
Reinhart jatuh berlutut dengan napas tersengal-sengal. Tangan kanannya memegang tangan kirinya yang buntung, berusahan menghentikan darah yang terus keluar dengan teknik bela dirinya. Satu matanya menyipit, memandang intens siluet pemimpin musuh yang ada di ujung area beracun sana.
Fifth Saint Bedivere Luminia. Itu adalah musuh yang baru saja hampir menghabisi lebih dari separuh pasukannya. Dan boneka beruang yang berada di sampingnya…boneka itu akan meledakkan apa saja yang menyentuh badannya. Tangannya buntung akibat memukul boneka itu. Perpaduan keduanya akan merepotkan.
“…Reinhart, kau baik-baik saja?”
“Reinhart! Kau baru menyelamatkan separuh pasukanku, aku berhu—Reinhart, tanganmu…!”
“Rodolf Vlasenki menyulitkanmu?”
Reinhart perlahan berdiri kembali. “Aku baik-baik saja,” katanya seraya menoleh ke belakang. “Tanganku juga sudah baik-baik saja. Aku sudah menghentikan peredaran darah di sini. Soal Rodolf, aku sudah membunuhnya. Separuh tanganku hancur karena memukul boneka beruang.” Reinhart menjeda dan memandang intens elf paling tua di medan pertempuran. “Jendral Alforalis, apa kami bisa menyerahkan Fifth Saint Bedivere Luminia padamu? Kita harus menjauhkannya dari pusat pertempuran.”
“Boneka beruang besar itu akan meledakkan apa pun yang menyetuh badannya,” lanjut Reinhart sebelum sang elf sempat merespons. “Dia juga sangat cepat, gesit, mampu memprediksi gerak, dan pertahanannya sangat solid. Dia lawan yang tak cocok untukku. Aku ingin Dermyus dan Hekiel bertarung bersama menghadapi boneka beruang itu. Aku akan memimpin pasukan menghadapi pasukan Knight Templar di sana dan yang sedang berjalan ke sana.”
“Masih ada pasukan lagi? Berapa jumlahnya?”
“Masih. Jumlahnya kira-kira setengah dari Knight Templar yang tersisa. Jadi, bagaimana, Jendral Alforalis?”
“Baiklah.”
“Bagaimana dengan kalian, Dermyus, Hekiel?”
“Aku tak masalah.”
“Aku juga tak masalah. Tapi apa kau tak perlu menyembuhkan lenganmu dulu, Reinhart?”
“Soal tanganku tak perlu kau pikirkan. Jika nanti ini tak bisa lagi diregenerasikan, aku akan minta Edelweiss membuatkan tangan palsu untukku. Yang lebih penting, sekarang aku akan meneleportasikan para prajurit ratusan meter ke belakang pasukan Knight Templar. Kalian bisa mulai menyerang setelah kami menghilang.”
Melihat anggukan konfirmasi ketiga pemimpin, Reinhart kembali mengerahkan mananya untuk meneleportasikan semua prajurit ke tempat yang sudah ia sebutkan. Ia sudah menghabiskan banyak mana untuk teleportasi pertama, sekali lagi meneleportasi mereka semua akan membuat jumlah mana Reinhart menyentuh titik terendahnya. Terlalu berisiko, tapi ia tidak punya pilihan lain.
Mengaktifkan teleportasi, dan seketika ia beserta lebih dari lima puluh ribu prajurit berpindah tempat menjadi ratusan meter di belakang pasukan Knight Templar.
“Dengar kalian semua,” ucap Reinhart tegas dan serius. “Musuh kita lebih banyak, tetapi hanya kita yang berada di pihak kebenaran. Di cerita mana pun, kebenaran akan selalu berakhir sebagai pemenang. Maka dari itu, teruslah habisi para manusia barbar itu meski harus mengorbankan diri kalian sekalipun. Kita berjuang demi kehidupan damai yang kita semua impikan. Nyawa yang kita korbankan akan mengantarkan kita pada kehidupan abadi yang telah dijanjikan. Serang!”
...———————...
Bedivere tersenyum gembira melihat area beracun yang telah ia ciptakan diperosotkan ke dalam tanah dan kemudian tergantikan tanah yang baru. Ia bahkan tak memedulikan Reinhart yang telah meneleportasikan semua pasukan mereka ke belakang pasukan Knight Templar. Mata sang saint tak beranjak dari tiga individu yang melesat memangkas jarak dengannya.
“Kalian ingin bermain-main dengan Dame Bedivere?”
