Against the World II: Transgression

Against the World II: Transgression
Chapter 41: Trust and Betrayal, part 3



Peringatan: Part ini Dark dan ada Gore, silakan diskip jika tidak kuat. Anak-anak jangan baca.


--------------------------------------------------------


Nueva telah genap berusia 19 tahun saat kedua kakinya kembali menginjak di tanah desa yang telah ia tinggalkan selama delapan setengah tahun.


Bukan saja ia kembali sebagai individu yang kuat, melainkan juga sebagai walikota Eden yang baru—posisi yang baru ia pegang selama setengah tahun. Ia tak datang sendiri; ada seorang pria berusia dua puluh tahunan bersamanya, ada juga seorang wanita dengan usia yang serupa.


“Bawa keempat orang itu ke sini,” perintah Nueva, dan secara serentak kedua pengawal mengangguk lalu berpencar dengan cepat ke dalam desa.


Hari sudah agak larut; orang-orang desa sudah tak lagi beraktivitas. Mungkin mereka juga tak menyadari kedatangannya, meminimalisir kemungkinan mereka kabur—jika bisa. Hukuman darinya sama sekali takkan bisa mereka hindarkan.


Nueva bersandar pada tiang gerbang desa dan mengeluarkan sebatang sigaret dari saku, menyalakannya dengan api yang ia munculkan dari telunjuk kiri.


Sang walikota menyesap sigaret dengan elegan, menyemburkan asapnya ke langit seraya menengadah. Bulan bersinar lumayan terang, langit benar-benar bersih dari awan-awan yang mengganggu. Mayoritas orang akan memuji keindahan itu, tapi Nueva tiada peduli. Sang walikota justru mulai sibuk berkelana dalam pikirannya sendiri, matanya bahkan sampai terpejam menikmati momen.


Lamunan Nueva terhenti beberapa menit kemudian kala ia mendengar beberapa pasang langkah kaki yang mendekat.


Mata sang walikota membuka, dan langsung saja ia disuguhkan pada pemandangan yang sudah ia nanti-nantikan.


Empat orang yang bertanggung jawab atas kematian ibunya sudah berdiri dengan mulut disumpal. Masing-masing dari mereka berdiri di belakang pilar tanah, kedua tangan mereka dibuat sedemikian sehingga memeluk pilar-pilar itu secara terbalik.


“Lenyapkan pakaian mereka,” suruh Nueva sembari mengeluarkan sepasang sarung tangan dari saku mantel. “Pastikan tak sehelai pun benang ada pada tubuh mereka.”


Kedua pengawal Nueva bekerja dengan cepat. Mereka profesional. Tak sedikit pun mereka punya niat mengetahui mengapa bos mereka melakukan hal yang pasti akan menjatuhkan pamornya jika diketahui publik.


“Sudah siap, Bos.”


Nueva mengangguk. “Betra, kau berjaga di luar desa. Beatrice, bagianmu di dalam desa. Dan apa pun yang akan kalian lihat dan dengar setelah ini, abaikan.”


Kedua pengawal kembar itu mengangguk tanpa tanya, meninggalkan sang walikota seperti yang diinstruksikan.


Nueva menarik napas dalam-dalam, kemudian melangkah menghampiri wanita yang paling pinggir.


Tanpa membuka penyumpal mulutnya, Nueva mengeluarkan sebuah belati dan mulai memotong rambut panjang sang wanita. Ia tidak mengeluarkan sepatah kata pun, tidak pula ia izinkan pemilik rambut mengeluarkan kata. Hanya geraman marah yang coba keluar dari mulut yang tersumpal itu. Nueva mengabaikan geraman itu, tetapi ia langsung menusukkan belatinya pada bahu sang wanita saat geramannya terlalu keras.


Hal yang sama Nueva lakukan pada kedua wanita lain dan sang pria yang tersisa—ia tak memberikan pengampunan pada siapa pun di antara mereka.


Selesai melenyapkan rambut, Nueva langsung memulai hukuman selanjutnya. Hukuman itu ia mulai dari sang pria. Kedua pundaknya ia tusuk delapan kali dengan belati. Kemudian kedua tangan berganti menjadi target tusukan. Setelah puas dengan tangan, fokus Nueva mengarah pada benda paling berharga yang dimiliki sang pria. Benda menjijikkan itu telah menodai ibunya, mengingat kembali hal itu membuat mata Nueva menggelap.


