Against the World II: Transgression

Against the World II: Transgression
Chapter 17: Transcendental Being, part 1



...VOLUME 3...


...»»»»» Beyond the Shackle of Fate «««««...


...⸸\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=———\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=⸸...


...—Tempat Tersembunyi, Karna Great Empire, Veria—...


MAKHLUK Transendental. Itu adalah riset utama yang Shiva Rashta lakukan. Itu adalah makhluk yang telah membebaskan diri dari kungkungan takdir. Bukan Phoenix contohnya. Bukan pula Thevetat. Malaikat Agung Luciel juga bukan makhluk transendental tersebut. Menurut Shiva, Fie Axellibra adalah satu-satunya makhluk yang terlahir sebagai makhluk transendental di dunia ini. Tidak ada makhluk lain yang terlahir sebagai makhluk transendental.


Sedangkan Vermyna Hellvarossa, atau yang sebelumnya bernama Vermyna Hermythys, adalah makhluk pertama yang berhasil bertransendensasi.


Menurut Shiva juga, Neix—pemimpin Serikat Sihir Ilegal Eternity—telah secara tak langsung mencoba menjadi makhluk transendental juga. Namun, Neix tidak paham perbedaan transendental dan dewa. Pemimpin Eternity itu mencoba menjadi dewa dengan menciptakan kontainer jiwa yang salah satu bahannya adalah darah dari semua ras yang ada di permukaan dunia. Kemudian kontainer itu diisi jiwa secukupnya, lalu dia serap ke dalam tubuhnya untuk dijadikan inti keberadaan.


Namun, Shiva menegaskan kalau tidak ada cara lain menjadi dewa selain dengan merebut Throne of Heaven dari tangan Edenia. Edenia menjadi dewa bukan karena dia luar biasa kuatnya, tetapi karena Throne of Heaven. Jika Edenia kehilangan Throne of Heaven, Shiva meneorikan kalau sang dewa akan berimanensasi menjadi makhluk transendental.


Meski begitu, tidak sepenuhnya Neix gagal. Meskipun dia tidak berhasil mencapai tingkat transendental, tetapi tak bisa disangkal kalau dia mampu berevolusi. Neix tidak menyertakan darah iblis dan darah malaikat dalam pembuatan kontainer jiwa. Meskipun keyakinan Shiva hanya tiga puluh persen, tetapi tetap dia berteori kalau Neix mungkin bisa bertransendensasi jika dia turut menambah darah kedua ras itu.


Selain cara konvensional yang dipraktikkan Neix, Shiva punya dua teori lain tentang bagaimana seseorang bisa bertransendensasi hingga kungkungan takdir tak lagi bisa membelenggunya. Teori pertama: untuk bertransendensasi, seseorang harus mengumpulkan sepuluh Supreme Magic atau enam Six Crests of Hope. Sedangkan teori kedua adalah apa yang sedang dalam proses percobaan Shiva.


Menciptakan tubuh buatan untuk jiwanya huni. Menciptakan tubuh yang kuat sehingga itu takkan berevolusi.


Cara ini juga terbilang konvensional, agak-agak mirip dengan cara yang Neix lakukan. Bedanya, Shiva tidak melanglang buana mengumpulkan darah dari berbagai ras. Pun dia tidak mengumpulkan jiwa orang lain sebagai sumber energi. Shiva memerangkap para kriminal di lantai terbawah, dan dari mereka dia mengumpulkan energi kehidupan mereka sebagi sumber energi yang kelak dibutuhkan.


Shiva mengatakan caranya mirip dengan apa yang Vermyna Hermythys lakukan, tetapi dia tak bisa memastikan kebenarannya. Pasalnya, sebelum itu Vermyna Hermythys telah terlebih dahulu mendapatkan Supreme Magic dan satu dari enam Crest of Hope.


Tubuh yang diperlakukan sudah selesai dibuat ‒ Shiva terang-terangan mengaku padanya kalau tubuh itu dibuat dengan bantuan Raja Spirit Sakhra. Pun energi kehidupan yang dikumpulkannya sudah sangat menakjubkan. Melihatnya seolah melihat bulan yang dikecilkan dengan intensitas cahaya yang dibesarkan.


Yang menjadi masalah adalah proses penyatuan antara bola energi kehidupan, tubuh yang diperkuat, dan jiwa Shiva sendiri.


Untuk alasan itulah Shiva membutuhkan dirinya, untuk alasan itulah mengapa Artemys diatur supaya berada di dalam bangunan rahasia ini. Setidaknya, itu adalah pengakuan dari pria berambut hijau yang—harus Artemys akui—berwajah di atas rata-rata dari mereka yang rupawan. Jika dibandingkan, struktur wajahnya adalah perbaduan sempurna antara Xavier dan Reinhart. 10 dari 10.


Sayangnya, Artemys tak punya ketertarikan pada pria yang lebih tua darinya (meskipun itu hanya setahun); ia takkan tertarik pada Shiva meski dirinya tak pernah bertemu Xavier.


