Against the World II: Transgression

Against the World II: Transgression
Chapter 26: The Imperial Army, part 4



Force Teleportation. Bukan Xavier yang menjadi target teleportasi, tetapi Reinhart melakukannya pada Hekiel beserta petir hitam Dermyus—dan pada saat yang bersamaan dia meneleportasikan dirinya sendiri. Reinhart menduga Xavier akan bisa menahan teleportasi paksa jika spell itu dilayangkan pada sang commander. Itulah mengapa yang lain yang menjadi target spell itu.


Jika itu belum cukup untuk menunjukkan kecerdikan Reinhart, mati rasa yang Xavier rasakan pada kedua lengannya akan cukup. Teknik bela diri Reinhart memutus aliran darah, tetapi kali ini dia memperlambat aliran darah pada bagian tangannya saat memblok serangan sang commander tadi. Sayangnya, sebagaimana luka dari petir hitam yang hilang dalam sekejap, efek serangan Reinhart juga begitu.


Dan, pada saat yang bersamaan dengan hilangnya efek tersebut, api hitam menelan petir hitam dengan sempurna. Xavier sendiri terkejut dengan itu. Ia tak menduga api hitamnya dapat mengonsumsi petir hitam semudah api biasa melenyapkan selembar kertas. Apa hal ini terjadi karena petir hitam menganggap petir hitam bagian dari dirinya?


Xavier tak diberikan banyak waktu untuk memikirkan alasan di balik mudahnya api hitam melenyapkan petir hitam. Rentetan golem sudah menyerangnya. Masing-masing golem telah dipersenjatai dengan dua tombak petir hitam. Dermyus bekerja sama dengan Hekiel. Mereka bagus, puji Xavier seraya menyebarkan api hitamnya menggelombang ke segala arah, tetapi kurang cepat.


Pada saat yang bersamaan, dua pedang api hitam bermanifestasi di tangan kanan dan kiri Xavier.


Gelombang api hitam menghancurkan banyak golem yang tak sempat menghindar, tetapi jumlah yang dapat menghindar jauh lebih banyak. Xavier menggunakan kedua pedang api hitamnya untuk menghancurkan golem-golem yang berdatangan menyerang. Ia bahkan tidak memedulikan tombak petir hitam sama sekali: tombak-tombak langsung tersulut api hitam bahkan sebelum api hitam menyentuhnya.


...—————...


Dermyus hanya bisa diam melihat tombak-tombak petir hitamnya ditelan api hitam dengan begitu mudah.


Petir hitam adalah petir terkuat, dan kerapatan tinggi yang ia buat pada spellnya harusnya membuat api hitam sulit menelan petirnya. Nyatanya yang terjadi justru sebaliknya. Semakin rapat petirnya, semakin mudah pula petir itu ditelan api hitam. Adalah kesalahan ia membuat petir hitamnya lebih mematikan. Itu jauh dari kata efektif.


“Aku tidak tahu bagaimana dia melakukannya, tetapi yang jelas dia bisa mengatasi efek seranganku.” Reinhart yang sudah berdiri di samping Dermyus berkata. “Aku tahu seranganku bekerja, dan aku yakin dia tadi merasakan kedua lengannya mati rasa. Namun…aku tidak mengerti bagaimana ia bisa menghilangkan efeknya.”


“Hekiel, kita gantian,” kata Dermyus seraya menarik keluar pedang besarnya. “Aku dan Reinhart akan menyerang, kau persiapkan Rencana B. Petir hitamku nyatanya tak efektif melawannya. Kita lakukan seperti biasa, Reinhart.” Zirah petir biru keputihan seketika membaluti tubuh Dermyus dan pedangnya. “Jangan terlalu lama, Hekiel.”


Bersamaan dengan anggukan Hekiel, Dermyus melesat dalam kilatan petir menghampiri Xavier.


Reinhart dalam sekejap sudah berada di sampingnya tatkala pedang besar berbalutkan petir biru keputihan Dermyus membentur pedang api hitam Xavier. Pedang itu terbuat dari Orichalcum yang dilapisi adamantite, tetapi kerapatan pedang api hitam Xavier tak bisa dipandang remeh. Daripada pedang api hitam, pedang itu lebih terlihat seperti plasma hitam yang pekat. Pedang tersebut memotong pedang Dermyus layaknya pisau memotong mentega.


Jika Dermyus sedikit saja terlambat mengubah tubuhnya menjadi petir dan melesat melewati Xavier, tentu ia akan bernasib sama dengan pedangnya yang sudah jatuh dan ditelan kobaran api hitam.


