
...—bersama para prajurit—...
Bentrokan dua kubu prajurit berbeda ras terus terjadi meski pemimpin mereka tidak lagi di tempat. Meskipun elf jumlahnya lebih banyak, tetapi prajurit Imperial Army tidak tersudutkan. Peran sembilan kapten mereka tak bisa disepelekan. Mereka adalah alasan para prajurit tetap kukuh menyerang. Tentu saja kehadiran dua klon Kanna di antara mereka berperan banyak.
Dan Kanna telah membuat keputusan yang sangat tepat dengan mengalokasikan ketiga batalion yang tadi bergabung untuk menjaga bagian belakang formasi. Karena, empat skuad Black Shadow sudah menampakkan diri sesaat setelah perang pecah. Jika mereka tidak berjaga, tentu efeknya akan buruk. Black Shadow kuat. Hanya dengan empat skuad, tiga batalion dibuat kesusahan.
Camelia memimpin skuadnya ke sisi kiri pasukan Imperial Army. Dia berhasil menyusup ke sana, memberi serangan kejutan dan menyudutkan prajurit musuh. Namun, seperti yang bisa diharapkan dari Imperial Army, mereka dengan cepat mengorganisir diri dan mengepung Camelia dan anggota.
Sementara itu, Menez akhirnya menginjakkan kaki di medan pertempuran. Namun, ia langsung diserang oleh klon Kanna spesialis kombat. Klon Kanna spesialis kombat tidak lagi mengkhawatirkan garis terdepan medan pertempuran karena matanya melihat kedatangan tiga batalion prajurit Divisi 12. Kedatangan mereka juga membuat para elf untuk membagi perhatian ke belakang mereka. Perang yang sebelumnya seimbang, lalu berpihak kepada para elf, sekarang sudah berpihak pada Imperial Army.
Saat itu Atland datang dengan rentetan anak panah anginnya yang sangat akurat. Korban dari kubu Imprial Army terus berjatuhan. Hal itu membuat kedua klon Kanna yang bertugas menyembuhkan—menjadi tiga dengan bergabungnya klon Kanna yang ditugaskan menyusul prajurit Xavier—mengatasi Atland. Dibandingkan dengan yang lain, serangan Atland ditujukan untuk membunuh. Karena itu ketiga klon Kanna bersekutu menyerangnya—ingin mengakhirinya dengan cepat.
...—bersama Xavier dll—...
Xavier harus memuji kecemerlangan akal Luciel. Jika sang malaikat agung tidak berakting seperti tadi, ia mungkin akan terdiam—dan pada akhirnya akan mengaku, yang lantas mengacaukan rencananya.
Memang, itu tidak menjadi masalah; ia sudah membuat kesepakatan dengan Nueva. Namun, jika Kanna mengetahui semuanya, tak ragu kalau hubungan mereka akan memburuk. Terlebih lagi, yang mengangkatnya menjadi commander adalah Kanna. Itu takkan mengejutkan jika Nueva memutuskan mengabaikan kesepakatan mereka. Opsi terburuk, Xavier harus mengabaikan semua rencananya dan kembali kepada New World Order secara utuh—tinggal di Elf Kingdom pun tak lagi mungkin setelah ia melawan para elf.
“Ya, aku tidak apa-apa.” Xavier kembali berdiri secara perlahan. “Aku tidak berpikir dia masih hidup. Pun aku tak pernah mengimajinasikan dia adalah sosok di balik topeng itu. Tapi, kau tidak perlu khawatir; aku Twelve Commander.”
Xavier sudah pasti tidak akan membiarkan informasi ini sampai ke telinga Monica. Pun nanti ia harus bisa meyakinkan Kanna untuk tidak mengatakan insiden ini pada Nueva dan Edward. Ia harus memastikan kebohongan yang dirancang Luciel—sungguh ironi, malaikat agung berbohong dengan mulus—hanya sampai di telinga mereka berempat saja.
“Kau yakin? Meski setelah tahu dia saudara kembarmu yang kau pikir sudah mati?”
“…Aku harus melakukan apa yang harus kulakukan,” Xavier memandang intens Kanna, ekspresi wajahnya ia buat seserius mungkin. Kanna juga memandang intens dirinya. Untuk sesaat, dunia seolah terhenti di kedua mata mereka yang berpandangan. “Saat ini, dalam balutan seragam ini, tidak ada yang lebih penting daripada Vermillion Empire. Aku sudah mengatakannya, kan, kalau aku adalah pedang dan tamengmu?”
Berbohong itu mudah. Berdusta itu indah. Orang-orang lebih terbujuk oleh dusta ketimbang percaya pada kejujuran. Setidaknya, itu apa yang seorang antagonis dalam cerita akan berkata. Sedang Xavier, ia hanya sedang berusaha keluar dari masalah yang terjadi karena perbuatannya sendiri. Karma, huh?
