
Sebagaimana yang telah disepakati, pertempuran (latihan) dimulai satu jam setelah waktu makan siang selesai.
Dari atas salah satu menara tanah yang Hekiel ciptakan, Xavier dapat melihat dengan jelas pasukan Divisi 6. Para prajurit yang memfokuskan diri mereka sebagai Magic Caster langsung melepaskan spell jarak jauh mereka. Para Magic Knight sudah siap sedia. Sementara itu, dengan jumlah yang lebih sedikit, para Magic Master juga turut membantu para Magic Master melepaskan spell-spell jarak jauh.
Divisi 6 tentu tak membiarkan diri mereka menjadi samsak serangan Divisi 4, 7, dan 12. Formasi mereka yang sebelumnya rapat seketika merenggang dan sedikit penyebar. Spell-spell balasan pun dilesatkan oleh para Magic Caster dan Magic Master mereka.
Yang menarik, beberapa Magic Caster menciptakan dinding tanah berjalan. Mereka dan para Magic Knight melesat maju berlindungkan dinding itu. Mengetahui pemimpin mereka yang mengklaim diri sebagai pengguna [Earth Magic] terbaik, tidak mengherankan beberapa Magic Caster itu mampu menciptakan dinding keras yang tak retak oleh rata-rata spell.
Kurang dari lima menit kemudian, pertarungan jarak jauh sudah berhenti. Pergerakan pasukan Divisi 6 dihentikan paksa sekitar 25 meter dari dinding pangkalan sementara. Magic Knight dari kedua sisi telah bergerak maju. Dentingan pedang dan teriakan-teriakan penyemangat diri menggema mengisi udara. Pun begitu dengan para Magic Master. Mereka bahkan terlihat lebih mendominasi dibandingkan yang lain.
Yang namanya penyerangan perebutan suatu tempat, perang tak pernah terjadi pada satu titik. Tujuan Divisi 6 jelas: merebut Pangkalan Sementara Imperial Army. Tujuan persekutuan Divisi 4, 7, dan 12 juga jelas: mempertahankan Pangkalan Sementara Imperial Army. Masing-masing sisi berupaya sebaik yang mereka bisa untuk memenuhi tujuannya masing-masing.
Dari tempat berdirinya di salah satu puncak menara, Xavier dapat melihat dengan jelas kalau sebagian pasukan Divisi 6 telah bergerak ke sisi lain pangkalan. Mereka sengaja tidak bergerak bersamaan dengan pasukan utama dan mengambil jalan memutar. Sayangnya, itu tidak efektif. Perbedaan jumlah pasukan Divisi 6 terlihat jelas. Jika melawan musuh yang minim intel, itu mungkin berhasil. Tetapi tidak dengan Divisi 4, 7, dan 12.
Di saat sebagian pasukan Divisi 6 yang lain menyerang dari sisi yang berbeda, sebagian pasukan Divisi 4, 7, dan 12 juga sudah bersiap merespons.
“Kecuali jika mereka juga berpikir untuk menyerang dari jalur udara, Divisi 6 tidak akan memenangkan latihan ini.” Bergumam Xavier sembari melipat lengan di dada, matanya bergerak mengikuti pergerakaan skuad-skuad divisinya.
...—Bersama Reinhart, Dermyus, dan Hekiel—...
“Itu tempat yang bagus menurutku. Bagaimana menurut kalian?” tanya Hekiel sembari menunjuk arena tanah lapang di antara dua bukit hijau—lokasi mereka belasan kilometer di barat Pangkalan Sementara Imperial Army.
Dermyus mengangkat tangan kanannya, dan seketika percikan petir hitam memenuhi langit di atas area yang Hekiel tunjuk. Kemudian, tepat setelah detik kesepuluh, sambaran petir hitam yang lebarnya sebesar kompleks Imperial Palace menghantam tepat pada area yang Sixth Commander maksudkan.
Suara sambaran itu begitu memekakkan, dan kerusakan yang dihasilkan cukup berat hingga ketika kepulan asap dan debu menghilang, kawah dengan radius seratus meter dan kedalaman belasan meter terlihat jelas.
“Itu cukup bagus,” komentar Dermyus belasan detik berselang. “Ah, tapi kau sebaiknya memperdalamnya, Hekiel. Bila perlu tambahkan pilar-pilar yang bisa kau manfaatkan nantinya.”
“Dermyus…apa ini hanya perasaanku saja, atau kau memang sangat antusias dengan pertarungan nanti?” tanya Reinhart. Hekiel juga turut memandang intens Dermyus setelah mendengar pertanyaan Reinhart.
“Hm, itu tidak benar.” Ekspresi Dermyus masih tetap tenang, wajahnya kalem. “Setelah mendengar pencapaian Xavier sejauh ini, aku hanya merasa perlu bersungguh-sungguh untuk punya kesempatan menang.”
