
...—beberapa saat sebelumnya—...
Ketika Xavier tiba di lokasi, ia tidak melihat Kanna—keberadaan sang putri tidak terasa sama sekali.
Yang menyambutnya adalah individu-individu yang tidak mengejutkan. Menez duduk di atas pilar tanah, tepat di samping Luciel yang berdiri. Di samping Luciel, Vermyna duduk dengan tenang di singgasana megah. Evillia berdiri di kiri sang ratu, matanya memandang membunuh pada Vermyna. Ada juga beberapa vampire lainnya. Lumeira pun di sana, matanya menggeram pada Menez. Dan di kejauhan, iris merah darah Xavier menangkap sosok Heckart tanpa topeng berbicara dengan Elena.
“Diriku lihat dirimu telah mendengarkan saran diriku, eh, Xavier?” Vermyna membuka suara. “Tetapi sepertinya dirimu harus meninggalkannya sekarang. Saat itu diriku tidak berpikir untuk bergabung dengan New World Order, tetapi hal itu berubah setelah Menez menculik Alstroemeria dan melarikan diri dari Vampire Kingdom. Tinggalkan sifat kekanak-kanakan dirimu, kembalilah pada sisi yang benar. Diriku berjanji dengan jiwa diriku, Nueva tidak akan pernah mendaratkan tangannya pada iblis kecil itu.”
Xavier memicingkan matanya. Ia tidak tahu apa yang terjadi di sini, tetapi yang jelas ia merasakan firasat yang buruk. Evillia bahkan tidak punya waktu untuk memandangnya; segala fokus sang elf dihadapkan pada Vermyna. Pun begitu dengan Menez, dia menolak memandang dirinya. Dan Luciel…dia memandang Xavier dengan ekspresi serius.
“Apa yang terjadi?” Xavier tidak bisa menahan diri dari bertanya, bahkan ia tak menyembunyikan kebingungannya.
“Tidak ada yang penting.” Vermyna yang menjawab. “Hanya saja, diriku tidak sekadar bergabung dengan New World Order, tetapi mulai sekarang diriku adalah pemimpinnya. Evillia tidak keberatan. Diriku sudah menginformasikan hal ini pada Diametra dan Tsusaza dan Minner. Luciel tidak bisa menolak. Namun, jika dirimu ke sisi yang benar, dirimu bisa tetap memimpin.”
Xavier mengerti sekarang. Ia sangat-sangat mengerti. Bukan saja Vermyna telah merenggut Catherine dan Nizivia dari dirinya, sekarang dia juga merebut organisasinya. Ini pertama kalinya Xavier merasa semarah ini—hanya marah, tidak ada emosi lain yang bercampur, beda dengan saat ia mendengar apa yang terjadi pada Desa Carnal. Murni amarah.
“Sepertinya responsmu adalah tidak, sayang sekali.” Vermyna menggeleng pelan, menjentikkan kedua jari—dan seketika mereka sudah berada dalam dunia yang didominasi ungu gelap, di atas arena yang lebih luas dari seantero Nevada. “Apa boleh buat, diriku hanya perlu membuat dirimu tidak punya pilihan lain.”
Sebelum Xavier sempat mengatakan sesuatu, salah satu dari gelembung ungu gelap yang melayang memenuhi udara sekonyong-konyong bersinar terang. Kemudian laser cahaya berkonsentrasi sangat tinggi menembak lurus ke atas lokasi Vermyna duduk. Namun, laser itu tak pernah sampai; posisinya tiba-tiba sudah berada jauh dari tempat mereka—Xavier yakin Vermyna menggunakan sihir ruangnya.
“Vermy—Xavier, mengapa kau ada di sini?” Kanna yang melayang di tempat sebelumnya gelembung ungu berada tiba-tiba sudah berada di samping Xavier. “Bagaimana dengan para prajurit? Kau seharusnya memastikan tidak ada pasukan yang menyusul mereka.”
“Tidak perlu khawatir; aku sudah menyuruh mereka kembali ke Verena.” Xavier berkata tanpa memandang Kanna. “Dan Kanna,” lanjutnya dalam bisikan, “bisa kau meneleportasi paksa diriku dan El ke tempat di mana spellmu tadi dipindahkan Vermyna?”
