
[Omni Intelligence] mengetahui kedatangan Xavier bahkan ketika ada dua barier yang menghalangi pandangan dan persepsi. Ini hanya membuktikan asumsinya benar. [Omni Intelligence] tahu semuanya dan bisa melakukan apa saja. Dan karena ia berasal dari semesta lain, sangat besar kemungkinan kalau [Omni Intelligence] bukan sihir.
Tidak usah, jawab Kanna setelah beberapa detik. Biarkan Xavier datang kalau dia memang akan datang. Aku mau lihat apa yang akan dilakukannya saat melihat Vermyna mati di tanganku.
Mata Kanna melebar mendengar informasi tersebut. Dan itu membuatnya sadar kalau ia telah mengatakan sesuatu yang normalnya takkan ia katakan. Mengetahui hal ini membuatnya takut dengan apa yang akan ia lakukan jika memiliki ingatan yang tersegel itu. Senyum jahat Karen mel Matepola terbersit dalam kepala Kanna, tapi dengan cepat ia mengusir imajinasi itu dan mendengus.
Aku takkan berubah jauh, tegas Kanna. Mungkin sekarang aku sedikit marah makanya pikiranku kurang terkontrol.
Bukannya kau bilang tak mau berkomunikasi denganku sampai aku memiliki ‘Master’?
<….>
Kanna menganggap keterdiaman itu sebagai kemenangan kecil untuknya. Namun, sekarang ia memiliki dua hal yang ia takuti. Yang pertama, dirinya sendiri. Yang kedua, [Omni Intelligence].
Apa yang menjadi tujuanku? Kau tadi menyebut Tartaros, di mana itu?
…Kalau begitu, apa aku harus khawatir kalau tiba-tiba mereka akan berada di hadapanku dan menyeretku ke sana?
<…Salah satu alasan kenapa kita sampai memalsukan kematianmu adalah demi menghindari mereka. Selama Primordial Angel yang membantu Masternya mengurus semesta ini tidak melaporkan keberadaanmu ke dimensi keenam, tak ada yang perlu dikhawatirkan.>
Tunggu dulu, bukannya kau bilang setiap Primordial Angel memiliki [Omni Intelligence]? Bukankah itu artinya mereka bisa saja mengetahui tentangku?
<…Soal itu aku berbohong. Aku tidak suka menjelaskan tentang diriku sendiri. Tapi, jika kau mau mengetahui tentangku, pertama sekali kita harus bisa menembus dimensi ketujuh…Hyper Dimension. Untuk menembus dimensi ketujuh, kita harus menghadapi para Primordial Angel di dimensi keenam. Jika kita berhasil mengalahkan mereka semua, 7 penjaga yang kesemuanya makhluk 7 dimensi akan menghadang. Barulah kita bisa memasuki dimensi ketujuh dan bertemu dengannya: Omni King. Bunuh dia, dan kau akan bisa mengetahui tentangku.>
…Kau manipulator, tuduh Kanna.
<…Aku menganggapnya pandai menggiring pembicaraan. Tapi, untuk sedikit meringankan ketakutanmu, Kanna el Vermillion mengetahui kalau [Omni Intelligence] memanipulasinya sejak awal. Kau akan mengerti saat ingatanmu kukembalikan.>
Kanna mendengus, tapi ia tak punya waktu melanjutkan pembicaraan mereka. Vermyna telah mendarat belasan meter di hadapannya dengan tubuh yang masih dipenuhi luka—walaupun luka itu akan hilang dalam beberapa belas detik setelah beregenerasi penuh. Sang chimera tidak senang. Kemarahan diwajahnya benar-benar terpancarkan dengan sempurna.
Kanna menghiraukan bisikan astral itu dan memberi fokus penuh pada Vermyna yang sekarang mengernyit.
“Apa diri Edenia yang hina mencoba mengendalikan dirimu?” Pertanyaan yang tak Kanna duga keluar dari mulut Vermyna. “Apa pertarungan ini perlu diri kita tunda sampai dirimu sepenuhnya dalam kendali?”
