Against the World II: Transgression

Against the World II: Transgression
Chapter 39: Goddess of War, part 2



Kanna tidak mengatakan apa pun; hanya diam memandang sang saint yang mulai berdiskusi dengan para kaptennya. Ia berharap Arthur Lancedragon bisa mengambil keputusan yang bijak. Dia bertanggung jawab terhadap kehidupan seratus ribu prajurit, yang kemudian berdampak pada seratus ribu keluarga. Kanna berharap dia bisa mengambil keputusan yang tepat.


Tentu saja ia sangat mengerti kalau mereka berada di tengah peperangan. Namun, itu bukan berarti kekaisaran menginginkan kehancuran total Emiliel Holy Kingdom. Bagaimanapun juga, dengan ancaman nyata yang Veria dan Emperor Shiva berikan, Islan tetap memerlukan kekuatan Holy Kingdom. Menghabisi mereka semua akan membawa Islan kepada ketidakberuntungan.


Namun begitu, meskipun mata Kanna fokus pada lawan di hadapannya, sebenarnya ia mengkhawatirkan Xavier yang dituntut untuk menghadapi Fie Axellibra. Karena itu pula Kanna mempercepat rencana penyerangan. Ia bahkan meninggalkan Meyrin dan Monica di Matepola untuk mengurus pekerjaannya di sana. Dengan demikian, begitu anting di telinganya memberi sinyal peringatan, ia bisa langsung pergi membantu sang commander.


“Yang Mulia, apa Anda yakin dengan penawaran itu?” Darminic tiba-tiba membuka suara. “Kita tidak memilika banyak segel pengekang mana. Aku tentu mengerti keinginan Yang Mulia, tapi jumlah mereka terlalu banyak untuk kita tawan.”


“Darminic.” Panggilan tersebut bukan berasal dari mulut Kanna, melainkan mulut Herena yang berdiri di kanan sang ratu. “Apa kau mengerti apa yang baru saja kau tanyakan?”


“Apa maksud perta—oh, ah, aku lupa kalau Yang Mulia pengguna [Rune Magic].” Darminic menggeleng-gelengkan kepalanya sendiri. “Kalau begitu, bagaimana dengan Saint Arthur dan wakilnya? Wanita itu sepertinya sangat handal dalam berteleportasi, dan Saint Arthur sendiri sangat kuat. Lihatlah awan petir itu. Jika kita lengah, dia mungkin bisa membantai semua pasukan kita dalam satu serangan.”


“…Kali ini aku setuju dengan Darminic, Yang Mulia. Kita tidak bisa cukup dengan hanya mengekang mana-nya saja. Jika Yang Mulia memutuskan tidak membunuh mereka, keduanya harus dikurung dalam barier sampai perang selesai.”


“Herena, kau bisa mengatasi wanita itu?” tanya Kanna.


Tentu saja sang putri tak mengabaikan ucapan kedua commander di kanan dan kirinya. Ia mendengar kekhawatiran mereka dengan jelas; tidak perlu baginya mengomentari apa-apa.


“…Dia terlihat kuat. Kemampuan berteleportasinya mungkin berfokus pada pedang-pedang itu. Aku tak bisa sepenuhnya yakin, tapi akan kulakukan semaksimal mungkin.”


Kanna mengangguk mengerti. “Baiklah. Jika keputusan Saint Arthur mengecewakan, aku sendiri yang akan mengatasi mereka sekaligus,” katanya. “Kalian berdua fokus pada mengurangi jumlah prajurit mereka sebanyak mungkin.”


...———————...


“…Setara dengan Nona Fie? Kau sungguh meyakini itu, Sir?”


“Bukan bermaksud meragukan insting Anda, Sir, tapi apa Anda benar-benar yakin? Jangan-jangan ini seperti kasus Jendral Clown. Kita belum pernah menyaksikan kekuatannya, tapi dia dielu-elukan memiliki kekuatan yang merivali Nona Fie. Saya sangat meragukannya, Sir.”


“Saya sudah mengikuti sepak terjang putri kebanggaan Emperor Nueva itu selama dua tahun terakhir. Walaupun perkembangan kekuatannya memang sangat mengesankan, tapi itu terlalu melebih-lebihkan jika menyejajarkannya dengan Nona Fie.”


Berbagai penolakan dan bantahan dilontarkan para kapten Ordo 1. Dan Arthur tidak bisa menyalahkan mereka. Hanya orang kuat yang bisa mengetahui kekuatan orang kuat lainnya tanpa harus bertukar tinju. Merlin belum memberikan responsnya, tapi Arthur yakin dia sepemahaman dengan dirinya.


…Pertanyaan itu meletuk keluar dari mulut kapten yang paling muda, membuat semua pasang mata memandangnya tak percaya—dan Arthur seketika merasakan aura berbahaya dari tempat Merlin berdiri.


