
Hidup akan lebih mudah jika seseorang bisa terbang. Mungkin tak ada makhluk hidup yang menolak membenarkan kalimat itu. Bahkan ikan yang berenang bebas di lautan pun mungkin akan mengangguk kepala pada kalimat itu. Terbang adalah kemampuan yang diirikan oleh setiap makhluk yang perlu bersusah payah untuk mencapai suatu tempat. Namun begitu, apakah seseorang menginginkan sayap atau tidak, jawaban untuk hal ini bervariasi.
Untuk Xavier, sayap hanya akan mengganggu. Bentuk tubuh manusia darat adalah yang paling ideal. Dengan sihir yang tepat, mereka bisa terbang tanpa alat bantu. Sihir api bisa digunakan untuk memberi dorongan ke atas. Sihir angin lebih berguna lagi. Seperti Monica, dia bisa mengontrol perbedaan aliran udara yang memberinya kemampuan untuk terbang tanpa perlu sayap. Pengguna sihir air juga bisa terbang, tetapi mereka akan lebih membuang mana ketimbang pengguna sihir api.
Namun begitu, meski ketiga sihir elemental itu bisa memberi seseorang kemampuan untuk terbang, tetap saja tidak ada yang lebih efektif daripada [Flight Magic].
Karena itu, meskipun mereka bisa terbang hingga Veria tanpa beristirahat, Xavier dan Monica tetap memilih beristirahat setiap satu jam penerbangan. Mereka terbang dengan kecepatan dua kali laju suara di udara. Artinya, dalam kurang dari enam jam mereka baru akan tiba di Veria. Karena mereka beristirahat rata-rata setengah jam setiap sejam penerbangan, mereka akan memerlukan waktu total delapan setengah jam untuk tiba di Veria.
Dari mulai meninggalkan Islan hingga matahari tergelincir dua puluh lima derajat dari titik kulminasinya ke arah barat, Xavier dan Monica telah menempuh setengah perjalanan. Jika mereka terus melanjutkan penerbangan dalam kecepatan yang sama, keduanya akan tiba di Veria pada larut malam. Perbedaan waktu antara Veria dan Islan menjadi alasan mengapa mereka akan tiba pada larut malam.
Meskipun mereka beristirahat, itu bukan berarti mereka tak bergerak sama sekali. Xavier dan Monica beristirahat di atas sebuah pulau apung yang bergerak ke tenggara layaknya kapal yang berlayar. Pulau itu berbentuk melingkar sempurna dengan radius 10 meter, tetapi titik tertingginya mencapat tiga puluh meter. Monica membuatnya dengan [Earth Magic], dan Xavier membuatnya mengapung dengan [Reverse Law]. Pulau tersebut berlayar berkat [Wind Magic] Xavier yang tak bisa dibilang lemah.
Meskipun pulau tersebut tak ubahnya bukit kecil yang mengapung, tetapi sebagi tempat beristirahat itu sama sekali tak buruk.
Di puncak tertingginya yang datar, Xavier dan Monica duduk berhadapan dipisahkan oleh api unggun kecil. Api itu bukan untuk menghangatkan, tetapi untuk mematangkan beberapa biota laut yang ada di dekatnya. Istirahat mereka kali ini juga dimanfaatkan untuk mengisi perut.
Gelombang setinggi belasan meter saling membentur dan memecah, menghasilan deburan yang khas. Namun, percikan air akibat pertemuan dua gelombang itu sama sekali tak mengenai pulau apungitu. Pun tak ada gelombang yang sampai menghantam pulau; semua gelombang yang hendak menghantam pulau buatan tersebut akan otomatis berbalik arah.
Tidak ada yang menghalangi pulau buatan itu dari berlayar secara diagonal ke tenggara. Pun tak ada yang mengganggu keheningan yang menyelimuti Xavier dan Monica. Deburan yang memecah udara sama sekali bukan gangguan, melainkan iringan melodi yang menjadikan keheningan itu sempurna.
Jika seorang seniman menggoreskan tinta untuk mengabadikan momen itu, tentu penggemar roman akan memberinya nilai masterpiece.
...* * * *...
Berbeda dengan musuh bebuyutannya, Veria sejak dahulu sampai sekarang hanya terdiri atas lima kekaisaran dan sebuah wilayah independen.
