
DI KEJAUHAN, Crow memandang dalam diam tatkala Knight Templar dan undeadnya Mary saling menyerang.
Meskipun jumlah mereka luar biasa banyak, Knight Templar dengan mudah menghancurkan para undead. Tentu saja jumlah sebanyak itu memberikan perlawanan yang ketat bagi Knight Templar, tetapi hanya sebatas itu sajalah. Kualitas anggota Knight Templar sama sekali tak perlu dipertanyakan. Satu banding lima belas tidak berarti banyak. Para undead tumbang dengan cepat tanpa mampu membunuh satu pun anggota Knight Templar.
Crow mengekspektasikan Mary untuk mengeluarkan undead yang lebih kuat. Namun, mengejutkannya, hingga Knight Templar berkonfrontasi dengan 400 anggota Eternity yang Shiftor dan Miera pimpin, tidak ada satu pun undead lain yang bangkit. Pun Crow tidak melihat keberadaan Mary. Shiftor dan Miera juga tak terlihat memimpin pasukan mereka.
“Apa yang terjadi?” Crow tak kuasa bertanya. “Apa mereka meninggalkan tempat ini? Apa mereka telah mengkhianati Neix?”
Crow spontan memerintah sisa tiga ratus anggota Eternity untuk turut membantu rekan mereka.
Dengan Shiftor dan Miera yang masing-masing memimpin dua ratus anggota ditambah Mary dengan undeadnya, Crow yakin mereka akan dapat menghancurkan belasan ribu Knight Templar tanpa masalah. Namun, dengan menghilangnya ketiga orang itu secara tiba-tiba, 400 anggota Eternity tidak akan cukup. Terlebih lagi, Saint Marcus sama sekali tidak menahan diri dari membantu anggotanya.
“Mereka semua seharusnya cukup untuk mengalahkan Knight Templar, tapi kehadiran Saint Marcus….”
Crow menghela napas pelan, tangan kanannya bergerak memegang topeng hitamnya. “Sepertinya tidak ada pilihan lain; aku harus turun tangan langsung jika tak ingin Saint Marcus memporak-porandakan mereka.”
Percikan petir merah kehitaman menyelimuti tubuh Crow, dan sedetik kemudian dia menghilang dalam kilatan tajam, kristal biru tempatnya berpijak pecah berkeping-keping dan berhamburan menjadi abu.
...———...
Marcus harus mengakui kalau orang-orang berjubah hitam ini lebih superior dibandingkan Knight Templar. Ia sudah mendengar tentang pasukan terelite kekaisaran (Chiron Army), tetapi Marcus yakin orang-orang ini lebih superior dari mereka. Benar dirinya dapat menghabisi mereka dengan mudah, tetapi tidak dengan para prajuritnya. Bahkan dengan jumlah mereka yang superior, para prajuritnya berguguran bagaikan daun yang sudah sampai pada pertengahan musim gugur.
Paling tidak aku harus mengurangi separuh jumlah mereka sebelum menuju istana es bercampur kristal itu, batin Marcus sembari menarik pedang besarnya. Namun, sebelum pedang itu sempurna ia tarik, insting Marcus menjerit keras—yang lantas spontan membuatnya melompat menjauh.
Tepat setelah, sambaran petir merah kehitaman menghujam tempat itu dengan suara yang menggelegar diiringi debuman. Ketika debu dan asap yang disebabkan petir itu menghilang, seorang pria berjubah hitam bertopeng hitam sempurna telah berdiri di sana.
“…Aku merasakan kekuatan besar dalam dirimu,” kata Marcus sembari mengibaskan pedang besarnya—kibasan itu membuat kejutan udara melesat menerjang si penopeng, tetapi si penopeng hanya diam menerima efek tersebut seolah itu bukan apa-apa. “Apa kau petinggi Eternity?”
“Crow. Dan aku akan menjadi malaikat kematian bagimu, Saint Marcus Vehelmi Vandiesell.”
“Pernyataan yang berani, Crow,” kata Marcus sembari menancapkan pedang besarnya tepat selangkah di depan kedua kakinya. “Namun, apakah kau bisa menyokong kata-kata itu dengan kekuatan?” Tubuh Marcus seketika menguarkan mana yang besar dan pekat, tanah tempatnya berpijak sampai beretakan.
“Betapa jumlah mana yang mengesankan, seperti yang bisa diharapkan dari salah satu Saint terkuat.” Tubuh Crow turut melepaskan mana yang tak kalah dari Marcus. “Baiklah, mari lihat apakah kau akan tetap hidup setelah pertarungan ini atau lenyap tak bersisa.”
“Hmph, majulah, Crow! Kebinasaanmu akan mereduksi sedikit kotoran dalam udara Islan!”
Crow bukan satu-satunya yang menanyakan keberadaan Mary, Miera, dan Shiftor. Neix pun sibuk mempertajam pandangan dan persepsinya mencari ketiga orang itu. Namun, hasilnya nihil. Bahkan dari tempatnya duduk di puncak tertinggi istana buatannya sekalipun, Neix tidak menemukan keberadaan mereka. Mereka sudah tidak lagi berada di lembah ini. Mereka sudah meninggalkannya dan Eternity yang ia bentuk.
