
...—Carolina, Ekralina Kingdom—...
Cainabel yang duduk di puncak menara tertinggi istana dalam wujud kecilnya tidak terkejut melihat rombongan prajurit Knight Templar memasuki gerbang istana. Malahan, ia mengekspektasikannya.
Saint bernama Alfonso tadi pagi sebelum pergi sempat meneriakkan kalau dia akan membawa pasukan menyerbu kota dan memastikan semua hantu akan dibasmi. Jadi, kedatangan rombongan prajurit Knight Templar tak lain untuk mendeklarasikan niatnya.
Sebenarnya Cainabel sama sekali tak merencanakan agar Alfonso melakukan itu. Cainabel hanya ingin membuat Alfonso paranoid dengan berpikiran kalau penyamarannya ketahuan. Namun, Alfonso malah menganggapnya sebagai hantu. Cainabel tidak tahu harus tertawa atau kasihan.
Namun demikian, harus ia akui reaksi Alfonso sangat menguntungkan sekali. Jika mereka sudah memutuskan menyerang terang-terangan, peperangan secara tak resmi telah dimulai. Terlebih lagi, pasukan Imperial Army juga sudah berkemah di selatan. Mereka sudah mendapatkan intel tentang keberadaan Knight Templar di utara, dan sekarang sedang menunggu pergerakan pertama dari sisi musuh.
Jika harus menguasai Ekralina Kingdom, melakukannya sebagai penyelamat lebih baik daripada menjadi agresor. Rakyat Ekralina sudah pasti akan menganggap pembuka serangan sebagai agresor. Jika Imperial Army datang dan melawan Knight Templar dengan begitu heroik saat mereka menyerang, rakyat takkan ragu memihak Imperial Army.
Apa Alfonso Alsabnitz tidak memikirkan itu sehingga dia langsung menyerang? Atau, dia memikirkannya, tapi mengabaikan? Berpikir kalau mengecam Ekralina membelakangi Gereja Besar Luciel akan cukup membuat rakyat menerima?
Cainabel tidak tahu, dan karena itu pula ia memutuskan turut memasuki istana mengikuti prajurit utusan Knight Templar.
Cainabel terbang dengan kedua sayap vampirenya. Ukuran tubuhnya yang sedikit lebih kecil dari nyamuk takkan membuat orang lain menyadarinya. Jika pun ada pengguna sensorik, ia hanya perlu lebih mengecilkan tubuhnya hingga tak bisa dilihat dengan mata telanjang.
...—Ruang Singgasana Istana—...
Mortana tertawa terbahak ketika prajurit utusan Emiliel Holy Kingdom selesai membacakan surat yang katanya ditulis langsung oleh Twelfth Saint Alfonso Alsabnitz. Wajah sang prajurit merah padam karena marah, tetapi Mortana abai. Ia memuaskan tawanya hingga tawa itu berhenti dengan sendirinya.
“Kembalilah, dan katakan pada pemimpinmu:‒” jeda Mortana sembari mencondongkan wajah ke depan dengan ekspresi penuh kecaman. “‘Membusuklah bersama para iblis di neraka.’ Ekralina Kingdom telah menjadi negeri pilihan dewa. Dia sendiri telah berbisik padaku tentang kesesatan Emiliel Holy Kingdom. Negeri bermuka dua kalian telah mengkhianati sang dewa. Dia telah memilih negeri ini sebagai tempat untuk diberkahi, dan dia telah menjadikanku manusia pilihannya. Tidak ada yang bisa menghancurkan negeri ini. Tidak Imperial Army, tidak New World Order, dan tentu saja tidak Emiliel Holy Kingdom.”
Mortana kembali duduk dengan benar di singgasana, pipi kiri berisitirahat di atas telapak tangan kiri. “Pergilah. Enyahkan tubuh bau dosamu dari sini. Jika melihatmu lebih lama lagi, aku khawatir aku akan memerintahkan agar kau dibunuh. Aku tak ingin udara di istana terkontaminasi napas manusia pencerca dewa seperti kalian, bau busuknya sungguh menjijikkan.”
Tubuh sang prajurit bergetar hebat, amarahnya begitu memuncak. Jika di dalam ruang singgasana ini hanya ada dia dan Mortana, sudah pasti prajurit itu akan mengayunkan pedang dan memenggal kepala sang raja. Namun, meskipun dia anggota Knight Templar, sang prajurit mengerti kalau dia hanya akan mati konyol jika membalas hinaan Mortana, apalagi menyerangnya.
Sang prajurit berbalik arah dan melangkah pergi tanpa mengatakan apa-apa lagi ‒ dia tak ingin mencoba peruntungan dengan mencaci saat tombak-tombak dan pedang-pedang para prajurit telah siap digerakkan.
