
Dalam ruang anti-sihir, tidak ada sihir yang bisa digunakan. Jangankan itu, menggunakan fundamental sihir (Acceleration, Enhancement, dan Manipulation) saja tidak bisa. Setiap orang yang masuk ke dalam arena berkubah transparan ini tidak bisa mengakses mana mereka. Tentu saja itu mengecualikan dirinya dan Kanna. Kanna tak mungkin membuat kesalahan bodoh yang menjadikan senjata makan tuan; buktinya Xavier masih bisa mengakses mananya.
Xavier dan Kanna saling memandang sejenak, sebelum kemudian saling mengangguk dan melesat menyerang Vermyna yang arogan—yang telah lancang mengklaim diri sebagai makhluk rendah hati. Tanpa [Complete Sensory], tidak mungkin Vermyna bisa menghindar serangan mereka seefektif dan seefisien sebelumnya. Dan yang lebih penting, Vermyna takkan bisa melarikan diri dari ruang ini.
Xavier dan Kanna muncul bersamaan di kedua sisi Vermyna, kedua tangan dominan mereka mengepal erat melayangkan tinju pada sang ratu.
Vermyna—yang tubuhnya berselimutkan energi putih sedikit bening—memblok kedua tinju itu dengan kedua lengannya.
Siapa pun akan mengekspektasikan kalau pukulan Kanna dan Xavier akan membuat penguasa para vampire terpental. Tetapi kenyataan tidak begitu. Vermyna hanya terseret mundur beberapa langkah. Padahal, pukulan berkekuatan sedang Kanna dapat membuat Evillia hampir terkapar. Pun tenaga pukulan Xavier tak bisa disepelekan. Namun, Vermnya dapat memblok kedua serangan mereka pada saat yang bersamaan.
Petir dan api hitam menyelimuti tangan Xavier, sedang cahaya kuning yang memancarkan panas membaluti tangan Kanna. Namun, bukannya menyudutkan Vermyna, Vermyna justru menghempaskan keduanya. Sang leluhur para iblis tidak sedang bercanda; dia sungguh serius menjadikan pertarungan ini sebagai latihan untuk menghadapi Fie—makhluk berkekuatan fisik yang super eksepsional.
“Kalian mungkin sudah menyadarinya. Ini adalah energi yang Nizivia gunakan untuk membuat dirinya berbahaya. Daripada menggunakannya seperti yang Nizivia gunakan, diriku sekarang mengalirkannya ke seluruh sel tubuh. Ini membuat fisik diriku lebih kuat.”
Kanna dan Xavier tidak memberi respons verbal. Keduanya kembali menyerang dari dua arah yang berbeda. Kali ini Xavier menciptakan dua buah pedang api berkerapatan super tinggi di masing-masing tangan, sedang Kanna menggenggam dua buah pedang cahaya. Mereka melesat dengan begitu cepat, bagaikan kilat di mata mereka yang tak terlatih.
Vermyna silih berganti memiringkan kepalanya ke arah yang berbeda menghindari rentetan sayatan pedang elemen kedua lawannya. Mereka cepat, dan gerakan mereka makin lama semakin seirama. Vermyna dapat meladeni mereka selama beberapa saat, tetapi saat kedua gerakan mereka sempurna, ia mulai terseret mundur. Ia bahkan tak punya celah untuk menyerang balik saat keduanya serentak menyerang dari satu sisi yang sama.
Vermyna terpaksa mengambil jarak dari mereka untuk memberinya ruang, tetapi Xavier sudah berteleportasi ke sana. Pada saat yang bersamaan, Kanna (dengan tombak es spiral super besar di atasnya) sudah berada di hadapan Vermyna dengan kedua pedang cahaya yang siap terayun. Vermyna tidak bisa berbuat banyak selain menyilangkan kedua tangan memblok serangan Kanna.
Kedua pedang cahaya Kanna hancur berkeping-keping, tetapi kedua pedang api hitam Xavier sukses menusuk kedua sisi punggung Vermyna—hanya saja dengan cepat kedua pedang itu melebur dan menghilang.
Dalam satu waktu yang sama, hantaman kaki Kanna mendarat di wajah sang vampire. Xavier memanfaatkan momen itu dengan menandang punggung Vermyna ke atas. Vermyna mereka buat meroket ke udara. Dan saat itu pula tombak es spiral berputar tajam menghantam tubuh sang leluhur para iblis.
