Against the World II: Transgression

Against the World II: Transgression
Chapter 43: Ascension, part 5



Xavier bangkit dengan cepat setelah [Reverse Law] mengembalikan kondisi tubuhnya ke kondisi prima. Ia hendak membuka mulut mengomentari kalau Nueva telah mengatakan hal yang serupa sebelumnya. Namun, sebelum mulutnya sempat melepaskan kata, energi dalam jumlah yang melebih jumlah total mana Xavier menguar dari tubuh sang emperor.


Bukan permukaan gunung saja yang bergetar, udara juga bervibrasi. Butiran salju yang turun bahkan sampai tertahan di udara.


“Dragon Force.”


Dan tepat setelah kedua kata itu melontar keluar dari mulut Nueva, semua energi yang memenuhi udara itu meresap ke dalam tubuh sang emperor dengan cepat. Dan sejurus kemudian, gelombang kejut yang luar biasa kuat dilepaskan tubuh Nueva ke segala arah. Jika Xavier tidak membalikkan arah gelombang kejut itu, tubuhnya pasti sudah terpental hingga jatuh dari gunung.


Begitu gelombang kejut lenyap, tubuh Nueva telah dipenuhi sisik naga. Sepasang sayap naga putih telah muncul di punggungnya. Kedua kuku jemarinya juga telah memanjang membentuk cakar. Dan yang paling jelas, kekuatannya tidak main-main. Melihat dari kacamata sihir sensoriknya, Xavier seperti berada tepat di hadapan kobaran api unggun raksasa.


“Sebelum kekalahan menerkammu, biar kutegaskan satu hal di sini: Aku lebih kuat dibandingkan Thevetat dalam segala kemegahannya. Kau tidak punya kesempatan untuk menang. Daripada harus menderita dan akhirnya terbunuh, kusarankan kau menyerah dan biarkan aku mengambil [Reverse Law] dengan damai. Dengan begitu, kau tak perlu merasakan sakit yang berlebih.”


Normalnya Xavier akan mengembalikan kata-kata itu dengan ejekan, tetapi sekarang ia diam saja. Ia tak punya waktu untuk itu. Situasi sekarang berbeda. Ia perlu sepenuhnya fokus. Xavier menciptakan dua pedang dimensi di tangan dan belasan lainnya di udara. Ia ingin membaluti tubuhnya dengan [Space Magic], tapi Xavier belum cukup mahir untuk itu. Ia hanya bisa mengandalkan apa yang bisa ia lakukan.


“Jawabanmu?”


Xavier langsung melesat memotong jarak di antara mereka. Grand Order, batinnya sembari mengayunkan kedua pedang, Disintegrate!


Sejurus seketika, setelah sekian milidetik Xavier kehilangan mana dalam jumlah yang sangat besar, Nueva jatuh berlutut dengan darah yang keluar dari sekujur tubuhnya. Pembuluh darahnya pecah. Organ-organ dalamnya berhancuran. Efek disintegrasi yang tubuhnya terima benar-benar parah.


Namun begitu, Nueva masih hidup—ia memiliki resistansi yang sangat tinggi. Dan sang emperor bahkan masih sempat menangkap kedua tebasan Xavier dengan kedua cakarnya. Lebih dari itu, tubuh Nueva berasap hebat—aura panas membaluti tubuhnya.


Xavier yang mengerti kalau Nueva sedang merejuvenasikan tubuhnya langsung mencoba menggunakan Grand Order sekali lagi. Namun, jumlah mana-nya tak mencukupi—padahal Nueva sedang terluka! Xavier beralih mencoba membalikkan aliran darah Nueva, tetapi ia juga tak mampu. Resistansinya terhadap [Reverse Law] telah berkembang ke titik yang lebih tinggi.


Menyadari situasi di hadapannya yang telah menyebarkan bau bahaya, Xavier langsung berteleportasi menjauh. Namun, kedua pedang dimensinya tak ikut terbawa. Cengkraman cakar sang emperor pada kedua pedang dimensi itu begitu keras sampai teleportasi tak mampu melepasnya. Dan karena suplai mana yang terputus, kedua pedang dimensi menciut dan kemudian lenyap.


“Ini berbahaya,” gumam Xavier seraya menciptakan dua pedang dimensi yang lain. “Pada detik ini, aku tak pu—!”


Nueva sudah berada di hadapan Xavier sebelum sang commander sempat menyelesaikan ucapannya. Ia bahkan tak melihat kapan dia berdiri, tahu-tahu sudah berada di hadapan Xavier. Refleks Xavier cukup cepat, kedua pedang dimensi sudah ia posisikan menyilang untuk memblok pukulan sang emperor. Namun, kraaak, pedang dimensinya retak lalu hancur setelah cakar tajam Nueva menghantamnya.


