Against the World II: Transgression

Against the World II: Transgression
Chapter 7: Blood in the Forest, part 3



Setelah beberapa lama mereka menempuh perjalanan meninggalkan area perkemahan Imperial Army, Kanna dan pasukan dikejutkan oleh kembalinya tiga batalion prajurit yang seharusnya pergi mendahului mereka ke sisi lain jalan. Namun, tidak ada Emily yang memimpin mereka. Pun para prajurit tidak terlihat seperti sehabis bertarung. Yang ada, mereka terlihat sedikit lelah karena kembali dengan kecepatan tinggi.


Kanna menaikkan satu tangannya, menggestur semuanya untuk berhenti, menunggu bergabungnya para prajurit itu.


“Yang Mulia,” lapor salah satu kapten begitu mereka tiba. “Kami tidak bisa melaksanakan misi seperti yang seharusnya. Seorang anggota Deus Chaperon mencegat kami; Commander Emily memerintahkan kami kembali ke sini karena menurutnya kami hanya akan membuang nyawa jika melawannya.”


“El?” tanya Kanna.


Sang kapten menggeleng. “Dia tidak memakai topeng. Meskipun dia laki-laki, penampilan wajahnya seperti perempuan. Dan dia lebih muda dari Yang Mulia.”


“Menez Helberth,” gumam Kanna—tiada nama lain selain Menez yang sesuai dengan deskripsi sang kapten. Ia sudah melihat pertarungan finalnya melawan Rossia Himera—dan Menez menang dengan mudah, meskipun dia mengaku kalah. Dan sebelum itu, ia sudah mendengar tentang Menez waktu Kapal Padoru-Padoru memulai debutnya.


Sayangnya, intel tentang Deus Chaperon masih sangat sedikit. Kanna menduga Lumeira menyimpan informasi tentang mereka untuknya sendiri. Jika pun dia meninggalkan salinannya di markas mereka, informasi itu pasti sudah dihancurkan. Pun mereka tak punya banyak waktu untuk menggali informasi. Karenanya, seperti apa kemampuan penuh Menez masihlah misteri. Yang jelas, Kanna meyakini dia yang terbaik dalam ilusi di Islan ini.


“Bagaimana menurutmu, apa kita harus terus melaju atau menyelamatkan Commander Emily?” tanya Kanna, memandang intens sang kapten.


Meskipun ia bertanya, ia tak sepenuhnya menginginkan jawaban. Karena, Emily hanya punya sihir petir. Pun dia masih belum selevel dengan Dermyus dalam hal itu. Menez kuat. Jika dia bisa mengalahkan Rossia Himera dengan mudah, Emily sama sekali tak punya peluang. Bukan sebuah kejutan jika saat ini Menez sudah mengatasi sang commander.


Memikirkan hal itu membuat tangan Kanna terkepal. Mungkin sebaiknya mereka memaksakan Elizabeth menjadi commander. Emily bisa menjadi wakilnya. Dengan begitu, paling ti—ah, Kanna membuang pemikiran itu. Emily kuat untuk standarnya. Jika menghadapi orang lain, Emily punya peluang menang yang lebih besar. Menez spesialis ilusi. Bahkan Edward dan ayahnya pun akan kerepotan oleh kemampuan anak itu. Selain dirinya, Kanna yakin hanya Nizivia yang bisa mengalahkan Menez dengan mudah dan tanpa perlawanan.


Gigi-gigi Kanna spontan menggemeretak begitu nama Nizivia memasuki pikirannya. Jika saja ia menghentikan gadis itu secara paksa, Nizivia seharusnya masih berada bersama mereka. …Apakah itu salah menghormati keinginan orang lain?


“Yang Mulia?”


Kanna menghela napas panjang. “Lupakan pertanyaan tadi; kita tidak punya pilihan selain melangkah maju.” Kanna menjeda sejenak sembari memandangi ketiga batalion. “Kalian bisa bergabung dalam formasi; kupercayakan bagian belakang pada kalian.”


“Siap, Yang Mulia!”


Ketiga kapten langsung memobilisasikan para pasukan ke barisan belakang. Setelah upaya mereka digagalkan, kemungkinan besar musuh akan mengirimkan pasukan menyerang bagian belakang mereka. Tugas ketiga batalion tersebut adalah melindungi bagian belakang


.


