Against the World II: Transgression

Against the World II: Transgression
Chapter 10: Hidden Hand, part 4



Ketika Xavier melesat ke udara menuju Nevada, perhatiannya teralihkan oleh aliran sungai kecil yang jernih. Hal itu tanpa sadar membuat terbangnya melengkung mengitari kota, ke tempat di mana sebuah pohon besar tumbuh kukuh di pinggir sungai kecil. Dan itu bukanlah tempat yang asing. Saat Xavier mendarat di bawah pohon itu, saat itu pula kepalanya memutar memori hidup tentang waktu yang ia habiskan bersama Nizivia di sini.


Kematian bukan konsep asing bagi Xavier. Matanya telah lelah menjadi saksi. Pun tangannya telah banyak menghadiahkan itu pada orang-orang. Dan ia pastinya bukan manusia tanpa dosa yang akan mual di depan mayat-mayat berdarah. Namun, meskipun waktu telah mengikis rasa, dan hati telah melupa lara, tetapi tetap saja nostalgia menarik melankolis bersua. Tetapi memang begitu adanya manusia.


Untuk beberapa menit Xavier berdiri diam di sini, membiarkan memori itu berputar-putar lama.


Ia baru kembali mengudara setelah beberapa menit berselang. Bukan, itu bukan ke arah ibukota kekaisaran ia melaju. Xavier melesat ke selatan. Ada tempat asing pertama yang menjadi tempat bermalamnya saat dulu dalam perjalanan ke Nevada. Ya, itu rumah Nizivia—atau yang sekarang menjadi milik pamannya. Xavier belum bertemu pria itu dalam waktu yang agak lama. Sebagai keluarga satu-satunya yang Nizivia punya, hal minimal yang bisa ia lakukan adalah mengunjunginya.


Xavier berteleportasi ke pinggir desa. Dan keadaannya masih sama seperti terakhir kali ia singgahi. Desa itu tetap dalam kondisinya yang sederhana, tetapi aman dan menentramkan. Ini tempat yang damai. Mereka punya Imperial Army untuk diterimakasihkan.


Mengejutkan Xavier, orang-orang berhenti beraktivitas saat ia berjalan melewati gerbang desa. Mereka memandanginya intens. Tidak, tidak ada keramahan sama sekali dalam pandangan itu. Pandangan itu tidak terlalu tajam, tetapi ketidaksukaannya terlihat jelas. Kesimpulannya satu: Xavier tak disambut.


“Aku mengerti,” gumam Xavier pelan; ia sungguh mengerti mereka menyalahkannya atas kepergian Nizivia. Normalnya ia tidak akan senang dengan perlakuan yang seperti itu. Namun, situasi sekarang berbeda. Orang-orang ini mengenalnya sebagai laki-laki satu-satunya di sisi Nizivia. Ia pergi dengan Nizivia, dan ia tidak datang untuk menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya. Mereka mendengar kabar itu dari Edelweiss.


Xavier berbalik arah dan melangkah pergi. Ketika kau datang ke tempat orang lain, dan mereka terang-terangan tidak menerimamu, satu-satunya hal yang harus kau lakukan adalah pergi. Itu adalah norma; kau tidak memaksa dirimu untuk diterima. Xavier mengikuti pemikiran siapa pun itu. Ia meninggalkan desa itu tanpa menuntaskan tujuannya.


...….....


Xavier kembali ke Nevada beberapa belas menit sebelum senja tiba. Meskipun hanya belasan menit, tetapi itu tetaplah sebelum senja. Xavier tidak mengkhianati ucapannya.


Dan tidak mengejutkan, Lilithia von Sylphisky telah berdiri di depan pintu rumahnya—tidak perlu bertanya apakah dia sudah menunggu lama; jawabannya teramat jelas.


“Ayo pergi,” kata Lilithia datar tanpa emosi—dan sedikit dingin. Dia langsung melompat ke dalam cermin yang muncul secara instan di sampingnya tanpa menunggu respons Xavier. Xavier tak punya pilihan selain turut melompat ke dalam cermin, dan cermin itu menghilang dalan percikan mana.


...—Kota Pelabuhan Rhevada—...


