Against the World II: Transgression

Against the World II: Transgression
Special Story: Threat from the East, part 6



...—22nd May, D204—...


UNTUK sebuah alat transportasi laut, kapal berukuran sedang dengan dek dua tingkat itu melaju dengan kecepatan yang menakjubkan. Kapal tersebut mampu memangkas jarak 55 kilometer hanya dalam satu jam. Kendati kecepatan tersebut terlampau kecil jika dibandingkan dengan rata-rata kecepatan naga terbang, tetapi untuk sebuah transportasi ber-[mana] minimalis, itu sudah terbilang menakjubkan.


Berbeda dengan kapal-kapal yang lebih besar yang berlayar di belakang kapal berukuran sedang tersebut, kapal itu tidak memiliki banyak orang di atasnya. Secara sekilas, hanya terlihat para teknisi dan kapten kapal saja. Secara teliti, beberapa prajurit terlihat berdiri di beberapa lokasi dengan pandangan penuh observasi. Kendati berperan sebagai kapal yang memimpin semuanya, kapal itu bisa dibilang kurang perlindungan.


Akan tetapi, mengingat siapa orang yang duduk di singgasana satu-satunya di ruangan termegah kapal itu, kurangnya perlindungan sungguh tak akan menjadi masalah bagi mereka. Malahan, kapal berukuran sedang itu justru jauh lebih mengancam dibandingkan kapal-kapal di belakangnya. Bisa dipastikan, tak akan ada musuh yang selamat jika berani memprovokasi kapal yang tak dilengkapi satu pun senjata itu.


Pintu ke ruangan termegah kapal itu tiba-tiba dibuka dengan perlahan, membawa sepasang kaki memasukinya dengan langkah yang terkesan lembut. Sesampainya beberapa meter di hadapan singgasa yang indah itu, pemilik kaki tersebut menjatuhkan lutut dan menundudukkan kepalanya. Dengan penuh ketundukan dia melapor:


“Paduka, kita telah memasuki perairan Medea. Dalam setengah jam kapal akan tiba di pesisir selatan benua. Namun, kapten kapal memutuskan untuk menghentikan kapal sepuluh menit yang akan datang guna menghindari konfrontasi dengan para naga.”


Sepasang kelopak mata terbuka itu terbuka dengan perlahan, menampakkan sepasang iris hitam bak obsidian yang jatuh ke dasar kegelapan. Sayangnya, pemilik kedua kaki yang tertekuk itu tak melihatnya—pandangan sang prajurit itu menunduk memandang lantai.


“…Kembalilah sepuluh menit lagi.”


Empat patah kata yang diucapkan dengan nada monoton itu adalah respons yang sang prajurit terima, dan sepasang iris hitam pekat itu kembali disembunyikan oleh kelopak mata dengan bulu-bulu yang lentik itu—pemiliknya jelas sekali tak ingin berlama-lama memperlihatkan keindahan sepasang manik obsidian indah itu.


“Sesuai keinginan Anda, Paduka.”


Sang prajurit sekali lagi merendahkan kepala penuh hormat, kemudian mundur selangkah lalu berdiri dan berbalik badan, meninggalkan sang empress yang hanya duduk diam di atas singgasana dengan kedua mata terpejam.


Dialah Jiang Yue Yin, seorang kaisar wanita pertama dalam sejarah Jiangzou Empire.


Meskipun fisiknya tak berbeda dengan seorang gadis yang baru menginjak usia dua belasan, usia aslinya sudah lebih dari dua abad. Gadis berambut perak panjang ini telah berhenti tumbuh saat ia berusia dua belas tahun. Ia tidak akan pernah menua. Fisiknya abadi.


Pintu ruangan termegah itu kembali menutup kala sang prajurit keluar ruangan, sekali lagi menyembunyikan keindahan abadi yang tak akan memudar itu ‒ seorang wanita yang keberadaannya pasti membawa kesuburan bahkan bagi tanah mati sekalipun.


...* * * * *


...


...[25th March, C997 | Imperial Palace, Shinzou, Jiangzou Empire]...


