Against the World II: Transgression

Against the World II: Transgression
Chapter 13: Sataniciela, part 2



Pertama, Luciel punya musuh dalam diri Lucifer. Kedua, Eileithyia membenci Luciel sampai dia rela mengorbankan nyawa untuk menghabisinya. Dan sekarang, seseorang yang lain telah datang mengumbarkan kebencian yang tak terkira pada diri Luciel. Sungguhan? Apa hobi Luciel memang membuat orang membencinya?


Xavier menggeleng kepala pelan, tak habis pikir dengan kelakuan malaikat agung yang satu itu.


“Akan sia-sia meyakinkanmu kalau aku bukan Luciel,” ucap Xavier sembari merilekskan sendi kedua bahunya. “Namun, sebelum kita menyelesaikan urusan apa pun itu yang ingin kau selesaikan, mengapa kau tidak memperkenalkan diri terlebih dahulu.”


Mulut wanita itu tak memberi jawaban. Dia sudah berada di hadapan Xavier dengan sebuah tombak hitam kelam di tangan. Tombak itu tidak normal. Bukan saja dia membuatnya muncul begitu saja dari ketiadaan, itu juga memancarkan hawa yang pekat. Dan dari jarak sedekat ini, Xavier merasakan hawa iblis yang samar dari diri wanita cantik ini.


Xavier membuat tubuhnya menjadi tak bisa disentuh; tombak itu menembus begitu saja seolah ia tidak ada. Sang iblis—begitu asumsi Xavier—tidak menampakkan wajah keterkejutan; tubuhnya menembus tubuh Xavier dengan ekspresi biasa. Mengingat dia membenci Luciel, Xavier menyimpulkan Luciel pernah melakukan trik yang sama terhadapnya.


Petir biru keputihan seketika menyelimuti kedua tangan Xavier saat tubuh wanita berambut violet itu sempurna melewati tubuhnya. Dan sejurus seketika ia berbalik arah dengan kedua tangan menusuk ke depan. Sayangnya, sang iblis—yang telah berpengalaman menghadapi Luciel—telah memanifestasikan tameng hitam yang memblok tusukan kedua tangan berselimutkan petir Xavier.


Saat kedua tangan Xavier membentur tameng, sang iblis telah berteleportasi ke belakangnya. Xavier merasakan ada lebih dari satu tombak yang diarahkan pada tubuhnya. Namun, kali ini Xavier tak mencoba membuat tubuhnya menjadi tak bisa disentuh. Tepat sebelum tombak-tombak itu menyentuh bajunya, Xavier sudah berteleportasi tepat ke atas kepala sang iblis dengan tombak api hitam yang sudah tergenggap erat di tangan kanan.


Wanita tersebut spontan melirik ke atas. Tanpa belas kasih, Xavier menusukkan tombak apinya ke bawah mengincar bahu kiri sang iblis. Tetapi upaya Xavier tak berhasil; rentetan tameng hitam kelam memblok tombak api hitamnya.


Tentu saja dengan cepat api hitam menelan habis semua tameng-tameng itu. Namun, dalam waktu yang sedikit itu, Sataniciela sudah menjauh dari Xavier dan telah menyiapkan ratusan tombak hitam di kanan, kiri, dan atasnya. Kesemua tombak itu meluncur dalam kecepatan hipersonik, tanpa ampun.


“Space Reversal,” bisik Xavier pelan, dan seketika tubuhnya bertukar tempat dengan sang iblis.


Kali ini, Xavier sukses membuat ekspresi terkejut timbul di wajah sang iblis. Rentetan benturan tombak terdengar sekian mili detik kemudian. Sang iblis dengan kedua tombak hitam di kedua tangan melakukan gerakan yang menakjubkan dalam memblok tombak-tombak hitam yang meluncur ke arahnya.


Tak ingin membiarkan sang iblis fokus pada menangkis tombak-tombak itu, Xavier menarik napas dalam-dalam dengan nada membusung. Jika biasanya lingkaran sihir biru yang muncul di depan mulutnya, kali ini lingkaran sihir berwarna hitam. Dragon’s Breath, batin Xavier, dan sejurus kemudian api hitam menyembur dalam intensitas tinggi menerjang sang iblis.


Sang iblis mementalkan tombak hitam terakhir yang melaju menerjangnya, kemudian melemparkan tombak hitam di tangan kiri lurus ke depan. Namun, meskipun lajunya cepat, tombak itu lenyap ditelan api hitam. Dan dalam sekian puluh milidetik kemudian, api hitam itu mencapai sang iblis.


Mengejutkan Xavier, semburan api hitamnya menyusut secara signifikan, tertarik kuat ke telapak tangan kiri sang iblis.


“Kau sepertinya lebih kuat dari Luciel,” kata wanita itu tepat setelah menyerap habis api hitam Xavier. “Baiklah, kubiarkan kau mendengar namaku.” Sang iblis mendarat dengan tombak menghantam tanah dengan kuat. “Sataniciela, iblis terkuat di semesta. Ingat nama itu baik-baik dalam otak busukmu, sebelum otak tak berguna itu turut kubinasakan hingga tak bersisa.”