“Begitu? Yah, terserahlah.” Reinhart mengedikkan bahu dan meneleportasikan kedua rekannya tepat ke tengah-tengah kawah. “Aku akan menyembunyikan lingkaran sihir teleportasi di berbagai tempat, kalian lakukan apa yang perlu kalian lakukan. Xavier ingin dihajar. Dan kita akan menghajarnya.”
...* * *...
Seperti asumsi Xavier, Divisi 6 berhasil dipukul mundur. Hampir dua per tiga dari mereka telah terluka, batalion medis bergerak cepat menyembuhkan mereka. Saat ini, mereka sudah mundur hingga ratusan meter. Mengatur strategi ulang dan menunggu rekan-rekan mereka yang terluka untuk sembuh, itu adalah yang mereka lakukan.
Prajurit yang bertugas melindungi pangkalan tentu saja bukan tanpa luka. Namun, dibandingkan dengan yang terjadi pada Divisi 6, jumlah mereka tak terlalu signifikan. Baik itu Divisi 4, 7, dan bahkan 12 sama-sama memiliki prajurit yang terluka. Yang mereka hadapi adalah sesama Imperial Army, tidak mengherankan itu terjadi.
Xavier tidak tahu berapa jumlah prajurit divisinya yang terluka. Namun yang pasti, jika setelah menerima laporan nanti ia mendapati jumlahnya lebih besar dari jumlah terlukanya prajurit Divisi 4 dan Divisi 7, Xavier akan memastikan para prajurit mendapatkan “pembelajaran”. Divisi 12 ialah divisi terkuat (klaim Xavier sendiri). Tidak normal jika anggota mereka banyak terluka.
Chiron Army…Xavier sejujurnya lebih suka memimpin para maniak bertarung itu. Dengan mereka, ia tidak perlu menekankan banyak hal pada mereka. Mereka kuat, dan mereka sangat tahu apa yang harus dilakukan di tengah-tengah pertempuran. Mereka adalah pasukan terelite dari yang terelite, pasukan terbaik di seantero Islan yang luas.
“Mungkin setelah peperangan di Islan selesai aku akan me—” Xavier spontan menutup mulut dan menolehkan wajah ke sebelah kiri. Kurang dari sedetik kemudian, Reinhart muncul di tempat yang Xavier pandang.
“Kau merasakan kedatanganku?” tanya Reinhart, ekspresi serius mewarnai wajahnya.
“Tidak,” bohong Xavier. “Kebetulan saja aku sedang melihat ke sini, dan kebetulan juga kau muncul di situ. Melihat kau datang, artinya arena pertarungan kita sudah disiapkan? Sudah waktunya aku mengalahkan kalian?”
Reinhart mendengus. “Kau mungkin akan menelan kembali ucapan yang sudah kau keluarkan,” katanya, kemudian menyelimuti mereka dengan lingkaran sihir teleportasi.
Saat Xavier selesai mengerjap, ia menemukan diri di dalam lubang luas yang dipenuhi tiang-tiang tanh. Mengedarkan pandangannya, Xavier mengestimasi kalau lubang beradius seratus meter ini berada di kedalaman seratus meter, atau lebih.
“Ini arena yang bagus. Kita juga tak perlu mengkhawatirkan kerusakan yang kita timbulkan.” Berkata Xavier sembari mendaratkan pandangannya pada ketiga commander yang sudah berdiri hampir dua puluh meter darinya. “Aku jadi bersemangat,” tambahnya dengan kobaran api hitam yang mulai muncul di sekelilingnya.
Merespons kobaran api hitam Xavier adalah percikan api hitam yang muncul menyelimuti tubuh Dermyus. Belasan lingkaran sihir teleportasi muncul di beberapa tempat. Pada saat yang bersamaan, golem-golem tanah yang setinggi dua meter menyeruak dari tanah—mereka muncul di berbagai tempat, jumlahnya lebih dari seratus.
“Majulah, kita bisa mulai kapan pun kalian si—!” Xavier refleks memblok pukulan Reinhart yang sudah berada di hadapannya dengan lengan kanan, sedang tangannya dipaksa bergerak mengatasi pukulan Hekiel. Kedua commander berkombinasi menyerang Xavier, dan Xavier mendapati kakinya melangkah mundur sembari kedua tangannya memblok pukulan kedua commander.
Api hitam Xavier bergerak, berusaha menyerang kedua Commander. Tetapi bongkahan-bongkahan tanah muncul dan menimpa api hitam dengan kekuatan yang besar. Hekiel menunjukkan kontrolnya terhadap sihir tanah yang menakjubkan; dia menyerang pada saat yang sama dengan menciptakan bongkahan-bongkahan tanah.
Tak ingin terus bertahan, Xavier memutuskan untuk turut menyerang. Namun—
“Lightning Shock!”
—Tiba-tiba Xavier sudah berada di pusat percikan petir hitam berintensitas tinggi.