Xavier menyunggingkan senyum tipis, sebelum kemudian memandang El dan melangkah maju. Namun, langkahnya tertahan oleh tangan Kanna.
“Aku akan mengatasi El, kuserahkan Queen Evillia padamu.”
“Tidak pe—” Xavier tidak menyelesaikan ucapannya; Kanna tidak mendengarkan, dia sudah melayangkan tinjunya pada Luciel.
Luciel sempat menyilang kedua tangannya, memblok tinju Kanna. Namun, tenaga di balik pukulan Kanna luar biasa kuat, bahkan Luciel sampai terpental. Dan Kanna menyusul terpentalnya tubuh Luciel, tak berniat memberi ampun.
“Apa dia bertambah kuat?” tanya Xavier pada diri sendiri, aura Kanna terasa berbeda—dia terasa lebih kuat dari saat menggunakan kekuatan tiga seraphim. “Bagaimana bisa dia terus bertambah kuat?”
Senyuman Xavier tak mendapatkan balasan; hanya pandangan datar dan dingin yang dia berikan padanya.
“Evillia…ini…aku…aku bisa menjelaskan.”
“Tidak ada yang perlu dijelaskan.” Ucapan Evillia tajam, dinginnya sungguh menusuk. “Kau sudah membuat semuanya menjadi jelas. Twelve Commander Xavier von Hernandez, kau adalah musuh Elf Kingdom. Meskipun telah tahu kalau El saudara kembarmu, kau tetap memihak kekaisaran. Tidak bisa dimaafkan.”
“Tunggu, tunggu, Evillia, kita sama-sama tahu apa yang sebenarnya terjadi. Pun aku tak membunuh satu pun elf. El menjadi saksi. Tidak perlu memasang ekspresi seperti itu.”
“El…maksudmu saudara kembarmu?”
Xavier sekarang yakin Evillia kesal padanya. Lebih dari itu, wanita cantik itu marah.
Xavier mengenal Evillia, ia telah merasakan manis bibirnya. Karenanya, ia tak mengerti mengapa Evillia sampai kesal bercampur marah. Meskipun ia tidak memberi informasi perihal apa yang ia lakukan, Xavier tahu Evillia tidak berpikir ia benar-benar berkhianat. Itu tak masuk akal bagi Evillia untuk berpikir ia berkhianat.
“Evillia, tenanglah, kau tidak perlu berekspresi seperti itu. Aku lebih suka senyum sadismu daripada ekspresi seperti itu.”
“Heh, kau tak mengerti mengapa aku memasang wajah seperti ini?” Evillia tak menanti respons Xavier. “Apa perlu kubuka kepalamu terus kujejali alasan mengapa aku berekspresi seperti ini ke dalam otakmu?”
Xavier tidak punya jawaban atas pertanyaan itu, ia hanya bisa memandang penuh tanya.
“Haaa….” Evillia menghela napas panjang, menggeleng pelan, kemudian kembali memandang Xavier. “Bukankah sudah kubilang, aku ini Alpha; kau harus mengatakan padaku tentang wanita lain. Aku akan memutuskan apakah dia layak atau tidak. Bukankah aku sudah mengatakannya dengan begitu jelas? Tapi apa, bukan saja kau bermain di belakangmu, kau juga berani berpandangan mesra di depanku. Hukumanmu akan berat untuk ini.”
Muka Xavier pucat pasi seketika. Keringat dingin memenuhi pelipisnya. Selain maidnya Artemys, ia yakin hanya Nizivia yang tahu hubungan rahasianya dengan Artemys.
Apa ia salah? Mungkinkah ada mata-mata yang Evillia kirim untuk mengawasinya saat di Provinsi Emeralna? Atau, ini tentang surat konyolnya Elmira? Entah bagaimana kabar itu telah sampai di telinga Evillia?
“Aku tidak tahu apa yang kau tuduhkan.” Xavier mencoba berkelak, tetapi jelas ia tak berhasil melihat dari ekspresi Evillia yang mendatar. “Baiklah, baiklah, aku bersa—tunggu dulu, tunggu dulu, aku yang menjadi korban di sini! Seperti kau yang memaksaku, Arte—!”
Sebuah pukulan telah bersarang di perut Xavier, membuatnya terseret beberapa meter.
“Kita akan lanjutkan masalah ini lain waktu, sekarang kita selesaikan dulu akting bodohmu sebelum gadis itu curiga.” Beberapa lingkaran sihir bermanifestasi di kiri kanan Evillia. “Ck, tanpaku di sisimu kau selalu membuat keputusan-keputusan bodoh, menimbulkan masalah untukmu sendiri. Monica pun terlalu lembek padamu. Seharusnya aku merantaimu saja.”
Menggeleng pelan, Evillia menembakkan tombak-tombak kayu menyerang Xavier.