
Reinhart mengerti api ungu yang membaluti tubuh dan senjata musuhnya berbeda dengan semua api yang pernah ia hadapi. Api itu meradiasikan panas seperti api normal, tapi tak terlalu panas. Api itu juga bukan api hitam yang tak meradiasikan panas yang memberi rasa sakit luar biasa. Sekilas itu terlihat lemah. Namun, insting Reinhart tajam. Ia punya firasat buruk jika api itu sampi mengenainya.
Untungnya, Rodolf lambat. Reinhart sudah berpengalaman menghadapi pengguna teleportasi yang lebih baik darinya; kecepatan Rodolf takkan mampu mengimbanginya. Terlebih lagi, ia juga pengguna sihir sensorik. Maka, sebelum bilah tajam pedang berlapiskan api ungu itu menggapainya, sang commander sudah menunduk menghindar.
Reinhart melapisi tubuhnya dengan mana yang tebal, berusaha melindungi tubuhnya dari api itu. Api hitam akan ikut melahap mananya, tapi itu bukan api hitam. Itu takkan membakar mana. Dengan asumsi tersebut, pria yang telah pensiun menjadi cassanova ini berteleportasi ke atas sang saint dan mencoba mendaratkan pukulan.
Rodolf Vlasenki tentu saja bukan saint kemarin sore. Ia tidak terlalu cepat, tapi instingnya tak bisa ditertawakan. Lebih dari itu, ia memiliki total tiga sihir: [Purple Flame Magic], [Clone Magic], dan [Explosion Magic]. Maka, menemukan targetnya telah muncul tiba-tiba di atasnya (dan dia dalam keadaan tak mampu menangkis), sang saint secara spontan meledakkan area di sekitarnya.
[Sensory Magic] yang dikuasi Reinhart masih belum sampai ke level di mana ia bisa mengetahui sihir-sihir apa saja yang dimiliki orang lain. Namun, pergejolakan mana sangat jelas terasa olehnya. Karena itu, sebelum ledakan menelan segala yang di sekeliling Rodolf, Reinhart telah kembali berteleportasi.
Ia mendarat belasan meter dari titik tempat sang saint berdiri. Reinhart hendak kembali menyerang dan memanfaatkan kepulan asap dan debu yang efek ledakan sebabkan. Namun, tiba-tiba ia tersentak saat sensornya merasakan kehadiran individu kuat pada jarak hampir dua kilometer di utara. Individu dengan kapasitas mana yang bahkan lebih besar dari Alforalis itu semakin dekat.
“Aku ingin memberimu kesempatan melawan,” kata Reinhart serius saat kepulan debu menghilang dan Rodolf kembali terlihat. “Tapi,” jedanya sembari menyatukan kedua telapak tangan—seketika memunculkan dua lapis lingkaran sihir biru. “Lawan yang lebih merepotkan sedang mendekat ke sini. Jadi, aku akan akhiri ini dengan cepat.”
“…Kau mengimplikasikan bisa menghabisiku dengan cepat? Kau terlalu besar kepala, Fourth Commander.”
Mengiringi ekspresi marah di wajah Rodolf, puluhan lingkaran sihir bermanifestasi di kanan dan kirinya. Dari dalam lingkaran sihir itu keluar sosok-sosok yang identik dengan sang saint. Total sudah ada 76 klon miliknya di kedua sisi.
“…Persiapkan dirimu.”
Mendengus, Rodolf mengerahkan semua klonnya untuk melesat maju. Ia memang tak memiliki [Clone Explosion Magic], tapi ia bisa menggabungkan [Clone Magic] dan [Explosion Magic] untuk menciptakan efek yang mirip dengan [Clone Explosion Magic]. Ia akan mematikan sang commander dalam medan ledakan yang meletup-letup.
“Mati dan membu—ugh!”
“Hal yang paling dikhawatirkan dariku bukanlah kemampuan teleportasiku,” bisik Reinhart yang sudah mendaratkan kepalan tangan pada perut sang saint, “tapi kemampuan bertarung yang bisa memutuskan aliran darah.”
Rasa sakit di perut Rodolf begitu terasa, ia bahkan kehilangan konsentrasi. Klon-klonnya meledak sebelum ia beri perintah.
“Kau akan mati.”
Tepat setelah itu, Rodolf menjadi bulan-bulanan sang Fourth Commander. Instingnya sangat tajam, memang, tapi Reinhart lebih cepat dari ketajaman instring sang saint. Dan, begitu dua lapi lingkaran sihir biru menghilang, Rodolf tergeletak dengan hampir 94 persen pembuluh darah pecah akibat darah yang membuatnya menggembung. Darah keluar dari setiap lubang yang ada pada tubuh sang saint. Kulitnya sampai menggelap.
