
Gugus Bukit Mherea berlokasi di sisi barat daya Kota Ephron, berjarak sekitar 15 kilometer dari kota tersebut. Ada lebih banyak bukit di sana daripada jumlah seluruh kota yang ada di Islan. Namun, bukit yang tingginya di atas rata-rata tak lebih dari sepuluh. Crow berdiri di puncak salah satu bukit tertinggi itu, sementara Pope Genea berdiri di atas puncak bukit yang terdekat dengan tempat Crow berdiri. Mereka berdiam di atas sana dengan memandangi satu sama lain.
Berbicara dengan satu sama lain tidak dimungkinkan dengan perbedaan jarak di antara mereka, bahkan berteriak sekalipun. Namun, mereka tiada perlu lagi berbicara. Sejak seribu enam ratus tahun lalu, mereka telah bertarung sebanyak 37 kali. Crow berhasil membunuh Genea sebanyak 19 kali, dan Genea berhasil melarikan diri dari pertarungan mereka sebanyak 18 kali. Dan pertarungan kali ini akan menjadi yang ke-38. Berbicara tak lagi diperlukan.
Meskipun Crow sudah membunuh Genea sampai 19 kali, ia masih belum menemukan penyebab Genea kembali bangkit. Namun, dengan kembalinya kekuatan Vermyna dan Supreme Magic [Complete Sensory] yang dia miliki, Crow telah mendapatkan jawabannya dari ratu para vampire. Genea memiliki sihir [Soul Transmigration]. Dengan sihir itu, dia bisa memindahkan jiwanya ke tubuh lain saat tubuh yang jiwanya tempati hancur.
Dan alasan mengapa tubuh Genea selalu sama dengan tubuh sebelumnya karena tubuhnya yang baru adalah tubuh buatan dari sel dan darah Genea sendiri. Jika seseorang mencoba menyelinap ke ruang bawah tanah di Gereja Agung Luciel, orang itu tentu akan menemukan ratusan tubuh buatan Genea dari berbagai usia. Mulai dari bayi hingga tubuh yang sudah tua. Genea bisa memindahkan jiwanya ke tubuh mana saja sesuka hatinya.
Itulah rahasia dibalik kehidupan Genea yang seperti abadi—dan kemungkinannya hanya Fie Axellibra dan Neira Claudian yang mengetahui rahasianya.
Artinya, bagi Crow untuk sepenuhnya menghabisi Genea, ia harus melakukannya dalam dimensi lain. Dengan begitu, ketika tubuh Genea hancur, jiwanya terperangkap dalam dimensi itu. Crow tidak tahu berapa lama Genea mampu mengontrol jiwanya dan menahan tarikan dunia kematian dari meraih jiwa tersebut. Karenanya, ia sudah mempersiapkan diri dengan baik. Ia akan mempertahankan dimensi tersebut selama yang diperlukan
Menarik napas dalam-dalam, Crow melepas jubah biru tanpa tudungnya, memperlihatkan kalau ia hanya berbalutkan celana hitam dan kaos biru ketat tanpa lengan. Dan seolah memahami sang vampire, di puncak bukit di hadapannya Genea juga melakukan hal yang sama. Sebagaimana Crow yang punya cara membinasakan Genea, Genea juga mengklaim bisa membinasakan Crow. Keduanya siap mengakhiri pertarungan panjang mereka untuk selamanya.
Namun begitu, tak satu pun dari mereka memulai pergerakan; keduanya betah berdiri di tempat.
...* * *...
Tak terlalu jauh ke selatan Ibukota Dwagnowa yang sudah rata dengan tanah, pertarungan antara Khrometh dan kawan lamanya masih terus berlanjut. Kapak tajam sang dwarf melesat mulus, mencoba dengan sekuat tenaga menebas kepala sang lawan menjadi dua bagian.
