
Eden benar-benar lenyap. Kehancuran sudah tak perlu lagi dideskripsikan. Tak ada lagi yang tersisa selain mayat-mayat dan puing-puing bangunan. Kehancuran total. Manusia terakhir yang masih hidup—mengesampingkan Second Saint Gawain yang masih dalam kurungan—tinggallah gadis muda yang meronta-ronta dalam cengkeraman tangan Lumeira. Meskipun Sataniciela yang lebih dahulu menghabisi warga dan para prajurit, Lumeira telah membunuh hampir empat kali lipat dari jumlah yang Sataniciela bunuh diri.
“Apa ini hanya perasaanku saja, atau kau memang mau menyerap jiwanya?” tanya Sataniciela dengan mata yang menyipit. “Aku tidak tahu kau punya sihir penyerap jiwa.”
“Memang itu yang kulakukan.” Lumeira tak membantah, tapi matanya masih intens memandang sang gadis “Nona Vermyna menyarankanku untuk menyerap sebanyak mungkin jiwa manusia untuk menggantikan separuh jiwaku yang ditahan Menez. Jika tidak begitu, aku takkan pernah lagi bisa menggunakan kekuatan penuhku. Lebih buruk lagi, aku dan separuh jiwaku yang lain akan benar-benar terpisah selamanya. Dan tentang sihir penyerap jiwa, aku tak memilikinya. Aku membuatnya.”
“…Membuatnya? Apa maksudmu?”
“Nona pernah mendengar tentang [Synthesis Magic]?”
Membuat Sataniciela terkejut bukanlah hal yang mudah. Memerlukan hal yang luar biasa mengangumkan atau luar biasa bodoh untuk membuatnya terkejut. Namun, kini Sataniciela memandang Lumeira dengan mata melebar. Bukan, keterkejutan itu bukan timbul karena pertanyaan itu, melainkan pada implikasi yang ingin wanita itu berikan.
“Jangan bilang kau—”
“Tentu saja tidak,” potong Lumeira cepat. “Aku tak mungkin melakukan hal lancang pada orang yang kuhormati. Meskipun lidahku terlalu lihai berdusta dan mengada-ngada, tetapi setiap yang kukatakan pada Nona dan Nona Vermyna adalah kejujuran. Tidak apa-apa jika Nona tidak mau percaya, memang seseorang yang lihai berdusta tak pantas dipercaya. Aku sendiri bahkan tak percaya pada apa yang mulutku ucapkan. Seperti yang Nona katakan, aku yang terburuk.”
“…Hmph.” Sataniciela tidak tahu harus berkata apa. Ia merasa berurusan dengan Lumeira lebih sulit daripada berurusan dengan Mammon atau Leviathan. Jika iblis benar-benar sesuai dengan pemahaman manusia, maka akan ia katakan kalau Lumeira lebih iblis dari mereka semua. “Yang lebih penting, berapa banyak lagi jiwa yang kau perlukan?”
“Kukira bagian jiwaku yang kosong telah terisi penuh saat menyerap jiwa yang kedua ratus.”
“Kalau begitu kenapa kau menyerap lebih banyak jiwa?”
“Oh, kalau kita menikmati makanan yang lezat, menjadi ketagihan adalah hal yang wajar, bukan?” Lumeira langsung berbalik arah dan melemparkan mayat gadis yang jiwanya sudah ia serap secara asal. “Yang lebih penting,” lanjutnya tanpa menanti respons sang iblis, “bagaimana caranya agar kekuatan penuh Gawain benar-benar keluar? Kesadarannya masih berusaha keras menahan emosinya yang memuncak. Kemungkinan dia khawatir jika dia jadi tak terkendali terus kita manfaatkan dia untuk membunuh yang lain.”
Pandangan Sataniciela segera saja berpusat pada manusia yang berada dalam barier Lumeira. Meskipun ada barier, ia bisa merasakan kalau kekuatannya telah meningkat tajam. Namun, dia masih menahan diri. Karena itu dia tak mampu menghancurkan barier. Jika Sataniciela berada dalam barier itu, barier itu sudah ia buat hancur hanya dalam hitungan detik.
“Mengecewakan. Bunuh saja dia. Kita langsung ke Axellibra.”
“Ah, tunggu sebentar, Nona, aku punya ide. Dan kurasa kali ini Gawain takkan mampu menahan amarahnya dari lepas kendali.”
Sataniciela menaikkan sebelah alisnya. “Apa yang kau pikirkan?”
“Lebih mudah kutunjukkan saja,” respons Lumeira seraya menyatukan kedua telapak tangan—dan seketika saja energi negatif membanjiri kota. “Wahai jiwa yang tersakiti dan berselimutkan amarah, kembalilah pada raga-raga kalian yang fana. Necromancy Magic: Grieving Soul.”
Seketika, tubuh-tubuh yang sudah bermatian dipenuhi energi negatif, dan kemudian mulai bangkit satu per satu dengan cepat. Kulit mereka menjadi putih pucat. Urat-urat yang normalnya tampak hijau atau sedikit kebiruan kini menghitam kelam dan terlihat dengan begitu jelas. Yang paling nyata, mata mereka hitam kelam—seolah-olah mereka tak memiliki mata sama sekali.
