Against the World II: Transgression

Against the World II: Transgression
Chapter 33: The Fall of the Dwarf, part 5



Khrometh sungguh tak mau mencari gara-gara dengan Vermyna. Meskipun ia sudah lebih kuat, ia tak bisa membayangkan dirinya mengalahkan wanita cantik itu. Kendati Fie bisa memberinya perlindungan dari amarah sang vampire, Vermyna bisa membunuhnya sebelum Fie menyadarinya. Khrometh sungguh tak mau berurusan dengan Vermyna.


Namun, ia tak punya pilihan lain sekarang; ia harus menghabisi semua vampire itu sebelum Ordo 9 dibantai. Tentu serangan Agravain Destroyer yang sedang ia siapkan akan turut melenyapkan pasukan sang saint. Namun, bukankah dalam segala hal pengorbanan itu diperlukan?


Maka, begitu energi yang golem kumpulkan untuk menembakkan laser Agravain Destroyer mencukupi, Khrometh langsung menembakkan laser biru bercampur merah dan hitam itu ke arah target. Beda dengan Agravain Apocalypse yang memiliki jangkauan serangan yang luas, Agravain Destroyer memiliki jangkauan serangan yang jauh. Semakin tinggi posisi golemnya, semakin jauh pula jangkauannya.


Khrometh percaya diri dengan serangan golemnya. Sebagaimana serangan sebelumnya yang sukses, serangan kali ini juga akan memuaskan. Takkan ada yang bisa menghentikan serangan golem kebangga—


“—Huh? Apa yang terjadi?”


Khrometh menyipitkan mata melihat laser supernya terhenti pada jarak seper empat dari menuju target.


“Apa ada orang di sana?”


Karena diameter laser yang mencapai tiga meter, Khrometh tak bisa melihat apa penyebab terbloknya laser Agravain Destroyer. Namun, kemungkinan besar itu vampire. Kemungkinan ada orang lain yang menghalanginya selain vampire sangat mendekati nol. Tapi, siapa?


“Cih!”


Khrometh memutuskan meningkatkan suplai energi untuk meningkatkan intensitas laser penghancur. Siapa pun yang di sana, itu jelas bukan Vermyna. Jika dia Vermyna, pasti Khrometh dapat melihat portal ruang yang dibuka untuk mengatasi Agravain Destroyer. Jadi, 100 persen itu bukan Vermyna. Karena itu pula Khrometh memperkuat lasernya untuk menghabisi siapa pun itu.


Namun, belasan detik kemudian, Khrometh seketika mengumpat kesal. Ia menyesal telah melakukannya. Karena, orang yang menahan lasernya familier di mata Khrometh. Pun sihir yang digunakan sang vampire untuk mengatasi serangannya tak asing sama sekali.


“Cainabel bajingan, terkutuk kau!” teriak Khrometh penuh murka saat cermin bulat sempurna yang telah menyerap lasernya diarahkan ke arah Dwagnowa.


Khrometh dengan segala ketangkasannya berusaha menggerakkan golem untuk menghentikan apa yang coba sang vampire lakukan.


Namun, ia terlambat. Ia tak lebih cepat dari laser kebanggaannya. Khrometh hanya bisa memandang horor pada Agravain Destroyer yang meluluhlantakkan Dwagnowa.


...* * *...


Hecrust memuntahkan sejumlah darah dari mulut. Sebuah pedang cahaya telah menancap di paru-paru kirinya. Topengnya sudah hancur. Jubahnya telah compang-camping. Bekas sayatan memenuhi tubuhnya di sana-sini. Hecrust bahkan telah kehilangan tombaknya.


Ia telah menjadi samsak serangan perwujudan cahaya sang saint. Manusia itu sudah mengubah setiap milimeter kubik tubuhnya menjadi cahaya suci yang panas. Mata tombak adamantite dia patahkan dengan pedang cahaya, batang tombak kemudian dia potong-potong seperti ikan di hadapan pisau tajam.


