Against the World II: Transgression

Against the World II: Transgression
Chapter 32: Not So Invincible, part 3



Saat matahari sudah terik-teriknya di utara Carolina, dua pasukan yang telah berseteru sejak beberapa hari lalu akhirnya kembali bertemu. Berbeda dengan sebelum-sebelumnya, pertemuan ini adalah totalitas. Tidak ada kelicikan yang terlihat; kedua pasukan serius melawan satu sama lain dengan strategi terbaik mereka. Kemungkinan kali ini akan menjadi yang terakhir.


Apakah Imperial Army dan NWO yang akan melenyapkan Knight Templar dan terus menerobos ke utara lalu bergabung dengan pasukan lain dalam penaklukkan Dwarf Kingdom? Ataukah Knight Templar yang akan memporak-porandakan pasukan gabungan musuh dan menduduki Carolina untuk kemudian bersiap menyerang kekaisaran? Pertempuran ini yang akan menentukan.


Rodolf Vlasenki—yang berdiri di depan 10 kelompok besar Knight Templar—mengangkat tangan untuk menghentikan gerak para prajurit. Mengikuti aksinya, keempat pemimpin pasukan musuh juga melakukan hal serupa. Bendera-bendera dari kedua kubu ditancapkan ke tanam. Jarak mereka terpaut sekitar lima puluhan meter.


Elf bajingan itu, batin Rodolf penuh geram. Mereka sebelumnya telah menjalin hubungan baik dengan Holy Kingdom. Rodolf pernah membaca laporan kalau pasukan khusus mereka pernah bekerja sama dengan Saint Petra untuk mencari akses ke Vampire Kingdom. Namun, dengan sekejap para bajingan itu kembali menyesatkan diri. Dasar bajingan.


“Kami akan beri kalian kesempatan untuk menyerahkan diri,” kata Commander Hekiel setelah berjalan belasan meter ke depan. “Kalian unggul dalam jumlah. Tapi, seperti yang sudah terjadi pada sebagian besar pasukan kalian yang lalu, kalian hanya akan mengantar nyawa. Menyerahlah, maka kalian akan ditawan lalu dibebaskan setelah peperangan selesai.”


Rodolf mendengus. Jika hanya Hekiel sendiri yang memimpin prajurit, ia pasti sudah menyerukan “serang” pada para prajuritnya. Namun, keberadaan tiga individu kuat lain membuat sang saint untuk bisa lebih menahan amarah. Ia harus tenang dan mengulur waktu lebih lama.


“Demi menghindari pertumpahan darah, bagaimana kalau kita berduel satu lawan satu,” usul Rodolf setelah melangkah belasan meter ke depan.


“Duel?”


“Benar.” Rodolf mengangguk mengonfirmasi. “Ini akan menjadi duel antar pemimpin pasukan. Jika kau terbunuh, pasukanmu akan menyerah dan akan kami tahan. Jika aku terbunuh, pasukanku akan menyerah dan kalian bisa menahan mereka.”


Tentu saja itu tak sepenuhnya benar. Jika Rodolf bisa menghabisi Hekiel, hanya pasukannya Hekiel yang akan ia tawan. Sisanya akan ia bunuh.


Yang ia tantang di sini adalah sang Sixth Commander, pasukan yang bukan pasukan Hekiel tak masuk ke dalam perhitungan. Lebih dari itu, Rodolf juga takkan membiarkan dirinya terbunuh. Jika ia hendak terbunuh, ia akan langsung mengaktifkan kalung peneleportasi yang ia pakai untuk melarikan diri dari pertarungan dan mendapatkan perawatan. Kemudian ia akan ke sini lagi untuk memimpin pasukannya menyerang.


“Itu tawaran yang menarik. Tapi, kau sadar kalau ada empat di antara kami, kan? Bagaimana jika Jendral Alforalis yang akan mewakili kami? Kita sama-sama tahu kalau di antara kita semua, dialah yang terkuat.”


Hekiel tidak bodoh.


“Itu terserah kalian mau mengutus siapa,” kata Rodolf dengan ekspresi tenang. “Intinya adalah meminimalisir pertumpahan darah. Kita sama-sama tidak ingin Veria kembali mencoba menginvasi Islan, kan?”


“Ketika kau membawa Veria, kita memang tak menginginkan itu terjadi. Baiklah, kuterima tawaranmu. Aku akan berbicara dengan mereka bertiga. Kita mulai duelnya dalam sepuluh menit.”


