
...—12th July, E642 | Imperial Palace, Nevada, Vermillion Empire—...
HAWA PANAS dapat dirasakan di setiap penjuru Islan—terkecuali wilayah Pegunungan Amerlesia yang selalu dingin. Musim panas telah dimulai kurang dari sepekan, tetapi hawa panas baru terasa kemarin. Memanglah itu hanya pergantian musim, tak berwujud. Namun, efeknya jelas terasa. Aktivitas kehidupan masyarakat kota dipengaruhi oleh hal tersebut. Pun begitu dengan perubahan arah angin.
Dari balkon tertinggi salah satu menara istana, Kanna memandang diam pada keramaian aktivitas kota. Musim ini adalah musim di mana aktivitas warga lebih ramai, jumlah para pendatang lebih banyak, dan kegiatan ekonomi mencapai puncaknya. Namun, dari yang mata Kanna lihat, musim panas tahun ini tidak lebih ramai dari musim panas tahun lalu. Pun musim panas tahun lalu masih kurang ramai dibandingkan musim panas tahun sebelumnya.
Tidak ada elf yang terlihat di jalan-jalan kota. Tidak pula ada warebeast yang berlalu-lalang. Konflik antara New World Order, Emiliel Holy Kingdom, dan Vermillion Empire telah lama menunjukkan efeknya. Jika ini terjadi sebelum Vermillion Empire mengakuisisi Emeralna Kingdom dan Matepola Kingdom, kekaisaran mungkin harus memfokuskan diri meningkatkan produktivitas pangan dalam dua atau tiga tahun. Namun, dengan kekaisaran yang sekarang, efek konflik itu takkan terlalu berpengaruh.
Namun begitu, bukan berarti semuanya akan baik-baik saja. Perbedaan yang terlihat sekarang hanyalah permulaan semata. Ketika perang benar-benar pecah, sumber daya—baik alam maupun manusia—akan merosot tajam. Kerusakan akan merajalela. Dan, apabila Veria turut menyerang sebagaimana yang dikhawatirkan Artemys dalam suratnya….
“Islan tidak punya pilihan selain menyelesaikan konflik ini dengan korban dan kerusakan yang seminimal mungkin,” gumam Kanna dengan kernyitan di kening. “Emperor Shiva Rashta…!” Tangan Kanna mengepal, gigi-giginya bergemeretak.
Meskipun Kanna membenci apa yang telah dilakukan pria itu, aksinya dalam menyatukan Veria sangat menginspirasi. Kanna dan Achilles sekalipun takkan mampu melakukan apa yang kaisar itu lakukan meski mereka bekerja sama sejak lama. Memang, situasi di Islan jauh lebih rumit dibandingkan Veria. Namun, tetap saja hasilnya mengejutkan dan sangat menginspirasi. Menyatukan satu benua tanpa harus mengerahkan pasukan dan menumpahkan darah….
“Nona,” panggil Meyrin yang muncul dengan tiba-tiba di belakang Kanna. “Xavier sudah tiba di istana seperti yang kau inginkan. Monica juga bersamanya. Sepertinya ada konflik di antara mereka. Tapi mengertahui Monica, bisa kuasumsikan itu berhubungan dengan Nona Artemys. Xavier pergi ke Veria dengan Monica, dan sudah kupastikan kalau Monica tidak tahu kalau Xavier yang menyelamatkan Nona Artemys.”
Artemys…. Kanna jujur saja tidak tahu lagi bagaimana menyikapi saudarinya yang dua tahun lebih tua itu. Ia tentu saja senang karena dia bisa diselamatkan, tetapi pada saat yang bersamaan ia merasa kesal dengan kedekatannya dengan Xavier. Dan mengingat kembali momen di mana ia melihat Xavier keluar dari perpustakaan pribadinya Artemys…. Bisikan jahat muncul dalam hati Kanna: Bagaimana kalau aku melihat ke dalam ingatan Artemys untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi?
Kanna menggelengkan kepalanya pelan, mengusir pikiran tak baik itu dari menguasai hati. Ia telah beberapa lama mengakui kalau ia memiliki rasa pada pria berambut merah itu. Pun Nizivia telah memercayakan Xavier padanya. Jika Nizivia tak bisa bersamanya, gadis itu ingin ia yang bersama Xavier. Ini bukan lagi tentang takdir yang betransendensasi melawan waktu, bukan pula untuk dirinya semata. Namun, ini untuk Nizivia…dan Clara juga.
Namun begitu, itu tak menjustifikasi Kanna untuk melakukan apa pun. Ia akan mencari kesempatan untuk berbicara dengan Xavier dari hati ke hati. Jika Xavier pada akhirnya tidak memiliki rasa padanya, maka tidak ada yang bisa ia lakukan. Ia tidak punya pilihan lain selain menerima kenyataan dan lanjut melangkah. Cinta bukan sesuatu yang bisa dipaksakan.