Jiang Yue Yin yang tengah malam nanti baru akan berusia dua belas tahun memandang diam penuh minat pada selembar daun yang diterbangkan angin dengan penuh kebebasan. Sebuah pertanyaan melintas di benak putri satu-satunya penguasa Jiangzou Empire tersebut:


Ke mana daun itu akan jatuh?


Hal itu sungguh menggelitik rasa ingin tahu sang putri. Jika bisa, ia ingin terbang dan pergi menguntit daun itu dari belakang. Sayangnya, hal itu hanya bisa dilakukan oleh mereka ahli sihir yang punya [Wind Magic], [Wind Manipulation Magic], [Flight Magic], dan sihir-sihir lainnya yang mungkin ada banyak. Keinginan itu tak bisa diwujudkan bagi orang yang bahkan tak bisa menggunakan [mana]-nya sama sekali, kecuali jika menggunakan artefak sihir yang bisa menerbangkan.


Dari sekian banyak orang yang tak bertalenta dalam sihir, sialnya Yue Yin termasuk salah satu dari mereka. Bahkan dengan kecerdasan otaknya sekalipun, sang putri tak mampu menipu takdir untuk memberinya talenta bersihir. Padahal, kedua orangtuanya adalah seorang Magic Master dan Magic Caster yang ternama. Namun, dirinya….


Karenanya, sang putri sangat tertarik untuk tahu nasib daun itu.


Sebab, keduanya sama-sama tak kuasa melawan angin yang membawa mereka pergi. Keduanya sama-sama tak memiliki pilihan dalam derasnya aliran kehidupan. Mereka terombang-ambing, pergi ke mana angin membawa mereka. Mereka lemah, tak berdaya, dan tak diperhatikan sama sekali.


“Tuan Putri, sudah saatnya Anda masuk. Pengajar politik dan ekonomi kekaisaran akan tiba dalam satu jam. Anda harus sudah siap memulai pelajaran sebelum beliau tiba. Anda harus selalu menunjukkan etika seorang putri. Anda harus selalu tampil sempurna.”


Sejujurnya, Yue Yin sangat membenci belajar. Ia ingin protes. Ia ingin mengatakan kalau ia ingin mendengarkan orkestra. Yue Yin ingin mengatakan kalau ia ingin membaca kisah-kisah indah di perpustakaan. Banyak hal yang ia ingin katakan....


Akan tetapi, Yue Yin menahan diri. Ia adalah produk gagal di mata orang-orang. Seorang pewaris kekaisaran tanpa punya talenta bersihir…. Itu sungguh kehinaan terbesar dalam sejarah kekaisaran mereka. Ia…adalah…kegagalan, begitu bisik-bisik yang berfibrasi menerobos udara itu berkata.


Karenanya, Yue Yin tak pernah protes. Ia menuruti setiap hal yang dijadwalkan untuknya. Tak peduli itu melelahkan, tak peduli itu menyakitkan, tak peduli itu membuat kepala mumet, tak peduli meski itu membawa depresi…. Yue Yin melakukan semuanya tanpa protes.


Hari ini pun…Yue Yin tidak akan protes.


“Ya, Xiela.” Suara datar nan monoton yang diucapkan dengan ekspresi yang tak kalah datarnya itu mengakhiri observasi Yue Yin terhadap daun yang sudah menjauh itu.


Dengan tanpa keengganan sang putri berbalik, berjalan dalam langkah penuh keanggunan yang membuat pelayan bernama Xiela itu tersenyum puas, meninggalkan balkon utama istana dan segala keheningannya.


“Ah, Tuan Putri, saya akan meminta kepala juru masak agar menyiapkan makan malam spesial untuk Anda. Karenanya, silakan Tuan Putri kembali ke kamar sendiri. Saya akan segera menyusul setelah selesai.”


Bibir Yue Yin melengkung membentuk senyum yang niscaya melenakan mata orang-orang. Namun, jika diperhatikan dengan saksama, siapa pun akan mampu melihat kepalsuannya, tepatnya ketiadaan emosi di sana.