“Yang Mulia, apa kita memang harus membiarkannya pergi? Apa tidak lebih baik kita bunuh dia untuk menunjukkan kalau Ekralina Kingdom tidak main-main?”
Mortana melirik orang kepercayaannya sekilas, sebelum kemudian mengembalikan pandangan ke depan. “Aku juga maunya begitu,” katanya. “Namun, ini adalah negeri pilihan dewa. Sang dewa telah memilihku di antara para manusia lainnya. Aku tidak boleh melakukan hal barbar seperti itu. Lagipula, kita harus tetap mengikuti aturan tak tertulis kalau utusan itu tidak boleh dibunuh.”
Mortana mengangguk menyetujui. “Sekarang aku ingin kau perintahkan pada yang lainnya untuk menginstruksikan pemduduk untuk mengungsi ke Favilifna Kingdom secepat mungkin,” perintahnya. “Kita telah menebus kesalahan kita pada mereka, dan kita telah menjalin hubungan yang lebih baik dengan mereka. Mereka pasti akan menerima permintaan kita untuk menjaga rakyat. Dan setelah itu, umumkan pada semua prajurit untuk bersiap berperang. Sang dewa telah menjanjikan kemenangan kita atas segala musuh, tetapi kita juga harus berusaha.”
“Hamba akan lakukan sesuai yang Yang Mulia titahkan.”
Mortana mengangguk, berdoa demi kemudahan pekerjaan orang terpercayanya, dan juga demi kemenangan negerinya yang telah dijanjikan.
...— — — — — — — — — — — —...
Cainabel sekarang benar-benar penasaran, siapa yang mencuci pikiran Mortana? Apa mungkin itu perbuatan Mary Anna—yang lantas menjelaskan keberadaannya di Carolina?
Cainabel tidak tahu, tetapi mungkin saja itu Mary Anna. Pihak keempat tidak mungkin ada. Baik Fie Axellibra maupun ratunya, Vermyna Hellvarossa, tidak akan mentolerir adanya pihak asing yang ikut campur dalam urusan Islan. Meskipun sudah tidak ada lagi Danau Deus di sini, tetap saja nama “Islan” memiliki arti yang besar bagi semuanya.
“Mari kita lihat apa reaksi dari Vermillion Empire,” gumam Cainabel lalu meninggalkan istana.
...—Perkemahan Knight Templar—...
“APA?!” Alfonso berdiri menggebrak meja, memandang sang prajurit pelapor dengan tajam. “Dia berani mengatakan begitu? Dia berani menuduh Emiliel Holy Kingdom pencerca dewa?”
“Itu benar, Sir, Mortana benar-benar menghina dan meremehkan kita semua. Dia bahkan mengatakan tak takut pada siapa pun. Dia benar-benar menantang kita, Sir.”
Alfonso duduk kembali dan melipat kedua lengan di dada, kening mengernyit seiring dengan meningkatnya aktivitas otak.
Mengingat kembali hasil pertemuannya dengan Mortana saat ia menyamar dan juga informasi yang Rossia berikan setelah berupaya bernegosiasi dengan sang raja, mendengar laporan sang prajurit jadi tak mengherankan.
Mortana telah berubah drastis, dia seolah telah menjadi individu yang baru. Kesimpulan yang mereka miliki adalah Mortana telah dicuci otaknya, tetapi Mortana mengklaim telah bertemu sang dewa dalam mimpi.
Mempertimbangkan baik-baik, Alfonso tidak merasa itu mustahil bagi Mortana bertemu sang dewa dalam mimpi. Gereja Agung Luciel memang mengajarkan memuja Edenia dan mengagungkan Malaikat Agung Luciel, tetapi itu hanya dipermukaan. Sejatinya yang mereka puja adalah Fie Axellibra, dan yang mereka agungkan adalah Seraphim Emiliel. Mortana tidak salah jika mengatakan Emiliel Holy Kingdom pencerca dewa.
Namun, tidak menutup kemungkinan pula kalau dia benar-benar dicuci pikirannya. Alfonso bisa mengetes itu dengan menggunakan kekuatan Seraphim Emiliel di sana waktu berkunjung tadi. Namun, demi menjaga kerahasian identitasnya, Alfonso tak melakukan itu. Lagipula, Pope Genea mengatakan untuk bersikap seolah Mortana masih normal.
“Biarlah begitu,” tukas Alfonso setelah beberapa saat diam, tak ingin berpikir lebih panjang. “Informasikan pada semua pasukan untuk mempersiapkan diri. Kita menyerang esok pagi setelah matahari terbit sempurna.”