
...—Axellibra, Emiliel Holy Kingdom—...
LANCELOT baru selesai mendengar laporan keempat kaptennya saat seorang prajurit Royal Army—prajurit yang khusus melindungi istana dan keluarga istana—datang menyampaikan pesan dari sang raja. Pesan tersebut berisikan agar ia segera ke istana untuk membicarakan masalah perlindungan ibukota. Karena Pope Genea sudah pergi, Axellibra sepenuhnya menjadi tanggung jawab mereka.
Lancelot hanya mengangguk dan menginstruksikan keempat kaptennya untuk kembali ke posisi masing-masing. Kemudian mengikuti prajurit Royal Army menuju istana. Jumlah total prajurit Royal Army hanya seribu, tapi mereka semua adalah mantan prajurit terbaik Knight Templar. Mereka akan sangat berguna untuk mengatasi adanya invasi. Bekerja sama dengan mereka vital demi keselamatan Axellibra.
Tak membutuhkan waktu yang lama bagi mereka untuk tiba di istana; Lexata IX sendiri yang menyambut Lancelot.
“Kita akan menghadapi Divisi 1 Imperial Army dan tangan kanan Vermyna,” kata Lexata seraya mengajak Lancelot masuk. “Divisi 12 juga akan ke sini, tapi Pope Genea tidak mengetahui jika commander mereka akan bergabung atau tidak. Itu pulalah alasan Pope meminta Sir Gallahad untuk menghentikan pergerakan Divisi 12.”
Lilithia von Sylphisky, satu dari beberapa commander terkuat. Lancelot—pria berusia 42 tahun berbadan tegap dengan bekas luka vertikal di pipi kanan—sangat tak ingin berhadapan dengan dia. Kekuatan mereka tak kompatibel. Tak ada yang bisa Lancelot lakukan untuk mengatasi gravitasi super sang commander yang sangat ditakuti itu. Ia sudah mendengar bagaimana dalam sekejap Lilithia mengatasi pasukan Rossia Himera dengan gravitasi.
Lexata IX sangat mengerti itu. Maka dari itu dia memanggil Lancelot ke sini. Mereka perlu memastikan perangkat sihir anti-gravitasi sudah disebarkan ke seantero kota. Evakuasi penduduk sipil ke Abilene dan Canaan juga masih berlangsung. Jadi, mereka juga perlu mengusahakan agar musuh tak menginjakkan kaki di Axellibra sebelum proses evakuasi selesai.
“Keluargaku sudah kuungsikan,” lanjut Lexata—yang sejatinya masih berkerabat jauh dengan Lancelot. “Aku akan menjadikan istana ini sebagai pusat anti-gravitasi sama seperti gereja utama. Tugas utamamu, Sir Lancelot, adalah menggiring First Commander ke sini. Aku akan mengatasinya. Lawan yang harus kau hadapi adalah Valeria.”
“Valeria…wanita itu kuat.”
“Ya, dia kuat. Tapi kukira kau bisa mengalahkannya.”
Lancelot pernah melihat wanita itu bertarung saat masih muda dulu. Dia jago dalam pertarungan jarak dekat. Namun, ia tidak pernah melihatnya menggunakan sihir lain selain darah, jadi Lancelot tak bisa mengatakan sekuat apa sebenarnya Valeria. Tetapi jika dibandingkan Lilithia, Lancelot akan memilih menghadapi Valeria dalam setiap kesempatan.
“Baiklah, aku mengerti. Tapi, apa kau yakin mau menghadapi Lilithia? Tanpa gravitasinya dia memang takkan menakutkan, tetapi kita masih belum tahu sihir lain sang commander selain cermin teleportasi yang dia gunakan.”
“Bukan bermaksud merendahkanmu, King Lexata,” lanjut Lancelot sebelum Lexata salah paham. “Kau memang kuat dalam standar biasa. Tapi di antara First Saint sampai Sixth Saint, kekuatanmu tak memiliki tempat.”
“Tidak perlu khawatir; aku tak merasa direndahkan. Ucapanmu memang benar. Namun, dibandingkan Valeria dan Lilithia, yang mungkin bisa kuhadapi hanyalah Lilithia tanpa gravitasinya. Jadi, ini bukan karena aku bersikeras, tapi karena memang tak ada opsi lain.”
