Against the World II: Transgression

Against the World II: Transgression
Chapter 51: Other Battlefields, part 5



Situasi di Axellibra masih cukup jauh dari kondusif, apalagi ketika Bedivere muncul secara tiba-tiba di sana. Arthur yang sudah mengkondusifkan hubungan antara Imperial Army dan Knight Templar harus kembali berjibaku menangani agresivitas Bedivere dan bala tentaranya. Mereka tak mau menerima keputusan yang sudah ia dan Lancelot buat; mereka beralasan kalau Imperial Army telah membawa kematian pada puluhan ribu rekan mereka—bahkan lebih.


Barulah ketika Arthur menunjukkan jasad Fie Axellibra (yang digendong Merlin) mereka semua diam. Bahkan Bedivere kehilangan kata. Tak ada satu pun yang bisa membayangkan kematian sang nephilim. Fie adalah simbol kekuatan, pilar yang menopang tegaknya kerajaan selama ribuan tahun. Melihat tubuh tak bernyawanya menurunkan moral semua orang.


“Bagaimana dengan Nona Neira? Di mana dia?” tanya Bedivere beberapa saat setelah melihat jasad sang nephilim.


“Nona Neira masih belum kembali dari pertarungannya dengan First Commander,” jawab Lancelot. “Itu pun kalau dia akan kembali. Kekuatan First Commander lebih besar dari yang kita duga. Dia bisa menciptakan boneka emperor yang memaksaku serius. Dia juga membuatku bertarung dengan kekuatan penuh melawan boneka yang sepertiku.”


“Kalau Genea? Di mana Kakek Tua itu?”


“Dia sudah agak lama meninggalkan Axellibra. Pope Genea mungkin masih bertarung dengan Crow. Tapi, kalau apa yang dibeberkan Valeria benar, menunggu Pope Genea kembali adalah hal yang sia-sia.”


Jika semua berita itu belum cukup menghancurkan moral Knight Templar secara keseluruhan, laporan yang diberikan beberapa prajurit yang tadi Arthur kirim untuk melihat keadaan kesemua kota kerajaan sukses meleburkan semua moral yang tersisa.


Gallahad telah terbunuh. Namun, yang lebih membuat mereka kehilangan moral adalah hancur leburnya Kota Eden. Kota surgawi itu telah rata dengan tanah, tak ada satu pun yang selamat. Semua nyawa binasa; tak ada tanda-tanda keberadaan Saint Gawain. Eden benar-benar ditelan kehancuran total, sebagaimana yang terjadi pada salah satu negeri yang kini hanya tersisa tanah yang rata.


Sebelum para prajurit Knight Templar kembali memanas dan mulai kembali menyerang Imperial Army, Arthur langsung bergerak cepat menyuruh prajurit yang ia pimpin menuju Eden untuk mengevakuasi jasad-jasad yang tertinggal. Para prajurit yang Bedivere bawa ia suruh bagi tiga untuk ke Carmel, Ephron, dan Sheba. Sementara itu, prajurit yang awalnya diposisikan di ibukota ia minta kembali masuk ke kota—sebagiannya ia suruh mengumpulkan mayat para prajurit yang telah gugur.


Hanya Lancelot, Bedivere, dan Merlin (yang masih menggendong tubuh tak bernyawa Fie) yang menemani Arthur di hadapan Imperial Army dan dua commander mereka.


...* * *...


Klon Xavier (yang paling superior dari semua klonnya) baru menginjakkan kaki di depan Pohon Suci Maidenhair saat beberapa ingatan dari beberapa rekannya sesama klon memasuki kepalanya. Selain klon yang menuju Matepola dan Kazarsia, semua klon sudah lenyap. Semua ingatan dan sisa mana mereka telah memasuki diri sang super klon—membuatnya menjadi lebih kuat lagi.


Dari semua klon itu, tak ada satu pun yang gagal dalam melaksanakan tugasnya. Urusan di Ekralina Kingdom sedikit merepotkan, tapi semuanya menjadi terkendali saat sang raja ia jebloskan ke penjara. Dan dengan bantuan Elmira, Ekralina Kingdom akan kembali solid dengan cepat. Tak ada masalah yang berarti.


Selesai menyaring ingatan para klon, sang super klon langsung memasuki kediaman Eileithyia.


Semulanya sang super klon ingin membuat pulau apung di pusat langit kota, istananya akan berada di pulau tersebut. Namun, melihat kembali posisi pohon raksasa yang sangat tinggi ini membuat sang super klon berubah pikiran. Daripada membuat pulau apung tempat istanya berpijak, lebih baik ia melekatkan istananya pada Pohon Suci Maidenhair. Itu ide yang lebih cemerlang dari yang semula.


Untuk itulah super klon Xavier menemui Eileithyia. Ia juga perlu meminta persetujuannya dalam menjadikan Kota Sihir Maidenhair sebagai ibukota United Empire of Islan. Dengan persetujuan Eileithyia, Grandmaster Gefory Lharkantz takkan punya pilihan lain selain patuh. Ibukota Islan yang baru pun tercipta.


