
XAVIER tidak tahu apakah ia harus berterima kasih atau kesal karena menemukan dirinya terduduk di dalam gelembung ruang yang familier di mata. Ia tidak bertanya di mana ia berada, tidak pula soal siapa yang membawanya ke sini. Jawabannya jelas. Karenanya pula, Xavier tidak bisa membawa mulutnya mengatakan apa pun dan hanya bisa diam saat pemilik gelembung dimensi muncul di hadapannya.
Senyum terhibur sedikit bersemi di bibir wanita berambut violet beriris abu-abu itu, pupil hitam vertikalnya tampak mengecil.
Perempatan muncul di pelipis Xavier. Bibirnya sedikit berkedut. Ia merasa harga dirinya sedikit tercoreng. Ia datang berniat menyelamatkan seorang wanita dan menghukum sang penculik. Yang terjadi sebaliknya: ia dihukum sang penculik dan diselamatkan seorang wanita. Ironi.
Namun begitu, meski pahit di lidah, Xavier memaksa mulutnya membuka diri: “Meskipun aku masih bisa menyelamatkan diri, tetapi kuhargai apa yang kau lakukan. Terima kasih.”
Jauh dari cara terbaik untuk berterima kasih, memang, tetapi itu adalah apa yang bisa mulutnya keluarkan. Pasalnya, dia adalah Vermyna. Dia adalah orang yang pada akhirnya akan ia habisi—Xavier masih belum lupa tentang Nizivia dan Catherine. Namun, dengan dirinya berhutang budi padanya, bagaimana ia bisa memenuhi tujuan itu?
Singgasana hitam muncul di belakang Vermyna, dan wanita itu langsung duduk di situ tanpa berniat merespons. Namun, senyum menjengkelkannya masih belum memudar. Itu seolah sang vampire/iblis/atau-apalah tersebut sedang terang-terangan menunjukkan kalau diri Xavier menghibur dirinya.
Pikiran Xavier meronta meminta Vermyna menghapus senyum itu, tetapi sang commander sukses menenangkan diri. Beberapa belas detik kemudian ia kembali membuka mulut dengan bertanya, “Mengapa kau menye‒membawaku ke sini?”
“Agar dirimu berhutang budi pada diriku?” Senyum terhibur Vermyna melebar.
Xavier spontan mengernyit. “…Apa yang lucu?” tanyanya saat kekesalannya naik ke level di mana tangki kesabarannya tak lagi menampung kekesalan itu.
“Dirimu.”
Mata Xavier mengerjap. Mulutnya membuka hendak mengatakan sesuatu, tetapi dengan cepat ia menutupnya kembali saat tidak menemukan kata untuk diutarakan. Matanya memandang Vermyna seolah kepalanya telah bercabang dua.
“Kau…aku tak bisa mengerti.” Xavier akhirnya berkata setelah hampir semenit diam, kepalanya menggeleng-geleng pelan. “Apa yang sebenarnya kau inginkan, Vermyna Hellvarossa?”
“Dirimu seperti sangat enggan merasa berhutang budi pada diriku. Dirimu membenci diriku…hanya karena diriku telah bersusah payah membebaskan diri dari apa yang Edenia lakukan?”
Xavier mengernyit, tetapi kali ini untuk alasan yang berbeda dengan kernyitan sebelumnya. Sangat mudah mengatakan “ya”, tetapi Xavier tak bisa membawa diri untuk mengatakannya. Ia marah? Iya. Jelas. Bagaimana ia tidak marah setelah Vermyna mengakhiri keberadaan Catherine dan Nizivia?
Namun, membencinya? Xavier tidak mengerti…tetapi ia tidak bisa mengatakan “ya” pada pertanyaan itu.
“…Berikan diriku darah dirimu, dan diri kita impas.”
Xavier memandang intens pada mantan vampire itu. Senyum terhibur di wajah seputih susu itu telah menghilang, digantikan gari tipis nan datar. Xavier hendak bertanya apakah dia masih meminum darah meski tubuhnya bukan lagi vampire, tetapi membatalkan niat itu dan memilih mengangguk.
“…Itu tak masalah jika hanya darah.” Xavier berdiri dan menghampiri Vermyna yang duduk di singgasana dua meter di depannya. “Ini,” katanya, tangan kanan terulur untuk sang wanita raih.
Vermyna meraih tangan Xavier. Namun, daripada membawanya ke mulut, dia menarik tangan itu dengan kuat, seketika membuat tubuh Xavier terdorong. Sebelum menyadarinya, Xavier sudah menemukan dagunya berada di bahu kanan Vermyna. Tangan kanan Vermyna yang super lembut telah membelai pipinya.
“…Lain kali dirimu harus lebih berhati-hati.”
Mata Xavier mengerjap, dan tiba-tiba ia sudah berada di atas pasir putih di pinggir laut—tak jauh darinya ada dermaga besar yang tidak asing.
