Against the World II: Transgression

Against the World II: Transgression
Chapter 33: The Fall of the Dwarf, part 3



Sebanyak 45 ribu prajurit Ordo 9 Knight Templar sudah dalam keadaan siap di depan gerbang selatan Dwagnowa. Senjata dan zirah mereka tampak mengilap. Wajah mereka serius, tegang, tapi tak disusupi keragu-raguaan. Mereka percaya diri sebagai pasukan terbaik di permukaan dunia; mereka takkan gentar menghadapi musuh dari mana pun.


Tak jauh berbeda dengan mereka, para dwarf berseragam prajurit juga sudah bersiaga di dalam kota. Terlihat juga para dwarf bereragam elite di atas bagian tembok yang tak hancur. Meriam-meriam sihir terlihat berjejer di atas sana. Ada juga kelompok-kelompok dwarf dengan meriam sihir ditempatkan di atas bangunan-bangunan yang mampu bertahan dari ledakan besar di udara tadi.


Mereka semua telah siap sedia menyambut setiap serangan yang datang. Golem kebanggaan Khrometh bahkan telah mengudara di pusat langit kota.


Masa penantian mereka tak lama. Musuh benar-benar bertekad penuh dalam menyerang. Tak lama setelah Saint Petra berbagung dengan pasukannya, prajurit pengintai melaporkan ada pergerakan dari arah barat.


Petra tidak menunda-nunda lagi. Ia langsung memerintahkan pasukannya untuk bergerak ke sana. Dwarf Kingdom adalah sekutu mereka yang berharga. Mereka akan berada di garda terdepan dalam mempertahankan keselamatan Dwagnowa, sedang para dwarf akan berada di garis belakang sekaligus mendukung mereka dengan meriam-meriam sihir mereka.


Di halaman istana kerajaan, Gozilla yang sudah berbalutkan zirah adamantite yang dilengkapi belasan ukiran formula rune berdiri di hadapan sekitar 1200 prajurit utama kerajaan. Mereka adalah terelite dari yang terelite. Tidak ada pasukan mana pun di Dwarf Kingdom yang bisa merivali pasukan yang dipimpin langsung oleh sang raja. Gozilla memberi instruksi pada para prajuritnya terkait serangan yang akan datang.


Sementara itu, lebih dari seribu meter di udara, Khrometh di dalam golemnya memfokuskan pandangan ke arah barat. Tentu saja ia tak mampu melihat jelas dari jarak sejauh ini, tetapi perasaan yang muncul dalam dirinya sama sekali tak asing. Minner—pria bedebah bajingan yang kerap kali mengolok-ngoloknya—berada di sana. Warebeast tengik itu adalah pemimpin dari para bajingan yang berani mendaratkan taring ke negerinya.


“Pria tua bangka itu sungguh mau cari mati,” gumam Khrometh antara kesal dan senang.


...* * *


...


Sekitar tiga ribu vampire melesat dalam kecepatan tinggi menuju dinding barat Dwagnowa. Memimpin mereka adalah tiga vampire terkuat dalam rombongan pasukan. Ketiganya adalah anggota Moon Temple. Hecrust berada di tengah-tengah. Di kanannya ada Cainabel. Sementara itu, di sisi kirinya melesat Lucard. Ketiganya berada beberapa meter di depan tiga ribu vampire yang sudah siap bertempur.


“Oh ya, Cainabel, bukannya kau punya tugas merekrut necromancer siapalah itu?” Lucard melempar tanya. Posisi ketiganya yang berdekatan memungkinkan ketiganya untuk bisa berkomunikasi meski dalam keadaan berlari.


“Dia menolak,” respons sang vampire. “Dia mau tetap tinggal di sisi Queen Elmira. Sepertinya mereka punya hubungan yang cukup dekat. Dia akan menerima tawaran Nona Vermyna setelah Queen Elmira tiada.”