...—Cestapola, Prov. Matepola—...


Karen mel Matepola sedang dalam keadaan hati yang senang. Ada beberapa alasan, tapi dua yang teratas adalah berita tentang kematian emperor dan pengangkatan Verissinia menggantikannya. Meyrin sendiri yang mengatakan hal itu. Prajurit yang Meyrin suruh mengantarkan pesan ke Nevada justru kembali dengan berita tersebut. Ia tidak tahu pasti apa pesan yang Meyrin suruh sampaikan, tapi sepertinya itu tak tersampaikan.


Meyrin mengerti itu, dan karena itulah sang pelayan (yang terlatih dalam seni assassin) tak punya pilihan lain selain mengemis padanya. Karena alasan itu pulalah Meyrin sekarang berjalan di belakangnya bersama Glimetra. Wanita itu memerlukan bantuannya lebih dari siapa pun. Kata-katanya akan menyelamatkan Kanna dari tuduhan pengkhianat yang “mungkin” akan dilayangkan.


Namun, kebahagiaan Karen langsung memudar dengan cepat begitu mereka memasuki ruang tahta.


Singgasana miliknya, kursi yang hanya boleh ia duduki, tidak kosong sebagaimana yang ia tinggalkan. Seseorang telah duduk di sana, seseorang yang tak asing. Keterkejutan yang ditunjukkan Meyrin mengindikasikan kalau ia tak berhalusinasi. Mata merah itu benar-benar milik orang yang telah membantu Verissinia menaiki tahta. Dari apa yang Meyrin katakan, Verissinia memerintahkan Xavier membunuh Nueva karena telah membawa kekaisaran ke dalam peperangan.


Karen tidak tahu berapa banyak kebohongan di balik naiknya Verissinia menggantikan sang emperor. Yang jelas, melihat pria itu duduk di sana bukanlah hal yang baik.


“Apa maksudnya ini, Twelfth Commander?” tanya Karen dengan mata memicing – ia menghiraukan gumaman “pengkhianat” yang keluar dari mulut Meyrin. “Itu singgasanaku yang kau duduki. Aku bersikeras kau menyingkir dari tahtaku.”


“Karen mel Matepola.” Suaranya datar, tapi tajam dan kuat. “Aku datang menawarkan kebebasan padamu. Kau akan bebas dari kontrol Nevada dan dari formula rune yang Kanna pasang padamu. Provinsi Matepola akan kembali menjadi Kerajaan Matepola, dan kau akan kembali menjadi ratu.”


Karen menaikkan tangan, memberi perintah pada Glimetra untuk menahan Meyrin dari melakukan hal yang tidak-tidak. Ia tidak memedulikan tentang sentimen sang maid; apa yang sang commander ucapkan lebih menarik perhatiannya. Bahkan, itu lebih menarik dari segala yang terjadi hari ini.


“Jika aku menerima tawaran itu, apa yang kau inginkan dariku?”


“Kau hanya harus mengakuiku sebagai Emperor dari seluruh Islan, sebagaimana yang telah dilakukan Verissinia penguasa Vermillion Kingdom. Evillia Evrillia juga telah mengakuiku. Begitu pula dengan Ratu Qibtya penguasa Desert Kingdom. Pada titik ini, mungkin hanya dua atau tiga negeri saja yang belum mengakuiku.”


Karen tertawa lebar. “Apa itu syarat yang kau berikan pada Verissinia sebagai imbalan untuk membuatnya naik tahta?” tanya sang gubernur terhibur.


Namun, tak ada jawaban yang datang, mata merah itu hanya memandangnya tajam. Karen menyimpulkan keterdiaman itu sebagai konfirmasi.


“Kau pengkhianat!” teriakan Meyrin menyela. “Sejak awal kau hanya memanfaatkan kami semua! Monica yang iblis dan semuanya! Kau yang ter—!”


“Kerja bagus, Glimetra.” Karen memuji pengawalnya yang telah bergerak cepat membungkam mulut Meyrin. “Kita tak lagi memerlukannya. Jebloskan dia ke penjara. Akan kugunakan dia untuk membalas perlakuan Kanna padaku.”


Glimetra mengangguk dan melesat pergi dengan membawa serta Meyrin. Karen mengembalikan fokusnya pada commander yang telah mengklaim diri sebagai emperor. “Kalau aku menolak?” tanyanya—hanya sebatas ingin tahu.


“Kau akan kubunuh atau kupenjara, sebagaimana yang kulakukan pada mereka yang menolak. Wanita bernama Glimetra tadi akan menggantikanmu. Aku di sini berbaik hati menawarkanmu pilihan. Aku bisa saja langsung membunuhmu tanpa merepotkan diri seperti ini. Ah, aku pasti sudah melakukannya jika bukan karena teringat kalau kau temannya Alice. Jadi, apa pilihanmu?”


...»»» End of Chapter 51 «««...