“Ya, Xiela.”


Selepas Xiela pergi, Yue Yin mengembalikan ekspresi datarnya, melanjutkan langkah menuju kamar miliknya.


“Lapor, Perdana Menteri. Ini tentang perkara yang sukar dipercaya: Yang Mulia Emperor dan Empress telah tiada.”


Langkah kaki Yue Yin refleks terdiam mendengar suara yang menginvasi sistem pendengarannya itu.


“Mereka terbunuh di medan perang. Kendati keduanya berhasil mengalahkan pemimpin musuh, tetapi luka mereka terlalu fatal. Keduanya tewas tanpa sempat disembuhkan.”


Yue Yin refleks merapatkan tubuhnya ke dinding, telinganya ia buka lebar-lebar sembari dirinya berusaha tetap senyap.


“…Oh, mereka akhirnya mati?”


“Pe-Perdana Menteri, kau…!”


“Tenanglah, aku tak bermaksud bersuka atas kematian mereka. Aku hanya terlampau kesal. Sudah kukatakan pada keduanya untuk tak maju ke medan perang, tetapi mereka terlalu keras kepala dan kukuh pergi. Padahal aku sudah melakukan berbagai cara sampai-sampai membentak mereka, tetapi keduanya tetap pergi walaupun tahu kemungkinan besar akan mati. Tsk! Dasar keras kepala!”


“…Begitu, ya….”


“Haaa, jika saja mereka mendengarkan perkataanku…. Ngomong-ngomong, Wei Huan, kapan mayat mereka sampai ke istana?”


“Kami menghindari penggunaan teleportasi sebagaimana bentuk penghormatan bagi kesatria yang gugur di medan perang. Karenanya, kami mengestimasi mayat keduanya akan tiba dalam satu sampai dua hari.”


“Bagus. Jika demikian, kita bisa fokus pada mempersiapkan upacara pemakaman dan menentukan siapa yang harus menggantikan kaisar untuk menduduki tahta.”


“…Apa maksudmu dengan menentukan siapa yang akan menduduki tahta, Perdana Menteri? Bukankah itu secara sah menjadi milik Putri Yue Yin? Dia satu-satunya pewaris kaisar; tidak ada yang berhak menduduki tahta selain dirinya.”


“Aku ingin setuju denganmu, Wei Huan. Tapi, apa kau lupa kalau Putri Yue Yin tidak memiliki kemampuan menggunakan [mana]? Apa kau lupa kalau dia bukan seorang petarung? Apa kau lupa kalau dia hanya orang biasa?”


“Tentu saja tidak, hanya saja….”


“Kita tidak punya pilihan lain; sudah menjadi suratan takdir Tuan Putri lahir tanpa talenta sihir. Menikahkannya dengan seorang yang ternama dan kita percaya loyalitasnya adalah satu-satunya solusi.”


“Menikahkannya?! Tapi, dia masih—”


Yue Yin tak lagi tertarik mendengar perbincangan itu, kakinya sudah melangkah menjauh. Ia sudah cukup mendengarnya. Ia tak perlu mengetahui kelanjutan dari pembicaraan itu.


Namun, yang mengejutkannya, Yue Yin tak merasakan sedih, depresi, atau putus asa saat mendengar kedua orangtuanya tewas. Malahan, sebagian kecil dari dirinya merasa senang terhadap kematian mereka, dan itu membuatnya merasa…muak pada dirinya sendiri. Kendati merasa begitu, Yue Yin tahu mengapa sebagian kecil dari dirinya merasa senang.


Satu kata itu mungkin sudah cukup mewakili semuanya, sudah cukup menjelaskan perasaan yang senang itu.


Berbeda dengan dirinya, kedua orangtuanya dilahirkan dengan talenta sihir yang tinggi. Ayahnya bahkan lebih bertalenta dibandingkan kaisar sebelumnya. Kendati orangtua ibunya kedua-duanya bukan petarung dan tak lihai menggunakan [mana], bakat ibunya dalam bersihir sampai membuatnya menjadi salah satu Magic Caster terkuat di kekaisaran.


