
Xavier hendak menjawab pertanyaan sang first commander, tapi niatnya itu langsung ia urungkan saat mendapati kalau Lilithia tengah terluka. Xavier tak mengerti bagaimana ia bisa baru menyadarinya sekarang, padahal sangat jelas sekali luka itu terlihat. Wanita yang memiliki rasa percaya diri yang lebih besar dari bulan ini telah kehilangan tangan kirinya secara utuh.
“Apa yang terjadi?” tanya Xavier, kedua kakinya mendarat tepat di hadapan sang commander. “Siapa yang memberimu luka ini?”
“Tidak ada. Aku hanya sedikit terkecoh.” Lilithia enggan menjelaskan, tapi jarak di antara mereka sudah sepenuhnya dia hapus. “Jadi, apa yang kau lakukan di si—hm, bau ini….”
Xavier mencoba menjauhkan Lilithia darinya, tetapi tangan sang commander yang tersisa telah terlebih dahulu menarik kerah baju Xavier—yang spontan membuat wajahnya menunduk hingga dahi mereka saling menempel.
“Katakan, siapa pemilik bau yang menempel pada tubuhmu? Apa yang sudah kau lakukan dengannya? Bagaimana bisa baunya bercampur dengan baumu? Jelaskan padaku, Xavier.”
Xavier sudah menghabiskan waktu sepuluh tahun dalam supremasi Vermyna, tak mengherankan aroma sang mantan vampire melekat pada tubuhnya. Namun, Xavier tak berpikir aroma itu bisa sangat mudah tercium. Ia tidak tahu jika aroma itu yang terlalu kuat atau penciuman Vermyna yang cukup sensitif. Yang jelas, ini bukan sesuatu yang ia ekspektasikan akan menyambutnya.
Yang ada dalam pikiran Xavier saat datang ke sini adalah Nueva duduk angkuh dengan satu kaki tertekuk dan seringaian arogan di bibir seraya berkata, “Aku sudah menantikan kedatanganmu.”
…Ini bukan apa yang ia ekspektasikan. Sangat jauh malah.
Keberadaan Lilithia, dan bola energi hitam misterius yang melayang itu…. Apa ia telah melewatkan sesuatu?
“Lebih penting dari itu, lukamu perlu segera ditangani.” Xavier coba mengalihkan isu, ekspresi khawatir ia paksa bersemi di wajahnya. “Kau wanita yang kuat; melihatmu dalam keadaan terluka begini….”
Xavier menghela napas pelan dan mendaratkan kecupan singkat pada bibir Lilithia dan berbisik pelan, “Biar kusembuhkan dirimu dulu, baru kemudian kita bicara tentang alasan kau berada di sini.”
Xavier tidak tahu apa penyebab adanya bola energi itu. Ia juga tak bisa mengetahui isinya apa—sihir sensorik dan [Reverse Law]-nya juga tak mampu menembus ke dalam bola energi. Yang jelas, ia bisa merasakan energi yang sangat besar dalam bola. Vermyna tak mungkin berdusta padanya; apa mungkin di dalam bola energi itu ada Nueva?
Tapi sebelum memastikan itu semua, terlebih dahulu ia harus mengetahui alasan Lilithia berada di sini.
...—————
...
Lilithia tak menyangka Xavier akan menciumnya tiba-tiba, walaupun itu cukup singkat—tak sampai dua detik.
Karena itu, ia kehilangan kata-kata untuk ia ucapkan. Sejak ia memberi tahu Xavier kalau ia menginginkan sang pemuda saat di Etharna dulu, tak sekali pun Xavier berinisiatif. Selalu Lilithia yang memaksakan kehendak. Memang, mereka jarang bertemu karena lokasi markas yang berbeda dan kesibukan yang ada. Tetapi dalam beberapa pertemuan yang ada, selalu Lilithia yang memaksanya.
Lilithia, meskipun penampilannya sangat muda, mengerti kalau ia tak lagi muda. Mayoritas wanita seusianya sudah memiliki anak lebih dari satu. Namun, saat ini ia merasa seperti gadis remaja. Hatinya berbunga-bunga. Seolah ada ratusan kupu-kupu di dalam tubuhnya, kepakan sayap mereka menggelitik sekujur tubuh sang commander.