Sang Saint bergerak cepat. Sebelum aura berbahaya itu menerkamnya, ia harus terlebih dahulu memarahi sang kapten yang telah berani menanyakan pertanyaan mematikan itu. Namun, sebelum mulut Arthur sempat mengeluarkan kata, sebuah tangan telah terlebih dahulu mendarat di pundaknya.


“Apa Anda mau berbaik hati untuk menjelaskannya, Sir Arthur?” Suara itu sangat manis, tetapi teror yang dibawanya membuat wajah para kapten memucat—dan Arthur juga. “Bisa tolong Anda jelaskan, Sir Arthur?”


“Me-Merlin, kau—dibandingkan siapa pun—sangat tahu kalau aku tidak pernah ingkar janji. Aku masih ingat janji yang kita buat waktu berusia delapan tahun.”


Lebih cepat dari cahaya yang membawa berpaket-paket foton, aura mencekam yang membuat mereka tercekat telah hilang tak berjejak. Merlin tiba-tiba menjadi senyap dengan kedua pipi yang merona. Tangan kanannya telah bergelayut manja memainkan rambutnya sendiri, matanya berusaha keras untuk tak bertemu tatap dengan sang saint.


Arthur, dengan segala kekuatannya, tidak mengerti dengan tingkah Merlin. Ia ingat dulu pernah berjanji di bawah pohon cerwhiteria, tapi ia tidak benar-benar ingat isi janji itu apa. Arthur hanya mengingat bagian di mana mereka berjanji untuk tidak berbohong pada satu sama lain. Eh…apa itu artinya aku baru saja ingkar janji?


“Ya-Yang jelas,” Arthur dengan cepat melanjutkan (tak ingin berpikir lebih banyak tentang hal itu), “Kita semua akan mati jika melanjutkan pertempuran. Aku belum lama menjadi pemimpin kalian, jadi wajar jika kalian ragu. Namun, atas nama LANCEDRAGON yang melekat pada namaku, segala yang kukatakan benar. Maka dari itu, aku ingin mendengar keputusan kalian. Apakah kita semua mau hidup atau mati, silakan kalian tentukan.”


Pernyataan super serius Arthur membuat para kapten terdiam.


“Tentu saja ini bertentangan dengan dogma kita, dan aku telah melakukan pelanggaran besar karena mengatakan ini. Namun, Emiliel Holy Kingdom takkan memenangkan peperangan ini. Jika kita semua binasa, masa depan kerajaan akan lenyap. Tapi, jika kita menyerah dan tetap hidup, kita bisa menjaga asa bagi keberlangsungan kerajaan. Dan yang terpenting, Nona Fie tidak pernah memerintahkan kita berperang melawan kekaisaran dan NWO sekaligus. Ini kesalahan Pak Tua Genea.”


Bibir Arthur melengkung. “Aku bukan pengecut atau pun takut mati, tapi aku hanya tak ingin memaksakan keputusan pada kalian. Jumlah kita lebih dari seratus ribu, kematian kita akan memengaruhi kehidupan lebih dari seratus ribu keluarga. Apakah kearoganan dan ambisi Pope Genea lebih penting daripada keluarga kalian?”


…Ekspresi sulit mewarnai wajah para kapten, dan Arthur benar-benar tak bisa menyalahkan mereka.


“Begini saja,” timpal Merlin tiba-tiba—dia sudah kembali dari sikap anehnya. “Aku dan Arthur akan menantang Kanna el Vermillion berduel. Jika kami kalah atau terbunuh, kalian harus menyerah dan tetap hidup. Apa keputusan ini bisa kalian terima?”


Arthur melempar pandangan terima kasih pada Merlin. Idenya brilian. Dengan melihat pertarungan mereka, para kapten akan mengerti betapa berbahayanya Kanna el Vermillion itu. Pak Tua Genea benar-benar telah melakukan kesalahan besar; harusnya dia memperhitungkan eksistensi Kanna sebelum mengambil keputusan. Putri favorit emperor itu berada dalam kelas yang sama dengan Vermyna Hellvarossa.


“…Itu solusi yang adil,” ucap kapten yang paling tua, dia mewakili para kapten lainnya. “Jika Sir Arthur dan Dame Merlin kalah, kami bersedia menyerah. Tapi, jika Sir Arthur dan Dame Merlin menang, kalian harus mensyaratkan prajurit kekaisaran untuk menyerah. Dengan begitu, kita tak perlu membuang tenaga untuk menghabisi mereka.”


“Kalau begitu kita sepakat,” ucap Arthur diiringi anggukan setuju. “Sekarang kalian pimpin pasukan untuk mundur.”