Ada total sebelas kota besar yang terdapat di Karna Great Empire, dan kota terbesar di antara sebelas kota tersebut tak lain adalah Nareya—itu adalah kota yang namanya dinisbahkan pada sosok Nareya, dewa yang dipuja oleh Karna sang pendiri kekaisaran (walaupun di kemudian hari diketahui bahwa Nareya hanyalah julukan dari Karna untuk Edenia, nama kota tidak diubah).
Nareya adalah kota yang cukup luas. Dari titik terjauh ke titik terjauh yang lain, jarak yang memisahkannya mencapai 150 kilometer. Jika seseorang naik kuda, mereka hampir memerlukan dua jam perjalanan. Bahkan di antara semua ibukota yang ada di Veria, tidak ada satu pun yang lebih luas daripada Nareya. Karenanya, jika Veria ingin diberi ibukota, Nareya tentulah kandidat utamanya.
Nareya dibelah menjadi dua bagian oleh Sungai Gamuna, sungai terbesar dan terpanjang yang ada di Veria. Uniknya, belahan itu sangat sempurna, seolah sengaja dibuat agar Nareya Timur dan Nareya Barat terlihat identik. Namun, yang lebih unik lagi adalah istana yang mengapung di tengah-tengah sungai—istana yang menjadi titik temu bagi dua sisi jembatan yang menghubungkan sisi barat tepi sungai dengan sisi timurnya.
Agni Great Palace. Itu adalah istana di mana sang emperor yang memerintah Karna Great Empire tinggal dan menetap. Meskipun istana dengan total diameter mencapai setengah kilometer itu terlihat mengapung di atas air, posisinya tidak sedikit pun berubah. Arus air yang deras sama sekali tak memberinya efek apa pun. Namun, jika seseorang merepotkan diri dengan menyelam, tentu mereka akan tahu kalau sebenarnya istana itu tidak benar-benar mengapung.
Shiva Rashta, pria berusia dua puluh tahun beberapa bulan yang telah menjadi emperor sejak berusia sebelas tahun, duduk di singgasananya dengan kaki kanan di atas kaki kiri—pipi kirinya beristirahat di atas kepalan tangan kiri, kedua matanya dalam keadaan terpejam.
Singgasana itu berdiri lima belas meter di atas lantai singgasana. Ada total empat puluh lima anak tangga yang berdiri saling tumpang-tindah, memisahkan lantai dan kursi emperor. Ada total sepuluh kursi di antara karpet merah yang menghubungkan singgasana dan pintu ruangan, lima berada di sisi kiri dan lima lagi di sisi kanan. Berlutut penuh ketundukan di antara kedua kolom kursi adalah seorang wanita berkulit tan dengan sebuah tindik di hidung. Selain sang wanita, tiada yang lain.
“Hamba menghadap, Yang Mulia.” Wanita itu berkata, suaranya tegas tetapi lembut pada saat yang bersamaan. Kepalanya yang awalnya menunduk kemudian menengadah, memandang sang emperor yang di belakang singgasananya terdapat simbol matahari yang berpijar. “Apa tugas yang harus hamba lakukan?”
“…Saraya, informasikan pada semuanya untuk tidak menghalangi Xavier von Hernandez dari mencapai Kastil Asura.” Shiva berkata tanpa membuka matanya, tetapi Saraya tahu kalau sang emperor melihatnya. “Informasikan juga agar tak ada dari mereka yang berupaya memata-matai Xavier. Tujuan utamaku membawa Artemys el Vermillion bukan untuk meminta bantuannya, tetapi membuat Xavier menginjakkan kaki di Kastil Asura.”
“Hamba mengerti,” respons Saraya diiringi kepala yang menunduk, kemudian dia menghilang dalam butiran cahaya.
Sedetik setelah itu, simbol matahari yang berpijar di belakang singgasana mulai meredup, dan dalam lima detik kegelapan total menelan ruang singgasana.
...#####...
#Mossakh akan mengambil ide dari Uni Soviet. Nirvala akan merepresentasikan Nusantara. Mikazuki disandingkan pada Imperial Jepang. Jiangzhou tentu saja dinasti China. Sedang Karna Empire tentu akan mengambil inspirasi dari kisah Mahabrata (India).