Belum cukup sampai di situ, Xavier dan Kanna serentak menjauh dari tempat mereka membuat Vermyna meroket. Kedua tangan mereka menyatu dalam harmoni, membuat dua buah lingkaran sihir masif berbeda warna yang saling bersandingan. Hal yang terjadi selanjutnya adalah sesuatu yang indah sekaligus mengintimidasikan: bukit es yang di dalamnya menyala api hitam membara mengurung Vermyna dengan sempurna.
Lalu, tatkala sambaran petir Xavier daratkan tepat di puncak bukit es itu, dentuman besar yang menghancurkan bukit itu seketika menggetarkan arena.
...—bersama para spektator—...
“Mereka kuat,” komentar Cainabel. “Tidak ada satu pun dari kita yang bisa mengimbangi mereka. Putri Kanna bahkan hampir membunuh Queen Evillia dengan satu pukulan, dan itu masih belum kekuatan penuhnya.”
Evillia mendengus mendengar hal itu. Setiap centi kubik bagian tubuhnya, setiap gumpal darah merahnya, setiap titik inti keberadaannya…. Semua bagian diri Evillia menjerit agar ia menghabisi para vampire di sekililingnya. Namun, ia tidak melakukan apa pun. Sejatinya, Evillia tak bisa mengelak kalau hanya Vermyna yang mungkin bisa mengatasi monster bernama Fie Axellibra.
“Nona Vermyna masih belum memiliki kekuatan penuhnya, sangat natural gabungan Xavier von Hernandez dan Kanna el Vermillion membuatnya kesulitan.” Valeria memberi opininya sendiri. “Namun, hanya masalah waktu sampai mereka berada di ambang batas. Serangan dalam skala kecil seperti itu takkan mampu memberi luka yang mendalam padanya.”
Sekali lagi Evillia mendengus, pikirannya kembali mengulas klaim arogan Vermyna: “Diriku saat ini masih belum bisa mengalahkan Fie, tetapi kondisi ini takkan bertahan lama. Dirimu akan segera melihat kekuatan penuh Vermyna Hellvarossa, dan dirimu akan sangat menyesal jika memutuskan berada di sisi yang berlawanan dengan dirinya.”
Di sisi lain, Menez tidak mengatakan apa pun. Matanya intens memandang ke bawah sana. Seperti yang Luciel pesankan padanya, ia harus menunggu momen yang tepat untuk menyelamatkan Xavier dan Kanna dari tempat ini. Ia bertahan di tempat untuk memastikan Vermyna takkan bisa menghentikannya saat ia berniat pergi.
Menez tidak tahu apa yang akan Xavier lakukan, tetapi yang pasti adalah: bertahan di New World Order bukanlah hal yang bagus untuknya. New World Order sudah berakhir di detik Vermyna mengatakan dia akan mengambil alih organisasi itu.
Ia bisa bergabung dengan Imperial Army atau Chiron Army; satu dua dusta sudah cukup untuk meyakinkan Kanna, terlebih setelah ia menyelamatkan mereka. Atau, ia bisa menghabiskan waktunya untuk fokus mendapatkan kontrol penuh atas Land of Dream.
...—kembali ke arena—...
Dari bongkahan es dan tarian api hitam yang berkobar liar, Vermyna melangkah keluar dalam keadaan tanpa lecet sedikit pun. Api hitam tak mampu menembus aura putih sedikit bening yang membungkus tubuhnya; dia melewati kobaran api itu seakan itu hanyalah angin sepoi-sepoi yang berwujud. Jikapun rentetan serangan tadi memberinya luka, regenerasinya dalam sekejap membuat itu tak berbekas.
“Impresif, kerja sama diri kalian telah berhasil memberikan luka pada diriku. Ini memalukan untuk diriku katakan, tetapi diriku tak bisa mengelak kalau satu pukulan Fie akan mampu meremukkan tubuh diriku yang saat ini. Diriku telah mengoverestimasikan tubuh ini. Mari diri kita abaikan hal itu. Sekarang giliran diriku yang menyerang, dan diriku juga takkan menahan diri.”
Gelombang energi putih sedikit bening itu seketika menyapu seisi arena. Api hitam padam dibuatnya. Bongkahan es melebur ditekannya. Dan sebelum gelombang energi itu mencapai Xavier atau Kanna, Vermyna sudah berada di depan sang putri dengan telapak tangan menusuk ke depan—aura putih sedikit bening yang menyelimuti tubuhnya bertambah pekat.