
Tetapi hukuman yang Cainabel berikan tak cukup sampai di situ.
Tombak darah itu ia ubah menjadi tombak asam lambung dengan [Particle World], dan seketika ketiga pria itu jatuh menggeliat bagai cacing disirami garam.
Cainabel memandang mereka tanpa rasa prihatin, tetapi tak terlihat pula kesenangan di matanya. Itu seperti seseorang yang memandang sampah yang dibuang, tidak ada ketertarikan sama sekali.
“Sebagai penutup,” kata Cainabel tanpa rasa iba, “lenyaplah hingga tersisa dari kalian barang segumpul darah.”
Tiga bola cahaya transparan menyelimuti mereka. Dan, tanpa mereka bisa berbuat apa-apa, ketiga sampah masyarakat itu lenyap tak bersisa. Tubuh mereka terdisintegrasi menjadi partikel yang tak mungkin bisa dilihat dengan mata biasa. Kemudian partikal-partikel itu menyebar mengikuti aliran udara yang selalu bergerak.
Kedua dinding yang menutupi lorong melebur menjadi pasir, dan Cainabel menggerakkan kaki melanjutkan langkah menuju belakang gereja.
Pertahanan ibukota sama sekali tidak ketat. Terlampau mudah malahan. Para prajurit begitu santai. Para warga tampak begitu bebas. Begitu damai. Bahkan, tidak ada satu pun prajurit pengawas dari jauh yang kerap ditugaskan untuk mengamati tindak-tanduk seseorang yang mencurigakan. Seolah-olah…Ekralina Kingdom sama sekali tidak mengekspektasikan adanya perang.
Mortana tidak bodoh, dia tahu risiko dari peperangan. Tak mungkin dia membiarkan keadaan seperti ini terjadi. Pasti ada yang memaksanya, atau barangkali, pikirannya telah dimanipulasi sebagaimana yang pernah dirasakan perdana menteri Vladivta Kingdom.
Tak mengherankan Cainabel mendapati belasan prajurit Knight Templar yang menyamar di dalam kota. Pun ia sempat melihat seorang Saint yang menyamar menjadi pedagang sukses. Mereka menuju ke arah istana, kemungkinan hendak meminta pertemuan dengan Mortana. Entah itu mengonfirmasi jika Mortana benar dicuci pikirannya, atau sekadar memanfaatkan hal itu untuk menempatkan pasukan di dalam kota secara diam-diam.
Yang mana pun itu, Cainabel akan mengabaikan mereka sekarang. Setelah urusannya selesai dengan Mary Anna, barulah ia akan sedikit mempermainkan mereka. Saint itu tak terlalu terkenal. Pun kapasitas mananya tak terlalu besar. Dia bukan tandingan bagi Cainabel.
...— — — — — — — — — — —...
Mary bukan berada di Carolina karena Elmira memberinya tugas. Sama sekali bukan. Ia sudah menjadikan belasan orang di istana dan gereja sebagai bonekanya, tidak ada yang perlu ia lakukan lagi untuk memenuhi agenda Elmira.
Mary berada di sini untuk memenuhi agendanya sendiri. Carolina akan menjadi pusat pertempuran, dan sebagai Necromancer ia akan dengan senang hati memanfaatkannya untuk menciptakan lebih banyak undead sebagai stok.
Baru saja selesai menyembunyikan rangkaian lingkaran sihir di bawah pasir, telinga Mary menangkap suara gesekan sol alas kaki dengan pasir.
Suara itu semakin membesar setiap detiknya. Mary spontan berdiri dan berbalik arah, dan tepat saat itu juga seorang wanita berpayung merah menampakkan diri dari samping dinding gereja.
“Mary Anna…senang bertemu denganmu,” kata wanita itu dengan ekspresi yang tenang. “Namaku Cainabel. Aku datang menawarkan tempat untukmu di Vampire Kingdom. Kau bukan lagi manusia, apa aku salah?”
Apa ia harus terkejut?
Tidak. Mary tidak terkejut, dan tak harus terkejut. Setelah semua sepak terjangnya sejauh ini, adalah lumrah jika pihak lain mengetahui dirinya. Pun normal bagi mereka untuk merekrutnya.
Hal yang membuat Mary sedikit terkejut hanyalah pertanyaan simpel tentangnya yang bukan lagi manusia.
“…Akan kupikirkan tawaranmu,” respons Mary singkat dan padat tanpa menjawab pertanyaannya. “Berikan aku waktu seminggu.”
“Tidak masalah. Aku akan menemuimu lagi dalam seminggu. Apa itu di sini, atau di Etharna?”
“Etharna.”
Vampire bernama Cainabel itu menghilang dalam sekejap dari pandangan Mary. Lebih tepatnya, dia menyusut hingga ke ukuran yang tak bisa lagi dilihat. Mary tidak tahu dia masih di sana atau sudah pe—
Mary tersentak, ia merasakan rasa sakit di lehernya, tetapi hanya sebentar. Saat memukul bagian itu, Mary tidak mendapati apa pun juga.
