
“Mereka sudah menyadari kedatangan kita,” kata Hekiel melihat puluhan pemanah mengambil tempat di atas dinding kota—ia dan dinding berjarak hampir dua ratus meter. “Apa mereka tidak menganggap kita musuh, atau, mereka tak bisa memfokuskan perhatian pada kita? Jika itu kemungkinan kedua, apa artinya Knight Templar sudah menyerang dari sisi utara kota?”
Hekiel tidak melempar pertanyaan itu pada ketujuh kapten yang memimpin tujuh batalion yang jika semua prajuritnya digabungkan berjumlah 25 ribuan. Ia bertanya pada diri sendiri. Hekiel memang individu yang seperti itu. Bertanya pada diri sendiri membuat pikiran menjeda lebih tajam dan lebih fokus. Hekiel akan lebih bisa berpikir jernih, yang lantas membuatnya lebih tenang dalam mengambil keputusan.
“Giraal!” panggil Hekiel sembari menaikkan sebelah tangannya memberi isyarat berhenti pada pasukan.
Para prajurit berhenti, dan Giraal bergegas menghampiri. Giraal adalah satu dari tujuh kapten yang memimpin satu dari tujuh batalion yang Hekiel bawa. Dari ketujuh kapten tersebut, hanya Giraal yang memiliki sihir teleportasi.
“Pergilah ke sana. Sampaikan maksud kedatangan kita dan dapatkan informasi yang kita perlukan.”
Giraal menjawab dengan sigap, langsung menggunakan teleportasi untuk tiba di di atas dinding kota.
Hekiel lantas mengizikan para prajuritnya untuk duduk. Ia juga turut mendudukkan diri beristirahat sembari menunggu Giraal kembali. Dari tempatnya duduk ia tentu tak bisa mendengar interaksi mereka, tetapi aksi mereka samar terlihat. Hekiel memandangnya dengan mata sedikit menyipit.
...* * *...
Alfonso berdiri dengan kedua lengan terlipat di dada, mata memandang intens usaha para prajuritnya dalam menembus pertahanan kota.
Lima belas menit telah berlalu sejak prajurit pelindung kota melepaskan anak panah pertama, tetapi kota masih belum bisa ditembus. Dinding kota cukup keras; sejauh ini hanya bisa mereka retakkan bagian luarnya. Sementara itu, pengawalan di depan gerbang sangat ketat. Rentetan spell silih berganti ditembakkan ke siapa pun yang mencoba mendekat. Tidak ada jeda; prajurit Coralina sungguh bersungguh-sungguh dalam melindungi gerbang.
Tim pemanah mereka juga tidak buruk, tetapi jumlah mereka terus berkurang seiring berlalunya waktu. Dalam satu menit ada puluhan dari mereka yang tewas. Sebaliknya, belum satu pun prajurit Knight Templar yang gugur. Pengguna sihir tanah melakukan tugas mereka dengan baik; para prajurit yang mencoba menghancurkan dinding kota dapat melaksanakan tugasnya dengan aman karena perlindungan mereka.
Dengan jumlah 80 ribu, kota akan bisa ditaklukkan dengan cepat bila Alfonso memerintahkan mereka untuk mengerahkan segalanya. Namun, Alfonso ingin memberikan tekanan psikologikal pada penduduk kota. Ia tidak ingin menundukkan dengan cepat, tetapi lebih seperti ular yang memastikan dulu korbannya mati sebelum ditelan. Mereka telah berani mendustakan Emiliel Holy Kingdom; perlakuannya sangat pantas mereka terima.
“Aku ingin lihat, berapa lama mereka bisa bertahan sebelum hancur dan menyerah dengan terhina?”
...* * *...
Mortana semakin gusar. Ia melihat prajurit pemanah berguguran satu per satu dengan cepat. Ia tidak tahu apakah pasukan musuh sudah ada yang tewas, tetapi ia mengerti situasi akan memburuk jika hal itu terus berlanjut. Serangan mereka memang tak melemah lantaran prajurit lain langsung mengisi tempat prajurit yang gugur. Namun, jumlah mereka terbatas. Dan segera….
“Yang Mulia! Mereka Imperial Army seperti yang Anda perkirakan!” Foratta menyeru. “Favilifna Kingdom memberi mereka informasi akan perkemahan Knight Templar. Mereka datang ingin menawarkan bantuan. Mereka tak bisa membiarkan Knight Templar semena-mena. Salah satu kapten mereka sedang menunggu izin Yang Mulia untuk memasuki ibukota.”