“Apa yang kau rencanakan?” Kanna turut berbisik.
“Aku menyadari alasan dari mengapa terkadang aku merasa kuat dan di lain waktu merasa lemah. Aku akan menjelaskan lebih jauh nanti; sekarang aku ingin kau melakukan apa yang kupinta.”
“Baiklah, tapi jangan mati.” Lingkaran sihir teleportasi muncul tepat di bawah kaki Xavier dan Luciel. “Jika kau mati, aku akan menemukan cara untuk menghidupkanmu dan membuatmu menjadi budak istana seumur hidupmu.”
“Tentu saja; aku takkan mati sebelum melihatmu duduk di singga—”
“Sepertinya dirimu sudah teralu besar kepala setelah mendapatkan Kurtalægon itu, diriku akan berbaik hati untuk kembali mengajarkan pada dirimu akan arti kerendahan hati.”
...—bersama Xavier dan Luciel—...
“Apa maksudmu dengan kau tidak bisa menolak?” Xavier tidak berbasa-basi; ia tidak punya waktu untuk berbasa-basi. “New World Order penting untuk tujuanku; aku setuju kau memainkan peran El bukan tanpa alasan.”
“Heh, apa sekarang kau melempar kesalahan padaku? Itu menggelikan datang darimu, Xavier. Fie Axellibra lebih kuat dari siapa pun di Islan; jika kau serius dengan New World Order, kau akan mengabaikan sejenak keinginan balas dendam naifmu yang tak berguna dan serius dalam mewujudkan visi New World Order. Vermyna lebih kuat; pemimpin New World Order harus yang terkuat.”
“Kedustaan seperti itu takkan bekerja padaku, Luciel, dan sejak kapan Malaikat Agung sepertimu menikmati berdusta seperti itu?”
Tawa kecil melompat keluar dari kedua bibir Luciel yang terbuka. “Kau benar,” jujurnya setelah tawa itu sirna. “Malaikat Agung sepertiku tak seharusnya berdusta, tapi, Xavier, memangnya selama ini gara-gara siapa aku jadi sering berdusta? Kau adalah iblis yang menyesatkan malaikat.”
Mata Xavier mengerjap. Ia tak bisa mengelak tuduhan Luciel.
“Tapi mari kita abaikan hal itu,” lanjut Luciel dengan ekspresi yang sangat serius. “Kau mengerti situasinya, kan? Kau tidak punya pilihan lain sekarang. Jika kau hanya menyinkronkan diri secara sempurna dengan jiwaku, kau takkan menjadi lebih kuat dari kekuatan penuhku. Gunakan Magic Container padaku seperti yang kau rencanakan. Sebagai gantinya, kau harus memastikan Throne of Heaven menjadi milikmu. Setelahnya, jika kau tak ingin memerankan peran dewa, kau bisa menghidupkanku kembali.”
Luciel mengangkat tangan kanannya dengan posisi jari yang mengepal membentuk tinju. “Aku sudah menggunakan [Reverse Law] untuk membuat kita tak terlihat,” katanya, ekspresi wajahnya memenuhi definisi Malaikat Agung. “Oh, aku juga ingin kau menghina Edenia saat kau berhadapan dengannya—lakukan itu sebagai hadiah perpisahan untukku.”
Xavier memandang kepalan tangan itu sesaat, kemudian memandang intens pada mata itu. “Kau yakin? Kau tidak ingin menyelesaikan masalahmu dengan Lucifer?”
“Jika kau bisa melakukannya untukku, mengapa aku harus menyusahkan diri?”
“Kau….” Xavier menghela napas. “Baiklah, tapi kupastikan aku akan membuatmu menyusahkan diri setelah menghidupkanmu. Kau akan sangat-sangat kesusahan sampai kau menyesal hidup kembali.”
“Eh, itu caramu mengatakan kalau kau akan merindukanku?” tanya Luciel dengan nada mengejek. “Terkadang kau tak bisa jujur pada dirimu sendiri.”
“Jangan mengada-ada!” dengus Xavier sembari menempelkan tinjunya pada tinju Luciel, tetapi kemudian senyum tipis berkembang di bibirnya. “Senang bertemu dan mengenalmu, Luciel.”