“Aku hampir mati; darahmu benar-benar beracun,” kata Cainabel yang sudah berdiri di bahu kanan Mary—ukurannya tak lebih besar dari burung gereja. “Kau sungguh bukan manusia, Mary Anna. Kuharap kau menerima tawaran kami, aku yakin itu akan lebih baik untukmu.”
Cainabel tak memberi kesempatan Mary membalas kata-katanya, sang vampire kali ini mengeluarkan sayap vampirenya dan terbang menjauh dengan kecepatan tinggi.
Wanita itu memiliki sihir yang merepotkan. Tanpa sihir sensorik, menghadapinya akan sulit. Kemampuan mengecilkan diri itu dapat membuatnya dengan mudah menghindari serangan-serangan fatal. Dia bahkan bisa masuk ke dalam tubuh orang lain melalu hidung, telinga, ataupun mulut.
“Tetapi tawarannya tidak buruk,” gumam Mary pelan, sebelum kemudian menggeleng kepala dan kembali melangkah memasuki gereja ‒ sekarang sudah ada lingkaran sihir teleportasi yang menghubungkan gereja terbesar kedua di Islan dan gereja yang ada di Etharna.
...— — — — — — — — — — —...
Cainabel terbang tinggi ke awan, tetapi kemudian dengan cepat ia menukik tajam saat sosok Mary tak lagi terlihat di belakang gereja. Masih dalam keadaan mengecil sebesar anak burung gereja, Cainabel mendarat di atas atap terendah istana bagian depan. Seperti yang ia putuskan sebelumnya, sang vampire akan sedikit mempermainkan mereka.
Membunuh mereka mudah, dan itu akan semakin menguntungkan pihak Knight Templar ‒ mereka bisa menjadikannya sebagai casus belli untuk secara terang-terangan menduduki Ekralina Kingdom yang mulai membangkang pada sang tuan. Namun, itu tidak akan ia lakukan. Ia tidak diminta untuk melakukan hal drastis seperti itu. Pun itu tidak terlalu menguntungkan New World Order.
Ia akan tinggal di kota ini sampai waktu seminggu yang diminta Mary Anna berakhir, dan dalam masa itu ia akan mengisengi mereka, membuat mereka paranoid dengan serangan diam-diam saat mereka lengah atau terlelap. Mereka akan berpikir kalau penyamaran mereka ketahuan dan semakin berhati-hati, dan kehati-hatian itu akan mengurangi waktu mereka beristirahat.
“Tapi tetap saja…penyamaran mereka benar-benar buruk. Bahkan dari jauh aku bisa mengenali mereka sebagai anggota Knight Templar.”
Apa itu disengaja? Atau memang mereka sedikit lemah di kepala? Cainabel tidak tahu yang mana. Pun tidak ada pula alasan mengapa ia harus tahu.
...— — — — — — — — — — —...
Mary langsung bergegas ke istana setelah berteleportasi dari Carolina. Ia langsung menemui Elmira dan mengatakan kalau pihak Vampire Kingdom sudah tahu semua tentangnya dan tindak-tanduk mereka. Mary tidak bisa memastikan jika mereka tahu kalau ialah yang mengontrol Mortana dan belasan lainnya untuk menjadikan Ekralina Kingdom seperti yang sekarang. Namun, tidak akan mengejutkan jika mereka tahu.
“Terima kasih telah memberitahuku hal ini, Mary.” Berkata Elmira dengan senyum hangat di bibir. “Kau adalah temanku satu-satunya. Itu akan membuatku sedih jika kau memutuskan meninggalkanku begitu saja.”
Mary tidak bisa membedakan jika itu asli atau palsu. Pun ia tak bisa mengatakan jika Elmira akan benar-benar bersedih atau tidak. Tetapi Mary tak memedulikan itu. Berada di samping Mary tidak buruk. Gadis itu menyukai sihir nekromansinya, dan Mary tak keberatan membantu Elmira menghibur dirinya. Mereka sedikit kompatibel, jika ia boleh jujur.
“Jadi, jawaban apa yang akan kau berikan?” tanya sang ratu, melangkah turun dari singgasana dan menghampiri Mary.
“Belum kuputuskan,” respons Mary singkat.
“Aku tentu saja takkan memaksamu untuk tetap di sini jika kau ingin pergi. Mary memang bukan lagi manusia, Mary berusia panjang, Mary abadi. Aku akan mati dan meninggalkanmu pada masanya. Sudah tentu memutuskan tinggal bersama para vampire yang hidup panjang adalah pilihan yang tepat. Namun, Mary….” Mata Mary sedikit melebar mendapati Elmira memeluknya erat. “…Jika aku boleh memaksa, tetaplah bersamaku, paling tidak sampai kematianku datang.”
...#####...
#Pertanyaan tentang [Particle World] seharusnya sudah terjawab sampai di ini. Jika belum, akan terjawab saat Cainabel bertarung dengan lawan yang cukup seimbang.