
Monica tidak memiliki asumsi lain selain kalau ia berada di surga. Atau, paling tidak, ia berada di salah satu tempat di surga. Monica menolak meyakini hal yang berbeda. Pasalnya, ia berada di tempat yang tak bisa dicerna logika. Ia tak mengerti bagaimana tempat seperti ini bisa ada.
Monica telah mengeksplor area di sekeliling ruangan.
Ketika ia keluar ruangan dari dinding di sebelah kanan, ia seketika berada di pulau kecil dengan latar waktunya malam hari. Deburan ombak menghantam karang dan pasir-pasir pantai. Ketika ia berbalik, ia dapati ruangan yang menampungnya adalah batang pohon yang dibuat sedemikian rupa sehingga menjadi ruangan. Pohon itu besar dan menumbuhkan segala buah dan makanan, bahkan ada paha kambing bakar yang tumbuh dari pangkal buah.
Ketika ia keluar dari dinding sebelah kiri ruangan, ia berada di pulau yang berbeda lagi. Jika sebelumnya batang pohon yang dibuat menjadi ruangan, kali ini patung naga besar—tepatnya perut patung naga. Bukan hanya satu. Pulau itu dipenuhi banyak patung yang perutnya menjadi ruangan dengan beragam fasilitas. Salah satunya adalah pemandian air panas yang misterius.
Ketika ia keluar dari bagian depan ruangan, ia langsung berada di dataran bersalju. Salju sejauh mata memandang dengan pepohonan yang tak berdaun tapi berbuah. Berbeda dengan dua tempat sebelumnya, kali ini ruangan yang menampung Monica adalah rumah salju berbentuk beruang. Bagian atasnya tidak ada cerobong asap, tetapi kolam air panas untuk berendam.
Sementara itu, hutan adalah apa yang menyambutnya saat ia berjalan keluar dari dinding belakang. Ia tidak kehujanan karena ada banyak payung yang bisa digunakan. Ada air terjun di belakang rumah kayu yang menjadi ruangan asalnya. Di samping rumah ada sungai besar dan berbatu yang mengalir pelan, sedang di sisi lain ada tebing yang bisa dipanjat dengan mudah.
Dan Monica sama sekali tak merasa lelah saat kembali memasuki ruangan dengan dinding-dindingnya yang terbuka.
Namun, jika ada satu hal yang membuat Monica ragu jika ini surga, ia merasa ia terlalu hidup untuk menerima kalau ia sudah mati.
Tidak ada yang berubah darinya…selain kenyataan kalau ia sekarang memiliki rambut pirang bercambur hitam seperti perpaduan antara dua mie yang berbeda warna. Tubuhnya menjadi lebih pendek setengah inci. Tubuhnya sama dengan yang tubuh Sataniciela coba kuasai. Artinya, ia jauh lebih kuat dari dirinya yang biasa. Ia merasa bisa mengalahkan semua anggota Deus Chaperon selain Xavier.
Berbicara tentang Xavier, apa yang terjadi pada anak itu? Apa dia selamat? Apa makhluk yang bernama Lucifer itu mampu selamat dan sekarang mencari Xavier? Apa pengorba—
“Monica Elsesky.”
Monica tersentak kaget dengan panggilan yang datang tiba-tiba ‒ ia bahkan hampir terjungkal dari pinggir kasur.
Ia spontan berbalik arah berniat memberi sepenggal nasihat untuk orang yang telah muncul tiba-tiba. Namun, bibirnya berhenti sebelum ada kata yang keluar. Yang matanya tatap adalah Xavier, tetapi pandangan dan auranya berbeda. Pandangannya tajam; auranya menjeritkan kematian. Monica bahkan merasa tulang-tulangnya menggigil kedinginan.
“Kau mengenal wajah ini, tapi aku bukan orang itu. Aku sengaja memakai wujud ini agar kau tidak pingsan karena ketakutan.”
“Siapa kau?” tanya Monica setelah berhasil menenangkan diri. “Bagaimana kau dan aku bisa ada di sini?”
“Aku adalah kematian, datang padamu karena kau sekarang berada di antara hidup dan mati. Ini adalah tempat antara hidup dan mati. Aku datang untuk memutuskan apakah akan mengirimmu kembali ke dunia atau menarikmu ke jurang kematian.”