“Akan kuberi kau rasa sakit yang membuatmu menyesal karena telah terlahir sebagai laki-laki.”


Nueva memunculkan api di atas telapak tangan kiri, kemudian bilah belati ia letakkan di tengah-tengah api itu hingga memerah warnanya. Kemudian, tanpa belas kasih, bilah belati panas itu Nueva tempelkan pada benda berharga sang pria. Dan sejurus seketika sang pria menggeliat bagi cacing disirami garam, suara geramannya yang keras sampai membuat urat-urat leher dan wajahnya menegang.


Bibir Nueva melengkung. Ia kembali memanaskan belati, kemudian meletakkannya di bagian lain benda berharga tersebut. Nueva baru berhenti memanaskan belati saat semua bagian berharga sang pria melepuh hebat. Tetapi itu bukan berarti ia selesai. Sebaliknya, penderitaan baru dimulai. Kali ini Nueva mulai membakar benda berharga sang pria, itu sudah seperti sedang membakar ubi saja.


Penderitaan sang pria begitu besar hingga kata-kata tak cukup untuk mendeskripsikannya. Terlebih lagi ketika Nueva memotong habis benda itu hingga ke pangkal-pangkalnya lalu ia masukkan ke dalam mulut sang pria secara utuh—tentu saja setelah melepas penyumpal mulutnya. Nueva tak biarkan pria itu memuntahkannya; ia menggunakan belati untuk mendorong benda menjijikkan itu masuk ke kerongkongan sang pria.


Barulah kemudian Nueva beralih ke target yang lain. Meskipun mereka tak memiliki kejantanan, penderitaan mereka tidak lebih ringan.


Acara penyiksaan Nueva baru berhenti setelah hampir tiga jam. Begitu selesai, ia langsung memanggil kedua bawahannya. Tentu saja bukan untuk menyembuhkan; Nueva berubah pikiran. Ia merasa sudah cukup; melanjutkannya hanya akan membuatnya menjadi psikopat.


“Bawa mereka ke gerobak. Lempar mereka ke sarang semut di kaki Bukit Enda. Jangan kembali ke Eden sebelum kalian memastikan mereka mati di tangan para semut.”


Nueva langsung berbalik badan dan melangkah pergi setelah memberi perintah tersebut. Sekali pun ia tak berbalik atau sekadar menoleh ke belakang. Nueva baru berhenti setelah mengambil hampir dua ratus langkah, kemudian berbalik memandang desa. Saat itu, kedua pengawalnya sudah pergi bersama gerobak yang ditarik dua ekor kuda.


“Kalian juga harus menerima hukuman,” bisik Nueva seraya menyatukan kedua telapak tangan. “Wind Magic: Rain of Infinity Bullet.”


Sejurus seketika, seluruh area desa dihujani peluru angin yang tak terhitung jumlahnya. Segala yang ada hancur tak berbentuk. Dan ketika efek spell berhenti, tak ada lagi bangunan yang masih berdiri.


“Fire Magic: Tornado of the End.”


Nueva langsung berbalik badan setelah menggunakan spell penutup. Kakinya melangkah pergi bersamaan dengan munculnya tornado api raksasa yang melahap segala yang ada di tempat kemunculannya. Dan kali ini, Nueva tidak lagi berhenti. Ia kembali ke Eden dalam diam.


Dengan matinya semua penduduk desa, mati pula amarah Nueva. Ia sudah membersihkn kota dari tangan-tangan kotor yang menjamah. Penguasa sebelumnya sudah ia habisi dan hartanya ia sita—begitu juga dengan keluarga, kerabat, hingga pendukung mereka. Nueva membersihkan kota hingga ke akar-akarnya.


Sekarang, Nueva tidak memiliki keinginan apa-apa selain menciptakan tempat ideal yang pernah ibunya angankan. Ia tidak memiliki tujuan apa-apa lagi selain merealisasikan angan-angan sang ibu.