
...* * *...
Selimut kegelapan telah menutup langit saat Rossia dan total lima belas ribu pasukannya memutuskan beristirahat dalam teritorial Favilifna Kingdom. Mereka sudah berteleportasi sekali ke garnisun terluar prajurit Ekralina. Meneleportasikan lima belas ribu orang memerlukan mana yang tak sedikit. Karenanya, dari sana mereka terpaksa berlari memasuki wilayah Faviflna.
Tenda-tenda didirikan dengan cepat. Parit-parit kecil dibuat mengelilingi tenda, berjaga-jaga kalau hujan tiba-tiba menyerang. Penerangan tidak dibuat banyak, hal ini demi mengurangi luminositas cahaya yang terpancar. Prajurit yang kebagian tugas mengatur logistik pun langsung bergerak cepat memenuhi tugas. Rossia menginginkan mereka semua beristirahat dengan cepat agar bisa lanjut berangkat lebih cepat pula.
Esok, pagi-pagi sekali, Rossia dan pasukannya akan berteleportasi sekali—memangkas jarak mereka dan ibukota tujuan seratus kilometer lebih. Kemudian mereka akan berlari dari sana hingga siang tiba. Beristirahat sejenak, berteleportasi lagi, dan kemudian melanjutkan lari. Saat malam besok tiba, mereka sudah akan berada dalam jarak untuk melancarkan serangan setelah berteleportasi.
Untuk itu, saat para prajurit yang akan bertarung beristirahat, para prajurit pengguna teleportasi mendahului mereka untuk membuat titik tujuan teleportasi selanjutnya. Mereka akan bermalam di sana. Pasalnya, jika itu tidak mereka lakukan, tidak menutup kemungkinan titik teleportasi yang dituju telah (entah bagaimana) diketahui. Selain itu, persiapan yang baik membuat peneleportasian menjadi lebih mudah.
Semuanya telah Rossia pikirkan dan terapkan dengan baik; tidak ada gangguan berarti dalam usahanya memenuhi tugas yang diberikan. Semuanya berjalan lancar. Karena itu, Rossia membiarkan tubuhnya merebah di atas matras di dalam tenda yang terletak tepat di tengah-tengah formasi tenda para prajurit.
“…Tidak akan ada yang menghalangi Favilifna dari menerima hukuman mereka.”
...—Etharna, Favilifna Kingdom—...
Xavier dan monyet tak berbulu—yang bernama Lilithia sialan, yang berani merayu calon suami pilihan dewa untuknya—sudah meninggalkan Etharna lima menit yang lalu. Tetapi Elmira masih belum meninggalkan teras depan istana. Ia masih berdiri diam di sana memandang kerlipan bintang yang menyampahi langit malam.
“Bagaimana menurutmu, Mary?” tanya sang ratu secara tiba-tiba pada sang necromancer yang berdiri di sampingnya. “Apa aku harus mengambil langkah level rendah dan klise itu?”
“…Untuk segala kesadisan dan keagresivitasanmu, aku tak sedikit pun berpikir kau takut menerima penolakan. Siapa yang menyangkan orang sepertimu jika memiliki sisi yang seperti itu.”
Elmira tertawa terhibur. “Kau tak menjawab pertanyaanku,” katanya datar saat tawa itu reda.
Mary hanya mengedikkan bahu. “Lakukan sesukamu,” katanya sembari berbalik. “Ayo masuk. Kau perlu istirahat.”
Elmira mengembalikan pandagannya ke langit, sebelum kemudian bergumam pelan pada dirinya sendiri dan berbalik mengikuti sang necromancer.
...***...
Total ada sebelas orang yang konstan berteleportasi dari satu titik ke titik lain. Dalam satu kali berteleportasi mereka memangkas jarak ratusan meter. Sejauh ini, dari titik perkemahan rekan-rekan mereka, total kesebelas prajurit itu sudah berteleportasi lebih dari tujuh puluh kali. Dan mereka masih belum menunjukkan tanda-tanda untuk berhenti.
Namun, itu sama sekali tidak mengejutkan. Meneleportasi diri sendiri dan orang lain itu memiliki perbedaan dalam hal konsumsi mana. Meneleportasi orang lain akan memakan mana dua sampai tiga kali dari yang dibutuhkan untuk meneleportasikan diri sendiri. Untuk pengguna teleportasi dengan kapasitas mana yang biasa, mereka bisa meneleportasikan diri sendiri puluhan kali sampai mana mereka habis—tentu saja ini dengan catatan jarak teleportasi kurang dari satu kilometer.