Kendatipun ia tahu kalau Xavier telah mengelak dari menjawab pertanyaannya, Lilithia enggan peduli. Tindakan Xavier telah menyita total perhatian sang commander. Ia bahkan tak merespons saat Xavier mengajaknya duduk ‒ tubuhnya bergerak secara insting memenuhi ajakan sang pemuda. Lilithia pernah mendengar kalau cinta itu gila, sekarang ia bisa memberi kesaksian kalau ungkapan itu seratus persen benar.
“Coba gerakkan tangan kirimu.”
Mata Lilithia kembali mengerjap. Spontan ia menoleh memandang tubuh bagian kirinya, dan seketika matanya melebar. Tangan kirinya yang telah diputuskan Neira…kini telah kembali utuh dengan sempurna. Ia coba langsung gerakkan, dan Lilithia tak sedikit pun merasakan hal aneh atau nyeri, seolah-olah tangannya tak pernah putus sama sekali.
“Apa ada hal yang tak sesuai dengan tanganmu?”
“Ini…ini sangat sempurna. Bagaimana bisa?” Lilithia memandang Xavier intens. “Sihir apa sebenarnya yang kau miliki?”
Sejak pertama kali bertemu Xavier hingga sekarang, Lilithia masih belum mengetahui sihir apa yang sebenarnya sang commander miliki. Ia bahkan telah menciptakan replika Xavier dengan [True Mirror], tapi ia masih tak bisa menyimpulkan sihir yang dia miliki. Kemampuan Xavier terlalu banyak ‒ sangat sulit menarik kesimpulan tentang sihir yang bisa digunakan sang commander.
“Aku tak keberatan menjawab semua pertanyaanmu, tapi sekarang bukan waktu yang tepat. Katakan, Lilithia, kenapa kau berada di sini? Apa Nueva berada di dalam bola energi itu?”
Keseriusan seketika mewarnai wajah cantik Lilithia. “Apa Xavier ke sini mencari Nueva?” tanyanya.
Xavier mengangguk.
“Untuk apa?” tanya Lilithia lagi. “Bukannya Nueva sudah memberimu tugas? Mengapa kau mencarinya?”
...—————
...
Mendengar pertanyaan itu keluar dari mulut Lilithia, pikiran Xavier mulai menarik beberapa kesimpulan yang mungkin benar.
Mengerucutkan kesimpulan-kesimpulan itu menjadi kesimpulan yang paling mungkin, Xavier tak kuasa untuk tak mengernyitkan keningnya. Ada beberapa kemungkinan yang dapat menjelaskan alasan keberadaan Lilithia di sini, tetapi tak ada yang lebih mendekati kebenaran selain apa yang ia khawatirkan.
“Katakan, Lilithia, apa kau loyal pada Nueva?” tanya Xavier serius, mata memandang intens sang gadis. “Jika kau harus memilih antara aku dan keloyalitasanmu pada Nueva, apa yang akan kau pilih?”
Kedua mata Lilithia memandang Xavier sama intensnya. “Aku memiliki kesepakatan dengan Nueva,” jelasnya. “Aku tidak loyal pada siapa pun. Ikatanku dan Nueva hanyalah kesepakatan itu. Jadi, jika itu pertanyaanmu, aku tentu saja memilihmu. Tapi jika kau tanya apa aku akan memilihmu atau kesepakatan itu….” Lilithia menjeda ucapannya dan bangkit berdiri.
“Apa pilihanmu?” Xavier turut berdiri.
“Jawab dulu pertanyaanku,” jawab sang commander, menunda meneruskan ucapannya yang ia jeda. “Apa tujuanmu ke sini?”
Xavier menghela napas panjang. Ia berpikir singkat apakah harus menjawab pertanyaan itu, menimbang-nimbang apakah itu opsi yang tepat atau bukan. Namun, pada akhirnya ia kembali menghela napas dan memutuskan berterus terang. Jika pada akhirnya Lilithia lebih memilih kesepakatan yang dia buat dengan Nueva, maka itu adalah titik perpisahan mereka.
“Nueva bertanggung jawab atas hancurnya desaku, atas kematian kedua orangtuaku. Aku datang ke sini untuk mengakhiri masalah ini. Sejak awal, alasanku bergabung dengan Imperial Army hanyalah demi membalas apa yang sudah dia lakukan. Sekarang katakan, apa di dalam bola energi itu ada Nueva, dan kau di sini bertugas menjaganya dari bahaya?”