“Dalam sepuluh menit,” setuju Rodolf, saat itu pula Hekiel mengangguk dan berbalik arah. Sang sixth commander berjalan santai, seolah tanpa beban. Akan sangat mudah baginya menyerang dan menghabisi pria itu, tetapi itu akan mencoreng nama baik—


Perang adalah tipu muslihat, dan sejarah dihias oleh pemenang.


Dengan satu kalimat penjustifikasi itu, Rodolf seketika mengabaikan kesepakatan yang baru saja mereka buat dan melesat menyerang sang commander dengan kekuatan penuh. Adalah hal umum untuk tak percaya musuh di medan perang. Ini bukan kesalahan nista dari Rodolf. Salah Hekiel sendiri menarik mata dari musuh; siapa suruh dia cukup naif.


“—!”


“Heh, aku tahu Knight Templar memang tak bisa dipercaya.” Fourth Commander Reinhart von Aldebaran telah berada di antara Rodolf dan target serangannya. Dia memblok pukulan sang saint dengan kedua tangan yang berselimutkan mana. “Kalian semua adalah manusia barbar yang dipenuhi kelicikan. Aku akan menghadapi sekarang juga. Satu lawan satu.”


Tak sampai tiga detik setelah teriakan perintah itu, derap kaki menggebu-gebu menggetarkan tanah. Semua pasukan Knight Templar serentak melesat maju. Pekikan hinaan terhadap musuh melontar dari mulut mereka, teriakan puji pada kerajaan dan kesatuan pasukan turut mengiringi.


Namun, Rodolf tak memiliki kesempatan melihat kontak fisik pertama antara pasukannya dan pasukan musuh. Tepat setelah matanya mengerjap, ia langsung mendapati diri berada belasan meter dari baris terakhir pasukannya. Reinhart berdiri di antara sang saint dan para prajuritnya.


“Hekiel telah membunuh satu saint. Dermyus juga sudah membunuh satu. Pun begitu denganku. Harusnya kau terbunuh di tangan Jendral Alforalis. Tapi aku sudah terlanjur kesal. Tidak apa-apa, kan, kalau kau mati di tanganku?” Reinhart mengakhiri kalimatnya dengan tersenyum—tentu saja itu bukan senyuman yang membuat orang lain mau tersenyum balik.


“Kau terkenal dengan kemampuan teleportasimu yang hebat, mungkin merivali salah satu anggota Deus Guardian yang pernah ada.” Rodolf berkata tanpa memedulikan senyum menahan amarah sang commander. “Tapi, urusanku bukan denganmu. Aku punya masalah yang harus diselesaikan dengan Commander Hekiel. Enyahlah dari hadapanku, Fourth Commander. Atau, aku akan menjadikanmu karamel di atas lelehan keju.”


“…”


“…”


“…Apa karamel di atas lelehan keju?”


“…Itu perumpamaan.”


“Oh, oke.”


“Kau sudah mengerti?”


“Iya.”


“Kalau begitu, enyahlah sebelum aku menjadikanmu karamel di atas lelehan keju!”


“Menjadikanku karamel di atas lelehan keju? Heh, silakan coba kalau bisa. Tapi sebelum itu bisa kau lakukan, kau sudah terlebih dahulu kujadikan kulit telur pembungkus daging! Ayo majulah, akan kubuktikan ucapanku.”


…Rodolf tidak tahu apa maksud kulit telur pembungkus daging, tapi itu tak lagi penting.


Dengan mengaplikasikan Enhancement dan Acceleration pada tubuhnya secara maksimum, sang saint memotong jarak di antara mereka kurang dari sedetik. Pedang bermata dua kesayangannya sudah tergenggam kuat di tangan. Pedang tersebut terselimutkan api ungu, sebagaimana tubuh sang saint yang sepenuhnya terbungkus api ungu layaknya zirah.


Api ungu tidak sepanas api-api lainnya, tapi api ini akan membakar energi kehidupan seseorang jika terkena—mempercepat kematian mereka. Jika dikompres hingga kerapatan tertinggi, api ungu bisa melukai jiwa—dan bahkan membakarnya sampai habis. Ini adalah api yang menyalahi konsep materi. Di seantero Emiliel Holy Kingdom, Rodolf adalah satu-satunya pengguna yang diketahui.


Alasan mengapa api ungu tak dijuluki sebagai api terkuat adalah karena api tersebut masih bisa dibakar oleh api hitam.


“Diam dan matilah, Fourth Commander!”