Sementara, dirinya yang terlahir dari penyatuan kedua individu sekaliber mereka…bagaimana bisa tak mewarisi sedikit pun talenta itu? Itu seperti mereka telah berkomplot untuk tak mewarisinya sihir.


Sebagian kecil dari diri Yue Yin membenci kedua orangtuanya itu, tetapi bagian yang lebih besar dari dirinya lebih membencinya yang berani membenci ibu dan ayahnya.


Memuakkan. Begitu memuakkan sampai-sampai Yue Yin ingin menangis. Namun, air mata itu tak pernah turun. Kesedihan yang memuakkan seperti itu…, Yue Yin telah melupakannya untuk waktu yang lama. Kendati demikian, jika bisa memutar waktu, setidaknya Yue Yin ingin meminta maaf pada ayah ibunya karena telah menaruh sedikit kebencian pada mereka.


Namun demikian, saat ini bukan perkara kematian orangtuanya yang paling menyita perhatian sang putri, melainkan kenyataan kalau sang perdana menteri—yang notabenenya adalah pamannya—ingin menikahkannya dengan seseorang, meskipun ia masih begitu muda untuk itu.


Yue Yin yang senantiasa menuruti setiap perintah mereka, kali ini ia tidak akan menerima. Mereka pasti berpikir ia akan mengindahkan keinginan mereka itu, seperti biasanya. Sayangnya, Yue Yin akan memupuskan harapan mereka itu. Lebih baik ia mati daripada harus dinikahkan dengan orang yang bahkan tak ia ketahui, apalagi jika usianya belasan tahun di atasnya. Ia akan membangkang.


Akan tetapi, itu hanya akan menjadi usaha yang sia-sia tanpa dukungan. Dan mengingat betapa rendahnya nilai sang putri di hadapan mereka, jelas sekali tidak akan ada yang mau mendukung dirinya. Pasalnya, siapa yang mau memiliki pemimpin selemah dirinya?


Jika ia ingin benar-benar membangkang, pertama sekali ia harus menjadi kuat. Jika tidak, dukungan itu tak akan ada. Jika tak ada dukungan, satu-satunya solusi yang tersisa adalah mati. Namun, Yue Yin tidak ingin sampai benar-benar merasakan mati. Pilihannya saat ini hanya dua: menjadi kuat, atau mati. Karenanya, menjadi kuat adalah sebuah keharusan.


Dengan tekad menjadi kuat memenuhi benaknya, Yue Yin memacu kakinya lebih cepat, dan tak lama kemudian ia sampai di kamarnya.


Langsung saja sang putri menghampiri lemari penyimpanan buku-buku yang ia kumpulkan dari setiap kesempatan yang ada—terutama buku-buku tentang menjadi kuat tanpa [mana].


Yue Yin mengabaikan tiga rak bagian atas yang semua buku di sana sudah ia baca. Perhatian sang putri fokus pada rak terbawah, pada buku-buku tebal dan kuno. Ia sengaja menyimpannya karena terlanjur menyerah setelah gagal menemukan hal yang berguna dalam buku-buku di atasnya. Namun, saat ini juga Yue Yin bertekad untuk membaca buku-buku itu, dan menghabiskan semuanya jika bisa.


Beranjaklah tangan sang putri menuju buku yang paling kanan, tetapi tangan itu tiba-tiba terhenti saat iris Yue Yin melihat sebuah buku hitam yang menyempil di antara buku-buku tebal.


“…Aku tidak mengingat pernah meletakkan buku tipis itu di sini. Apa aku lupa…?”


Menghendikkan bahu, Yue Yin memutuskan mengambil buku itu terlebih dahulu. Itu buku bersampul hitam polos dengan kualitas sampul yang sangat lembut. Tidak ada kata apa-apa di sampulnya, benar-benar hitam polos.


