Against the World II: Transgression

Against the World II: Transgression
Chapter 15: Duo Monster, part 5



Tenaganya cukup kuat, tetapi masih belum mencapai seper empat dari tenaga pukulan super Sataniciela, batin Xavier dengan kedua tangan yang masih menyilang. Dia juga cepat, tetapi tidak cukup cepat untuk membuatku tak bisa menghindar. Namun, memang benar, dia tiga atau empat kali lebih kuat dari Whalef dalam kekuatan penuhnya—dengan jumlah energi yang jauh lebih banyak.


Xavier memiringkan kepalanya ke kiri, tipis menghindari pukulan Rossia yang sudah berada di hadapannya. Kemudian tangan kirinya memblok pukulan tangan sang wanita yang bebas, dan puluhan milidetik setelah itu ia melompat ke udara menghindari tombak-tombak cahaya yang menyeruak dari tanah. Belasan milidetik setelahnya Xavier berteleportasi belasan meter ke belakang Rossia, satu milidetik lebih cepat dari terciptanya pedang cahaya yang hendak menusuk abdomennya.


Kemampuan bertarung jarak dekatnya tidak terlalu mengesankan, lanjut Xavier dalam pikirannya sembari melompat ke samping menghindari tebasan vertikal tongkat sihir Rossia. Idealnya Rossia petarung jarak jauh. Tapi, mengapa dia bersikeras menyerang dari jarak dekat?


Rossia yang tubuhnya diselubungi aura keemasan memutari Xavier dan mengayunkan tongkat sihirnya secara horizontal, melepaskan gelembang keemasan tajam ke arah sang commander. Xavier melompat dengan kedua kaki yang terbuka lebar hingga sejajar, dengan mulus menghindari gelombang energi itu. Namun, belasan tombak cahaya sudah berada di atas sang commander.


Berteleportasilah Xavier. Namun, sepertinya Rossia sudah mengantisipasi hal itu. Area dalam radius dua puluh meter darinya sudah dipenuhi tombak dan pedang cahaya. Pedang dan tombak itu tidak bersifat satu arah seperti yang sudah-sudah. Mereka semua melayang; saat Xavier melompat menjauh, semua senjata itu turut berputar arah padanya. Dan, dalam satu harmoni, semua senjata itu melesat ke arahnya.


Space Reversel, batin Xavier, berpindah tempat dengan Rossia secara instan. Wanita itu tampak terkejut, tetapi refleksnya dalam mengubah arah semua senjata itu cukup impresif. Dalam sekejap semua senjata itu sudah kembali melesat ke arahnya.


“Heavenly Magic: Meteor Shower!”


Pola unik muncul di tanah, dan Xavier langsung mengerti kalau Rossia menyerangnya dari dekat untuk membuat pola yang berpendar tersebut. Xavier menggunakan [Reverse Law] untuk menghilangkan semua pedang itu, dan pada saat itu ia menyadari pola berpendar di tanah berfungsi sebagai pengarah bagi meteor-meteor yang turun dari langit malam. Berbeda dengan yang dulu dibuat Clara, meteor-meteor yang Rossia turunkan memang asli dari atas sana.


Namun, sebagaimana pedang dan tombak cahaya, semua meteor itu seketika lenyap tak bersisa saat Xavier menyipitkan mata ke langit.


Rossia tidak menampakkan ekspresi terkejut melihat meteornya hilang; wanita itu malah memanfaatkan pandangan Xavier yang mengarah ke langit untuk menyerangnya dari dekat. Kepalan tangan kiri yang diselimuti energi keemasan tebal itu dengan tajam melayang menargetkan dada sang commander.


“Kurasa sudah saatnya berhenti main-main,” ucap Xavier menahan pukulan Rossia dengan telapak tangan kiri. Pukulan itu memberi efek kejut yang besar. Namun, karena Xavier membloknya, efek kejut itu hanya melewati sisi kanan dan kirinya. “Tidak ada lagi darimu yang bisa menarik perhatianku. Kau punya kata-kata terakhir?” Mata Xavier memandang datar iris Rossia saat pertanyaan itu keluar dari mulutnya.


Rossia menggeram, berusaha menarik tangannya dan menjauh. Namun, Xavier telah terlebih dahulu mencengkeram kepalan tangannya sebelum sempat dia tarik. “Lepaskan, bedebah!” teriaknya penuh amarah, berusaha keras menjauh.


“Baiklah.” Xavier melepaskan cengkeramannya, tetapi bersamaan dengan itu kakinya sudah bersarang di perut sang wanita—yang spontan membuatnya terpental kuat.


