
Tanpa respons verbal, Xavier melepaskan spell gabungannya: Lightning Magic: Barrage of Lightning Missiles.
Seratus misil petir seketika meluncur dalam kecepatan hipersonik. Mereka tidak melesat lurus, tetapi berkelak-kelok dengan maksud membingungkan sang iblis. Dan untuk memastikan target tak melarikan diri, Xavier mengandalkan [Reverse Law] untuk menghentikan sistem gerak sang iblis.
Xavier hanya kehilangan lima persen kapasitas mananya untuk membuat [Reverse Law] bekerja pada tubuh Sataniciela. Hal itu memberi tahu Xavier kalau sang iblis tak memiliki resistansi tinggi terhadap [Reverse Law]. Alasan satu-satunya mengawa ia sampai kehilangan lima persen mana adalah karena Sataniciela kuat. Jika dia hanya selevel seorang commander biasa, Xavier yang sekarang palingan hanya akan kehilangan 0,1 persen mananya.
Tak ingin menyia-nyiakan efek [Reverse Law] yang hanya berlangsung sesaat, Xavier langsung menciptakan dua buah Ultra Giant Lezghin Arrow. Bersamaan dengan rentetan ledakan yang misil petir sebabkan saat menghantam tubuh Sataniciela (tepatnya tameng-tameng hitam yang sang iblis buat mengelilinginya), Xavier melepaskan kedua spell terkuat nomor duanya secara bersamaan.
Dentuman yang mengikuti lesatan kedua anak panah ultra raksasa itu sungguh tak terkira; Xavier yakin itu sampai terdengar ke tengah-tengah Etharna.
...———...
Sataniciela menggeram marah. Misil-misil petir itu sama sekali tak merepotkan, tameng-tamengnya berhasil melindunginya dengan sempurna. Namun, dua buah panah petir bercampur api raksasa yang ujungnya bagai plasma yang terkonsentrasi itu adalah sesuatu yang lain. Bahkan setelah ia memanifestasikan puluhan tameng berbentuk kubah, dirinya tetap terkena dampak serangan.
Tubuhnya tertelan dalam ledakan yang mematikan, kemudian terlempar kuat akibat energi kejut yang besar setelah efek [Reverse Law] sialan itu menghilang. Sataniciela terlempar sampai tubuhnya menghujam ke bukit di mana sebelumnya Xavier terhujam ke sana akibat pukulan supernya.
Jika bukan karena akses terhadap ratusan sihir yang sekarang ia punya, Sataniciela tentu sudah terkapar. Satu-satunya alasan mengapa ia takkan mati meski tanpa ratusan sihir dan jumlah mana yang melimpah adalah karena tubuhnya yang spesial: tubuhnya akan selalu mengembalikan diri ke kondisi semula—bahkan jika berhasil dihancurkan menjadi butiran debu sekalipun.
Karena sekarang ia berada jauh di atas levelnya yang dulu, Sataniciela dapat keluar dari tempat tubuhnya terhujam dengan hanya luka bakar di sana-sini—dan luka-luka itu langsung menghilang dengan cepat, membuat kondisinya kembali prima seolah ia tidak pernah terkena serangan.
Menghentakkan kedua tongkatnya dengan kuat di tepi lengkungan bukit, Sataniciela menarik napas yang dalam dan sejurus kemudian melepaskan embusan angin bertekenan tinggi, seketika membuat kepulan debu yang memenuhi area pertarungan mereka menghilang.
“Apa hanya itu yang bisa kau lakukan?” tanya Sataniciela dengan kepala sedikit ia miringkan ke kanan—secara terang-terangan menunjukkan kalau ia lebih superior di sini. “Jika hanya itu, artinya sekarang kemenanganmu sudah mutlak nol persen.”
“Hmph. Jangan terlalu besar kepala.” Xavier melangkah dengan pandangan tajam. “Tadi aku hanya ingin mengetes apa kau punya resistansi terhadap [Reverse Law] atau tidak. Lezghin Arrow pun hanya untuk mengetas seberapa efektif kemampuanmu dalam beregenerasi. Selanjutnya, kau akan lenyap.”
“Oh, sekarang kau akan serius? Baiklah.” Sataniciela mengangkat kedua tombaknya hingga sejajar dengan kepala—mata tombak ia posisikan menghadap Xavier. “Coba selamat dari ini,” tantangnya, dan seketika kedua tombak hitam tersebut diselimuti petir biru keputihan yang kemudian dilapisi plasma dan api merah gelap—sebelum kemudian diperkuat oleh zirah angin yang berputar.
“Spears of Hell!” seru Sataniciela, melemparkan kedua tombaknya dengan sekuat tenaga.
Kedua tombak itu meluncur dalam kecepatan hipersonik, kejutan udara yang kedua tombak itu sebabkan sampai memperlebar kehancuran yang ada pada bukit tempatnya berpijak.
Namun, mengejutkan Sataniciela, kedua tombaknya menghilang begitu saja tepat beberapa meter di hadapan manusia berambut merah gelap itu. Bukan, itu sama sekali bukan teleportasi paksa. Pun kedua tombak nerakanya itu tidak dimusnahkan. Itu murni menghilang. Menghilang dalam artiannya yang paling dasar.
