
Hanya sekejap setelah seruan tegas lawannya, Hecrust langsung melesat menyerang sang saint. Tombak bermata adamantitenya berlapiskan mana tebal. Tetapi respons sang saints juga tidak buruk. Dia telah menarik pedang bermata duanya memblok tombak sang vampire.
Tidak ada yang menahan diri. Meski tak satu pun dari keduanya menggunakan spell-spell ofensif, mereka menggerakkan senjata dalam kekuatan penuh. Mereka juga bergerak dalam kecepatan penuh. Dentingan kedua bilah metal yang beradu sampai meninggalkan bunga api.
Hecrust membanggakan kemampuan bertombaknya. Namun, rumor tentang kemampuan berpedang Saint Petra memang bukan sekadar isapan jempol belaka. Hecrust lebih kuat dan lebih cepat, tetapi refleks dan teknik Saint Petra yang begitu halus menghalangi Hecrust dari mendominasi pertarungan. Pria yang lebih tua ini adalah salah satu yang terbaik dalam seni berpedang.
Keduanya terus bertarung mengandalkan senjata andalan masing-masing. Karena Hecrust sejak awal melakukan defensif, posisi sang saint semakin terdorong ke belakang. Mereka sudah menjauh puluhan meter dari posisi awal bertarung. Terlebih lagi saat Hecrust mulai menggabungkan sihir petir dalam serangannya. Saint Petra dibuat terpental jauh hingga berputar-putar di udara.
Impresifnya, pemimpin Ordo 9 Knight Templar itu masih mampu menyeimbangkan diri dan mendarat dengan dua kaki—walaupun harus menggunakan pedang sebagai tumpuan.
Hecrust memotong jarak antara mereka dengan cepat. Tombak berbalutkan petirnya sudah siap menusuk menembus zirah yang sang saint kenakan. Ia cepat dan tusukannya kuat. Bahkan bagi sang saint sekalipu, terkena satu tusukan akan memberi luka yang fatal. Hecust bisa menang tanpa mengandalkan kemampuannya yang lain.
Namun, tepat setengah detik sebelum mata tombak Hecrust menembus tubuh target, tubuh Saint Petra sudah berbalutkan zirah cahaya putih pucat. [Light Magic] warnanya kekuningan; cahaya yang membaluti tubuh sang saint jelas produksi [Holy Magic]. Nol koma sekian detik kemudian pedangnya bergerak. Dan—
“Holy Radiance!”
—Hecrust terhempas. Gelombang cahaya panas menghantam tubuh sang vampire dengan keras. Ia seolah terbakar. Cahaya itu tak memberi dampak berarti terhadap pakaian Hecrust, tetapi kulitnya seakan terkelupas. [Holy Magic] memang memberi efek lebih terhadap undead, vampire, dan iblis.
“Kau punya [Holy Magic] yang kuat,” puji Hecrust setelah kakinya berpijak—zirah petirnya seketika berubah menjadi angin. “Tapi sekarang aku akan serius.”
Menarik napas dalam-dalam, Hecrust melesat dalam kecepatan tinggi. Tentu saja ia tak lebih cepat dari sebelumnya, tetapi ia menjadi lebih berbahaya. Dari semua elemen, Hecrust bisa mengatakan ia paling menguasai angin. Mayoritas spellnya bahkan tak lagi memerlukan lingkaran sihir. Makanya, ketika serius, ia akan fokus mengimplementasikan sihir angin dalam permainan tombaknya.
“Ultimate Light Magic:—” Mana dalam jumlah tinggi meninggalkan tubuh Saint Petra; pedang cahaya demi pedang cahaya mulai terbentuk mengelilinginya. Laju bertambahnya pedang cahaya bersifat eksponensial, dengan cepat jumlahnya melebihi seribu—mengelilingi sang pengguna seperti kelopak bunga. “—Petal of Swords!”
Sejurus seketika, semua pedang cahaya itu melesat menerjang Hecrust yang juga sedang memperpendek jarak dengan sang saint. Tidak saja pedang-pedang itu cepat, tetapi kekuatan yang dibawanya juga besar, apalagi jumlahnya. Spell favorit Hecrust, Great Wind Explosion, takkan mampu mementalkan semua itu. Maka—
“Ultra Great Wind Explosion.”
—Tak ada pilihan bagi Hecrust selain menggunakan satu dari tiga spell [Wind Magic]-nya yang paling destruktif. Spell itu ia lesatkan tanpa menghentikan lajunya.
Segala yang di sekeliling Hecrust terhempas dengan sangat kuat. Tidak ada satu pun pedang cahaya yang mampu menempus dorongan angin berkekuatan super itu. Bahkan tanah di sekelilingnya turut hancur dan terhempas, menciptakan kawah besar. Luasnya jangkauan serangan sampai membuat sebagian besar prajurit Knight Templar terkena efeknya.
Saint Petra sendiri juga turut terpental. Jaraknya dan Hecrust saat spell itu aktif hanya terpaut beberapa meter. Dia telah berusaha menahan kekuatan kejut yang besar itu, tetapi dia terpental dan terpelanting sampai lebih dari seratus meter. Hecrust yang tak berhenti melaju saat melepaskan spell tadi gagal mendaratkan serangan tambahan. Jarak mereka telah terpaut jauh.