Hecrust menarik keluar pedang cahaya yang menancap di paru-parunya, perlahan-lahan berdiri. Ia melepas dan mencampakkan jubahnya secara asal. Mata memandang intens wujud cahaya Saint Petra yang diam memandangnya dengan dua pedang cahaya di kedua tangan. Area tanah di sekitar sang saint terlihat seolah terbakar.


Dua tombak angin berselimutkan petir tercipta di kedua tangan Hecrust (sebagaimana tubuhnya yang telah berbalutkan zirah petir dan angin), dan saat itu pula sang saint kembali menyerang.


Hecrust berada dalam kecepatan tertingginya. Ia tak bisa lebih cepat lagi; ia tak bisa lebih kuat lagi. Namun begitu, ia tak mampu mengimbangi Saint Petra. Tubuhnya yang sudah beregenerasi kembali menerima luka. Hecrust sampai mengerahkan sihir darahnya untuk mengikis wujud cahaya sang lawan, tetapi justru darahnya yang dia buat terbakar.


Jika bukan karena Lucard yang muncul tiba-tiba menendang kepala Saint Petra, pedang cahaya itu pasti sudah menebas leher Hecrust.


“Dia mungkin sama kuatnya dengan Valeria, atau mungkin lebih kuat.” Berkata Lucard seraya mendarat di kanan Hecrust. Lucard jarang memasang wajah serius, tapi sekarang dia sangat serius. “Namun, ada efek samping yang tubuhnya terima. Ini hanya perkiraanku, tapi kekuatannya seolah menyakiti tubuhnya sendiri. Dia mungkin akan mati setelah efek sihirnya lenyap.”


Hecrust yang sudah kembali beregenerasi mengangguk mengerti. “Kau mengimplikasikan kita harus mengulur waktu dan membiarkannya mati akibat kekuatannya sendiri?” tanyanya mengonfirmasi.


“Jika dia akan mati tanpa perlu kita habisi, untuk apa kita repot-repot menghabisinya?” Lucard tak menunggu jawaban untuk pertanyaannya—yang memang tak memerlukan jawaban. “Ayo kita buat dia kesulitan dengan lanjut membantai pasukannya.”


Saint Petra kembali melesat menyerang mereka saat Lucard menyelesaikan kalimatnya. Namun, Lucard sudah melesat ke arah para prajurit. Hecrust spontan melakukan hal yang sama. Saint Petra langsung menyusul mereka dengan cepat.


Sangat tidak adil strategi yang Lucard gunakan untuk menghabisi Saint Petra. Namun, mereka berada dalam peperangan. Keadilan tak bisa ditemukan di dalamnya. Harga diri, moral, keadilan, kejujuran, belas kasih, empati; hal-hal semacam itu tak pernah ada dalam perang. Perang menuntut pengorbanan nyawa. Maka, tak ada yang lebih penting daripada kemenangan.


...* * *...


Kehancuran total. Itu adalah apa yang terjadi setelah laser Agravain Destroyer menghajar Dwagnowa. Ibukota Dwagnowa yang megah, kini telah menjadi kawah luas yang dipenuhi puing-puing bangunan. Khrometh tak bisa membayangkan berapa nyawa yang lenyap. Namun, ia bisa menduga berapa yang selamat. Dan hal itu membuat gigi-giginya menggemeretak hebat dengan kedua tangan yang terkepal erat.


“Beraninya kau…. Beraninya kau membuat Agravain Destroyer-ku menghancurkan orang-orangku sendiri! TERKUTUK KAU, CAINABELLLLLLLLLLLL!”


Namun, sebelum bola-bola energi itu mengenai target lalu meledak, sosok Cainabel tetiba lenyap. Khrometh spontan menghentikan laju golemnya. Ia memandang ke sana kemari, mencari lokasi vampire bedebah yang telah membuatnya naik pitam. Namun, hingga belasan detik, ia tak mendapati keberadaan sang vampire. Bola-bola energinya sampai meluruh sendiri karena ketiadaan target.