Ia berada di Cestapola, Xavier menyadari itu. Namun, pikirannya terlalu bingung untuk memedulikan. Bukannya menghisap darahnya, Vermyna justru berbuat seolah mereka begitu dekat, nada bicaranya seolah mereka pernah saling peduli.
…Xavier tidak mengerti. Ia tidak ingat pernah bertemu dengan Vermyna sebelum pertemuan mereka di markas utama New World Order. Lebih dari itu, Vermyna—
“Vier!”
—Mata Xavier mengerjap, sedikit tersentak dengan suara Monica yang datang tiba-tiba, tetapi dengan cepat ia dapat mengusir pikiran yang membingungkannya dan memasang ekspresi seolah tidak ada apa-apa.
...* * *...
Vermyna belum bergerak seinci pun dari singgasana di dalam gelembung dimensinya sejak ia memindahkan Xavier ke pesisir Cestapola hampir dua menit yang lalu. Mata abu-abunya masih belum bergerak dari memandang telapak tangan kanannya. Sensasi menyentuh pipi Xavier masih membekas, terasa jelas, dan itu membawanya pada memori lama.
Tawa yang mereka bagi. Lelucon (yang kebanyakannya garing) yang keluar dari mulut mereka. Waktu yang mereka habiskan. Pelukan hangat yang masih terasa. Wajah kesal yang membawa senyum. Hari-hari yang begitu berwarna…. Vermyna mengingat semuanya seolah itu baru hari kemarin.
Ia bahkan sampai membawa kesadarannya ke masa itu, hanya untuk memastikan ia tak melupakan satu momen pun.
Namun, ketika menyadari hanya dirinya yang mengingat semua itu, tetes bening yang sedikit asin tiba-tiba keluar sendiri dari ekor mata Vermyna.
Itu menggelikan mengetahui dirinya sampai menangis, tetapi Vermyna tak mampu menipu diri.
Hati itu…dia terluka.
Relung dada itu…terasa menyesakkan.
Mulut itu…serasa tak mampu ia buka, bibir itu bergemetaran.
Namun, meski melupakan semuanya mudah, menghapus ingatan itu tak sulit…Vermyna enggan mempertimbangkan. Meski hanya ia sendiri yang menyimpan memori ini, Vermyna menerima. Ia percaya Xavier akan mengingatnya, meski ia tak tahu itu kapan. Dan, saat itu tiba, ia akan pastikan Xavier bertanggung jawab atas semua rasa sakit yang dia beri.
Betapa tak bertanggungjawabnya bocah idiot itu, dengus Vermyna dalam hati dengan penuh kekesalan—walaupun sejatinya bibir itu sedikit melengkung.
...* * *...
Membutuhkan waktu yang tak lama bagi Shiva untuk menenangkan diri. Meskipun tadi agak memalukan ia bersikap seperti anak-anak yang telah kehilangan mainannya, tetapi sekarang kontrolnya telah kembali. Emosinya—yang belum pernah hidup sejak beberapa tahun terakhir—telah kembali mati. Seorang dewa tidak memerlukan emosi; ia tak akan bisa memenuhi tujuannya jika ia masih memiliki secercah emosi.
“Kau melihatnya, Sakhra?” tanya Shiva pada individu yang telah muncul di belakangnya—ia masih berada di padang pasir.
“…Tidak.”
“Kupastikan kau takkan mendapat kiriman makanan dari siapa pun jika kau melihatnya.”
“Sakhra tidak melihat apa-apa.”
“Bagus. Itu adalah apa yang ingin kudengar.” Shiva mengangguk pada dirinya sendiri. “Sekarang aku perlu bantuanmu untuk mengembalikan padang pasir ini kembali seperti semula. Jika sudah selesai, kau bisa meminta koki istanaku membuatkanmu makanan apa saja.”
“Oke. Sakhra akan melakukan itu.”
Sekali lagi Shiva mengangguk, kemudian tubuhnya dibaluti zirah angin dan mengudara. Ia memang gagal mendapatkan kepingan jiwa Xavier, tetapi energi kehidupan yang telah ia kumpulkan sudah cukup. Ia tidak punya pilihan selain memanfaatkan hal itu baik-baik.
Namun, yang masih belum ia mengerti, mengapa Vermyna menolong Xavier? Bukankah seharusnya mereka saling memusuhi? Atau, Vermyna sebenarnya memanfaatkan Xavier untuk kepentingannya?
[Divine Insight] seharusnya adalah Supreme Magic terbaik. Itu memang bukan sihir ofensif, tetapi ia bisa melakukan semua hal yang ia inginkan dengan sihir itu. Apa pun yang ia tak ketahui, sihir itu memberi jawaban. Shiva tidak berpikir hari di mana ia akan merasa kecewa pada sihirnya akan datang. Namun….
Ini hasil yang sungguh tak pernah kuekspektasikan.