“Heh, Mary meninggalkan Eternity sama sekali tak mengejutkan, tetapi Miera dan Shiftor….”
Neix tidak memiliki asumsi lain selain teori kalau Mary sudah menjadikan mereka berdua sebagai bonekanya, dan hal itu mungkin juga berlaku bagi Hebranest. Dan itu menimbulkan satu pertanyaan: apakah Mary sudah mengendalikan Elmira, atau justru Elmira yang telah memanfaatkan Mary dengan sihir pemanipulasiannya?
“Yang mana pun itu, tidak masalah sama sekali. Yang jelas, mereka sudah memilih menjadi musuhku.”
Dan Neix tidak akan membiarkan rekan menjadi musuh tanpa hukuman yang berat. Tidak, ia tidak akan membunuh mereka. Sama sekali tidak. Setelah Knight Templar binasa, dan setelah ia memanfaatkan kematian mereka semua untuk mengaktifkan ritual pembuka gerbang neraka, Neix akan ke Etharna dan menjadikan kota itu rata dengan tanah. Kemudian ia akan menghancurkan kedua tangan dan kaki Mary. Sedangkan Elmira, ia akan menyiksa gadis itu sebagaimana dia menyiksa orang-orang.
…Itu adalah hukuman yang sempurna untuk mereka berdua.
Neix membiarkan bibirnya melengkung dan memfokuskan pandangan ke medan pertempuran, tepatnya ke arah di mana dua sumber mana memancar tajam. Crow dan Saint Marcus, pertempuran di antara mereka jelas akan menarik. Meskipun bukan yang terkuat di antara para saint, tetapi Marcus setingkat dengan Crow. Pertarungan mereka akan menjadi hiburan baginya sebelum ia mematikan semua yang ada di sini.
“Keluarkan seluruh kemampuan kalian untuk menghiburku,” gumam Neix sembari meletakkan kaki kanannya di atas kaki kiri, matanya memandang penuh ketertarikan ke arah sana.
...—Edenia’s Cave—...
Dulu saat Kota Heavenly Crystal masih hidup, ada sebuah gua yang disucikan. Edenia’s Cave. Itu berupa gua bawah tanah yang terdapat di sisi utara kota. Tempat itu hanya boleh dimasuki oleh penduduk Kota Heavenly Crystal yang terlahir di tanah ini. Dan itu pun tidak bebas masuk begitu saja; setiap orang yang masuk ke sana harus terlebih dahulu membasuh wajah dengan Ethereal Water—air berwarna perak yang dulu mengisi Danau Deus.
Aturan itu diberlakukan bukan tanpa alasan.
Menurut legenda asal mula Danau Deus, sang dewa pertama kali menginjakkan kaki di dalam gua itu sebelum menciptakan dan memberkahi Danau Deus. Konon katanya, Edenia menghabiskan waktu selama tujuh hari tujuh malam di dalam gua itu. Berdasarkan rumor yang lain, Edenia menjadikan gua itu sebagai tempat peristirahatannya selama di dunia. Terlepas dari benar atau tidaknya legenda tersebut, keindahan gua itu sendiri sudah mampu membuat semua penduduk kota menyucikan Edenia’s Cave.
Itu dulu. Sekarang, tempat itu tersembunyi dengan baik oleh puing-puing bangunan dan kristal biru. Tempatnya memang tidak berubah sampai sekarang, tetapi tidak ada yang bisa menemukan akses masuknya kecuali mereka yang diizinkan. Karena, Edenia’s Cave yang dulu sangat disucikan dan diagungkan, sejak beberapa ratus tahun setelah lenyapnya Ethereal Water telah berubah menjadi kediaman rahasia Hernandez sang Legenda Blacksmith.
Bahkan pada hari ini, saat kedua kubu makhluk fana saling menumpahkan darah untuk menguasai tanah yang ditinggalkan dewa ini, Hernandez masih tetap menguasai gua tersebut. Meskipun itu hanya seuah sistem kompleks [Rune Magic] yang menampung ingatannya dengan sempurna, dia tetaplah Hernandez. Dan saat ini, Hernandez (lebih tepatnya sistem ingatan Hernandez) telah mempersiapkan lingkaran sihir pemanggilan spesial—sebuah tugas terakhir yang ia miliki sebelum sistem rumit ini lenyap.
“Sataniciela….” Hernandez menggumamkan nama itu saat meneteskan darah yang sudah Vermyna berikan padanya ke dalam formasi lingkaran sihir yang rumit. Tepat setelah itu, lingkaran sihir itu melebar dan menutupi seluruh area Lembah Terlarang Ed. Karena lokasi Hernandez di bawah permukaan tanah, yang lebih rendah daripada dasar danau deus, tidak ada yang menyadari lingkaran sihir itu.
...Neix tidak mengerti apa yang dia lakukan di tanah yang ditinggalkan dewa ini. Dan saat dia mengerti, itu akan sangat terlambat.