Oh, pantas saja. Monica sekarang mengerti mengapa ia tidak merasa sudah mati. Semuanya masuk akal.
“Tapi apa maksudmu dengan kalimat terakhir?” tanyanya menuntut penjelasan – mata memandang intens tiruan Xavier yang berdiri memegang sabit kematian. “Apa aku masih punya kesempatan hidup?”
“Itu tergantung padamu. Jika kau memilki alasan kuat untuk hidup, aku bisa mengembalikanmu ke dunia. Tapi, jika kau tak lagi punya alasan, kau akan kukirim ke jurang kematian. Apa kau punya alasan untuk hidup?”
Monica tidak perlu banyak waktu untuk memikirkan jawaban itu. Ia telah memilikinya bahkan sebelum Desa Carnal hancur. Ia sudah memilikinya bahkan saat masih sering mengisengi Xavier.
“Tentu saja aku punya,” jawab Monica tanpa ragu. “Aku ingin hidup bahagia dengan Xavier. Tinggal berdua dengan dua atau tiga anak yang akan menemani hari. Makan bersama, berkebun bersama, memancing bersama, bercanda bersama, dan aku juga ingin melakukan hal-hal dewasa dengannya. Aku ingin bersamanya. Jika aku hidup lagi, aku ingin menjadi lebih berani. Xavier brengsek itu tahu aku menyukainya, tapi dia berpura-pura tidak tahu karena aku tidak berani bilang. Tapi kali ini aku akan bilang, aku akan memaksanya.”
“Tak mengherankan kau sampai mengorbankan diri demi dia. Tapi, bagaimana jika dia sudah memiliki istri dan anak? Apa kau masih menerimanya?”
“A-Apa kau bilang?! Dia sudah punya istri dan anak?!!!”
“…Jika. Aku mengatakan jika. Aku tidak tahu kebenarannya. Kau yang lebih mengenal manusia itu.”
Monica terdiam sejenak, matanya menunduk memandang selimut yang tak berpola. Namun, pikirannya tidak pada selimut itu. Pikirannya merenung memikirkan ucapan sang kematian.
Benar kata dia, Monica sangat mengenal Xavier. Meski membenci perandaian itu, Monica tahu itu bukan hal yang mustahil. Ini Xavier yang ia bicarakan. Anak itu takkan ragu menyembunyikan hal itu darinya. Heh, ia bahkan bisa membayangkan siapa sang istri. Senyum sok ramah Artemys telah meneror kepalanya. Kenyataan kalau beberapa bulan ini Artemys tak pernah mau ditemui oleh Kanna memperkuat dugaan itu. Bisa jadi dia merahasiakan kehamilannya.
“Apa kau akan menerimanya?”
Apa ia bisa menerimanya? Itu pertanyaan yang sangat tak adil. Monica sangat tidak suka mendengarnya. Namun, ia tak bisa mengelak dari situasi ini.
“…Tak ada yang bisa kulakukan bahkan jika aku tak mau menerimanya, kan? Argh, aku benci dunia ini. Mengapa dunia menganggap normal pria beristri banyak, terlebih para bangsawan dan raja-raja? Mengapa tak ada larangan yang mengharamkan pria beristri banyak?”
“…Kau tidak menjawab pertanyaanku. Apa kau akan menerimanya? Atau kau akan mencari yang lain? Aku memerlukan alasan yang bisa membuatmu tetap hidup.”
“…Aku sudah menyukai Xavier sejak kecil. Menjadi istrinya dan bahagia bersama adalah impianku. Aku tak pernah berpikir untuk melirik pria lain. Jadi, mau tidak mau, aku harus belajar menerimanya. Jika memang kenyataannya begitu, aku akan menerimanya. Lagipula, dia masih berhutang beberapa permintaan padaku, aku bisa memanfaatkannya.”
“…Kau tidak berpikir untuk membuatnya babak belur, kan? Aku ingin alasan yang tulus. Ini kesempatan kedua, jadi aku ingin kau menunjukkan kesungguhan.”
“…Kuakui aku ingin meremukkan tulang-tulangnya jika benar dia sudah punya istri dan anak, tapi setelah itu aku akan langsung menyembuhkannya—secara perlahan. Aku akan merawatnya dengan baik dan memuaskan sampai dia benar-benar sembuh.”
Entah itu hanya perasaannya saja atau apa, Monica melihat Xavier tiruan berkeringat di pelipisnya. Apa ada yang tak biasa? Atau….