“Bajingan itu! Jangan bilang dia sudah melarikan diri! Dasar pengecut bajingan, bedebah tahi!”


“Melarikan diri?”


“…!”


“Siapa yang melarikan diri? Aku di sini, Khrometh sang pengkhianat Deus Guardian. Kau makhluk terendah dari yang terendah. Nona Vermyna seharusnya melenyapkanmu sejak kecurigaan itu ada.”


Pikiran Khrometh tak mencerna penghinaan yang melontar keluar dari mulut Cainabel. Pikirannya disesaki keterkejutan melihat sang vampire duduk di atas bahu kirinya di dalam golem. Ukuran sang vampire tak lebih besar daripada seekor burung.


“Aku ingin sekali membunuhmu sekarang, tapi mati di tangan Minner lebih sesuai untukmu.”


Barulah setelah mendengar kalimat itu keterkejutan Khrometh lenyap. Amarah kembali menguasainya. Dengan sangat kuat ia menggerakkan tangan kanan memukul pundak kirinya, berharap bisa mematikan sang vampire sebagaimana nyamuk yang penyet saat diperlakukan begitu.


Namun, Cainabel telah terlebih dahulu lenyap dari sana. Sang vampire telah muncul di atas pengendali golem.


“Namun begitu,” lanjut Cainabel, “bukan berarti aku takkan menghinakanmu. Hernandez sang Blacksmith sangat jauh di atas seorang amatir tak berguna sepertimu. Sebagai bukti, lihatlah bagaimana aku menjadikan golem ini butiran pasir.”


Khrometh mendengus dan memukul pengendali golem dengan kuat, tetapi sekali lagi Cainabel telah menghindar terlebih dahulu.


“Diam dan matilah, bedebah!” umpat Khrometh. “Menjadikan mahakaryaku butiran pasir? Dalam mimpi sekalipun itu takkan mampu kau laku—”


Ucapan Khrometh tertahan. Keterkejutan dan ketakpercayaan memenuhi wajahnya. Matanya melebar sempurna melihat pasir yang mengelilinginya. Golemnya telah sepenuhnya menjadi pasir.


Dan sebelum keterkejutannya menghilang, Khrometh terjatuh dari ketinggian.


Kumpulan pasir itu tak mampu menopang berat tubuhnya. Dan pasir itu sendiri juga tak mampu mempertahankan bentuk dan posisinya di udara.


Khromet dengan telak mengantam tanah berkerikil. Namun, rasa syok melihat kreasinya dan Stakhnet lenyap dalam sekejap menjadi butiran pasir membuat sang dwarf tak bereaksi. Rasa sakit tentu menggigiti tubuhnya, tetapi mental Khrometh merasakan sakit yang lebih besar dari itu.


Sepasang langkah kaki terdengar menghampirinya, tetapi Khrometh masih terdiam dalam syoknya.


“Akan kutunggu sampai syokmu reda,” kata Minner yang baru saja tiba di samping sang dwarf.


...»»» End of Chapter 33 «««...


Next----------›


Chapter 34: Chaos in Holy Kingdom


Chapter 35: Old Friends


Chapter 36: The Stronger Saints


Chapter 37: 1 vs 70.000


Chapter 38: Lilithia vs Neira Claudian


Chapter 39: Goddess of War


Chapter 40: Predestine Future


#Chapter 33 – 35 sejatinya berada dalam latar waktu Chapter 32. Kelanjutan Chapter 32 akan bermula pada Chapter 36. Artinya, Xavier baru kembali muncul pada Chapter 36. Chapter 33 – 35 diperlukan untuk menunjukkan apa yang terjadi secara merata. Chapter 36 akan menunjukkan pertarungan Second Saint sampai Sixth Saint. Chapter 37 fokus pada Xavier. Chapter 38 fokus pada Lilithia. Chapter 39 fokus pada Kanna. Chapter 40 kembali ke Xavier. Di sini juga Fie dan Vermyna muncul.