Dan, kesebelas prajurit itu bukan peneleportasi rata-rata. Mereka prajurit Knight Templar spesialis teleportasi. Mereka memiliki kapasitas mana tiga hingga empat kali rata-rata pengguna sihir teleportasi. Mereka telah dipaksa menguras mana dengan berteleportasi terus-menerus sejak kecil. Karenanya, teleportasi berulang-ulang yang mereka lakukan sama sekali tidak berada di luar batas kewajaran.
Mereka terus berteleportasi dengan fokus, dan mereka baru berhenti pada teleportasi yang ke-177.
Berteleportasi terus-terusan sebanyak itu tentu melelahkan, dan itu terlihat dari deru napas mereka. Namun, hanya sebatas itu saja. Mereka masih bisa lebih jika mau. Sayangnya, besok mereka akan meneleportasi 15.000 orang . Mereka takkan mampu melakukannya jika mereka membuat titik teleportasi lebih jauh dari ini.
“Sekitar 150 kilometer,” kata salah seorang dari mereka. “Aku menghitungnya dengan benar.”
Kesepuluh prajurit lainnya mengangguk mendengar senior mereka, lalu secara serentak menjtuhkan pantat mereka ke rumput yang menutupi tanah, duduk memandang senior mereka. Sementara, sang senior sendiri langsung mulai meneteskan darahnya membuat lingkaran sihir. Adalah dalam pengetahuan semua anggota Knight Templar kalau darah memperkuat sihir.
“Apa kau berpikir kita bakal menerima bonus untuk perang berat sebelah ini?” tanya salah seorang dari mereka, matanya berkilat-kilat membayangkan koin-koin emas yang berjatuhan memeluknya.
“Entahlah, kita tak diberitahu.” Salah seorang yang lain menyahut. “Tapi menurutku, jika Favilifna berhasil Kapten Rossia kuasai, dia akan memberi kita bonus dari kas yang ratu itu miliki.”
“Aku sependapat!” seru prajurit lain. “Kita tahu Kapten Rossia seperti apa. Aku dengar dari kawanku yang pernah ditempatkan di bawah perintahnya, dia dan rekan-rekannya selalu dapat bonus yang tak sedikit saat tugas mereka dipenuhi.”
“Heh, kalau begitu saat pulang nanti aku akan mengunjungi Paradise Brothel! Aku sudah lama tidak bersenang-senang.”
“Oi, hati-hati bicaramu! Mengunjungi tempat prostitusi haram bagi anggota Knight Templar. Kau akan dihukum berat. Paling ringan, kau akan dibuat menjadi penjaga konservasi Magical Beast yang berbahaya itu.”
“Heh, heh, heh, kau terlalu polos, Sieg! Semuanya bakal aman jika tidak ada yang tahu. Bener nggak, Zel?”
“Aku tidak sebrengsek dia, Sieg, tapi dia benar. Kalau kau tahu aturan mainnya, semuanya aman.”
“Oh, benarkah begitu?”
“Tentu saja! Semuanya akan aman jika kau ta—” Prajurit yang dipanggil Zel itu tiba-tiba terdiam saat menyadari pertanyaan itu tidak datang dari mulut Sieg. Seperti dirinya, para prajurit lain—selain senior mereka yang masih fokus membuat lingkaran sihir—menyadari itu bukan suara Sieg. Suara itu berasal dari atas mereka.
“Mengapa tiba-tiba diam?”
Para prajurit spontan menengadahkan wajah mereka, dan secara refleks mereka berdiri dan melompat menjauh dengan mata melebar.
“Prajurit Imperial Army! Apa yang kau laku—jubah dan lencana itu! Kau, apa kau seorang Commander?”
“Dia… aku mengetahuinya! Dia Twelfth Commander!”
“Apa yang Twelfth Comman—huh…. Oi, gadis yang melayang di atas itu…. Jangan bilang dia First Commander….”
Sang senior yang mendengar kebisingan rekan-rekannya spontan mengalihkan wajah, dan refleks ia mengarahkan mata memandang apa yang mereka pandang.
Twelfth Commander duduk di udara dengan kedua kaki menyilang, dan puluhan meter di atasnya melayang First Commander dengan tatapan dingin menusuknya.
“TELEPORTASI!” Satu kata kerja yang diucapkan dengan volume yang besar itu adalah apa yang mampu mulut sang senior teriakkan.
Kesepuluh rekannya tidak perlu disuruh dua kali; secara bersama-sama mereka menggunakan sihir teleportasi mereka.
Sayangnya, sihir teleportasi mereka tak bekerja ‒ tubuh mereka mendadak kaku tak bergerak, bahkan hanya untuk berbicara saja mereka tak bisa.