Menjawab pertanyaan Bedivere adalah belasan petir hitam yang menggelegar. Namun, ia tak sedikit pun menggerakkan kaki menghindar. Beruang Gendut, boneka sekaligus senjatanya, telah melesat ke depan Bedivere untuk menerima serangan itu. Menerima bukan dalam artian membiarkan sambaran petir menghantamnya, melainkan mengarahkan kedua tangan ke depan dan menyerap semua sambaran petir yang datang.
“Tak mengherankan Reinhart menyuruh kita berdua menghadapi boneka itu,” komentar Hekiel saat rentetan sambaran petir Dermyus berhenti. Pada saat itu, jarak mereka dan Bedivere hanya terpaut beberapa meter. Sebab itu Bedivere dapat mendengar percakapan mereka.
“Itu akan meledakkan apa pun yang menyentuh badannya. Dapat menyerap petir, dan mungkin elemen yang lain. Ini memang akan merepotkan.”
“Kalian mau menukar lawan?” tawar Alforalis. “Tentu saja aku bisa mengatasinya sendiri, tapi kupikir boneka itu akan merepotkan. Dia tak cocok dengan kekuatan kalian.”
Dermyus dan Hekiel saling memandang, kemudian mengangguk serentak. “Kami serahkan boneka itu padamu, Jendral Alforalis.”
“Kalau begitu pastikan kalian habisi wanita itu. Kita masih perlu melanjutkan penyerangan.”
“Eh, Paman berdua ingin bermain dengan Dame Bedivere sendiri?” Bedivere memasang ekspresi malu-malu, membayangkan dirinya menjadikan kedua commander sebagai objek eksperimen untuk racunnya yang belum sempurna. “Dame Bedivere tidak punya pengalaman meladeni dua pria sekaligus. Bagaimana kalau satu-sa—”
Bedivere spontan melompat ke kiri menghindari tebasan pedang berbilah gandanya Dermyus. Pada saat yang bersamaan, boneka kesayangannya telah terkurung dalam gelembung energi yang Alforalis ciptakan.
Bedivere tak memiliki kesempatan untuk memikirkan apa yang coba Alforalis lakukan pada bonekanya; Hekiel dengan kedua tombak pendek adamantite di tangan sudah berada di hadapannya. Bedivere melakukan yang terbaik untuk menghindar.
Kepalanya ia miringkan menghindari tusukan tombak. Pada belasan milidetik berikutnya ia sudah bersalto ke udara menghindari ayunan tombak sang commander sekaligus mencoba melayangkan tendangan salto ke kepala Hekiel. Namun, niat itu harus pupus sebelum terlaksana. Dengan tubuh yang sangat lentur, Bedivere telah memutar tubuhnya secara tak masuk akal untuk menghindari tebasan pedang berlapiskan petir dari Dermyus.
Bedivere mendarat dengan kasar, kakinya sampai terseret beberapa puluh sentimeter ke belakang. Namun begitu, bibirnya melengkung. “Bagaimana kalau satu-satu?” lanjut sang saint, meneruskan pertanyaan yang tertunda. “Siapa yang mau duluan? Paman Dermyus yang tampan? Atau Paman Hekiel yang memancarkan aura om-om duluan? Siapa pun boleh, Dame Bedivere tak pilih kasih.”
“Atau, Paman berdua bersikeras untuk dilayani bersamaan?” Bersamaan dengan keluarnya pertanyaan itu, akar berduri menyeruak keluar dari kedua telapak tangan Bedivere. “Dame Bedivere tak keberatan jika memang harus begitu. Ini akan menggairahkan.”
...* * *...
Xavier duduk dengan satu kaki tertekuk di atas batu besar, kaki satunya berjuntai bebas. Ia memandang intens ke depan, pada titik-titik hitam yang banyak jumlahnya di ujung horizon. Jarak mereka semakin mendekat dan mendekat. Sementara itu, di belakang Xavier, jarak pasukan Divisi 12 semakin menjauh dan menjauh.
Tak berselang lama kemudian, pandangan Xavier menjadi semakin jelas. Dan dalam beberapa menit, pasukan yang terdiri atas sekitar 70.000 prajurit berhenti sekira tiga puluh meter di hadapan sang commander. Memimpin mereka semua adalah pria berbadan kekar, tinggi, dan berambut coklat pendek yang berdiri menentang gravitasi.
“Twelfth Commander Xavier von Hernandez, apa aku benar?” tanya pria itu setelah berjalan lalu berhenti sekira enam meter di hadapan Xavier.