Bergabung dengan Chiron Army sama sekali bukan pilihan yang buruk, batin Menez melihat Chiron Army melatih para prajurit yang akan difokuskan menjadi bagian Imperial Marine. Latihan mereka cukup ekstrem. Bahkan bagi Menez yang sudah melewati latihan berat yang dulu Evillia berikan, latihan para prajurit itu lebih berat. Jika ia disuruh mengikuti latihan, Menez dengan senang hati memilih mundur.


Namun, seperti yang Annabel katakan, latihan mereka memang harus ekstrem jika Imperial Marine ingin merajai lautan. Sekarang New World Order telah menjadi musuh, Menez harus mengakui Seaman dan Mermaid akan sulit diatasi oleh kualitas Imperial Army. Imperial Marine haruslah dibentuk oleh para prajurit yang lihai bertarung di air.


“Tidak perlu khawatir; aku datang ke sini hanya untuk berbicara dengan sesama individu yang berhasil memasuki Land of Dream dan bahkan mencoba menguasainya.”


Seorang wanita berambut emas panjang keluar dari distori tersebut. Dia bukan manusia. Alat pendengarannya adalah sepasang telinga rubah yang berwarna emas dengan garis tepi kemerahan. Dan keluar dari pakaian bawahnya ada sembilan ekor rubah berwarna putih bercampur oranye. Dia adalah warebeast versi Benua Veria.


Dia mengenakan pakaian bangsawan yang unik. Jika tidak salah, dari apa yang Menez baca di buku-buku yang ada di rumpah pohon Evana, itu adalah hakama (celana panjang longgar) dan haori (sejenis jubah tanpa kancing dan berlengan longgar). Hakamanya berwarna merah bergaris hitam, sedang haorinya berwarna emas bercampur merah. Dan tersemat di kepalanya adalah mahkota yang indah luar biasa.


“Namaku Kurumi, kau boleh memanggilku Empress Kurumi. Aku penguasa Mikazuki Empire, dan datang ke sini khusus untuk menemuimu, Menez Helberth.”


“Kau tadi sudah mengatakan tujuanmu,” komentar Menez—kesiagaannya sama sekali tidak turun.


“Araara, benarkah?” Kurumi—sebagaimana dia memperkenalkan dirinya—berjalan pelan melewati Menez. “Aku sudah menyelimuti kota ini dengan ilusi, dan jangan repot-repot untuk melepaskannya. Kita akan berbicara sambil menikmati teh di sini.”


Menez spontan berbalik badan melihat sang empress, dan ia sedikit terkejut melihat peralatan untuk minum teh sudah tersedia di sana—lengkap dengan berkelas tinggi dan sepasang kursi.


“Fufufu, aku tidak terkesan memaksa, kan?” Kurumi bertanya sembari mendudukkan diri di salah satu kursi.


“…Tidak,” balas Menez, melangkah menghampiri kursi itu, duduk tanpa disuruh. Wanita ini tidak memancarkan niat jahat, memang, tetapi Menez tetap mempertahankan kesiagaannya. Setelah semuanya, ia sudah belajar kalau wanita itu berbahaya. Mereka boleh tersenyum manis tanpa dosa dan niat buruk, tetapi boleh jadi mereka sudah menyiapkan racun mematikan.


“Bagus sekali. Aku menyukai anak muda sepertimu. Kau sempurna. Dan kau melampaui sempurna dengan menjadi rivalku dalam mendapatkan Land of Dream. Ini rasanya seperti para dewa ingin menyatukan kita, bukan begitu?”


...—Etharna, Favilifna Kingdom—...


Cermin itu membawa Xavier ke atas sebuah bangunan yang ada—letaknya cukup jauh dari Royal Palace, jantung Kota Etharna. Ia berpikir Lilithia akan membawanya ke Avada, kemudian mereka melakukan perjalan ke sana. Itu adalah apa yang mereka sepakati sebelumnya. Datang ke sini seperti ini tidak mereka diskusikan sama sekali.


Karenanya, “Kukira kita akan melakukan perjalanan ke sini,” Xavier tak segan berkomentar. “Apa yang membuatmu berubah pikiran?”


“Tidak ada.” Lilithia menjawab datar. “Temui Elmira Cent Nix Favilifna. Aku menunggu di sini.”