“Hanya ini? Bahkan menyentuhku saja tidak. Hei, apa kau benar-benar iblis terkuat? Kau tidak mengada-ada?”
“Kau…!” Sataniciela refleks mengatupkan kedua telapak tangannya, seketika belasan ribu lingkaran sihir bermanifestasi di atas dan kanan-kirinya. “Binasalah, makhluk rendahan!”
Semua lingkaran sihir itu seketika menembakkan spell berbagai sihir secara bersamaan. Dan kesemua spell itu adalah spell tingkat tinggi. Bahkan Sataniciela sendiri takkan keluar dalam kondisi baik-baik saja jika semua spell itu menghantam dirinya.
Geraman Sataniciela semakin keras. Ia tak mengingat Luciel pernah menghilangkan spellnya. Pun Luciel tidak pernah membuat dirinya bertukar posisi dengan Sataniciela. Di ingatannya, Luciel hanya menghentikan tubuhnya, menghentikan senjata-senjatanya, mengubah arah serangan-serangannya, dan membuatnya luka dalam dengan menghentikan kerja organ-organ tubuhnya.
“Baiklah, kau telah membuatku naik pitam.” Sataniciela menghela napas pelan, kemudian melesat tinggi ke udara—dalam sekejap ia sudah melayang ratusan meter di atas kaki bukit. “Akan kutunjukkan sesuatu yang tak pernah kau imajinasikan,” ucap Sataniciela dengan kedua telapak tangan yang saling menempel dengan erat. “Ultimate Armory Magic:—”
Langit seketika menggelap. Bukan, itu sama sekali bukan karena matahari tiba-tiba lenyap. Sama sekali bukan. Langit terlihat gelap karena berjuta-juta portal dimensi telah menyebar lebih dari lima kilometer di atas kepala Sataniciela. Dari dalam portal keluar berbagai jenis senjata dari berbagai ukuran. Mulai dari tombak seukuran badan orang dewasa hingga kapak seukuran bukit. Dan kesemua senjata itu berselimutkan api merah kehitaman.
“—Unleash Hell!”
Dalam satu irama, semua senjata itu meluncur dalam kecepatan hipersonik—dan kecepatannya semakin bertambah setiap satu milidetiknya.
Sasaran Sataniciela bukan saja Xavier von Hernandez, melainkan kota itu beserta semua makhluk rendahan yang berada di dalamnya. Ia akan menghancurkan semua yang ada di bawahnya.
Namun, lagi-lagi, semua senjata-senjata lenyap tak bersisa. Tak ada satu pun yang tertinggal.
Sataniciela tidak tahu apa yang makhluk hina itu lakukan hingga bisa menghilangkan semua serangannya. Yang jelas, kemarahan Sataniciela menjadi begitu memunjak hingga ekspresinya seperti terdistorsi.
“Reverse Law, Grand Order: Stop.”
Sataniciela yang hendak mengorbankan setengah mananya untuk memperkuat kekuatan fisik tiba-tiba menemukan diri dalam keadaan diam total. Jika sebelumnya ia masih bisa mengerahkan mana untuk menggunakan sihir. Sekarang tidak lagi begitu. Jangankan mana, aliran darahnya saja tak lagi berjalan. Semua sistem tubuhnya tak lagi bekerja.
Satu-satunya alasan mengapa kesadarannya tetap terjaga adalah karena waktu bagi tubuhnya juga seolah terhenti.
...———...
“Mana yang meninggalkan tubuhku bahkan kurang dari sepuluh persen,” gumam Xavier setelah efek Grand Order-nya bekerja. “Dia benar-benar tak memiliki resistansi terhadap [Reverse Law]. Yah, terserahlah, ini juga bagus untukku.” Kedua telapak tangan Xavier mengatup—kedua pedang gabungan antara petir dan api hitamnya melayang di kanan-kiri. “Cobalah selamat kalau bisa, Reverse Law: Appear.”
...* * *...
Kening Vermyna mengernyit dengan sendirinya. Apa ia telah terlalu mengoverestimasikan Sataniciela hingga berpikir Xavier akan kalah?
Tidak. Itu tidak benar. Vermyna tahu Sataniciela telah menjadi sangat kuat. Asumsinya kalau dia bisa mengalahkan Xavier sama sekali tidak salah. Lantas, mengapa situasi berbalik? Mengapa [Reverse Law] begitu mudah bekerja pada tubu—ah!
Mata Vermyna sedikit melebar; ia sekarang mengerti mengapa Sataniciela menjadi tak berdaya di hadapan [Reverse Law]. Neix. Apa pun yang makhluk idiot itu lakukan untuk memperkuat dirinya, itu telah membuat tubuhnya kehilangan resistansi terhadap [Reverse Law] Xavier.
“Dan tadi diriku berpikir akan menjadi penyelamat diri Xavier,” gumam Vermyna diiringi desahan. “Apa boleh buat; diriku tak bisa membiarkan tubuh ini terlalu banyak menerima luka.”
Vermyna bangkit dari singgasananya, dan kemudian dia lenyap dari sana tanpa sedikit pun meninggalkan residu mana.