Against the World II: Transgression

Against the World II: Transgression
Chapter 6: Preparation, part 3



Berbicara belasan menit dalam ilusi Menez sama lamanya dengan dua kedipan mata di dunia nyata. Itu apa yang Xavier rasakan saat ilusi itu menghilang. Tidak ada yang memandang mereka heran—sebagaimana hal yang lumrah terjadi saat seseorang tiba-tiba terdiam di jalan dalam waktu yang lama.


“Menghadapi seseorang dengan Menez di sisinya akan sangat merepotkan, ilusinya berada dalam level yang berbeda.” Xavier tersenyum tipis, sebelum kemudian lanjut melangkah. “Ayo, Monica, kita bicarakan perihal Heckart lain kali.”


Dengan anggukan Monica, kaki mereka pun bergegas menuju markas utama Divisi 12 Imperial Army. Xavier bisa saja meneleportasi mereka berdua ke sana, tetapi berjalan ke sana juga berfungsi untuk membuat Monica familier dengan suasana kota yang…berbeda dari kota-kota lain.


Tak lama, mereka tiba di tempat tujuan. Beberapa staf administrasi dan prajurit terlihat memenuhi area lantai pertama. Ada yang berbicara dengan kertas-kertas di tangan, ada yang fokus memberi instruksi, ada juga yang fokus memandang peta Islan yang terbentang lebar di dinding.


Xavier melangkah dengan cepat ke staf administrasi terdekat.


“Selamat pagi, Commander, Sir!”


“Pagi,” balas Xavier. “Apa ada masalah dengan pelayanan dari Divisi 3?”


“Tidak ada, Sir. Berdasarkan laporan pagi ini, semuanya masih normal. Kita masih bisa menggunakan pelayanan mereka sebagaimana mestinya.”


Edelweiss baru menjadi commander tadi malam, akan membutuhkan waktu baginya untuk mengevaluasi anggota divisi yang ditempatkan di sini. Divisi 3 berada di semua kota dan markas militer (baik yang utama atau bukan) yang ada di kekaisaran. Masalah informasi, logistik, dan sebagainya akan riskan jika mereka bermasalah. Edelweiss harus mengatasi masalah di Divisi 3, dan pada saat yang bersamaan dia harus memastikan divisinya tetap bekerja sebagaimana biasa. Itu akan melelahkan.


“Kalau begitu, aku ingin Heisuke dan semua kapten berkumpul di ruanganku dalam setengah jam.”


“Baik, Commander, segera dilaksanakan.”


Xavier mengangguk, berterima kasih, kemudian mengajak Monica ke ruangannya dan Emily. Jika Monica memang akan menjadi ajudannya untuk hari ini dan seterusnya, ia harus memberinya semua catatan kerja Emily. Dengan begitu, gadis di sampingnya ini akan dapat menjalankan perannya dengan lebih mudah.


...—Evrillia, Elf Kingdom—...


Ketika Menez tiba kembali di puncak Royal Tree, Luciel sudah berada di sana duduk dengan satu kaki tertekuk dan satu lainnya menjuntai. Dia memandang jauh ke bawah, menikmati aktivitas makhluk berkaki dua di bawah sana. Dia merasakan kehadiran Menez, tetapi sikapnya seolah menunjukkan tidak.


“Bagaimana?” tanya sang malaikat, mata masih memandang ke bawah. “Apa yang dia katakan?”


“Tidak ada hal yang penting.” Menez menjeda sebentar, sebelum melanjutkan, “Dia ingin kita memastikan Elf Kingdom menang dengan korban seminimal mungkin. Dia ingin kita menghancurkan pasukan yang kekaisaran kirimkan. Dari mereka, Putri Kanna jelas adalah yang paling berbahaya. Kak Xavier mengklaim kau pun tak mampu mengalahkan Kanna yang sekarang.”


Kalimat terakhir Menez sukses membuat wajah Luciel menoleh. Bagi Malaikat Agung sepertinya, itu jelas bentuk penghinaan. Namun, saat ini dia hanya membawa setengah kekuatan mereka. Minimnya ekspresi tersinggung di wajahnya sudah jelas menunjukan kalau Luciel paham itu. Ia dan Xavier berbagi kekuatan: setengah-setengah.


“Kanna el Vermillion…gadis itu benar merepotkan. Ini hanya asumsiku, tetapi kemungkinan dia diberkahi langsung oleh Edenia—itu menjelaskan mengapa dia bisa menggunakan kekuatan seraphim.”


“Lantas?”


“Siapa menurutmu yang harus kita panggil dari anggota Deus Chaperon?”