Selagi mereka membariskan diri, Kanna memanifestasikan tiga replika kurtalægon. Kemudian tangan kanannya berbalutkan mana, mana tersebut menjalar membentuk tiga formula rune yang identik. Ketiga formula tersebut menelan ketiga replika kurtalægon, menghasilkan pendar cahaya yang menyilaukan. Dan saat silauan itu sirna, tiga replika diri Kanna sudah berdiri tegak—dan satu detik setelahnya mereka menjadi tak kasatmata.


Untuk alasan itu, ketiga replikanya ini akan memainkan peran sebagai penyembuh: satu ia suruh mengikuti pasukan yang Xavier pimpin, sedang dua sisanya ia perintahkan melesat ke kanan kiri rombongan prajurit. Ketiganya tak bisa dilihat mata, tetapi masih bisa dirasakan oleh pengguna sihir sensorik—atau seseorang yang instingnya terlampau tajam.


Tak lama kemudian, ketiga batalion yang bergabung semuanya sudah berada dalam barisan, dan Kanna kembali menginstruksikan para prajuritnya untuk maju.


Setelah beberapa waktu, akhirnya siluet pasukan musuh mulai terlihat di ujung jalan.


Hanya dari siluetnya saja Kanna bisa mengatakan kalau asumsi Emily tepat. Pasukan musuh hampir dua kali jumlah pasukan mereka yang sekarang. Bahkan jika pasukan Xavier diikutkan, mereka masih kalah jumlah.


Namun begitu, tak satu pun prajurit Imperial Army memasang wajah ragu ‒ mereka akan memenangkan pertempuran, seperti yang sudah-sudah!


Dan ketika para prajurit di kedua sisi bisa melihat satu sama lain dengan jelas, kedua kubu meningkatkan mobilitas mereka dengan pesat.


Tidak ada kata yang tertukar di antara kedua pasukan. Titik terang di antara mereka sudah jelas. Kata-kata tak lagi berguna. Yang tersisa adalah bagi mereka untuk mengerahkan tenaga memenuhi apa yang mereka ingin capai. Dan dengan teriakan-teriakan penyemangat diri yang menggelora, dua pasukan dari dua negeri besar bertemu untuk pertama kali dalam sejarah.


Dentingan pedang langsung membahana, satu dengan yang lain beradu saling mencoba mengalahkan. Pekikan sakit ramai-ramai mengikuti. Keduanya saling melengkapi, bagai simfoni yang mengiringi lakon sandiwara yang mengundang gelak tawa. Bedanya, ini sandiwara yang merenggut nyawa.


Di tengah-tengah bentrokan para prajurit berbeda ras, senyap menyisip di antara ketiga individu yang hanya terpisah belasan meter.


Kanna mengenali yang perempuan sebagai Evillia Evrillia, artinya yang laki-laki adalah Alforalis Grammolia. Namun begitu, pandangan Kanna tidak fokus pada mereka. Matanya melirik-lirik mencari keberadaan Black Shadow. Pun ia juga harus menemukan pengguna spell anak panah tadi. Mereka bisa memberati para pasukannya jika ia lengah. Sepertinya aku butuh satu klon spesialis kombat untuk mengatasi orang-orang itu, batin Kanna menyimpulkan.


Mana dalam jumlah besar meninggalkan tubuh Kanna saat susunan kompleks formula rune terbentuk di sampingnya. Saat semua formula itu menghilang, replika diri Kanna berdiri dengan kedua tiruan kurtalægon di kedua tangannya. Replika Kanna kali ini memiliki warna rambut yang lebih gelap. Pun matanya tak beremosi sama sekali. Klonnya ini sama sekali takkan menunjukkan belas kasih.


“Siapa yang bisa membayangkan gadis sekecilmu memiliki kekuatan yang luar biasa besar,” ujar Evillia—zirah angin membaluti tubuhnya dengan sempurna. Alforalis yang berdiri di sampingnya pun turut mempersiapkan diri: tubuhnya melayang, dan bola-bola energi transparan bermanifestasi di sekelilingnya.


“Queen Evillia,” mulai Kanna sembari melangkah maju, meninggalkan klon kombatnya. “Apa kau tidak mau mempertimbangkan untuk mengubah keputusanmu? Tidak ada yang baik dari perang; kedua belah pihak sama-sama menderita.”


“Heh, apa itu pantas kau ucapkan? Lihatlah, siapa yang membawa pasukan ke negeri orang?”


“Baiklah kalau begitu, aku tidak punya pilihan lain.” Kanna seketika berada di hadapan kedua lawannya dalam satu lompatan. “Kita melakukan apa yang kita rasa perlu dilakukan.”