Against the World II: Transgression

Against the World II: Transgression
Chapter 20: The Unexpected Result, part 3



Terakhir Xavier menginjakkan kaki di istana Artemys, tubuh tak bernyawa tergeletak di berbagai tempat.


Namun, istana ini sekarang sudah kembali dipenuhi pekerja. Segera setelah mereka menyadari kehadiran Artemys di tengah-tengah ruangan, para pekerja baru langsung berbondong-bondong mengutarakan kata-kata sukacita. Entah mereka hanya melakukan pencitraan atau benar-benar tulus, itu bukan sesuatu yang perlu dipikirkan.


Beberapa menit kemudian, Xavier dan Artemys sudah duduk berdampingan di sebuah bangku di halaman belakang istana. Dan, baru saja Artemys hendak membuka mulut, niatnya itu langsung tertunda saat Xavier tiba-tiba memeluk sang putri dengan erat. Artemys sendiri terkejut, tetapi dengan cepat dia menyamankan diri dalam pelukan hangat Xavier.


“…Apa kau disakiti saat ditawan di sana?” tanya Xavier dengan volume yang setengah berbisik. “Apa mereka membentakmu? Apa mereka melakukan hal-hal yang buruk padamu?”


Xavier telah gagal membasmi Shiva. Namun, ia sekarang telah mengetahui apa yang bisa ia ekspektasikan dari kaisar muda itu. Pun ia mengerti mengapa Grand Order-nya bisa dipatahkan. Seperti Nizivia, pria itu bisa menggunakan energi kehidupan dengan sangat baik. Xavier memang tidak melihat teknik-teknik yang mematikan dari Shiva, tetapi kecepatan, refleks, dan kekuatan fisik sang kaisar meningkat pesat.


Karenanya, jika Artemys mengangguk pada pertanyaan, ia takkan berpikir dua kali untuk kembali ke Veria. Siapa pun itu tak terkecuali. Membasmi Shiva saat ini mungkin sulit ia eksekusi, tetapi itu tidak mustahil. Main kotor main kotorlah situ. Tiada yang bisa bebas begitu saja setelah menyakiti wanitanya; Xavier tidak bisa hidup tenang bila ia tidak melakukannya.


“Kau khawatir?” tanya Artemys dengan mata menengadah, ekspresinya tenang tanpa cela—sulit bagi Xavier menduga apa yang sang putri pikirkan.


“Tentu saja. Aku takkan langsung ke Veria setelah mengatasi urusan di Etharna jika aku tak khawatir. Pertanyaan macam apa itu?” Kening Xavier mengernyit. “Bagaimana bisa kau berpikir kalau aku tidak akan khawatir?”


“…Kau masih belum mengatakan kalau kau mencintaiku,” respons datar Artemys. “Normal bagiku untuk berpikir begitu. Dalam hubungan kita, akulah yang merayumu. Aku yang memaksakanmu memenuhi keinginanku. Bukankah kau akan merasa terbebas dariku jika aku tak kembali? Sangat normal jika aku ragu, kan?”


Xavier menghela napas panjang mendengar ucapan Artemys. Kedua tangannya bergerak melepaskan tubuh sang putri dari pelukannya. Mata Xavier memandang intens sepasang mata indah wanita berambut hijau tersebut, bermaksud menelisik jauh ke dalam jiwa, tetapi apa daya tak bisa.


“Aku ini bukan anak kecil atau pria tak bertulang belakang, Artemys,” kata Xavier sembari membingkai wajah sang putri. “Aku takkan membiarkanmu menarikku ke dalam permainanmu jika aku tidak suka. Aku tidak pernah mengatakan itu karena kau juga tidak pernah. Lagipula, aku bukan laki-laki yang baik; kau bukan satu-satunya wanita yang mengisi hatiku—kau sangat tahu itu. Aku tak ingin membuat kata cinta menjadi murah.”


“Namun,” lanjut Xavier sembari menempelkan keningnya pada kening Artemys. “Jika kau ingin aku mengatakannya, akan kukatakan sekarang juga: Aku mencintaimu, Artemys; kau tak tahu betapa marahnya diriku saat kehilanganmu.” Xavier menangkap sepasang bibir itu dengan lembut, menyampaikan kalau ia bersungguh-sungguh. Belasan detik awal tiada respons dari sang putri, tetapi kehangatan begitu saja menjalar ke dalam hati Xavier saat wanita berparas bak para dewi itu memberikan tenaga pada pertemuan bibir mereka.


Mencintai. Dicintai. Kedua hal itu adalah candu dalam hidup. Ketika seseorang mendapatkan keduanya, kehilangan salah satunya akan menyakitkan. Xavier tidak bisa mengatakan ia sepenuhnya mengerti makna cinta itu apa. Yang jelas, ia tidak ingin untuk kedua kali merasakan hal itu lagi. Perasaannya ini…Xavier harus mengakui ini lebih besar dari yang ia miliki untuk Nizivia.