Minner memang sudah mengerahkan [Light Erosion]-nya ke tingkat maksimum, tetapi itu bukan berarti kecepatannya sudah bertambah secara signifikan. Minner tak bisa menghindar semudah lalat mengepakkan sayapnya. Yang berbeda dari Minner hanyalah kekuatan serangan saja—ditambah kemampuan untuk mengudara. Itu pulalah yang berperan dalam aksinya menghentikan serangan Khrometh.
Kapak sang dwarf terkikis bahkan sebelum menyentuh cahaya oranye yang menyelubungi tubuh Minner.
Tetapi sang dwarf dapat mendarat dengan baik. Satu formula rune lain pada tubuhnya bahkan telah menghilang sebelum kedua kakinya mendarat. Senjata andalan Khrometh sudah muncul dari persembunyiannya. Itu adalah senjata yang dia pakai dalam perang antara Islan dan Veria yang terakhir.
Itu senjata berwarna hitam bercampur merah yang tak biasa. Senjata tersebut memiliki dua bagian: badan dan lengan. Badannya seperti tas punggung, dan seperti itulah Khrometh memakainya. Sementara itu, lengan senjata seperti tentakel cumi-cumi. Dua tentakel melekat pada kedua tangan Khrometh, enam tentakel mengambang begitu saja—tiga di kanan dan tiga di kiri.
Yang lebih unik dari penampilannya, senjata tersebut memberi Khrometh kemampuan untuk terbang. Dan melesatlah ia ke udara.
Bersamaan dengan melesatnya Khrometh ke udara, Minner akhirnya berhasil keluar dari kurungan gelembung dimensi setelah mengikisnya hingga tak bersisa. Namun, belum sempat ia mencari keberadaan sang dwarf, bola-bola plasma melesat memborbardir dirinya dari udara.
Dengan [Light Erosion] yang ia miliki, panasnya plasma sama sekali tak berefek. Namun, kejutan udara yang dentuman bola-bola plasma itu sebabkan adalah hal yang berbeda. [Light Erosion] Minner tak bisa mengikis sesuatu yang memang tak ada wujudnya. Maka, Minner memutukan menghindari bola-bola plasma. Ia melesat meliuk-liuk ke udara menghindari bola-bola plasma sekaligus mengejar pemilik serangan.
Pertarungan yang sebelumnya berlangsung di daratan, secara nyata berubah menjadi pertarungan di udara. Minner berusaha memperpendek jarak dengan Khrometh sembari menghindari terjangan bola-bola plasma berukuran sekepalan tangan manusia dewasa. Sementara itu, Khrometh berusaha memperpanjang jarak di antara mereka sembari mencoba menghantam Minner dengan bola-bola plasmanya.
...—Gugus Bukit Mherea—...
Pergerakan pertama akhirnya terjadi setelah beberapa lama mereka saling mengobservasi satu sama lain. Crow menghancurkan kedua bukit tempat mereka berdiri dengan petirnya yang spektakuler. Kedua bukit hancur berkeping-keping dan hangus menjadi abu dalam sekejap. Hal itu membuat mereka berdua kehilangan tempat berpijak dan mulai jatuh. Kemudian Crow memanfaatkan petir yang tersisa dan memfokuskan semuanya pada sang pope.
Namun, seperti yang bisa diekspektasikan dari sihir [Absolute Barrier] yang dimiliki Genea, petir berintensitas besar yang ditembakkan Crow terbelokkan saat menyentuh barier absolut tak kasatmata yang mengelilingi tubuh sang pope. Untuk bisa mengenai Genea, sihir yang digunakan haruslah bersifat dimensi. Hanya melalui dimensi lain sihir barier absolut Genea dapat ditembus.
Mereka berdua mendarat setelah terjatuh dari ketinggian tanpa berhasil mendaratkan serangan pada satu sama lain.
Namun, pertarungan yang sesungguhnya baru dimulai sekarang. Secara serentak, Crow dan Genea berlari kencang memperpendek jarak terhadap satu lain. Lalu, hanya dalam sekelip mata, kedua tinju mereka telah saling bertemu. Tinju Genea berbalutkan barier absolutnya, dan tinju Crow berbalutkan ruang imajiner. Keduanya saling beradu memperebutkan supremasi.