskan diri dari waktu yang tak berjalan ini.


“Dan secara bersama-sama, ketiga aspek itu membentuk satu kesatuan yang kita sebut One Magic: gabungan dari semua Supreme Magic.” Xavier menjentikkan jari, dan waktu kembali normal. “Apa yang ingin kukatakan adalah, aku sama sekali tak mengada-ada. Supreme Magic adalah yang terkuat, tapi hanya dalam dunia tiga dimensi.”


Kaki Nueva yang sebelumnya terhenti bergerak kini kembali mengayun. Namun, tendangannya hanya menembus melewati tubuh sang commander sebagaimana ia menendang udara kosong. Nueva melesatkan serangan bertubi-tubi, tetapi tak satu pun dari serangan itu bisa mengenai lawannya.


“Di dimensi yang keempat, ada Anomali Magic. Memiliki Omnipotent, Omniscience, dan Omnipresence membuatmu berada di dimensi kelima. Untuk berdiri di dimensi keenam, kau harus menghubungkan diri dengan Throne of Heaven. Dan kau tahu? Kemungkinan masih ada dimensi ketujuh, walaupun ini hanya deduksi.”


“Sudah kubilang tutup mulut busukmu! Ultra Frozen Dragon Breath!”


Keadaan tak berubah. Semburan energi dingin ultra masif yang mulut Nueva lepaskan hanya melewati sang commander seolah dia tidak ada. Dan karena di belakangnya ada badan gunung, energi itu meluncur mulus menghantam badan gunung. Hampir seper lima bagian gunung lenyap dalam pecahan batuan yang membeku lalu terkikis menjadi partikel es.


“Tak ada yang lebih menyakitkan daripada menyadari kalau segala usahamu selama ini akan berakhir sia-sia, bukan begitu?”


Nueva melemparkan kedua pedangnya seperti para penombak yang melemparkan tombaknya sebagai respons atas pertanyaan penghinaan itu.


Pada saat yang bersamaan, kedua telapak tangannya menyatu denga kuat. Nueva menghabiskan tujuh puluh persen sisa mana-nya untuk memunculkan lingkaran sihir super raksasa yang terbentuk atas susunan belasan lingkaran sihir lain. Sang emperor mencoba membuat serangan terkuat yang bisa kepalanya pikirkan, dan kesemua lingkaran sihir itu berpendar terang.


“Apa terlalu sulit untuk menerima kenyataan?” tanya Xavier dengan wajah menengadah, mata memandang tersenyum pada rangkaian lingkaran sihir masif di langit larut siang. “Terlalu banyak mana yang terbuang,” komentarnya.


“Diamlah!” Nueva menggemeretakkan gigi-giginya berusaha menstabilisasikan penyatuan semua lingkaran sihir.


“Ah, apa kenyataan itu sangat menyakitkan?”


“Oh, kau ingin lari dari kenyataan?”


“Bukankah sudah kusurah kau agar menutup mulut busukmu itu?!” teriak Nueva sampai suaranya serak. “Musnahlah sekarang juga, Absolute Demise!” serunya seraya menghentakkan kedua tangan ke depan.


Dan sejurus seketika, serangan yang bahkan meretakkan ruang di sekitarnya turun dari gabungan lingkaran sihir masif itu. Semuanya bergabung dan terkonsentrasi ke arah tempat berdirinya sang commander. Nueva tak bisa memikirkan serangan yang lebih dahsyat dari itu.


Namun, Xavier hanya mengangkat tangan kanannya ke atas dengan telapak yang terbuka, dan sekonyong-konyong energi destruktif itu berhenti tepat satu inci di atas telapak tangan tersebut. Energi itu kemudian membaluti satu sama lain membentuk bola energi. Xavier meningkatkan kerapatannya hingga saat spell masif itu lenyap, bola energi yang terbentuk hanya seukuran kepalan tangan.


“Bukankah sudah kukatakan…kalau aku bisa mengontrol dan mengendalikan hukum semesta dan segala logika sesuka hati?”


Nueva tak punya waktu untuk membalas pertanyaan retoris tersebut. Matanya sudah melebar membelalak karena Xavier tiba-tiba sudah berada di hadapannya. Tangan sang commander yang memegang bola energi itu sudah menembus dada sang emperor. Nueva bisa merasakan gejolak energi itu ‒ ia bisa membayangkan ledakan dahsyat yang akan membinasakan dirinya saat Xavier menarik tangannya.


“…Tak ada kematian yang lebih memalukan daripada mati terkena serangan sendiri. Kau setuju, kan, Emperor?”


Bibir Xavier menyeringai, mata Nueva memelotot dengan keringat memenuhi pelis, dan tanpa aba-aba...sang commander menghilang.


Radiasi cahaya menembus setiap centimeter persegi kulit Nueva, dan ledakan yang begitu dahsyat seketika menelan tubuh sang emperor. Mata kanannya bahkan sempat melihat mata kiri yang terpental dan lenyap menjadi abu. Jiwa Nueva meronta, dan—


—Dan Nueva seketika membelalak dengan kebingungan dan ketakutan yang bercampur hebat.


Tubuhnya, yang matanya sendiri saksikan telah hancur tak terkira, masih dalam keadaan utuh. Dan saat matanya berkeliling, ia mendapati diri berada di kaki gunung tempat di mana sebelumnya ia hendak menghabisi Xavier sebelum sang commander tiba-tiba menghilang. Ia tidak tahu apa yang terjadi, tapi jelas ia tak sedang berada dalam ilusi.


“Aku bisa merasakan ketakutan dalam dirimu. Apa berada di ambang kematian begitu mengejutkan hingga tubuhmu bergemetar ketakutan?”


Nueva spontan membalikkan badan, dan Xavier—yang sedang duduk di atas batu besar dengan kedua kaki saling melipat—memamerkan seringai tipis menyapanya.


“…Apa tadi itu ilusi?”


Tadi itu terlalu nyata untuk menjadi ilusi. Bukan saja ia mengingat rasa sakit itu dengan sangat jelas, mana yang ia miliki juga telah berkurang drastis. Ia bahkan telah kehilangan wujud Dragon Force miliknya. Namun, gunung yang tadi ia hancurkan kini telah kembali utuh. Nueva tidak tahu jika tadi benar-benar ilusi atau bukan.


“Sepertinya kau benar-benar tidak bisa menerima kenyataan. Kau masih enggan memercayai apa yang kukatakan. Aku bisa melakukan apa saja, ingat? Menulis ulang realitas bukanlah hal yang sulit.”


“…Menulis ulang realitas? Kau gila.”


“Memang, ada batasan yang tak bisa kulewati. Namun, jika sebuah jiwa belum memasuki alam kematian, maka di hadapanku itu belum dinamakan mati. Tapi sudah cukup bicaranya. Sudah cukup juga main-mainnya. Aku tak punya cukup mana untuk mempertahankan fungsi [Soul Incarnate] lebih lama lagi. Aku punya waktu kurang dari satu menit sampai kekuatanku kembali tersegel.”


“…Tersegel…?”


“Kau makhluk yang kuat, Nueva el Vermillion, dan pada saatnya setiap yang kuat akan berhadapan dengan yang lebih kuat. Tapi berbangga dirilah. Kau akan takluk di tangan pria yang pernah membuat Phoenix babak belur.”