...— — — — — — —
...
Ultra Great Wind Explosion…aku tak pernah mendengar adanya spell itu. Itu belasan kali lebih kuat dari Great Wind Explosion. Apa itu spell original vampire itu?
Petra bangkit berdiri seraya mengabaikan pertanyaan yang muncul di kepalanya. Itu spell original sang vampire atau bukan tidaklah penting. Yang jelas, spell itu mampu menghempaskan spellnya berikut diri Petra. Holy Barrier yang sempat ia aktifkan tadi turut hancur, tapi setidaknya itu mengurangi efek hempasan yang tubuhnya terima.
Belum sempat kedua kaki Petra mendarat setelah melompat menghindar, sang vampire muncul di atas tombak angin lalu melesat menyerangnya. Sang saint menggerakkan pedangnya dengan minimalis. Ia tak mencoba memblok; ia takkan bisa mengungguli kekuatan yang tenaga sang vampire lepaskan karena perbedaan posisi. Petra memanfaatkan tenaga besar tombak untuk mementalkan dirinya ke arah yang aman.
Holy Magic: Holy Wave, batin Petra tepat saat kedua kakinya mendarat, melepaskan gelombang cahaya suci pada sang vampire yang menerjang.
Melihat sang vampire terhempas, Petra menancapkan pedangnya di tanah dan menyatukan kedua telapak tangan. “Ultimate Holy Magic: Petals of Eden!” serunya lantang.
Sepuluh lingkaran sihir besar yang saling tumpang tindih satu sama lain tercipta di atas sang vampire, diameternya mencapai lima belas meter dengan sang vampire itu yang berusaha berdiri sebagai pusatnya. Kurang dari sedetik kemudian, lembaran kelopak bunga cahaya menyembur dari dalam kesepuluh lingkaran sihir. Mereka semua lekas menyelimuti sang vampire dan terus seperti itu sampai tercipta sebuah altar berbentuk kelopak bunga raksasa yang di intinya terdapat vampire bertopeng.
“Lenyaplah, perwujudan dosa, dengan demikian dunia ini akan menja—”
Ucapan Petra terhenti di tenggorokannya, kelopak bunga sucinya yang bahkan dapat meleburkan vampire murni menjadi layu dengan cepat. Petra memandang tak percaya pada kelopak bunga yang runtuh dan mengabur menjadi serpihan debu itu. Ini mengingatkannya kembali pada monster vampire yang gagal ia habisi waktu itu. Bedanya, kali ini Petra tahu penyebab kegagalan spellnya. Vampire itu telah menggunakan sihir darahnya.
Dia lebih kuat dan lebih terampil dari dugaanku. Permainan tombaknya mungkin akan membuat Sir Arthur memujinya. Apa boleh buat. Aku harus menggunakan kartu trufku.
Menggunakan kartu truf artinya ia akan mati setelah efek kemampuan menakjubkannya itu habis. Namun, melihat bagaimana para prajuritnya dibantai, keraguan tidak menyelip ke dalam diri sang saint. Ia akan menjadi puluhan kali lipat lebih kuat dengan kemampuan itu. Meskipun waktunya hanya kurang dari lima menit, Petra akan memaksimalkan waktu tersebut untuk menghabisi ketiga pemimpin vampire.
Dengan tekad yang mantap, Petra melepaskan semua zirah serta bajunya—membuatnya hanya berbalutkan celana hitam panjang dan sepatu.
“…Apa yang mau kau lakukan dengan melepas zirah dan bajumu? Kau mau menyerah dan bersujud memohon ampun?”
Petra menghiraukan pertanyaan bingung sang vampire dan melapisi tangan kanannya dengan mana. “Final Holy Magic,” lirihnya sembari kemudian menusuk dadanya sendari dengan tangan yang berlumurkan mana. “Embodiment of Holiness.”
...* * *
...
Cainabel—yang masih sibuk menghabisi para prajurit musuh—spontan menghentikan langkahnya saat energi dalam jumlah besar memancar kuat dari lokasi pertarungan Hecrust. Gelombang kejut sebelumnya sudah menyita perhatian, tetapi energi besar yang terpancarkan kali ini berada di level yang lebih tinggi. Cainabel bisa merasakan seberbahaya apa sumber energi itu.
Namun, sebelum ia sempat melesat ke sana untuk membantu Hecrust, perhatian Cainabel teralihkan pada sumber energi yang lain. Matanya spontan meninggi memandang intens ke langit ibukota. “Khrometh,” gumamnya dengan kening mengernyit. “Apa dia mau menembak kami dengan semacam laser plasma?”
Cainabel kembali memandang ke tempat Hecrust, menimbang-nimbang yang mana dulu yang harus ia atasi.
“Golem Khrometh lebih merepotkan,” putus Cainabel sembari melayang ke udara. “Lagipula, Lucard ada di sini.”
Dengan kesimpulan itu, Cainabel meluncur tinggi ke udara, melesat lurus menuju golem yang tengah mengumpulkan energi dalam jumlah tinggi.
...*****...
#Mulai malam ini dst, Against The World II akan update lagi tiap Senin-Sabtu. Demikian informasi ini disampaikan.