Mungkin itu karena ia bertanggung jawab terhadap nyawa yang mulai terbentuk dalam rahim Artemys. Namun, siapa yang tahu kebenarannya seperti apa? Perkara hati itu misteri; seseorang tidak bisa mengklaim dia sepenuhnya mengerti hal itu.


“Tapi, Artemys,” lanjut Xavier saat manis bibir Artemys meninggalkan bibirnya. “Aku mungkin akan mengucapkan kata itu pada wanita lain di waktu yang lain. Aku orang yang seperti itu. Serakah, tak tahu diri, kau boleh beranggapan begitu. Tetapi apa yang bisa kulakukan? Aku tidak mencintai hanya satu. Ketika ketika menerima satu cinta, ada hati lain yang terluka. Aku tidak menginginkannya.”


“…Jika aku lebih tua darimu, kau takkan tertarik, bukan begitu?”


“Eh, itu pertanyaan yang tak relevan. Jika ada banyak dunia paralel, mungkin ada salah satu yang di dalamnya kau lebih tua. Namun, kita hidup di dunia ini.”


Bibir Xavier melengkung terhibur mendengar respons itu; Artemys tidak menyangkal pertanyaan. Namun begitu, Xavier tak bisa berkomentar. Mereka hidup di dunia ini. Tidak perlu berpikir “bagaimana jika”. Memang, itu mengesalkan Xavier memikirkan ada dunia paralel di mana bukan dirinya yang dicintai Artemy. Namun, Xavier dengan cepat membuang pikiran itu dan melepaskan pelukan Artemys dirinya.


“Kau masih belum menjawab pertanyaanku,” ucap Xavier dengan ekspresi yang kembali serius, mengembalikan mereka pada topik yang sempat tertunda.


Artemys menggeleng kepala pelan. “Tidak ada yang meninggikan suara padaku, apalagi menyakiti. Sepertinya Shiva telah memberi orang-orangnya penegasan agar mereka memperlakukanku sebagaimana statusku. Namun, Xavier, sepertinya target Shiva adalah kau, bukan aku. Shiva hanya menjadikanku sebagai umpan agar kau ke sana.”


Xavier mengernyitkan kening pada dua kalimat terakhir Artemys. Ia harus mengakui kalau ia tidak mempertimbangkan hal itu. Sedikit pun ia tidak berpikir jika dirinya adalah target.


Barangkali itu karena ia percaya diri pada kekuatannya. Barangkali pula itu karena ia terlalu fokus pada niat menyelamatkan Artemys hingga tak memikirkan hal itu.


“Asumsiku dia menginginkan api hitammu, tetapi mungkin saja itu karena alasan yang lain. Pria itu cukup lihai menyembunyikan niatnya. Namun, yang jelas, aku bisa memastikan dia tidak membutuhkanku untuk mengisi jiwanya ke dalam tubuh itu.”


Xavier membuka mulut hendak merespons ucapan itu, tetapi tiba-tiba ia teringat kalau ia mengatakan akan kembali paling lama dalam lima belas menit pada Monica. Xavier spontan membatalkan niatnya membalas ucapan Artemys. Ia tidak ingin mengecewakan; bagaimanapun juga ia harus segera kembali ke penginapan.


“Kita lanjutkan pembicaraan ini malam nanti, Artemys,” kata Xavier pada akhirnya. “Aku ke Veria bersama seorang wanita bernama Monica. Saat ini dia di Cestapola. Aku harus ke sana sekarang juga.”


“Ah, aku tidak tahu itu. Kalau begitu kembalilah; kau tak seharusnya membuatnya menunggu. Oh, mengapa kau tak membawanya ke sini malam nanti? Jika dia penting bagimu, kurasa kami perlu bicara. Aku yakin setelah kami bicara kita bisa duduk semeja dan menikmati makan malam bersama.”


Kening Xavier mengernyit. Ia bisa membayangkan kalau Monica akan marah. Namun, Xavier tidak bisa membayangkan dirinya menjelaskan pada Monica secara langsung. Mengingat Artemys bisa memuluskan jalan dengan Nizivia, mungkin dia bisa melakukannya pada Monica.


Pada akhirnya Xavier mengangguk pada saran Artemys dan menghilang dengan sihir teleportasi.


“…Sempurna,” gumam Artemys pelan beberapa belas detik setelah Xavier menghilang. “Semuanya sesuai rencana, dan lebih. Tidak sia-sia aku bertahan memanfaatkan permainan kaisar merepotkan itu.”