“Aku tulus.”
“…”
“…”
“Baiklah. Akan kukembalikan kau ke dunia. Tapi, jika kau melampiaskan emosimu seperti itu, aku akan menghukummu. Aku takkan menarikmu ke jurang kematian, tapi Xavier yang akan menggantikan tempatmu. Kau mengorbankan nyawa demi dia, sudah sepantasnya dia menggantikan tempatmu.”
Monica menghela napas pelan. “Baiklah,” ucapnya sesaat kemudian. “Aku akan berusaha menahan emosi. Aku tak ingin kehilangan Xavier. Tidak ada gunanya aku hidup kembali jika Xavier akan mati.”
“Benar. Kau harus memanfaatkan kesempatan keduamu dengan baik. Sekarang pejamkan matamu. Akan kukirim kau ke duniamu setelah detik ketiga.”
Monica mengangguk dan memejamkan mata. Seketika kepalanya terasa berat dan tubuhnya seperti terjatuh ke dalam ruang yang dipenuhi tarikan gravitasi dari arah yang berbeda-beda.
Dan ketika Monica membuka mata, ia menemukan dirinya bertatap-tatapan dengan mata merah Xavier. Tangan kanannya berada dalam genggaman sang pemuda, dan kepalanya berbaring di atas pahanya. Mereka berada di atas salju – sepertinya di kawasan Pegunungan Amerlesia.
“Monica, syukurlah kau akhirnya bangun. Aku tidak tahu harus bagaimana jika kau tak bangun-bangun lagi.”
“Aku…masih hidup?”
“Tentu saja. Aku tak mungkin membiarkanmu mati. Tak ada yang bisa melenyapkanmu dariku. Aku takkan menerimanya.”
Monica refleks mendudukkan diri secara perlahan, Xavier membantunya dengan telaten.
“Kau tak seharusnya membaha—”
Monica tak membiarkan Xavier menyelesaikan kalimatnya. Dengan cepat ia membekap mulut Xavier dan menjatuhkannya secara paksa. Dalam sekejap pula ia sudah duduk di dada Xavier dengan tangan kiri yang sudah memegang tombak hitam. “Jadi, Tuan Kematian, apa kau akan membawa dirimu sendiri ke jurang kematian?” tanyanya dengan cengiran bercampur kesal dan marah, tangan kanannya ia tarik dari membekap mulut sang commander.
“Kau…menyadarinya?” tanya Xavier dengan panik.
“Tidak,” jawab Monica cepat, bibirnya melengkung semakin lebar. “Tapi kau baru saja mengonfirmasinya.”
“Ah….”
“Jadi…?”
“Mo-Monica, ingat! Kau sudah berjanji! Hei, singkirkan tombak itu! Monica, ini bukan dirimu!”
“Haaa…. Aku hanya bercanda.” Monica menghilangkan tombaknya dan beranjak dari menduduki dada sang pemuda. “Aku justru berterima kasih kau sampai melakukan itu semua,” lanjutnya sembari mendudukkan diri di samping sang pemuda dengan bibir yang sedikit melengkung. “Kalau kau tak melakukan itu, aku mungkin takkan bisa mengatakan semuanya.”
“Jadi, kau tak marah?” tanya Xavier memastikan, ikut mendudukkan diri.
“Tentu saja aku marah, tapi tak ada yang bisa kulakukan. Protes pun percuma. Apa yang terjadi tak bisa diubah. Wanita itu Artemys, kan?”
“Benar. Dan aku senang kau bisa menerimanya. Jika begini, mungkin aku nanti bisa berterus terang kalau aku sudah memiliki dua istri dan dua a—maksudku, aku bisa benar-benar terbu—”
“Vier.”
“Mo-Monica…tombak itu….”
“Apa barusan kau bilang dua istri dan dua anak?”
“….”
“….”
“Monica, a-aku bisa jelaskan! Ini tak seperti yang kau dengar! Sungguh! Kau harus perca—”
“Ucapkan selamat tinggal pada masa depanmu, Xavier von Hernandez.”
…Tidak semua rencana bisa sukses; terkadang blunder datang dari diri sendiri. Xavier memahaminya dengan cara yang berat. Atau barangkali, blunder itu bagian dari rencana?
...»»» End of Volume 6 «««...