“Aku tidak tahu alasan pastinya kau meyakini aku bisa membantumu, tetapi secara pribadi kurasa Kanna lebih bisa membantumu dibandingkan aku.” Artemys dengan wajah tanpa emosinya memandang intens iris hijau gelap sang emperor yang duduk di sisi lain dari meja kecil yang memisahkan mereka. “Kanna menguasai [Rune Magic] lebih dari siapa pun di era ini.”


Jika Artemys terkejut, ia sama sekali tidak menunjukkannya—sedikit pun tidak ada perubahan pada ekspresinya.


“Kalau begitu, katakan, apakah anakku akan terlahir sehat? Apa dia laki-laki, atau perempuan? Berapa total anakku dan Xavier? Siapa yang lebih dahulu mati, aku atau Xavier?”


Artemys menanyakan apa yang ia tanyakan bukan karena ia ingin tahu jawabannya; ia tidak suka mengetahui apa yang akan terjadi, ia ingin ada kejutan. Pertanyaan itu ia tanyakan untuk melihat perubahan ekspresi pada wajah Shiva. Jika dia sedikit saja menunjukkan ketidaksiapan dalam menerima rentetan pertanyaan itu, berarti ucapannya dusta. Dia mengetahui persiapannya dalam melarikan diri karena dia mengirim seseorang untuk mematai-matainya.


“Aku akan menjawab semua pertanyaanmu tentang masa depan setelah kau melakukan apa yang kuminta,” respons Shiva dengan mulus dan ekspresi yang tak berubah. “Namun, dalam salah satu kemungkinan lain, kau menjawab kau tak tertarik untuk mengetahui masa depan. Ini adalah apa yang kutawarkan: aku menjamin kau, Xavier, dan pelayanmu akan hidup tanpa gangguan setelah aku merebut Throne of Heaven dari tangan Edenia. Aku bisa membuat kalian semua menjadi abadi jika mau, dan itu juga berlaku untuk keturunanmu.”


…Artemys mengerti, kemampuan Shiva dalam melihat masa depan bukanlah bualan. Pun ia paham itu bukan sekadar [Clairvoyance Magic]. Apa pun sihirnya, itu seperti untaian garis takdir tersingkap jelas di mata Shiva. Dia melihat masa depan seolah dia sudah berada di masa depan. Ini…jika ada kesimpulan yang tepat untuk kemampuannya…itu pastilah Supreme Magic atau Six Crests of Hope.


“…Aku mengerti,” ucap Artemys setelah beberapa lama diam. Ia menyesap teh yang telah disajikan untuk sesaat, sebelum kemudian mengembalikan fokusnya pada sang emperor. “Kalau begitu antarkan aku pada tubuh yang sudah kau persiapkan itu. Aku baru bisa membuat formula untuk menyatukan ketiga komponen yang berbeda dengan sempurna setelah melihat tubuh tersebut.”


Shiva memamerkan senyum tipis di bibir. “Sudah kubilang aku bisa melihat masa depan; kau tidak bisa menyembunyikan niat apa pun dariku. Masa depan mana yang ingin kulihat, tabir takdir akan membuka diri untuk mempersilakan mataku melihatnya. Tidak ada yang bisa kau lakukan untuk mengelabuiku, Artemys el Vermillion.” Kemudian ekspresi Shiva menjadi serius. “Pilihanmu dua: membantuku dengan sukarela, atau membantuku dengan terpaksa. Aku tidak ingin kau memilih pilihan yang kedua.”


“Kau boleh coba melarikan diri,” lanjut Shiva tanpa memberi kesempatan Artemys untuk merespons, “tetapi dalam kurang dari semenit kau akan kembali di bawa ke sini. Aku bukan manusia yang kejam, karenanya jangan membuatku mengambil tindakan yang kejam. Berikan aku uluran tanganmu, dan aku akan berhutang budi padamu.”


Shiva lantas berdiri. “Aku akan datang lagi nanti sore, dan pastikan saat itu kau sudah punya jawaban yang sama-sama kita inginkan.” Sang emperor memberikan senyum ramah, sebelum kemudian berbalik dan melangkah pergi.


“Kau masih belum menjawab pertanyaanku, mengapa tidak mencoba menyuruh Kanna melakukan itu?”


Pertanyaan itu keluar dari mulut Artemys tepat selangkah sebelum Shiva keluar dari ambang pintu.


Shiva berhenti sejenak. “…Itu hanya akan berakhir dengan duel hidup dan mati,” responsnya tanpa berbalik, “dan Kanna…aku khawatir dia mungkin bisa bertransendensasi kapan pun dia mau. Dia…adikmu itu memancarkan sedikit energi yang sama dengan Edenia—kemungkinan Edenia mengawasi langsung setiap detik kehidupan adikmu. Saat ini aku tidak bisa mencari gara-gara langsung dengan Edenia.”


Dan Shiva langsung pergi setelah itu, meninggalkan Artemys sendiri dengan Jenny yang setia berdiri di sisinya.


...#####...


#Dalam cerita ini, transendensasi adalah proses menjadi makhluk berdimensi yang lebih tinggal, sedang imanensasi berarti proses menjadi makhluk berdimensi lebih rendah.


#Kalau sudah lupa tentang Shiva Rashta, sila cek lagi penampilan pertamanya di “Againt the World: Initiation, Chapter 35, part 6”.