Sementara itu, bersamaan dengan melesatnya Dermyus dalam bentuk petir biru panas, Reinhart sudah berteleportasi ke belakang Xavier. Telapak tangannya yang terbuka dan diselimuti mana pekat sudah mengarah ke tengkuk Xavier. Itu pukulan yang berbahaya. Jika terkena, kematian bisa dipastikan akan menemui Xavier. Sayangnya bagi Reinhart, tangannya menembus melewati tubuh Xavier yang telah berubah menjadi api.


“Hekiel,” panggil Reinhart tepat setelah dirinya berteleportasi ke samping Sixth Commander. Meski begitu, matanya berfokus pada api hitam yang mengejar petir biru keputihan—keduanya adalah perwujudan Xavier dan Dermyus, bukti kalau keduanya sudah mencapai tahap tertinggi dalam pemanipulasian sihir api dan sihir petir mereka. “Sepertinya Xavier juga memiliki sihir sensorik. Beri aku seratus golem; aku akan mengganggunya sampai kau selesai dengan persiapanmu.”


...—————...


Api tidak bisa lebih cepat dari petir. Petir secara alami adalah unsur yang sebelas dua belas dengan cahaya dalam segi kecepatan. Perbedaannya ada pada kerapatan. Semakin rapat petir, semakin lambat dia.


Namun, meski kecepatan petir perwujudan diri Dermyus tak bisa disepadankan dengan kecepatan petir alami, Xavier dalam wujud apinya cukup lambat. Bukannya membantu, ini justru menghambatnya—terlihat jelas dari bagaimana jarak antara Xavier dan Dermyus yang semakin bertambah.


Xavier keluar dari wujud apinya dengan kedua telapak tangan yang sudah menyatu dan dada yang sudah membusung. Dragon’s Breath, batin Xavier sembari menyemburkan spell api favoritnya—tetapi kali ini dengan api hitam, bukan biru.


Api hitam melesat menggelombang menghancurkan segala yang ada di hadapannya, membuat kobaran api hitam semakin besar dan liar. Api itu memburu Dermyus yang menjauh dalm wujud petirnya. Ke arah mana pun Dermyus melesat, ke arah sana pulalah semburan api hitam Xavier arahkan.


Pada saat yang bersamaan, puluhan golem muncul mengepung Xavier dari samping dan belakang—ada juga yang di atas. Namun, sebelum api hitam Xavier merambat melenyapkan mereka, golem-golem itu menghilang dan muncul di tempat lain. Xavier langsung mengerti kalau Reinhart ingin menarik perhatiannya dan mengabaikan apa pun yang Hekiel coba lakukan.


Bersamaan dengan habisnya napas semburan Xavier, kedua tangannya terentang secara serentak, dan sejurus kemudian gelombang petir menghancurkan segala yang ada di sekeliling sang commander. Dan tak berhenti di situ. Petir itu memburu segala hal yang bisa diburu dan dihancurkan. Baik itu pilar-pilar tanah, golem-golem, dan bahkan Reinhart hingga Dermyus.


Kemudian, tepat saat gelombang petir memenuhi ruang, kedua telapak tangan Xavier menyatu. Lightning Devastation, bisiknya, dan seketika segala yang ada di sekeliling Xavier hancur dalam gelombang ledakan petir yang dahsyat. Itu seperti Point Zero yang dulu pernah Zorex lepaskan, tetapi dalam skali yang lebih kecil namun lebih mematikan.


Efek kehancuran itu berlangsung lebih dari semenit sampai sepenuhnya mereda, dan saat itu ketiga commander yang Xavier lawan sudah tidak lagi berada di sejauh mata memandang.


Namun, Xavier tidak perlu menanyakan ke mana mereka. Ia sudah tahu. Pun ia tadi merasakan ketiganya berteleportasi.


Lebih dari itu, tanah yang bergetar memberi jawaban langsung atas apa yang akan terjadi. Tanah tempat Xavier berpijak menurun dengan cepat, sedang di atasnya telah tercipta lebih dari sepuluh ribu tombak tanah yang melesat tajam. Lebih dari itu, jauh di atas sana, bongkahan tanah besar jatuh dari mulut lubang. Dan bongkahan itu Xavier ketahui tidak satu, tetapi puluhan. Hekiel menjatuhkannya satu demi satu satu.


“Tidak buruk,” bisik Xavier dengan telapak tangan kanan yang terangkat ke atas. “Tidak buruk.”