“Apa Si Elmira itu mengetahui status sang necromancer? Dia sudah bukan lagi manusia. Dia mungkin lebih mendekati keabadian dibandingkan kita para vampire. Atau bahkan Raja Spirit Sakhra. Mungkin juga dia takkan bisa mati. Dia makhluk yang telah berjalan dalam kehidupan dan kematian. Baginya, tidak ada dimensi pemisah antara kehidupan dan kemation.”


“Kemungkinan sudah, kemungkinan juga belum. Meskipun begitu, kita harus hormati keputusannya. Lagipula, dia dan Favilifna Kingdom tidak benar-benar berpihak pada kekaisaran. Mereka berada di sisi El. Nona Vermyna sudah menekankan El bukan musuh.”


Lucard tidak lagi memperpanjang pembicaraan itu setelah mendengar penjelasan Cainabel. Tetapi kali ini perhatiannya telah mendarat pada Hecrust. Hecrust tentu menyadari itu, tetapi ia tak memusingkannya. Seperti Cainabel, fokusnya hanya berpusat ke depan. Ia sangat profesional.


Namun begitu, meskipun sudah berusaha mengabaikan pandangan Lucard, tetap saja rasa risih menghinggap diri Hecrust. Siapa yang tak risih dipandangi intens seperti itu?


“Jika ada yang mau kau tanyakan, tanyakan saja, Lucard.” Berkata Hecrust tanpa menoleh pada vampire yang dimaksud. “Pandanganmu membuatku risih. Aku jadi teringat rumor yang beredar tentangmu.”


“Hahaha. Lupakan rumor gila itu. Meskipun aku tak pernah terlihat memiliki hubungan dengan wanita, bukan berarti aku tak normal. Aku hanya mau tahu. Ah, tepatnya aku punya dua pertanyaan.”


“Apa itu?”


“El dan Menez, keduanya lebih kuat darimu. Saat kecil dulu, kau yang paling kuat di antara mereka. Tetapi sekarang sudah jauh berbeda. Apa kau tak merasa iri?”


“Itu pertanyaan yang tak berguna. Sejak awal aku sudah berasumsi mereka akan lebih kuat dariku, terutama Xavier. Aku hanya tak mengekspektasikan Nona Monica untuk menjadi kuat juga. Dalam benakku, Nona Monica akan selalu menjadi orang yang perlu dilindungi. Xavier juga cukup overprotektif padanya.”


“Oh, kau cukup berbesar hati juga. Kalau begitu, sebagai pertanyaan kedua, kapan kau akan menjadikan kekasihmu itu sebagai vampire? Kau tak mau melihatnya mati dimakan usia, kan?”


“…”


“Lucard benar, Hecrust. Kau sudah menjadi bagian dari kami. Daripada kau kembali menjadi manusia, kami akan lebih senang jika kau menjadi bagian dari kami selamanya. Ubahlah Elena jadi vampire; buatlah keluarga vampiremu sendiri.”


“…Biar aku yang menangani Saint Petra,” ucap Hecrust mengabaikan perkataan kedua vampire di kedua sisinya—melihat kehadiran pasukan Knight Templar di depan sana memberi kesempatan yang pas bagi Hecrust untuk mengesampingkan pembicaraan mereka. “Kami punya urusan yang waktu itu tak sempat terselesaikan.”


...* * *


...


Saint Petra adalah personifikasi kata “tenang” yang paling dekat. Ia bisa merasakan ketiga vampire yang berada di garis terdepan sangat berbahaya. Mustahil baginya untuk mengatasi mereka bertiga sekaligus. Jangankan bertiga, menang melawan salah satunya adalah bentuk keberuntungan yang cukup tinggi. Meski begitu, pria yang satu ini tak memiliki sedikit pun kepanikan. Di dalam kepalanya hanya ada doa yang ia panjatkan demi keselamatan para prajuritnya.


“Jangan pikirkan apa-apa selain mengalahkan semua musuh yang datang!” teriak Petra dengan volume terkeras yang bisa mulutnya keluarkan. “Meskipun jumlah kita jauh lebih unggul, jangan arogan. Mereka vampire. Kekuatan kejahatan ada bersama mereka. Fokuskan hati dan pikiran kalian hanya pada jalan kebaikan. Serang!”