Akan tetapi, kesempatan untuk berbicara tentang hati dengan pemuda itu tidak bisa ia cari dalam waktu dekat. Kekaisaran adalah prioritas Kanna; segalanya berada di bawah kekaisaran. Teman, keluarga, dan bahkan cinta…. Jika semua itu menghalanginya dari mengemban tugasnya, maka yang harus ia lakukan adalah mengesampingkan semua itu. Seorang kaisar harus mengutamakan kekaisaran di atas segalanya.
“Terima kasih, Meyrin.” Berkata Kanna setelah beberapa lama tak bersuara. “Aku akan menemui Xavier, dan kami akan berangkat ke Kazarsia Kingdom. Aku ingin kau mengatakan pada Kak Achilles tentang hal ini. Dan selama aku pergi, kuserahkan tugasku padamu. Jika kau tak bisa memutuskan, diskusikan dengan Kak Achilles.”
“Baiklah, aku mengerti. Aku akan langsung menemui Perdana Menteri Achilles.” Meyrin seketika menghilang, keterampilannya terlihat jelas semakin meningkat.
Dan tak ingin membuat Xavier menunggu, Kanna melompat menuruni menara dan mendarat di balkon lantai tiga istana, sebelum kemudian melangkah cepat ke bawah.
Tiga orang prajurit melesat maju, melayangkan masing-masing pedang mereka menyerang seorang pria berkepala plontos yang sudah lama menjadi buah bibir kerajaan.
Pria tersebut dengan elegan menghindari dua tebasan pedang kedua prajurit, sedang pedang bermata duanya bergerak dan dengan sempurna mementalkan tebasan pedang prajurit yang ketiga. Ketiga prajurit itu tak mau kalah, mereka terus menekan. Namun, setelah beberapa kali saling membenturkan pedang, pria berkepala plontos berwajah sangar itu sukses membuat ketiga prajurit itu terjatuh.
“Uwoooo! Seperti yang diharapkan dari Jendral Clown! Menakjubkan! Mengagumkan!”
“Benar! Bahkan meski dia tidak mengandalkan mana, mereka bertiga tak berkutik. Kekuatan fisik Jendral Clown sudah cukup untuk meleburkan sebuah gunung!”
“Beruntung sekali Tuan Putri memiliki suami sekuat dan berjiwa patriot seperti Jendral Clown. Jika nanti putriku sudah berada dalam usia siap nikah, aku ingin dia mencari pria penuh tanggung jawab sepertinya. Lalu, jika seandainya istriku hamil lagi lalu melahirkan anak laki-laki, aku ingin dia mencontoh Jendral Clown.”
“Heh, heh, heh, bukan kau saja, Gob! Semua orangtua menginginkan anak laki-lakinya meniru Jendral Besar Clown. Aku juga begitu. Tapi, yah…, aku belum punya istri! Oh, mengapa kau sudah beristri dan aku masih jomblo?! Sungguh tak adil!”
“Ckckck. Kau terlalu bego, Mok! Kau jomblo karena kau tak belajar dari pesona Jendral Clown! Lihatlah dia, para wanita yang mengejar-ngejar. Paras Jendral Clown memang tak bisa dibandingkan dengan kebanyakan pangeran, tapi hatinya jauh lebih bersinar. Sinarkanlah hatimu, Mok!”
“Kau…kau benar, Gob. Aku harus mencontoh setiap hal yang dilakukan Jendral Besar Clown!”
Di saat mereka semua tengah sibuk menglorifikasi dan mengagungkan Jendral Clown, sang jendral sendiri tengah kesusahan menahan nyeri di bahu.
Melawan tiga prajurit sekaligus seperti tadi sungguh melelahkan. Terlebih lagi, sparing mereka dilihat oleh puluhan prajurit. Jika tadi ia membuat kesalahan sedikit saja, kemungkinan Clown akan berakhir di penjara. Ia jadi bergidik ngeri membayangkannya. Dan memikirkan ekspresi yang akan istrinya tunjukkan….
Aku harus berlatih tiga kali lebih banyak dari sebelum-sebelumnya, batin Clown dengan semangat baru yang mengisi jiwa.
Ia telah melupakan niatnya untuk melarikan diri setelah merasakan nikmatnya menjadi laki-laki. Ia tidak akan membiarkan diri terpisah dari istrinya. …Meskipun itu mengharuskannya mengikuti kebodohan orang-orang di sekitarnya.
Jendral Clown telah memutuskan untuk menggantikan mertuanya menjadi raja, dengan begitu ia bisa memastikan kebenaran tentangnya takkan terkuak.