“Ha….” Xavier tak memberi respons lebih selain itu. Tombak api hitamnya sirna. Percikan petir terbentuk di kedua telapak tangannya. Pedang petir yang kemudian dibaluti api hitam berkerapatan tinggi bermanifestasi dengan sempurna. “Baiklah kalau begitu,” kata Xavier dengan percikan petir yang sudah menyelimuti tubuhnya. “Mari kita lihat jika kau bisa mewujudkan kata-kata itu.”


Satiniciela memblok ayunan pedang vertikal Xavier dengan tombak di tangan kanan, sementara tombak lain yang telah terbentuk di tangan kirinya memblok ayunan pedang horizontal sang commander.


Xavier menyadari satu hal saat kedua pedangnya berbenturan dengan kedua tombak hitam itu: senjata Sataniciela menyerap energi kedua pedang petir berbalutkan api hitamnya. Dan hal itu menimbulkan pertanyaan: mengapa tadi api hitamnya bisa melenyapkan tombak hitam, tetapi sekarang tidak bisa?


Kaki Xavier mendarat, menambah dorongan pada kedua tangannya. Namun, Sataniciela tak tergerak.


“Tombak hitam ini hanya mampu menyerap energi saat kau memegangnya,” ucap Xavier menjawab pertanyaan yang timbul di kepalanya—pada saat yang bersamaan ia mengalirkan mana mengembalikan kondisi kedua pedangnya kembali seperti semula.


Sataniciela mengayunkan kedua tombaknya sekuat tenaga, membuat Xavier terlempar ke belakang beberapa meter. “Mengetahui hal yang sesederhana itu takkan memberimu kemenangan!” seru sang iblis sembari melesat dengan kecepatan penuh.


Xavier tak punya waktu untuk membalas seruan itu. Kedua tangannya sudah bergerak meladeni permainan tombak Sataniciela yang menakjubkan. Bukan saja gerakannya sangat efektif dan efisien, tenaganya juga luar biasa bukan main.


Xavier ingat bagaimana permainan tombak Heckart. Namun, jika dibandingkan dengan Sataniciela, permainan tombak Heckart hanyalah permainan anak-anak. Xavier tidak tahu sebagus apa Heckart sekarang, tetapi ia sangsi jika ada yang lebih baik dari Sataniciela.


Pedang Xavier untuk kesekian kalinya menepis tusukan tombak hitam Sataniciela, dan kali ini ia secara konstan mengalirkan mananya untuk mempertahankan bentuk kedua pedangnya. Kepalanya ia miringkan, tipis menghindari tusukan tombak sang iblis yang satunya. Sebelum posisi kepalanya kembali ke posisi semula, ia kembali dipaksa menepis pukulan tombak Sataniciela yang satunya.


Pertarungan mereka berlangsung dalam kecepatan tinggi. Di mata orang biasa, yang mereka lihat hanyalah kilatan biru keputihan yang bergerak ke sana ke mari yang petir Xavier sebabkan. Mereka tidak bisa melihat sosok Xavier dan Sataniciela, saking cepatnya mereka. Yang mengikuti kilatan yang berpindah-pindah dengan cepat hanyalah suara benturan dan percikan petir itu sendiri.


Tak ingin terus berada dalam posisi bertahan, Xavier melapisi zirah petirnya dengan Enchanted Flame Armor hitam, seketika membuat kecepatannya bertambah. Bertambahnya kecepatan otomatis membuat tenaga yang ayunan pedannya lepaskan bertambah kuat. Alhasil, kali ini Xavier sukses untuk pertama kalinya mementalkan kedua tombak sang iblis.


Wajah sang iblis untuk kedua kalinya diwarnai keterkejutan, dan itu langsung Xavier manfaatkan dengan melayangkan kaki kanannya ke sisi kiri kepala Sataniciela.


Meskipun terkejut kedua tombaknya lepas dari tangan, Sataniciela masih sempat mengangkat tangan kiri memblok tendangan Xavier. Namun, itu tak cukup untuk meredam tenaga yang berada di balik tendangan itu. Alhasil, wanita yang mengaku sebagai iblis terkuat itu terhempas puluhan meter.


“Tidak buruk,” ucap Sataniciela sembari menyerap api hitam yang menggit lengan kirinya dengan telapak tangan kanan—kemudian lengan itu beregenerasi sendiri. “Xavier von Hernandez, itu namamu, kan?”


Xavier tidak menjawab pertanyaan itu. Masing-masing lima puluh lingkaran sihir telah bermanifestasi di kanan dan kirinya, semuanya berwarna biru keputihan. Tentu saja Xavier tahu menyerang seseorang yang bisa menyerap mana adalah hal yang sia-sia. Namun, Xavier menyadari satu hal saat ini: Sataniciela hanya bisa melakukan itu dengan telapak tangan. Artinya, spellnya akan berguna jika Sataniciela tak bisa mengarahkan telapak tangannya pada spell-spell itu.


“Akan kuingat nama itu.” Sataniciela kembali menciptakan tombak hitam di masing-masing tangannya—dan pada saat yang bersamaan dua tanduk yang bentuknya seperti telinga kelinci mencuat dari kepalanya. “Makhluk kuat sepertimu, tak peduli seberapa menjijikkan itu, tetap pantas mendapatkan respek. Sini, majulah, akan kuhancurkan kau hingga tak berbentuk.”