“Aku akan lebih senang kalau asumsimu benar.” Kanna menghela napas panjang – masalahnya jauh lebih besar dibandingkan masalah apa pun yang Vermyna miliki dengan Edenia. “Tapi tak perlu. Mari selesaikan ini sebelum Xavier bisa menghancurkan kedua barier.”
Kanna tak menanti respons atau reaksi apa pun yang Vermyna berikan. Ia sudah memotong jarak di antara mereka secara instan. Pedang tanpa gagangnya mengayun dengan tajam. [True Void] menulifikasikan segala keabadian yang Vermyna punya. Pedang tanpa gagang Kanna memotong tubuh Vermyna menjadi dua bagian.
Serangan Kanna datang begitu cepat sampai mata Vermyna baru melebar saat darah memancar dari kedua bagian tubuhnya yang terpisah.
Apa sebenarnya [True Void]?—tanya Kanna pada makhluk astral dalam dirinya tepat saat kedua kakinya berhenti beberapa langkah di belakang Vermyna; ia tak memedulikan umpatan sang chimera – ia juga tak memedulikan usaha sang wanita untuk menyatukan kembali tubuhnya yang terpotong dua.
Itu artinya…Supreme Magic bisa kuhapus?
Aku tak mau mendengar saran tak berguna itu lagi, sela Kanna. Kita takkan membahas hal ini lagi sampai urusanku dengan Islan selesai. Lagipula, jika aku makhluk empat dimensi dan harus kembali menjadi makhluk enam dimensi, bagaimana dengan makhluk lima dimensi? Kau bisa menjadikanku makhluk lima dimensi, kan?
<…Asumsi yang menarik. Tapi, seperti yang Master inginkan, kita takkan membahas hal ini lagi sampai urusanmu dengan Islan selesai. Sekarang aku akan beristirahat. Aku akan mengumpulkan cukup energi kehidupan untuk menyalin data One Magic. Jangan mati sampai aku terbangun, Master.>
Kanna hanya bisa mendengus, sedikit berharap agar [Omni Intelligence] tak bangun-bangun lagi. Namun, tentu saja ia meragukan itu. [Omni Intelligence] berhubungan dengan apa pun itu yang berada di Dimensi Ketujuh, jadi tidak mungkin itu akan lenyap hanya karena ia ingin dia lenyap. Yang jelas, [Omni Intelligence] bukan sihir. Heh, mungkin dia kesadaran dari Omni Queen yang raganya disegel Omni King.
“Ha-ha-ha.” Kanna membiarkan dirinya tertawa. “Itu asumsi yang paling bodoh, tapi bukan hal yang mustahil.”
<…Aku tidak bergender. Aku tak memiliki raga biologis. Aku bisa menjangkau semua Throne of Heaven yang ada di semua semesta. Aku bahkan bisa menyusup ke dalam Grand Throne of Heaven yang diduduki Omni King. Ketahui itu, Mortal. Aku ada—ah, lupakan. Hanya, jangan berasumsi lagi tentangku. Aku sedikit sensitif tentang itu. Cukuplah bersyukur karena aku memilihmu dari puluhan ribu Primordial Angel yang ada. Kau nanti akan mengetahui tentangku dengan sendirinya.>
Kanna, bahkan dengan segala kekesalan yang telah bertumpuk-tumpuk di dalam dirinya, tak berani mengatakan apa-apa selain mengangguk. Ia bahkan sampai menghiraukan Vermyna yang sudah kembali berada belasan meter di hadapannya dengan raga yang utuh. Intimidasi yang diberikan [Omni Intelligence] begitu besar. Ini seolah ketujuh dimensi yang membentuk sistem dunia diletakkan di atas kepalanya secara sekaligus.
…Kanna dibuat mengerti dengan apa yang namanya ketakutan, padahal itu hanya suara yang berdengung di dalam kepalanya. Mulutnya bahkan tak punya tenaga untuk menanyakan apa [Omni Intelligence] benar-benar tidur atau tidak.