
...—6th July, E642 | Imperial Palace, Nevada, Vermillion Empire—...
KANNA keluar dari kamarnya diiringi helaan napas panjang. Bukan, itu bukan karena ia kurang beristirahat atau apa. Ia tidur lima jam sehari; itu sudah lebih dari cukup untuk mengistirahatkan tubuh dari rasa lelah. Pun itu bukan karena Achilles tidak bisa menemukan keberadaan Artemys; sihir penerawangan yang jauh lebih kuat menghalangi kerja [Clairvoyance Magic]-nya Neir. Itu juga bukan karena ia gagal melacak saudari tirinya. Bukan, sama sekali bukan.
Mimpi buruk. Itu penyebab mengapa Kanna terlihat kurang bersemangat di pagi buta seperti ini. Ia sudah berendam dalam air dingin, tubuhnya sudah segar untuk beraktivitas. Namun, tubuh segar bukan berarti pikiran juga. Terlebih lagi, tidak peduli sebesar apa pengaruhnya dan seberapa kuat ia sekarang, Kanna masihlah gadis berusia tujuh belasan. Tidak bisa diherankan jika ia merasa sedikit depresi. Mimpi buruk yang ogah ia ingat-ingat lagi itu telah meninggalkan efek yang tak diinginkan.
Namun begitu, Kanna tetaplah Kanna. Ia wanita dengan tubuh dan mental yang kuat. Seberapa terbebani pikirannya sekalipun, ia selalu bisa mengontrolnya dan tak membiarkan pikiran jernihnya tertutupi. Ia telah diajarkan sejak kecil untuk selalu fokus, selalu tenang, selalu berkepala dingin. Karenanya, begitu tiba di meja makan istana, segala bekas kelelahan jiwanya telah tak lagi terlihat. Kanna menikmati sarapan bersama adik dan ibu tirinya dengan kondisi pikiran yang sudah tenang.
Hanya mereka bertiga saja di meja makan. Artemys hanya sesekali bergabung saat dia berkunjung ke sini saa ada keperluan. Sementara ayahnya, itu tak perlu dipertanyakan. Pria itu sangat amat jarang bergabung. Dalam sebulan paling banyak hanya dua atau tiga kali. Bahkan tak jarang dalam satu bulan itu dia tidak pernah bergabung.
Sarapan berlangsung dalam damai. Obrolan sesekali mengiringi dentingan peralatan makan. Kanna tidak memiliki relasi yang buruk dengan ibunya Artemys, sedang adiknya Artemys adalah saudari tiri yang paling dekat dengannya. Meja makan adalah tempat yang tidak pernah membuatnya merasa kesal; meja makan adalah salah satu tempat yang menyamankan di istana. Bahkan saat Artemys “masih gila” dulu, tidak pernah ada masalah di meja makan.
Satu jam kemudian, Kanna sudah berada di lantai pertama istana. Semua hal yang berhubungan dengan administrasi kekaisaran berlangsung di lantai pertama. Begitu juga dengan ruang kerja Kanna sendiri. Ia menyambut semua tamu kekaisaran di lantai tersebut. Meyrin masih belum kembali; ia harus mengurus sendiri beberapa hal yang biasanya sang assassin uruskan untuknya.
“Yang Mulia.” Seorang prajurit menghampiri. “Twelfth Commander meminta saya mengatakan pada Yang Mulia kalau Ratu Favilifna Kingdom sudah tiba dan menginginkan pertemuan dengan Yang Mulia. Saat ini sang ratu dan seorang pengawalnya sedang berkeliling di kompleks para prajurit. Commander Xavier sendiri mengatakan dia akan langsung kembali ke Verada. Oh, ini laporan tertulis yang Commander Xavier titipkan.”
Mereka menyelesaikan urusan di sana lebih cepat dari yang kuekspektasikan. Memang, aku sudah meminta Lilithia untuk mempercepat urusan di sana, tetapi itu bukan berarti harus selesai secepat ini. Namun, mendengar Lilithia kemarin menyinggung keberadaan iblis dan kehadiran Vermyna, situasi Favilifna mungkin tidak mengkhawatirkan sama sekali.
“Terima kasih, Prajurit.” Kanna menerima lembaran kertas yang disodorkan sang prajurit. “Setelah setengah jam, temui Queen Elmira dan pandu dia ke ruanganku.”
“Siap, Yang Mulia.”
Mengangguk, Kanna langsung menuju ruangannya sembari membaca detail laporan yang sudah Xavier tulis. Gadis berambut pirang lembut itu membaca tulisan itu dengan cepat dan teliti, tidak ingin melewatkan sedikit pun hal yang mungkin bisa berguna untuk membuat kekaisaran berada di posisi yang diuntungkan.