“Sang dewa tidak berdusta!” pekik Mortan dengan ekspresi luar biasa lega. “Tunggu apalagi? Cepat berikan mereka izin! Kehadiran mereka sama seperti yang dewa janjikan. Mereka akan membantu kita memastikan ibukota ini tetap tegak berdiri.”
Foratta langsung menyampaikan titah Mortana pada prajurit yang berteriak dari bawah. Prajurit itu langsung berlari cepat ke sisi selatan kota.
“Kita bisa. Kita pasti bisa! Para pendusta dan penista dewa itu pasti kita binasakan dengan bantuan Imperial Army, dengan bimbingan sang dewa!”
...* * *...
Hekiel tersenyum lebar mendengar laporan Giraal.
Laporannya tidak detail, tetapi yang paling penting Mortana menerima kedatangan mereka dengan tangan terbuka. Hekiel jadi memiliki ide brilian untuk mengatasi perbedaan jumlah antara Imperial Army dan Knight Templar. Carolina akan menjadi benteng kukuh mereka untuk membinasakan pasukan Knight Templar sedikit demi sedikit. Kemudian, saat Divisi 4 dan Divisi 7 tiba, mereka bisa mulai mengkonter serangan.
“Aku akan duluan ke sana,” kata Hekiel sembari berdiri. “Aku ekspektasikan kalian semua sudah di sana dalam sepuluh menit.”
Tanpa menunggu respons satu pun prajurit, Hekiel melesat dalam kecepatan penuh. Pilar tanah mencuat dari tempat kakinya berpijak. Pilar itu terus melesat horizontal ke arah kota. Pilar tanah itu bergerak sangat cepat. Kurang dari semenit, Hekiel sudah melontarkan tubuhnya memasuki langit Kota Carolina.
Bongkahan batu tercipta satu demi satu di udara. Hekiel menjadikannya sebagai pijakan untuk membuatnya mencapai dinding kota bagian utara dengan cepat. Hekiel mendarat tepat di atas pilar tanah yang telah mencuat ke atas setinggi lima puluh meter—pilar itu berjarak sepuluh meter dari gerbang yang dikawal ketat.
Tanpa membuang banyak waktu, kedua telapak tangan Hekiel menyatu dengan bunyi tepukan yang keras. Sejurus kemudian, dinding tanah menyeruak tepat di depan dinding bagian luar. Dinding itu terus membesar dan membesar, mementalkan semua prajurit Knight Templar yang berada di barisan terdepan.
Hekiel menghiraukan pekik keterkejutan para prajurit Ekralina Kingdom. Pun ia tidak memedulikan teriakan para prajurit Knight Templar. Ia membutuhkan dinding kuat sebagai fondasi utama strateginya. Mana dalam kuantitas tinggi langsung saja meninggalkan tubuh sang Commander Divisi 6 Imperial Army. Belasan detik setelah itu, dinding tanah terus memanjang, melebar dan meninggi secara eksponensial.
Hampir satu menit kemudian, dinding itu sudah sama panjangnya dengan dinding utara kota.
Tingginya melebihi pilar tempat Hekiel berdiri—sekitar 15 meter lebih tinggi. Yang menakjubkan adalah ketebalan dinding. Dinding tanah buatan Hekiel empat kali lebih tebal dari dinding kota. Dan, itu tak berhenti di sana. Bersamaan dengan hentakan kakinya, dinding itu Hekiel buat berjalan menjauhi dinding kota hingga dua puluh meter.
“Ini cukup menguras mana, tetapi aku masih belum selesai.”
Hekiel langsung melompat dari atas pilar dan mendarat tepat di atas gerbang kota. Dinding tanah super panjang, tinggi dan tebal itu secara perlahan ia ubah menjadi adamantite. Lalu, untuk menyempurnakan pertahanan kota, Hekiel membuat tanah yang berada di antara dinding kota dan dinding adamantite terdorong ke bawah. Dua menit kemudian, parit selebar dua puluh meter dan sedalam seratus meter sudah tercipta di sepanjang dinding utara kota.
Hanyalah bagian tanah di depan gerbang kota yang tak terdorong ke bawah. Bagian tanah tersebut seolah menjadi jembatan yang menyambungkan dinding adamantite dan dinding kota, sekaligus menjadi pemisah antara parit kanan dan kiri. Area selebar empat meter tersebut sengaja dibuat sebagai akses untuk dilewati prajurit.
“Dan yang terakhir….”
Sebuah lubang selebar tiga meter dan setinggi sepuluh meter tercipta tepat di tengah-tengah dinding adamantite, posisinya tegak lurus dengan gerbang kota. Jalan selebar empat meter yang diapit parit sedalam seratus meter menjadi penghubung antara keduanya.