Reinhart tak langsung membantu Dermyus dan yang lainnya dalam menghadapi Knight Templar. Ia memercayai prajuritnya dan mereka semua untuk mengatasi manusia barbar berkedok kesatria. Pandangan sang commander fokus ke depan, pada siluet seorang individu yang mulai terlihat di ujung sana. Pun ia mendapati titik-titik kecil yang banyak jumlahnya agak jauh di belakang siluet itu. Pasukan tambahan Knight Templar telah tiba.
Satu, dua, tiga…. Reinhart menghitung dalam hati sembari matanya tak beranjak dari pemilik kapasitas mana besar itu. Wanita itu semula cepat, tetap pada hitungan ketujuh dia meningkat kecepatan secara signifikan. Dan, sebelum hitungan Reinhart mencapai sepuluh, ia dipaksa melompat menjauh saat tiba-tiba boneka beruang setinggi tiga meter jatuh dari atas.
Buuum!
Namun, Reinhart tak melihat pemilik kapasitas mana besar itu di mana pun. Matanya sampai memicing, tapi ia tidak—
“…!”
Bersamaan dengan Reinhart yang menolehkan pandangan terkejut ke arah pusat pertempuran, individu pemilik kapasitas mana besar itu melakukan hal yang sama seperti boneka beruang. Dentuman terjadi tepat di tengah-tengah sana.
Namun, Reinhart tak punya waktu untuk berpikir lebih jauh. Boneka beruang raksasa sudah melesat menyerangnya. Untuk ukurannya yang besar, dia cepat. Sangat cepat. Reinhart bahkan harus berteleportasi untuk sekadar menghindar. Namun, seolah bisa melihat masa depan, beruang sudah melesat ke tempatnya berada setelah ia berteleportasi.
...* * *
...
Pertempuran terhenti seketika saat dentuman terjadi, kedua kubu kembali terpisah ke kedua sisi.
Begitu kepulan debu yang dentuman itu sebabkan menghilang, terlihatlah sudah siapa pelaku yang telah secara paksa membuat pertempuran berhenti.
Ia berdiri setinggi 170 sentimeter menghadap pasukan Imperial Army dan New World Order. Rambut coklat keemasaan panjangnya berembus ke sana kemari akibat embusan angin yang menerpa. Wajahnya cantik memesona, bak bonek yang dibuat dengan sempurna. Ekspresinya polos, seolah tanpa dosa. Dia memakai seragam yang sama dengan prajurit Knight Templar pada umumnya, tetapi zirah yang membaluti tubuhnya berbeda.
Bedivere Luminia memakai zirah adamantite tipis yang hanya melindungi dada, perut (bagian kanan, kiri, dan depan), bahu, dan pahanya saja. Bagian zirah tersebut terhubung oleh rajutan rantai adamantite yang ketat. Dia tidak memiliki senjata pada tubuhnya, dan dia tak perlu senjata. Beruang Gendut kesukaannya adalah senjata sang saint.
Para Knight Templar yang menyadari siapa yang datang langsung bersukacita. Sebaliknya, pasukan musuh yang menyadari siapa wanita bak bidadari di hadapan mereka langsung waspada penuh.
Tanpa memedulikan reaksi kedua kubu pasukan, Bedivere menyatukan kedua telapak tangan dan memenuhi paru-parunya dengan udara. Lingkaran sihir ungu gelap berukuran super masif bermanifestasi memenuhi ruang pijak prajurit musuh. Ketiga pemimpin mereka menerikkan agar semuanya menjauh atau menyiapkan spell pelindung, tetapi Bedivere tak memedulikan reaksi mereka.
Ketika komposisi udara yang memenuhi paru-parunya selesai ia atur, sang saint menyemburkannya sembari mencondongkan tubuh ke depan.
Sejurus seketika, angin berwarna hitam kelam keluar bagaikan lidah api dari mulut Bedivere.
Lingkaran sihir ungu gelap super masif bereaksi dengan semburan angin yang seratus persen racun itu. Asap ungu gelap menyembur keluar dari setiap bagian lingkaran sihir. Begitu angin hitam kelam lenyap ke dalam asap, seketika asap berubah menjadi merah kehitaman dan bergerak liar seolah dihempaskan oleh tekanan besar dari segala arah.
Asap merah kehitaman itu menyelubungi area beradius satu kilometer di hadapan Bedivere selama hampir satu menit. Kemudian semua asap itu menghilang sesaat setelah lingkaran sihir ungu gelap super masif lenyap.
…Selain rerumputan yang layu menghitam dan kemudian meluruh menjadi serpihan hitam, tidak ada siapa pun di dalam area beracun beradius satu kilometer itu.
“Ah, Fourth Commander Reinhart dan teleportsinya….”