Rossia dapat menahan momentum laju tubuhnya, tetapi Xavier sudah berada di hadapan sang gadis dengan kepalan tangan kanan yang melaju. Perempuan itu spontan menyilangkan kedua tangan mencoba memblok tinju sang commander. Sayangnya, kepalan tangan itu tak pernah sampai menyentuh target, malahan kaki kanan Xavier telah melayang menghantam bahu kiri Rossia dengan telak.


Kali ini Rossia tak mampu menahan momentum laju tubuhnya. Ia menghantam tanah, terguling-guling, dan kemudian terseret beberapa meter sebelum berhenti total. Dan, saat tubuhnya berhenti Xavier sudah mendarat beberapa meter di hadapannya.


“Bagaimanapun juga, tak elok rasanya jika aku memberimu rasa sakit yang berlebih. Karenanya, sekali lagi kutanyakan, kau punya kata-kata terakhir?” Untuk menegaskan keseriusannya, Xavier mengangkat tangan kanan dan membuat Ultra Giant Lezghin Arrow.


“Cih!” Rossia menggerakkan tubuh dan berlutut dengan satu kaki, matanya memandang tajam sang commander. “Tak kusangka aku akan bergantung pada kartu asku yang terakhir,” gumamnya dengan volume yang cukup keras.


“Kartu as terakhir?” Sebelah alis Xavier terangkat. “Baiklah. Kubiarkan kau menggunakannya sebelum kuantarkan jiwamu ke depan pintu gerbang kematian. Gunakanlah. Aku takkan menghindar.”


“Kearogananmu akan berakhir dengan kejatuhanmu,” desis Rossia sembari membawa tongkat sihirnya ke depan dada, mulutnya membuka dan mulai merapalkan mantra, “Aku yang akan bangkit. Jiwaku yang tertidur. Semesta yang tak bertepi. Ilusi yang tak berakhir. Cahaya pencerahan yang tak terbagi. Terangkanlah….”


Rentetan lingkaran sihir muncul mengelilingi Rossia. Xavier bisa merasakan gadis itu mengeluarkan jumlah mana yang tak sedikit.


Xavier yang sebelumnya mengantasipasi apa yang akan terjadi kini mengerjap tak percaya; tidak ada yang terjadi, dan keberadaan Rossia juga tak kembali.


“…Apa dia…apa dia baru saja mengibuliku?”


...—Axellibara, Emiliel Holy Kingdom—...


Rossia muncul di atas lingkaran sihir teleportasi di dalam kamarnya di salah satu rumah di tepi kota. “Aku tidak pernah membayangkan akan datang hari di mana aku melarikan diri dari pertarungan,” gumamnya penuh kesal. “Xavier bedebah itu, beraninya dia membuatku melarikan diri seperti ini!”


Rossia menarik napas yang dalam, sebelum kemudian berdiri tegak setelah dirinya tenang. Rasa sakit spontan menggerogoti tubuhnya, tetapi ia abai dan langsung melangkah keluar. Meskipun ia kalah dan harus melarikan diri seperti pengecut, yang penting ia masih hidup dan memiliki informasi yang bisa ia bawa pulang.


Apa ini bisa kuanggap sebagai kemenangan?


...* * *...


Xavier masih belum beranjak dari tempatnya terdiam saat Lilithia mendarat di sampingnya. Ia masih sulit memercayai apa yang terjadi. Wanita itu…wanita itu telah menipunya! Dia telah membuat Xavier seperti orang bodoh. Tak bisa dimaafkan. Ini pertama kalinya ia dipermalukan dalam hal yang berbeda seperti ini. Ia seharusnya langsung menghabisi wanita itu tanpa memberinya ampun.


Namun, Xavier juga tak bisa disalahkan. Siapa yang bisa mengira kalau tongkat itu memiliki fungsi untuk meneleportasi ketika dipatahkan? Yang jelas itu tidak pernah ada dalam ekspektasi Xavier.


“Kau terlihat sangat kesal. Apa yang terjadi?” tanya sang first commander.


“…Tidak ada,” respons singkat Xavier, tak berminat menjelaskan apa yang terjadi. “Kau sudah selesai?”


“Aku hanya sanggup bertahan hingga dua puluh tujuh dari mereka, setelahnya aku jadi bosan dan mereka semua kuhabisi sekaligus.”


“Kalau begitu ayo kembali.”


“Kau yakin tidak ada yang kau kesalkan?”


“Tidak ada.”


“Oke.”


Mereka pun kembali ke Etharna ‒ dan Xavier akan memastikan kejadian memalukan tadi tidak diketahui siapa pun.


...»»»»» End of Chapter 15 «««««...


Er, kalau mau dukung author jangan melalui koin Noveltoon, itu sia-sia. Kalian tak mendapatkan apa-apa; hanya buang-buang koin. Mending ke k a r y a k a r s a.c o m/Near. Kalian bisa dapat e-book “The Kaiser” hanya dengan 4500.