Teriakan berapi-api keluar dari mulut para prajurit. Dalam sekejap kedua kubu pasukan berbenturan. Para prajurit menyebar, secara berkelompok-kelompok menyerang para vampire.


Saint Petra sendiri hendak menghentikan pemimpin vampire yang wanita. Dialah yang terlihat paling berbahaya. Hawa keberadaannya sama kuat dengan Saint Bedivere. Petra menekankan dirinya sendiri untuk tak membiarkan wanita itu membantai para prajurit. Sampai pasukan Ordo 6 yang dipimpin Saint Maviera datang, ia akan sebisa mungkin menahan ketiga vampire itu.


Setidaknya, itu adalah apa yang Petra rencanakan. Namun, vampire bertopeng yang dulu pernah ia lihat di Pegunungan Amerlesia sudah berada empat meter di hadapannya dengan tombak yang teracung. Kedua vampire lain sudah lenyap dari pandangan sang saint. Jeritan sakit para prajuritnya mengiringi lenyapnya kedua vampire kuat itu.


“Seventh Saint Petracia Lliorente, aku yang akan menjadi lawanmu. Mari selesaikan pertarungan kita yang tertunda.”


...* * *


...


Cainabel tidak menyia-nyiakan waktu untuk sekadar bersuara. Dengan ekspresi datar dan pandangan mata dingin ia menghabisi lawannya belasan demi belasan. Ia tidak mengubah mereka menjadi molekul atau yang lebih kecil dari itu; Cainabel membunuh mereka semua dengan jarum-jarum tajam yang terbuat dari darah. Setiap satu prajurit mati, darahnya ia ambil untuk memperbanyak jarum-jarum darah.


Untuk prajurit musuh yang beruntung karena berhasil mendekat, Cainabel menghabisi mereka dengan payung berujung runcingnya. Armor mereka langsung tertembus dalam sekali tusukan. Mereka langsung tergeletak meregang nyawa. Tidak sekali pun anggota Knight Templar berhasil untuk sekadar menggores kulitnya. Cainabel tak terhentikan.


Hal yang sama juga berlaku pada Lucard. Ia begitu kasar dan agresif dalam menyerang. Itu seperti seseorang yang sedang melampiaskan amarah yang telah terpendam lama. Semua prajurit Knight Templar yang menghampiri Lucard ia pecahkan tenggorokan mereka. Darah dari para mayat berkumpul menjadi satu membentuk bola darah beberapa meter di atas kepala sang vampire.


Jumlah prajurit Knight Templar terus merosot dan merosot. Tidak ada yang dapat membendung kebrutalan kedua anggota Moon Temple. Bagi para prajurit itu, keduanya bagaikan bukit yang tak bisa mereka gerakkan.


Namun begitu, bukan berarti para Knight Templar hanya mengantre untuk mati tanpa berkutik. Mereka memang tak berdaya di hadapan Lucard dan Cainabel. Tetapi tidak begitu terhadap para vampire lain. Para vampire memang lebih kuat secara signifikan, tetapi kerja sama para prajurit Knight Templar membuat perbedaan. Satu per satu para vampire gugur.


Kendati begitu, perbedaannya sangat kentara. Setiap satu vampire yang terbunuh, Ordo 9 kehilangan lebih dari 100 anggota mereka.


...* * *


...


Saint Petra tidak mau membiarkan kedua vampire kuat itu membantai para pasukannya. Namun, vampire bertopeng putih polos itu juga tak bisa ia biarkan. Bukan saja karena ia telah menantangnya, melainkan juga karena hanya dia yang mungkin bisa Petra kalahkan. Dua vampire yang lain berada dalam level yang berbeda.


“Apa boleh buat,” ucap Saint Petra sembari melapisi tubuhnya dengan mana. “Kuterima tantanganmu, Vampire!”