“…Atland bagus untuk pendukung—dia juga sempurna untuk mengurangi jumlah prajurit musuh. Tsusaza akan sangat membantu, tetapi dia dan Whalef diperlukan di Kepulauan Haikal. Diametra, Krakart, dan Hirek—” Menez menggeleng pelan. “—Kita hanya bisa menggerakkan Atland untuk membantu. Jika kau nantinya terpojokkan, aku terpaksa akan membantu. Aku ingin menyembunyikan diri dari para vampire, tetapi apa boleh buat.”


Menez mengangguk, tetapi ia tak langsung pergi. “Bagaimana dengan Jendral Clown?” tanyanya. “Dia disebut-sebut cukup kuat untuk menantang Fie Axellibra.”


“Jendral Clown…cukup kuat untuk menantang Fie Axellibra? Itu lelucon terburuk yang pernah kudengar. Namun, jika dia memang kuat, aku akan mempertimbangkan melihatnya setelah adegan dengan kekaisaran selesai.”


“Adegan?”


“Itu bagaimana aku melihatnya.”


Menez mengerjap dua kali. “Oh, baiklah,” katanya dengan bahu yang mengendik. “Terserahmu. Aku akan kembali sore nanti.”


...—Imperial Palace, Nevada, Vermillion Empire—...


Pengangkatan Emily sebagai commander yang dilakukan secara informal itu hanya dihadiri oleh beberapa orang saja. Dan begitu selesai, seorang prajurit Divisi 3 (pengguna teleportasi) langsung meneleportasikan Emily ke perkemahan para prajurit Divisi 11. Orang-orang yang hadir pun turut pergi begitu Emily pergi bertugas, membuat pengisi ruang singgasana hanya tertinggal tiga: Kanna, Edward, dan sang Emperor.


“Ada apa, Kanna?” tanya Nueva pada akhirnya, merasa sedikit gerah melihat Kanna yang belum pergi memandangnya intens.


“Aku ingin mengetes diriku denganmu, Ayah. Apa kau tak keberatan, duel satu lawan satu denganku? Kali ini tanpa menahan diri. Aku akan menggunakan kekuatan penuhku saat ini, dan kau pun akan begitu.”


Tidak ada keraguan dalam diri Nueva kalau Achilles berusaha menyibak misteri tentang rencananya. Pun ia tak sangsi kalau Achilles telah membicarakan hal itu pada Kanna. Yang ia sangsikan hanya satu: Kanna melakukan sesuatu di belakangnya untuk mencegah rencananya.


Seperti Retsu, Kanna adalah anak yang penurut. Ia tak berbohong jika mengatakan ia tidak memiliki rasa cinta kepada anak-anaknya yang lain melebih cintanya pada Kanna dan Retsu. Itu adalah kebenaran yang tak sedikit pun ia rahasiakan. Nueva tidak bisa membayangkan hari di mana Kanna/Retsu berdiri mengacungkan senjata padanya.


“Baiklah.” Nueva bangkit dari singgasana. “Ikuti aku. Kita bisa bertarung tanpa menahan diri di arena khususku. Edward, katakan pada istriku kalau aku takkan kembali dalam waktu yang tak kutentukan—minimalnya seminggu.”


“Er, istri yang mana, Yang Mulia?”


Nueva yang sudah melangkah ke belakang singgasana sontak berhenti saat mendengarkan pertanyaan itu, matanya mengerjap beberapa kali.


Ia memiliki dua belas istri (tiga belas jika menghitung ibunya Kanna yang sudah tak bernyawa). Ia punya jadwal untuk menghabiskan waktu kosong dengan mereka masing-masing dua hari, terkhusus ibunya Artemys mendapatkan jatah waktu empat hari. Ia punya obligasi untuk bersama mereka tidak melebihi hari-hari yang sudah dijatahkan.


“Semuanya,” kata Nueva dengan kening mengernyit—kepalanya dapat dengan jelas membayangkan omelan masing-masing istrinya saat ia menemui mereka nanti. “Katakan pada mereka kalau aku…ingin mencari hadiah yang tepat bagi mereka, tetapi tekankan pada masing-masing untuk tidak memberitahu yang lain tentang hadiah itu.”


“Hamba takkan menanyakan apakah hadiah itu benar dicari atau hanya asal pikir saat Yang Mulia menemui mereka.” Edward langsung menghilang setelah mengatakan itu.


Pandangan tajam Nueva rasakan dari belakangnya. Tidak ada keraguan kalau Kanna tak senang dengan apa yang baru saja ia katakan.


“Ini juga pelajaran untukmu, Kanna,” kata Nueva dengan nada bijaksana. “Siapa pun nanti yang akan kau nikahi, ketahui kalau ucapannya itu akan sering kali diselipi dusta. Ayo, kau tak punya banyak waktu.”