“Six Crests of Hope,” gumam Yue Yin membaca kata-kata pertama yang matanya lihat saat membuka sampul itu. “Ditulis oleh Edenia, untuk para pencari harapan ‒ didedikasikan bagi mereka yang ingin mencapai singgasana sang dewa.”


Seumur-umur, buku yang dipegangnya ini adalah yang pertama yang berhasil membuat Yue Yin sangat penasaran. Six Crests of Hope? Ia tak pernah mendengar apa pun tentang itu. Edenia? Yue Yin tak menemukan nama itu dalam buku-buku sejarah Veria, tapi untuk suatu alasan ia pernah mendengar nama itu saat membahas tentang Islan.


Ingin mengentaskan rasa penasarannya, sang putri lekas saja membalikkan halaman itu:


Tree of Magic. Sebuah pohon kehidupan yang memproduksi [mana] yang sangat melimpah. Satu bagian dari enam bagian Six Crests of Hope. Sebuah pohon yang setiap daunnya berupa pemanifestasian dari setiap sihir yang terdapat dalam Throne of Heaven yang mengendalikan sistem semesta. Sebuah pohon yang membuat tanah di sekitarnya subur bak tanah surga. Sebuah pohon ilahi yang tersembunyi dari jamahan tangan kotor para makhluk fana.


Tree of Magic menyimpan [Ruler of Heaven], satu dari sepuluh sihir sang dewa ‒ sebuah sihir yang menjadi ibu bagi segala sihir lainnya. Siapa pun yang memiliki sihir ini, dia telah memiliki satu bagian dari sepuluh bagian pendewaan. Siapa pun yang memiliki [Ruler of Heaven], singgasana sang dewa—Throne of Heaven—terbuka untuknya.


Tree of Magic, sebuah pohon kecil tinggi sehasta, berdiri indah di satu dari dua tempat tak terjamah tangan kotor makhluk fana, di antara dua jurang yang tak bertemu tapi bersinggungan, di atas sebuah batu hitam obsidian.


Yue Yin terus membaca buku itu dengan cepat, ingin menyelesaikannya secepat mungkin sebelum Xiela kembali. Namun, begitu Yue Yin hendak membuka halaman lainnya, tiba-tiba langkah kaki terdengar begitu jelas. Yue Yin bereaksi cepat dan menyelipkan buku itu di tempatnya semula. Ia akan melanjutkan membacanya setelah kegiatan wajibnya selesai.


“Tuan Putri, ap—ah, Anda belum bersiap-siap? Apa boleh buat, saya akan membantu Anda berpakaian.”


“Xiela, kau pernah mendengar tentang ‘Edenia’?” tanya Yue Yin saat Xiela menghampiri tempat penyimpanan bajunya, dan pertanyaan yang tiba-tiba itu membuat sang pelayan diam sejenak dengan pose berpikir.


“Kalau tidak salah, Edenia adalah dewa yang disembah oleh orang-orang Islan. Dia diasosiakan dengan Danau Deus yang terkenal itu. Orang-orang itu percaya kalau danau itu adalah berkah Edenia atas mereka.”


Jawaban itu sontak membuat pandangan Yue Yin berpindah menuju buku yang bersangkutan.


Namun, buku bersampul hitam yang ia yakin sudah ia tempatkan di tempat ia mengambilnya…kini tak lagi berada di sana. Hal itu membuat mata Yue Yin mengerjap cepat, dan ia langsung mengecek rak terbawah itu.


Namun, bahkan setelah ia memeriksa sampai ke belakang-belakang buku-buku itu, ia sama sekali tak menemukan buku yang tadi dibacanya. Buku itu menghilang tak berbekas.


Saat itu juga Yue Yin meyakininya. Jika yang Xiela katakan tentang Edenia memang benar, kemungkinan besar Tree of Magic itu nyata adanya. Ia harus mendapatkan pohon itu. Itu adalah satu-satunya cara agar ia bisa menjadi kuat. [Ruler of Heaven], Yue Yin harus mendapatkan sihir itu.


“Tuan Putri…?”