“Benar. Bisa kuasumsikan kau Sixth Saint Gallahad Grahamvell?”
“Benar. Aku Gallahad.”
“Kalau begitu, apa bisa aku menyuruhmu pergi agar aku tak perlu membunuhmu dan membantai pasukanmu?”
Gallahad memijat kening dan menghela napas. “Mauku juga begitu,” katanya setengah mengeluh. “Orang bodoh mana coba yang mau repot-repot mempertaruhkan nyawa di medan perang? Jika bisa, aku ingin langsung kembali dan bermesraan dengan ketiga istriku sembari membujuk mereka agar aku bisa melamar istri yang keempat. Tapi, Pope Genea memaksa. Aku tak punya pilihan. Jadi, bisa kuminta kau membawa pasukanmu pulang agar aku bisa pulang?”
“Aku punya anak yang harus kurawat dan kubesarkan dengan baik,” lanjut Gallahad sembari menarik keluar pedang besarnya “Aku tak mau mati untuk hal yang tak penting. Aku bisa memberimu pedang ini sebagai hadiah. Jadi, kita sepakat?”
“…Kau punya tiga istri, dan berminat menambahnya jadi empat….”
“Ah, aku punya keinginan menambahnya jadi 12. 12 adalah angka yang sempurna.”
“…Berapa kali sudah kau terkena pelampiasan amarah istri-istrimu?”
“Aku tak bisa mengingat jumlahnya, tapi itu pasti sudah lebih dari 100. Wanita sebenarnya sederhana. Ketika mereka marah, biarkan mereka marah sampai mereka lelah. Setelah itu peluk mereka dengan mesra dan beri perhatian, bila perlu ajak mereka makan. Tapi kita sendiri yang memasakkan untuk mereka. Perlakukan mereka seolah mereka wanita nomor satu yang tiada berbanding di dunia ini.”
…Xavier memandang Gallahad tak berkedip. Ia baru mengerjap setelah semenit berlalu dan kemudian menghela napas panjang. “Aku jadi enggan untuk membunuhmu,” katanya jujur sembari melompat turun dari batu. “Tapi aku juga tak bisa mundur. Apa kau benar-benar tak mau kembali?”
“Tentu saja aku mau, tapi itu mustahil kulakukan.”
“Kalau begitu tak ada pilihan lain.”
“Sepertinya memang tak ada pilihan lain.”
Xavier tersenyum tipis. “Baiklah, pertarungan seperti apa yang harus kita lakukan? Apa aku harus menghabisi pasukanmu sebelum membunuhmu? Atau aku harus membunuhmu dulu?”
“Pilihan yang terakhir. Aku sudah memberi instruksi pada pasukanku. Mari berduel, Commander Xavier.”
“Baiklah.” Xavier berbalik dan memperlebar jarak di antara mereka. Ia baru berhenti dan kembali berbalik setelah mengambil langkah yang kesepuluh. Kedua pedangnya sudah tergenggam erat di masing-masing tangannya. “Silakan maju kapan pun kau siap, Sixth Saint Gallahad Grahamvell.”
...—Tebing Utara Emiliel Holy Kingdom—...
Fie yang duduk dengan mata terpejam perlahan membuka kelopak mata. Arah angin berembus sudah berbeda. Bukan angin dalam artinya secara literal, tetapi angin takdir yang mencekik setiap unsur kehidupan para makhluk fana. Tentu saja ia tak punya kemampuan membaca garis takdir; Fie hanya memiliki intuisi yang kuat saja. Ia telah hidup cukup lama untuk melihat kacamata dunia.
“Neira, apa yang akan kau lakukan?” tanya sang nephilim pada teman satu-satunya yang ia punya. “Apa kau akan tetap di sana? Kau mau ke Axellibra?”
Naga yang dimaksud seketika mengubah kembali wujudnya menjadi manusia. “Aku akan ke Axellibra,” jawabnya dalam intonasi yang sama.
“Kalau begitu kuserahkan ibukota padamu. Jangan biarkan Commander Lilithia meratakannya dengan tanah. Aku sendiri akan memastikan Xavier von Hernandez tak sampai ke ibukota.”
Neira mengangguk. Fie lantas berdiri dengan mengeluarkan sepasang sayapnya. Kemudian ia melesat ke atas dengan sebuah tombak di tangan.
...»»» End of Volume 4 «««...
Next——› Volume 5: War of Islan