...—Verada—...
Xavier langsung kembali ke Verada bukan tanpa alasan. Seperti yang sudah ia rencanakan, ia akan ke Veria untuk menghabisi Shiva Rashta dan membawa pulang Artemys. Jika ada sedikit saja kulit Artemys yang lecet, Xavier takkan membunuh Shiva. Ia akan menyiksanya hingga dia mengemis memohon untuk dibunuh—yang tentu saja takkan ia kabulkan. Xavier baru akan menghabisi manusia itu saat indranya tak mampu lagi merasakan sakit.
Tentu saja Kanna adalah opsi yang terbaik. Namun, Kanna diperlukan di kekaisaran. Dan, meskipun itu bisa diatur sehingga Kanna bisa pergi, Xavier lebih nyaman mengajak Monica. Dengan Monica, ia bisa berkilah banyak; Xavier sangat mengenal Monica. Namun, Kanna berbeda. Ia tidak ingin hubungannya dengan Artemys diketahui secara detail oleh Kanna. Seperti yang diinginkan Artemys, ia akan mengusahakan hubungan mereka tetap rahasia dari keluarga kekaisaran selain Achilles.
Dengan pemikiran seperti itu, Xavier memantapkan niat untuk berbicara dengan Monica, lalu memberitahu Heisuke, dan kemudian mereka akan menemui Nueva. Jika ia memberitahu Kanna, wanita itu akan bersikeras untuk ikut. Berbicara dengan Nueva adalah pilihan yang lebih baik.
...—Nevada—...
Elmira harus mengakui kalau Nevada adalah kota yang sangat berkelas. Ia tidak berpikir Etharna akan mampu menyaingi kota ini dari segi kemewahan dan keeleganan dalam beberapa tahun. Namun, mengingat sejarah kekaisaran, itu tidak mengherankan. Berbeda dengan Favilifna Kingdom, Vermillion Empire adalah negeri kaya sejak berdirinya. Keluarga Vermillion dulu adalah keluarga terkaya di Islan. Dengan mereka sebagai pendiri kekaisaran, adalah wajar jika ibukota kekaisaran mampu memukau mata.
Pun begitu dengan Imperial Palace. Meskipun Elmira bangga mengatakan Royal Palace-nya pantas disebut royal, tetap ia tak mampu mengunggulkan istananya di hadapan istana kekaisaran yang berdiri angkuh di jantung kota. Bukan saja bangunannya besar, mewah, dan indah, tetapi proteksinya juga sangat wah. Ia serta Mary baru saja berkeliling, dan Elmira langsung bisa mengatakan keamanan Royal Palace-nya tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan keamanan Imperial Palace.
Akan sangat sulit bagi assassin mana pun untuk mencoba menyusup ke dalam. Jika pun bisa, entah karena keberuntungan macam mana, sangat sulit bagi assassin itu untuk bisa keluar dalam keadaan hidup. Terlebih lagi, di bawah marmer yang ia pijaki masih terdapat ruang bawah tanah yang luas. Keamanan Imperial Palace benar-benar terjaga.
“Apa kau pikir aku juga harus menambah keamanan istanaku, Mary?” tanya Elmira pada wanita favoritnya. “Jika aku menikah dan punya anak, tentu sangat penting untuk memastikan keamanan istana. Memang, Xavier kuat, dia pasti bisa melindungiku dan anaknya kelak, tetapi tetap saja kita perlu mempersiapkan lingkungan yang baik untuk anak-anak kami.”
Mary memandang datar Elmira. “Sebelum kau berdelusi seperti itu, bukankah lebih penting memastikan kau bisa mengklaim Xavier terlebih dahulu?” tanyanya dengan ekspresi yang mengatakan ia tak tertarik meladeni Elmira dan delusinya.
“Ah, Mary, kau sekarang jadi pandai merusak suasana hati orang la—” Elmira tiba-tiba menghentikan ucapannya, refleks berbalik saat mendengar langkah kaki mendekat.
“Maaf menganggu waktu kalian, Yang Mulia Elmira Cent Nix Faviflna, tetapi saya diutus Yang Mulia Kanna untuk memandu kalian ke dalam istana.”
“Ah, tentu saja, silakan pandu kami, Prajurit.” Elmira dengan cepat merespons, senyum elegan yang mencitrakan “Holy Queen” bersemi di bibirnya. “Meskipun ini terkesan merendahkan, tetapi kau sama sekali tidak bersalah, Prajurit. Aku akan berbicara dengan junjunganmu terkait masalah ini.”
“O-Oh, saya mengerti. Kalau begitu silakan ikuti saya.”
Dengan itu, Elmira dan Mary berjalan dengan tenang mengikuti sang prajurit.