“Ah….”
Lancelot tak punya argumen untuk mengkonter kejujuran sang raja. Mereka tak punya cara melemahkan Valeria, tapi berbeda dengan Lilithia. Perkataan sang raja memang satu-satunya opsi di mana mereka tidak akan diluluhlantakkan sang commander.
“Bagus kalau kau mengerti. Sekarang ikut aku ke bawah, aku perlu bantuanmu sebelum kita lanjut membahas penempatan pasukan.”
...* * *...
Lilithia keluar dari cerminnya sekitar 1500 meter di langit Kota Axellibra. Cermin itu menghilang dengan cepat setelah ia keluar, tetapi Lilithia tetap melayang di udara. Kedua matanya memandang intens salah satu kota tertua yang masih ada. Tentu saja ia tak sedang melihat keadaan kota; mata Lilithia bergerak ke sana kemari mencari keberadaan Neira Claudian.
“Aku tak merasakan kehadiran reptil itu,” gumam Lilithia pelan, agak kesal karena ia tak memiliki sihir sensorik. “Apa boleh buat.”
Lilithia memunculkan cerminnya di atas sebagian bangunan yang ada di ibukota. Total cermin yang ia munculkan mencapai seratus ribu. [True Mirror] adalah sihir yang seakan menertawakan kerja keras orang lain. Lihatlah, mudah sekali Lilithia memunculkan seratus ribu Death Knight!
“Aku tak punya pilihan selain menunggu. Para Death Knight itu akan menghancurkan kedamaian kota. Lagipula, Xavier juga belum tiba. Aku tak bisa menunggu dalam kebosanan.”
Untuk membuat pertunjukannya menjadi lebih meriah, Lilithia memunculkan satu cermin lagi tepat seratus meter di atas langit kota. Sosok Emperor Nueva el Vermillion langsung melangkah keluar dari cermin. Dan bersamaan dengan menghilangnya cermin itu, replika emperor mendarat dengan suara debuman tepat di depan gerbang utama kota. Saat itu juga para replika Death Knight melompat turun dari atas sebagian besar bangunan.
…Axellibra seketika dipenuhi teriakan panik yang menggema memecah kota.
...* * *...
Lancelot baru saja kembali dari lantai bawah bersama sang raja saat tiba-tiba seorang prajurit melapor penuh panik. Laporan yang diucapkan dalam panik itu membuat Lancelot terdiam dengan raut tak percaya. Kekhawatiran telah sepenuhnya menguasai raga sang saint.
“…Emperor Nueva dan puluhan ribu Death Knight muncul begitu saja di Axellibra ini?”
“Benar, Yang Mulia! Emperor Nueva memimpin para undead itu! Kita celaka!”
Lancelot berdecih dan spontan berlari keluar. “Kau fokus saja pada persiapanmu, Lexata!” serunya sembari menarik pedang besar bermata dua dari punggungnya.
Dalam sekejap Lancelot sudah berada di luar istana. Ia tak merepotkan diri bertanya detail kejadian pada para prajurit pengaman istana. Pertanyaannya hanya satu: “Di mana Emperor Nueva?”
“Saint Lancelot, di selatan kota!”
Jawaban itu sudah lebih dari cukup; Lancelot langsung melesat ke selatan kota dalam kecepatan tinggi.
Ia tak perlu memberi instruksi pada keempat kaptennya. Mereka tahu apa yang harus dilakukan dalam kondisi ini. Dengan total 65 ribu prajurit yang Ordo 3 miliki, mereka harusnya bisa memimpin para prajurit melenyapkan para undead. Lagipula, Lancelot tak punya waktu untuk memberi mereka instruksi.
Emperor Nueva el Vermillion…dia harus dihentikan dengan segala cara; manusia itu lebih mengancam daripada puluhan ribu Death Knight.
Lancelot membawa kecepatannya ke level tertinggi. Pedang besarnya menebas setiap Death Knight yang terpapasi menjadi dua. Lancelot menghabisi semua undead yang menghalanginya dengan hanya satu ayunan pedang.
Dan, tak lama setelah keluar dari istana, kedua mata Lancelot mendapati sosok sang emperor dalam segala kemegahannya.