BLAAAAAAAAAAAAAR!
Lumeira langsung mengalihkan pandangan pada titik tempatnya menahan Second Saint. Suara keras yang menyela ucapannya disebabkan energi merah yang meluap dalam jumlah yang sangat besar dari tubuh Gawain. Barier yang ia pasang telah hancur berkeping-keping. Berdiri di tengah-tengah energi merah yang didominasi energi negatif itu adalah Gawain yang sudah tak lagi berarmor—kulitnya terlihat seperti habis terbakar ringan.
“Kerja bagus, Lumeira. Kau membawa amarahnya ke—!” Sataniciela gagal menyelesaikan ucapannya. Kepalan tangan Gawain sudah mendarat dengan begitu tiba-tiba di wajah sang iblis. Tubuhnya meluncur deras bagaikan meteor yang melaju lurus. Sataniciela menghantam puing bangunan, membuatnya terpelanting ke atas. Tetapi mengesankannya, Sataniciela masih mampu mengontrol diri dan mendarat dengan dua kaki—walau sampai terseret. “Bajingan itu, beraninya dia memukul wajahku!”
Pada saat yang bersamaan, Lumeira terdiam di tempat. Matanya melebar membelalak. Sebelum ia sempat bekedip, Gawain—yang matanya telah menjadi putih dengan urat-urat yang menegang—menolehkan wajah padanya. Insting Lumeira menjerit lebih cepat dari kecepatannya menggunakan sihir sensorik, membuatnya refleks menyilangkan tangan di depan wajah. Namun—
“…!”
—pukulan tangan Gawain tidak pernah menghantam lengannya yang menyilang. Pukulan itu mendarat dengan mulus di perut Lumeira. Saking kerasnya pukulan itu sampai menimbulkan efek kejut. Lumeira terpental jauh lebih cepat dari Sataniciela. Ia terpelanting hebat dan terseret-seret sebelum akhirnya terhenti.
Gawain tak berhenti pada memukul Lumeira. Hilangnya kesadaran membuatnya bergerak sesuaai insting yang dikendalikan amarah. Gawaian menghancurkan setiap undead yang mendekat. Mereka langsung binasa dalam sekali pukul. Kekuatan Gawain benar-benar besar.
Namun, aksi Gawain terhenti dengan kemunculan Sataniciela yang tiba-tiba. Sang iblis melayangkan pukulan ke wajah sang saint, mencoba membalas pukulan yang tadi dia terima. Kecepatan reaktif Gawain cukup cepat, dia memblok pukulan berkekuatan penuh Sataniciela.
“Cih, kekuatan fisik tubuh ini lemah!” umpat Sataniciela melihat Gawain hanya terseret belasan meter. Jika ia memiliki tubuh aslinya, Gawain pasti sudah terpental ke luar kawasan kota yang hancur. “Vermyna sialan itu!” Sataniciela bertekad merebut kembali tubuhnya….kalau bisa.
Gawain tidak memedulikan kekesalan sang iblis. Begitu berhenti terseret, sang saint yang digerakkan insting langsung menyongsong maju. Kedua mata putihnya benar-benar terfokus pada sang iblis.
Sataniciela meludah ke kiri dan memanifestasikan tombak hitam kelam di tangan kanan. Ia memang kalah dalam kekuatan fisik dengan Gawain, tetapi dalam kecepatan ia tak terlalu inferior. Lebih dari itu, meski tubuhnya tak lagi superior, gaya bertarungnya masih sama. Sebuah tameng hitam muncul begitu saja menghadang Gawain yang coba memukulnya.
Dengan kekuatan fisik Gawain yang besar, tameng itu dengan mudah dibuatnya terpental. Tetapi sejatinya tameng itu Sataniciela buat untuk menutupi pandangan sang saint. Begitu pukulan Gawain menghantam tameng dan membuatnya terpental, Sataniciela sudah berteleportasi ke belakang pria itu dan mengayunkan tombaknya dengan kuat.
Sekuat apa pun fisik Gawain, setajam apa pun instingnya, menghindari serangan dari belakang yang Sataniciela lakukan tetap mustahil baginya. Batang tombak menghantam tengkuk Gawain dengan keras. Kali ini, Gawain terpental hingga terpelanting.
Serangan Sataniciela belum berhenti. Rentetan tombak hitam ia ciptakan dan ia buat melesat memborbardir sang saint.
Pada saat yang bersamaan, pilar petir yang sama dengan yang meluluhlantakkan kota jatuh dari langit dan menghantam tubuh Gawain. Raungan amarah dipenuhi rasa sakit spontan meronta keluar dari mulut saint kebanggaan Knight Templar.
“Maaf jika menganggu, Nona Ciela, tapi aku juga mau menghabisinya.” Berkata Lumeira yang baru mendarat di samping sang iblis. “Pukulan Gawain tadi membuat tulang belakangku hampir patah. Aku hampir mati. Akan kubalas dia 101 kali lipat.”