Lebih cepat dari tubuhnya bereaksi, tangan kiri Nueva telah mencengkeram leher sang commander.


Hawa dingin menyebar dengan cepat. Xavier merasa kehilangan rasa pada lehernya. Ia langsung saja menggunakan Space Reversal untuk menghindari dampak lebih lanjut. Usahanya berhasil. Namun, sebelum ia sempat menghancurkan leher Nueva dengan cengkeramannya, tangan kiri Xavier membeku dan lalu hancur dalam cengkeraman tangan kanan Nueva. Tak berhenti di situ, satu kaki sang emperor menghantam pundak kanan Xavier pada milidetik berikutnya.


Xavier terhempas hingga keluar permukaan gunung yang rata—mengecualikan beberapa kawah dan retakan yang telah terbentuk.


Sekali lagi Xavier hendak menggunakan Space Reversal. Namun, Nueva sudah berada di hadapannya. Pada saat yang bersamaan, Xavier kembali kehilangan pandangannya akibat pembekuan. Dan saat pandangannya kembali, Xavier telah meluncur deras secara lurus ke bawah akibat hantaman kaki Nueva.


Xavier tak punya pilihan selain kembali mencoba menggunakan Space Reversal, tetapi sekali lagi dunia membeku dan ia kehilangan pandangan dan kontrol akan tubuhnya. Dan ketika situasi kembali normal, Xavier sudah tergeletak di tengah-tengah kawah di antara dua gunung es. Kali ini kedua kakinya telah hancur hingga ke paha.


Hal pertama yang Xavier lakukan tentu saja mengembalikan keadaan kakinya ke kondisi semula—sebagaimana yang ia lakukan pada tangannya tadi. Meski begitu, Xavier tak membiarkan kewaspadaannya hilang. Matanya tak beranjak dari Nueva yang melayang ratusan meter di udara dengan kedua sayap naga yang mengembang.


Xavier langsung mendudukkan diri setelah kedua kakinya kembali normal, dan pada saat yang bersamaan Nueva mendarat dengan kasar beberapa meter di hadapan sang commander—dia sungguh cepat.


“Aku akan memberimu satu kesempatan lagi,” kata sang emperor sembari mendudukkan diri di singgasana es yang telah termaterialisasi dalam sekejap. “Tapi sebelum ke sana, aku ingin mengatakan apa yang aku inginkan. Akan kubiarkan kau tahu mengapa aku melakukan apa yang telah kulakukan. Mengetahui ini bisa jadi pertimbangan bagimu untuk menyerah dan bekerja sama.”


Cih, lupakan saja. Aku tak punya niat mendengarmu. Apa pun keinginanmu, itu tak penting bagiku.


Setidaknya, itu adalah apa yang ingin Xavier katakan. Namun, ia telah kehilangan cukup banyak mana. Untuk melanjutkan pertarungan, ia memerlukan tambahan mana. Mendengarkan Nueva berbicara adalah kesempata bagus untuk mengumpulkan mana. Ia juga perlu mencoba menggunakan [Magic Container] untuk menyerap semua mana yang terbuang ke udara. Sihir sensoriknya merasakan banyak mana Nueva yang tersebar ke udara.


“Aku akan berbaik hati untuk mendengarkan,” ucap Xavier, mulai memaksimalkan [Magic Container] untuk menyerap mana yang ada di udara. “Katakan, apa yang lebih penting dari putrimu sendiri hingga kau membunuhnya.”


“Jika kau belum tahu, aku adalah orang yang menjadikan Eden mendapat julukan ‘Kota Taman Surga’. Benar, seperti yang sudah kau ketahui, aku pernah hidup di masa lalu. Aku berhasil meloloskan jiwaku dari tarikan alam kematian. Tapi aku takkan bercerita tentang apa yang terjadi; kau hanya perlu tahu apa alasan yang mendasari tindakanku.”


Nueva menjeda sembari memejamkan mata, sebelum kemudian membuka mata dengan ekspresi yang serius dan kembali bicara, “Dunia ini adalah satu kesatuan dari segala bentuk kebusukan yang ada, mimpi buruk bagi mereka yang lemah dan tiada berdaya. Kau yang terlahir di desa yang menjadi medan konflik antara dua negeri pasti mengerti. Tak ada kedamaian bagi mereka yang tak berdaya di dunia busuk, korup, dan tak terurus ini. Aku tak menginginkan apa pun selain mengubah hal itu. Namun….”


...»»» End of Chapter 43 «««...