“Tidak ada apa-apa, Xiela. Aku hanya merasa pernah menyimpan buku tentang Edenia di sini, tetapi tak kutemukan. Apa menurutmu aku membacanya di tempat lain? Ah, lupakan saja, fokus saja pada memilihkan baju untukku, Xiela.”


Yue Yin melangkah ke pinggir ranjangnya, duduk di sana memandang Xiela yang bekerja. Namun demikian, pikiran sang putri sama sekali tak berada di sana. Ia sedang fokus memikirkan cara untuk bisa ke tempat di mana pohon itu tersembunyi. Yue Yin sedang memikirkan bagaimana supaya ia mendapatkan Tree of Magic.


...* * * * *...


“Yang Mulia, sudah waktunya.”


Kelopak mata Yue Yin langsung terbuka tepat sedetik setelah suara itu menginvasi indra pendengarannya, membuat sepasang iris hitam pekat itu kembali menampakkan diri pada dunia dan seisinya.


Menunduk, sang empress menyaksikan sang prajurit dalam posisi berlutut dengan kepala tertunduk. Dia adalah prajurit yang sama yang tadi melapor sepuluh menit lalu. Dia adalah penanggung jawab kapal ini bersama kapten kapal.


Tanpa mengatakan apa pun, Yue Yin bangkit dari singgasananya. Kakinya melangkah melewati prajurit itu, terus melangkah melewati ambang pintu yang terbuka. Sang empress mendengar langkah kaki sang prajurit yang mengikutinya, tetapi ia abai. Yue Yin terus berjalan lalu menaiki anak tangga hingga mencapai dek atas kapal.


“Katakan pada kapten kapal, lanjutkan berlayar menuju Islan dengan seper empat dari kecepatannya tadi. Itu akan membuat kapal-kapal yang dipimpin Gadra menyusul kalian sebelum kalian mencapai Islan.”


Yue Yin lantas membuat dirinya melayang ke atas, dan bersamaan dengan respons sang prajurit ia terbang melesat ke Benua Medea dengan ekspresi datar di wajah.


Tepat sepuluh detik setelah ia terbang dengan kecepatan tinggi meninggalkan kapal, sang putri tiba di pantai selatan Benua Medea. Ia dapat merasakan banyaknya keberadaan naga di sana. Dan di antara naga-naga itu, Yue Yin dapat merasakan keberadaan yang lebih kuat dari yang kuat.


Tak ingin berlama-lama, sang empress lantas melanjutkan terbangnya.


Ia berhenti tepat satu kilometer di langit pusat Benua Medea, dan dengan cepat ia menjatuhkan tubuhnya dengan bebas dan—


—buuuuam!


Pendaratan kasar yang Yue Yin lakukan menimbulkan suara debuman yang cukup besar dan menciptakan sebuah lubang sedalam satu meter dengan jari-jari tiga meter.


Begitu debu yang mengepul menghilang oleh kejutan angin yang ia hempaskan, retina Yue Yin lantas mendapati belasan ekor naga dewasa sudah mengepungnya dari segala penjuru.


Mereka meraung, kemudian menanyakan apa maksud kedatangan makhluk fana sepertinya ke tanah suci mereka. Namun, Yue Yin abai akan pertanyaan itu. Menggunaan [Time Magic] untuk menghentikan waktu mereka, Yue Yin lantas melewati naga yang menghalanginya dan melangkah pelan menuju tempat sang Dragon Lord.


Akan tetapi, baru beberapa puluh langkah ia beranjak dari kepungan para naga, empat buah kaki besar sudah mendarat di hadapannya dengan penuh keeleganan.


“…Apa yang dilakukan manusia rendahan sepertimu di tanah suciku ini?”


Yue Yin menengadahkan wajahnya, memandang intens naga besar yang telah menghentikan langkahnya. Ia memang belum pernah bertemu langsung dengan sang Dragon Lord, tetapi ia sudah mengetahui seperti apa rupanya. Dan tak salah lagi, naga yang ada di hadapannya ini sudah pasti sang Dragon Lord.


“Dragon Lord Arshvateth, aku ingin kau membantuku menyerang Islan.”